Home / Travel / Kisah Warga Jepang yang “Studi Banding” di Negaranya Sendiri: Lahir di Jepang, Fasih Berbahasa Jepang, Tinggal di Jepang Pasti Mudah, Kan?

Kisah Warga Jepang yang “Studi Banding” di Negaranya Sendiri: Lahir di Jepang, Fasih Berbahasa Jepang, Tinggal di Jepang Pasti Mudah, Kan?

header 640x 24

Kembali ke Negeri Sendiri sebagai Mahasiswa Pertukaran

Menjelang kelulusan kuliah, berbagai emosi kerap berkecamuk dalam diri. Mulai dari rasa haru saat berpisah dengan teman-teman hingga kecemasan dalam menghadapi dunia nyata. Momen transisi ini sering kali memicu kilas balik perjalanan selama empat tahun menjadi mahasiswa strata satu.

Banyak kenangan kuliah yang mudah diingat, seperti persahabatan, malam-malam begadang demi tugas, hingga kekonyolan masa muda. Namun, bagi sebagian besar mahasiswa, program studi di luar negeri menjadi pengalaman paling membekas dan mengubah hidup. Hal ini pun dirasakan oleh penulis yang memilih untuk menjalani studi di Tokyo, Jepang—sebuah pengalaman yang oleh teman-temannya disebut sebagai “belajar di rumah sendiri.”

Secara latar belakang, penulis adalah orang Jepang. Lahir dan besar di sana untuk sebagian masa hidupnya, menguasai bahasa tersebut dengan lancar, serta sudah tak terhitung berapa kali pulang kampung. Lantas, mengapa memilih program “studi di luar negeri” di negara asal sendiri?

Alasan Memilih Studi di Jepang

chiyoda cherry blossoms japanese citizen study abroad

Semula, rencana awal adalah mendalami bahasa Mandarin di Tiongkok sambil mengambil kelas hubungan internasional. Namun, sebuah kunjungan singkat ke Tokyo pada liburan musim semi tahun 2013 mengubah segalanya.

Keluarga biasanya pulang ke Jepang saat musim panas atau musim dingin. Oleh karena itu, kunjungan tersebut menjadi momen pertama setelah 12 tahun lamanya bisa menikmati keindahan Jepang di musim semi.

Suasananya sungguh luar biasa. Faktor utamanya adalah cuaca yang bersahabat. Ada keunikan tersendiri pada hari-hari yang cerah dengan bunga sakura yang sedang mekar penuh. Warga setempat mengadakan ohanami atau pesta menikmati bunga sakura di berbagai tempat. Semua orang tampak bahagia, berjemur di bawah kehangatan matahari sambil menikmati makanan dan minuman di bawah naungan kelopak merah muda yang menjadi ikon negara tersebut. Semuanya terasa begitu berbeda. Suasana ini sama sekali tidak mirip dengan musim panas yang terik dan lembap, ataupun badai salju dingin yang biasa dialami sebelumnya.

Keindahan musim semi di Jepang memunculkan gagasan untuk menempuh pendidikan di sana. Keterampilan menulis dan membaca bahasa Jepang memang membutuhkan latihan intensif. Selain bertukar pesan singkat dengan orang tua, aktivitas menulis dalam bahasa Jepang sangat jarang dilakukan. Begitu pula dengan membaca berita, yang hanya dilakukan sesekali selama kuliah. Terlebih lagi, proposal riset tesis mengenai imigrasi di Jepang telah disetujui, sehingga studi lapangan dapat dilakukan secara langsung di sana.

Terakhir dan yang paling penting, ada keinginan kuat untuk menjelajahi Jepang lebih jauh dari sekadar kawasan metropolitan Tokyo yang padat dan penuh beton.

Terpesona oleh musim semi dan berbekal tujuan akademik, destinasi pertukaran pelajar pun dialihkan ke Tokyo. Orang tua merasa senang karena anak perempuan mereka bisa kembali ke tempat kelahirannya sekaligus memperdalam bahasa dan budaya sendiri. Menjelang hari keberangkatan, kepala dipenuhi angan-angan untuk menjelajahi sudut-sudut Tokyo hingga merambah ke daerah lain di Jepang.

Namun, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Dilanda Rindu Kampung Halaman di Negeri Sendiri

japanese citizen study abroad sad dog Source: Tracy Lee

Sebagian besar program pertukaran pelajar biasanya diawali dengan berbagai sesi orientasi. Setiap sesi membahas segala hal yang mungkin diperlukan sebelum keberangkatan, dilanjutkan dengan orientasi lanjutan setibanya di tempat tujuan. Sebagian besar materi tersebut sangat penting, seperti memahami sistem sekolah atau mengetahui langkah-langkah jika jatuh sakit. Kelompok studi di Tokyo bahkan mendapatkan sesi khusus mengenai aspek psikologis tinggal di luar negeri, terutama terkait perjuangan beradaptasi dengan lingkungan baru dan rasa rindu kampung halaman.

Harus diakui bahwa saat itu sikap yang diambil tergolong naif. Sebagai orang Jepang yang fasih berbahasa dan sudah sering berkunjung, rasa rindu kampung halaman dianggap sebagai hal yang tidak mungkin terjadi. Pemikiran saat itu sederhana: “Bagaimana bisa merasa rindu rumah di negeri sendiri? Tidak mungkin merasa bingung.”

Jika melihat ke belakang, rasanya ingin menepuk kepala diri sendiri yang begitu naif dan menyuruhnya untuk segera sadar. Kenyataannya, selama setidaknya bulan pertama masa studi, rasa asing justru mendominasi saat berada di negeri sendiri.

Perubahan gaya hidup menghantam fisik dan mental dengan keras. Saat harus menaiki kereta selama satu setengah jam demi sampai ke kampus di tengah lautan manusia di jalanan Tokyo, muncul keraguan terhadap pemberitaan media massa mengenai penurunan populasi di Jepang. Keramaian dan kesibukan itu menguras tenaga fisik maupun mental. Pertanyaan pun muncul, bagaimana bisa penduduk lokal menjalani kehidupan seperti ini setiap hari? Setelah euforia kedatangan mereda dalam beberapa minggu, kejenuhan terhadap hutan beton ini mulai mendominasi.

Kendala Komunikasi

japanese citizen study abroad phones Source: Spinster Cardigan

Kendala komunikasi tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Setiap perkataan orang lain dapat dipahami dengan baik, dan permohonan bantuan selalu bisa disampaikan saat dibutuhkan. Kendati demikian, selama beberapa minggu pertama, percakapan tidak dapat mengalir dengan mulus.

Interaksi terasa kaku dan kesalahpahaman kerap terjadi, khususnya dengan sesama mahasiswa Jepang seusia. Hal ini mungkin terjadi karena ketidaktahuan mengenai cara berinteraksi sosial di antara anak muda Jepang, mengingat selama ini bahasa tersebut hanya digunakan untuk berbicara dengan orang tua.

Sebuah kejadian spesifik terjadi saat mengobrol dengan seorang mahasiswi lain di dalam sebuah klub kampus. Saat itu, seluruh kalimat ditutup dengan bentuk formal seperti “~desu” dan “~masu” kepada semua orang. Gadis tersebut kemudian menatap dengan ekspresi agak tersinggung dan bertanya, “Kenapa kamu bicara seperti itu?”

Ketidaktahuan menjadi penyebab utama; menggunakan bahasa formal kepada teman seangkatan dianggap aneh kecuali jika orang tersebut adalah seorang sempai. Hubungan menjadi berjarak akibat ketidaktahuan dalam menyesuaikan cara bergaul dengan kelompok usia sebaya.

Tumbuh besar dalam sistem pendidikan Amerika membuat konsep senioritas atau sempai-kouhai sulit dipahami. Penentuan status senior kerap membingungkan: apakah berdasarkan usia biologis, tingkat kelas, pengalaman dalam suatu bidang, atau posisi di dalam organisasi seperti klub?

Apakah lebih baik berbicara secara formal kepada setiap orang? Cara itu justru menciptakan “tembok tak kasat mata” di antara sesama. Lalu, mengapa tidak menggunakan bahasa informal saja kepada semua orang? Tentu saja tidak bisa, karena hal tersebut dianggap tidak sopan.

Krisis Identitas

tokyo crossroads at night japanese citizen study abroad Source: Shinichi Higashi

Persoalan identitas terasa jauh lebih kompleks dan membingungkan selama berminggu-minggu. Setiap kali berinteraksi dengan mahasiswa Jepang seusia, kebingungan selalu terpancar dari raut wajah mereka.

“Jadi, kamu orang Amerika?”
“Bukan, saya orang Jepang. Lahir di sini, tapi besar di sana.”
“Kalau begitu kamu orang Jepang murni?! Kenapa kuliah di sini?!”

Dalam berbagai kegiatan kampus yang mempertemukan mahasiswa lokal dan internasional, banyak yang menganggap sebagai “mahasiswa Amerika.” Namun, begitu percakapan dimulai dalam bahasa Jepang, identitas tersebut mulai dipertanyakan. Bagi mereka, statusnya adalah seorang Jun-Japa—orang Jepang murni—tetapi dengan perilaku dan cara bicara yang tidak mencerminkan orang Jepang pada umumnya.

Situasi identitas ganda ini terkadang menghambat kelancaran percakapan dan proses membangun hubungan. Sebagai warga negara Jepang yang menguasai bahasanya, penampilan fisik dan pembawaan justru terlihat berbeda.

Kemampuan bahasa Inggris yang lebih baik dari bahasa Jepang, dipadukan dengan gaya busana kasual ala mahasiswa Amerika berupa kaus dan jins, membuat penampilan kontras dengan para gadis lokal yang selalu berpenampilan sempurna.

Sisi “Amerika” tampaknya terlalu dominan saat berada di Jepang, sehingga menimbulkan kebingungan bagi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar.

Kesulitan dalam berkomunikasi juga dirasakan dengan orang-orang di luar lingkungan kampus. Pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana seharusnya bersikap, bagaimana anak muda Jepang bertingkah laku, hingga apa arti sebenarnya menjadi orang Amerika terus berputar di kepala.

Mencari Jalan Keluar

shoko who am i japanese citizen study abroad

Perasaan tersesat bagaikan orang asing di negeri sendiri sungguh di luar dugaan. Pertanyaan mendasar mengenai identitas diri mulai bermunculan, termasuk keraguan apakah diri ini sudah terlalu ter-Amerikanisasi untuk dianggap sebagai seorang gadis Jepang.

Melihat kembali masa-masa itu, kesadaran pun muncul bahwa saat itu terjadi kesalahan dengan membandingkan Jepang saat ini dengan kunjungan-kunjungan singkat di masa lalu. Berkunjung ke Jepang hanya selama sebulan tentu sangat berbeda dengan benar-benar tinggal dan belajar di sana selama empat bulan.

Pengaruh membaca novel Norwegian Wood karya Murakami turut memperburuk suasana hati yang menjadi muram di saat-saat tak terduga. Segala hal terasa salah, dan dalam hitungan minggu sejak program dimulai, kerinduan akan kenyamanan California, universitas asal, serta keluarga mulai mendera, memicu rasa frustrasi, sedih, dan marah secara bersamaan.

Melepaskan Beban

fugu japanese citizen study abroad Source: きこう

Langkah awal untuk keluar dari rasa frustrasi tersebut adalah dengan mengakui kepolosan diri sendiri. Meskipun Jepang adalah tempat kelahiran, bagi seseorang yang menghabiskan lebih separuh hidupnya di luar negeri tanpa komunitas Jepang yang besar, Jepang pada dasarnya adalah negara baru. Proses adaptasi harus dilakukan secara perlahan tanpa membanding-bandingkannya dengan pengalaman liburan di masa lalu.

Evaluasi dilakukan untuk memahami akar permasalahan selama tinggal di Tokyo. Kejenuhan terhadap hutan beton memang nyata, tetapi eksplorasi ternyata tidak boleh hanya terbatas pada kawasan populer seperti Shibuya, Shinjuku, dan Ikebukuro. Menjelajahi sudut-sudut kota yang lebih tenang, seperti kawasan permukiman penduduk dan distrik tradisional shitamachi, memberikan ketenangan tersendiri melalui hal-hal kecil yang ditemukan di sepanjang jalan.

Berbagi cerita dengan sesama mahasiswa pertukaran pelajar memberikan ketenangan besar. Ternyata, hampir setiap orang merasakan hal serupa—merasa asing pada waktu-waktu tertentu selama di Tokyo. Saling bertukar cerita mengenai suka duka dan cara beradaptasi membuktikan bahwa perasaan tertekan tersebut tidak dialami seorang diri.

Keputusan untuk keluar dari zona nyaman kampus dengan mengambil magang di sebuah perusahaan penerbitan jurnal memperluas wawasan. Interaksi dengan pemimpin redaksi dan sesama pemagang asal Jepang memberikan gambaran nyata mengenai dunia kerja di sana.

Kesempatan untuk bertemu kembali dengan kawan lama—bahkan ada yang sudah 14 tahun tidak berjumpa—serta berkenalan dengan mahasiswa dari universitas lain yang mengerjakan berbagai proyek menarik turut memperkaya pengalaman.

Selain berbagai kegiatan tersebut, waktu dan istirahat yang cukup menjadi kunci pemulihan. Ada hari-hari di mana energi terasa melimpah untuk menjelajah, namun ada pula saat-saat ketika rasa lelah mendominasi dan keinginan terbesar hanyalah pulang untuk tidur.

Sulit untuk menentukan secara pasti kapan rasa “tersesat” itu hilang sepenuhnya. Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan asing tersebut memudar secara perlahan. Proses berdamai dengan berbagai perbedaan orang, tempat, dan pemikiran membutuhkan waktu, hingga akhirnya rasa memiliki terhadap negeri yang dulu disebut “rumah” dapat dirasakan kembali.

Manfaat dan Buah Perjalanan

shoko mt fuji japanese citizen study abroad
Penulis di titik tertinggi Jepang, Gunung Fuji

Keadaan berangsur membaik setelah masa-masa sulit terlewati. Jika ditarik garis besar, banyak hal patut disyukuri dari pengalaman tinggal di Jepang.

Keterampilan membaca dan menulis mengalami peningkatan pesat karena paparan bahasa yang konstan di setiap tempat. Penggunaan bahasa Jepang tidak hanya terjadi secara lisan setiap hari, tetapi juga melalui materi kuliah, membaca surat kabar harian, iklan di kereta, hingga interaksi di tempat tinggal bersama. Rendaman total di lingkungan berbahasa asli terbukti ampuh mendongkrak kemampuan berbahasa.

Jalinan pertemanan dengan berbagai latar belakang, baik warga lokal maupun internasional dari berbagai usia dan profesi, memberikan warna tersendiri. Berbagai diskusi mengenai pandangan mereka terhadap Jepang dan Amerika memperluas sudut pandang dalam melihat berbagai topik, baik ringan maupun serius.

Kesempatan menjelajahi Tokyo dan wilayah lainnya meruntuhkan anggapan bahwa Tokyo identik dengan kesibukan semata, atau bahwa Jepang hanyalah Tokyo. Pemahaman mengenai negara tersebut menjadi jauh lebih utuh dan tidak terjebak pada stereotip masa lalu.

Pelajaran terpenting dari perjalanan ini adalah pemahaman bahwa hal yang “familiar” pun bisa terasa “asing.” Identitas diri ternyata tidak bisa didefinisikan secara kaku. Kewarganegaraan dan etnis memang Jepang, tetapi latar belakang kehidupan membuat budaya tersebut tidak sepenuhnya melekat secara utuh. Kenyamanan kini ditemukan di zona abu-abu, memadukan bahasa dan budaya dari dua negara yang membentuk identitas diri.

Pengalaman di luar negeri ini memberikan makna sesungguhnya tentang arti “pikiran terbuka.” Setiap orang kerap mengaku terbuka pada ide dan nilai baru, tetapi situasi asinglah yang menguji kapasitas seseorang dalam merangkul perbedaan. Proses menerima kenyataan dari negara sendiri ternyata membutuhkan waktu dan pemikiran yang lebih panjang dari perkiraan.

Musim panas ini, langkah akan kembali dibawa ke Tokyo untuk menetap dalam jangka waktu yang lebih panjang dan bekerja sebagai seorang shakai-jin (anggota masyarakat). Bekas pengalaman lalu diharapkan mampu memberikan kebijaksanaan lebih dalam menghadapi berbagai dinamika di negeri yang unik dan luar biasa ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *