
Ketika saya menulis artikel mengenai apakah Patung Buddha Rias Nara dapat mencegah gempa, saya menerima banyak permintaan untuk membahas topik seputar Buddhisme di Jepang. Awalnya, saya merasa ragu karena saya bukan seorang penganut Buddha yang taat, sehingga pengetahuan saya tentang hal tersebut cukup terbatas. Namun, sebuah ide muncul di benak saya: mengapa tidak bertanya langsung kepada seorang biksu yang paham di bidangnya? Dari situlah penjelajahan ini dimulai.
Beruntung, saya sudah pernah mewawancarai seorang biksu sebelumnya dan meminta bantuannya sekali lagi. Dengan kemurahan hatinya, ia menyetujui permintaan tersebut dan membuat draf ringkas mengenai perbedaan mazhab utama dalam Buddhisme Jepang yang kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ia juga membantu menyusun sebuah diagram alur agar pembaca dapat lebih mudah memahaminya.
Setelah Anda mengenal sejarah perkembangan dan perbedaan berbagai aliran Buddha di Jepang, biksu tersebut berencana membagikan kisah kesehariannya sebagai seorang rohaniawan dari sekte Shingon. Semoga artikel pengantar ini bermanfaat dan menjadi jembatan yang menarik untuk pembahasan berikutnya.
Perbedaan Berbagai Sekte Buddhisme di Jepang
Berdasarkan “Japan Statistical Yearbook 2014” yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang pada tahun 2013, sekitar 84,7 juta orang di Jepang mengidentifikasikan diri sebagai penganut Buddha, terlepas seberapa aktif mereka menjalankan ajaran tersebut. Terdapat begitu banyak aliran Buddha di negara ini hingga sulit untuk dipelajari sekaligus dalam satu waktu. Sebanyak 59 sekte utama bernaung di bawah Asosiasi Buddhis Jepang, dan jumlah tersebut masih belum mencakup semuanya. Oleh karena itu, pembahasan ini akan difokuskan pada 13 sekte utama beserta sejarah singkatnya di Jepang.

Untuk memudahkan penelusuran Anda, sebuah diagram alur telah disiapkan guna menunjukkan keterkaitan antarsekte yang kerap kali membingungkan ini.
Pangeran Shoutoku Taishi dan Masuknya Buddhisme ke Jepang
Buddhisme lahir di India sekitar 500 SM dan menyebar ke seluruh Asia dalam kurun waktu seribu tahun. Wilayah terakhir yang dijangkau adalah Jepang, yang pertama kali masuk melalui Korea dan kemudian Tiongkok pada pertengahan abad ke-6. Fondasi Buddhisme di Jepang dikatakan sangat kuat dan berkembang pesat berkat pengaruh Pangeran Shoutoku Taishi (574–622). Beliau tidak hanya mendalami ajaran Buddha tetapi juga memanfaatkannya untuk kepentingan politik, serta mendirikan kuil-kuil penting seperti Houryuuji dan Shitennouji.
Buddhisme Nara: Enam Sekte Nanto

Transisi dari Periode Asuka (550–710) ke Periode Nara (710–794) ditandai dengan perpindahan ibu kota ke Nara, yang juga dikenal sebagai Nanto. Pada masa itu, para utusan yang disebut Kentoushi membawa pulang ajaran akademik Buddhisme dari Tiongkok era Dinasti Tang untuk dipelajari di kuil-kuil Nara. Aliran ini dikelompokkan ke dalam Enam Sekte Nanto (nantorikushuu 南都六宗), yaitu Sanron (Tiga TREATISE), Joujitsu, Kusha, Hossou (Mind-Only), Kegon (Flower-Garland), dan Ritsu (Disiplin).
Sekte Hossou
Dari keenam kelompok tersebut, Hossou (atau Yuishiki) berfokus pada studi Yogacara yang berasal dari India. Sekte ini masih bertahan hingga era modern melalui dua kuil utamanya, Koufukuji dan Yakushiji. Para penganutnya mendalami batin sendiri di tengah dunia yang fana dan selalu berubah. Berbeda dengan konsep Esoteris Sokushin-Joubutsu yang percaya bahwa seseorang dapat mencapai pencerahan dalam wujud fisik, sekte Hossou meyakini bahwa terdapat perbedaan kapasitas pada tiap individu sehingga tidak semua orang dapat dengan mudah menjadi Buddha.
Sekte Kegon
Kegon mendedikasikan diri untuk mempelajari Avatamsaka Sutra dengan kuil utamanya, Todaiji, yang menyimpan patung raksasa Buddha Vairocana sejak tahun 752 M. Kaisar Shomu juga mendirikan kuil-kuil Kokubunji di berbagai provinsi sebagai pelindung spiritual bagi Jepang, di mana Todaiji berfungsi sebagai pusat dari seluruh kuil Kokubunji tersebut. Sekte ini dikenal sangat filosofis dengan ajaran utamanya bahwa “satu adalah banyak, dan banyak adalah satu”.
Sekte Ritsu
Pada awal tahun 754 M, seorang biksu asal Tiongkok bernama Jianzhen (Ganjin) datang ke Nara dan mendirikan kuil Toushoudaiji. Ia mengajarkan Vinaya serta memimpin upacara Jukai atau penurunan ajaran moral kepada lebih dari 40.000 orang. Secara keseluruhan, karakteristik utama Buddhisme Nara adalah dukungannya terhadap gagasan perlindungan negara.
Buddhisme Heian: Dua Sekte Utama
Kaisar Konin (770–781 M) merasa keberatan dengan campur tangan kelompok Buddhis dalam urusan pemerintahan. Oleh karena itu, putranya, Kaisar Kanmu (781–806 M), memindahkan ibu kota ke Heiankyou pada tahun 794 M dan membiarkan para biksu Nara tetap berada di ibu kota lama. Kebijakan ini membuka peluang lahirnya corak Buddhisme baru, yakni sekte Tendai dan Shingon. Pada tahun 804 M, Saichou (pendiri Tendai) dan Kuukai (pendiri Shingon) dikirim ke Tiongkok sebagai utusan Kentoushi untuk memperdalam ilmu agama.
Saichou dan Sekte Tendai

Saichou mendirikan sekte Tendai di Jepang setelah menjalani pelatihan pertapaan yang ketat di Gunung Hiei selama 12 tahun. Setelah kembali dari studi di Tiongkok, ia mengkritik Buddhisme Nara yang dianggapnya terlalu teoritis, terikat pada kekuasaan politik, serta membatasi akses pencerahan bagi orang biasa. Berlandaskan Lotus Sutra, Saichou menyebarkan keyakinan bahwa setiap makhluk memiliki hakikat Buddha dan dapat mencapai Nirvana.
Meskipun ia berusaha melepaskan diri dari pengaruh Nara, para biksu Tendai awalnya tetap harus menerima tahbisan di kuil Todaiji sebelum akhirnya Saichou berhasil mendirikan aula tahbisan sendiri di Gunung Hiei. Ajaran Saichou memuat elemen Esoteris, Zen, dan Tanah Suci, menjadikan Gunung Hiei sebagai pusat pembelajaran bagi tokoh-tokoh penting Kamakura di masa depan seperti Hounen, Shinran, Dougen, dan Nichiren.
Kuukai dan Sekte Shingon

Kuukai (774–835 M), yang juga dikenal sebagai Kouboutaishi, membawa ajaran Buddhisme Esoteris dari Dinasti Tang dan mendirikan sekte Shingon di Jepang. Kaisar Saga menganugerahinya kuil Touji pada tahun 823 M sebagai pusat kegiatan spiritual untuk perlindungan negara. Hingga akhir hayatnya di Gunung Koya, Kuukai aktif menyebarkan ajaran sekaligus membangun fasilitas kesejahteraan sosial.
Inti ajaran Shingon berpusat pada Mandala, simbol ritual yang menggambarkan alam semesta. Kuukai membawa dua jenis mandala dari Tiongkok: Mandala Alam Berlian yang melambangkan kebijaksanaan Buddha, serta Mandala Alam Kandungan yang melambangkan belas kasih. Dalam pandangan sekte ini, berbagai dewa dan wujud Buddha dipandang sebagai perwujudan dari Dainichi Nyorai, yang menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam semesta saling terhubung oleh jalinan takdir atau goen.
Buddhisme Kamakura

Menjelang akhir periode Heian, kekuasaan kaum bangsawan melemah sementara kelas samurai mulai bangkit. Ditambah dengan berbagai bencana alam, wabah penyakit, serta konflik bersenjata, masyarakat dilanda rasa pesimistis dan meyakini datangnya era Mappou—masa kemunduran di mana ajaran Buddha meredup dan pencerahan sulit dicapai. Perubahan sosial ini mendorong lahirnya gerakan baru dalam Buddhisme yang terbagi menjadi dua arah: kembali ke akar ajaran melalui disiplin Zen, dan mencari bentuk keselamatan baru bagi rakyat jelata.
Sekte-Sekte Zen

Sekte Zen menekankan pencapaian pencerahan melalui meditasi mandiri dan disiplin batin. Pada periode Kamakura, mazhab Rinzai dan Soutou diperkenalkan dari Tiongkok. Eisai membawa ajaran Rinzai yang menggunakan metode perenungan koan untuk membangkitkan kesadaran diri. Di sisi lain, Dougen memperkenalkan Soutou-Zen yang berfokus pada praktik shikantaza, yakni duduk bermeditasi tanpa tujuan lain selain duduk itu sendiri.
Sekte Garis Jodo
Aliran Jodo atau Tanah Suci berkembang dari keyakinan bahwa manusia tidak dapat diselamatkan hanya melalui mengandalkan kekuatan diri sendiri. Melalui praktik melafalkan Nenbutsu (pujian kepada Buddha) dengan bersandar pada kekuatan welas asih Buddha (Tariki), para pengikutnya meyakini bahwa siapa pun, bahkan orang berdosa sekalipun, dapat lahir kembali di alam suci setelah kematian.
Sekte Nichiren

Didirikan pada tahun 1253 di tengah gelombang krisis kelaparan, wabah, dan ancaman invasi Mongol, sekte Nichiren meyakini bahwa Lotus Sutra adalah ajaran yang paling tepat untuk menghadapi zaman Mappou. Pengikutnya diajak untuk mencapai keselamatan dengan cara melafalkan mantra suci Namu-Myouhou-renge-kyo.
Meskipun jutaan penduduk Jepang secara statistik tercatat sebagai penganut Buddha, pengaruh agama ini dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern kini mulai meredup, terutama di kalangan generasi muda. Tradisi keagamaan umumnya hanya terlihat saat penyelenggaraan upacara pemakaman atau melalui altar peringatan leluhur di rumah. Berbagai upaya unik pun dilakukan oleh sebagian rohaniawan, mulai dari bermusik hingga mendirikan tempat berkumpul khusus, demi mendekatkan kembali nilai-nilai Buddhisme kepada generasi masa kini.








