Home / Travel / Memahami Jepang Lewat The Karate Kid: Membangun Pemahaman Budaya Lewat Film Inspiratif

Memahami Jepang Lewat The Karate Kid: Membangun Pemahaman Budaya Lewat Film Inspiratif

Sekitar lima tahun yang lalu, saya duduk di sebuah ruang rapat untuk menjalani wawancara dengan seorang eksekutif senior wanita dari perusahaan Amerika tempat saya akhirnya bekerja. Setelah menghabiskan total 11 tahun berkarier di perusahaan Jepang dan bekerja di bawah kepemimpinan orang Jepang, saya mengambil keputusan untuk melompat ke dunia gaishi-kei atau perusahaan asing.

Ia menatap CV saya yang tergolong tidak biasa, mencatat bahwa seluruh masa kerja saya dihabiskan di perusahaan Jepang, bekerja untuk atasan Jepang, dan menggunakan bahasa Jepang. Ia lalu menoleh dan melemparkan sebuah pertanyaan yang membuat saya terkejut.

"Setelah sekian lama bekerja di perusahaan Jepang, apa hal paling penting yang telah Anda pelajari?"

Itu pertanyaan yang sulit. Saya sempat ragu, memikirkan bagaimana cara menjawab pertanyaan yang begitu terbuka. Namun, setelah beberapa detik, sebuah frasa melintas di kepala saya yang merangkum seluruh pengalaman saya dalam beradaptasi dengan etos kerja di Jepang.

Saya menjawab: "hal-hal kecil adalah hal-hal besar."

Memahami Nilai Diri Sendiri untuk Memahami Orang Lain

Satu-satunya cara untuk mulai memahami budaya apa pun dalam konteksnya adalah dengan memiliki pemahaman yang objektif tentang budaya sendiri, serta melepaskan diri dari anggapan bahwa "norma" di negeri asal kita adalah kebenaran universal.

[[MEDIA_0]]

Sebagai seseorang yang berasal dari Selandia Baru dan bekerja dengan orang Jepang, saya mendapati banyak aspek "akal sehat" dari budaya saya yang terasa kurang dalam cara orang Jepang bekerja dan bermain. Nilai-nilai yang umumnya dipegang oleh masyarakat Selandia Baru meliputi:

  • Keluarga adalah yang utama
  • Anda bekerja untuk hidup – bekerja agar bisa pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarga
  • Tujuan utama pekerjaan adalah efisiensi dan produktivitas
  • Tujuan utama kegiatan di luar pekerjaan adalah menikmati waktu luang dan relaksasi

Nilai-nilai inilah yang kerap berbenturan ketika saya mencoba beradaptasi dengan kondisi kerja di Jepang.

Wax On, Wax Off

Salah satu perkenalan pertama saya dengan budaya Jepang—yang tidak melibatkan Perang Dunia II atau Ninja Turtles—adalah film Karate Kid. Saya berusia sekitar 10 tahun ketika film itu dirilis dan merasa bingung dengan latihan tidak biasa yang diberikan Tuan Miyagi kepada Daniel, seperti mengecat pagar, menggosok mobil, dan mengampelas lantai. Itu sama sekali tidak masuk akal.

[[MEDIA_1]]

Seiring waktu, saya menyadari bahwa metode tersebut merupakan cerminan dari etos kerja ala perajin tradisional yang dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan di Jepang. Bedanya, jika dalam film Daniel hanya berlatih selama beberapa minggu, di dunia nyata Anda kerap harus melakukan hal serupa selama puluhan tahun.

Merasa Tidak Paham

Pengalaman saya sering kali sejalan dengan orang asing lain yang merasa frustrasi saat bekerja di lingkungan profesional Jepang. Dimarahi karena menggunakan warna pulpen yang salah, terdapat satu saja kesalahan eja dalam dokumen setebal 80 halaman, atau dianggap malas karena menemukan cara yang lebih cepat dan efisien untuk menyelesaikan tugas.

[[MEDIA_2]]

Obsesi terhadap detail sekecil ini adalah hal yang kerap membuat banyak orang—baik warga lokal maupun asing—merasa kewalahan. Di Selandia Baru, meskipun saya tidak menyukai cara kerja seseorang, saya masih bisa memahami logika di balik pola pikir mereka. Namun di Jepang, bekerja lembur hingga akhir pekan dengan cara yang tidak masuk akal secara rasional adalah hal yang sangat sulit saya terima.

Pencerahan dari Taichi Sakaiya dan Baigan Ishida

Pencerahan itu datang setelah saya tinggal di Jepang selama kurang lebih satu tahun. Setelah membaca berbagai buku tentang budaya dan masyarakat Jepang sebagai persiapan yang ternyata tidak banyak membantu, ingatan saya melintas pada sebuah bacaan karya mantan birokrat METI, Taichi Sakaiya, yang berjudul What is Japan.

[[MEDIA_3]]

Sakaiya menjelaskan bahwa para pemimpin Jepang sekitar 400 tahun yang lalu menghadapi masalah ketidakstabilan ekonomi yang disebabkan oleh populasi yang padat namun miskin sumber daya alam. Para penguasa saat itu menemukan solusi melalui filosofi mazhab Zen Buddhism yang dirintis oleh Baigan Ishida, yang berpegang pada prinsip bahwa "semua pekerjaan adalah pencarian pengetahuan".

[[MEDIA_4]]

Dalam pandangan ini, pekerjaan dilihat terutama sebagai sarana pembentukan karakter, dan baru kemudian sebagai sarana produktivitas. Keshogunan mengadopsi dan menyebarkan filosofi ini untuk meredam siklus ekonomi yang naik turun pada masa itu.

[[MEDIA_5]]

Sakaiya menilai filosofi inilah yang menjadi akar dari obsesi masyarakat Jepang terhadap detail, bahkan untuk hal-hal yang kurang penting. Penilaian terhadap kinerja seseorang sering kali tidak diukur dari fungsi utamanya saja, melainkan dari dedikasi dan perhatian mereka terhadap detail sekecil apa pun.

Oyassan

Sketsa komedi Jepang pertama yang berhasil membuat saya tertawa adalah Oyassan dari grup lawak Downtown. Acara tersebut menggambarkan seorang perajin senior yang memperlakukan magang mudanya dengan keras, mulai dari teguran lisan hingga hukuman fisik.

Meskipun tidak seekstrem yang digambarkan di televisi, pola pelatihan ala murid kepada master ini memang nyata dalam berbagai bidang di Jepang. Atlet rugbi muda harus mencuci sendiri kaus pemain senior, sementara koki pemula menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk membersihkan bahan sebelum diizinkan memasak.

Di lingkungan kantor, tanggung jawab seperti mencatat notulen rapat atau berbicara langsung dengan klien adalah hak istimewa yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk didapatkan. Staf di perusahaan manufaktur yang dipersiapkan untuk posisi manajemen senior diwajibkan bekerja di berbagai lini produksi selama bertahun-tahun agar benar-benar memahami setiap aspek dari perusahaan tersebut.

Hal yang Perlu Diingat

Pada masa-masa awal saya di Jepang, saya melihat banyak pekerja asing datang dan pergi dengan impian besar, namun akhirnya memilih pulang karena frustrasi. Budaya kerja ini memang memiliki sisi negatif yang memicu tingkat stres dan kelelahan kerja yang tinggi.

[[MEDIA_6]]

Namun, memahami filosofi di balik etos kerja ini membantu saya melihat sisi positifnya. Hal inilah yang menjadi fondasi di balik reputasi tinggi produk buatan Jepang serta dedikasi para insinyur, koki, dan seniman mereka yang diakui dunia.

Seorang rekan kerja berdarah Jepang-Amerika pernah memberikan pandangan serupa kepada saya, lalu menutupnya dengan sebuah kalimat candaan: "Ingatlah, semua ini sebenarnya omong kosong…"

Tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk mencegah orang datang ke Jepang. Sebaliknya, saya ingin lebih banyak orang asing datang dan masyarakat Jepang juga semakin terbuka terhadap pengaruh global. Poin utamanya adalah bahwa filosofi ketekunan ini meresapi sebagian besar aspek kehidupan di Jepang.

Memahami ekspektasi tersebut adalah bagian penting dari kehidupan di sini, tetapi jangan pernah melepaskan nilai-nilai yang Anda miliki dari negeri asal. Kemampuan untuk menganalisis situasi secara mendalam melalui berbagai sudut pandang budaya adalah keahlian yang sangat berharga.

[[MEDIA_7]]

Memahami etos kerja perajin Jepang adalah salah satu kunci utama yang membuat banyak hal terasa masuk akal di negara ini. Hal itu mungkin tidak serta-merta membuat hidup Anda di sini menjadi lebih mudah, tetapi memberikan konteks yang jelas untuk memahami berbagai hal yang sering kali tidak logis. Jadi, tetaplah berfikiran terbuka, dan mulailah merawat mobil-mobil tersebut sekarang juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *