Home / Travel / Kenapa Jepang Mendaftar di Sebelah Kiri Jalan? Pedang, kereta, kuda, dan lainnya -> *Wait, “drive on the left side” is “berkendara di sebelah kiri”.* Alasan Jepang Mendaftar di Sebelah Kiri? Salah, “drive” itu berkendara/menyetir. Let’s refine: Alasan Jepang Mendarat di Sebelah Kiri? No. Source: Why Does Japan Drive On The Left Side of the Road? Swords, trains, horses, and more Translation/Adaptation for Indonesian

Kenapa Jepang Mendaftar di Sebelah Kiri Jalan? Pedang, kereta, kuda, dan lainnya -> *Wait, “drive on the left side” is “berkendara di sebelah kiri”.* Alasan Jepang Mendaftar di Sebelah Kiri? Salah, “drive” itu berkendara/menyetir. Let’s refine: Alasan Jepang Mendarat di Sebelah Kiri? No. Source: Why Does Japan Drive On The Left Side of the Road? Swords, trains, horses, and more Translation/Adaptation for Indonesian

Sekitar seperempat negara di dunia menerapkan aturan berkendara di sebelah kiri jalan, dan Jepang adalah salah satunya. Namun, mengapa negara ini memilih jalur kiri ketika sebagian besar dunia menggunakan jalur kanan? Apakah aturan ini sudah berlaku sejak dulu, dan adakah kaitannya dengan sejarah negara lain? Jawabannya ternyata cukup menarik dan tidak sesederhana yang dibayangkan.

Alasan di Balik Tradisi Berkendara di Sebelah Kiri

A medieval knight swinging his greatsword

Jauh sebelum kendaraan bermotor ditemukan, sebagian besar orang justru berjalan di sisi kiri jalan. Hal ini sangat masuk akal mengingat mayoritas populasi adalah seorang right-handed atau bertangan dominan kanan. Para kesatria lebih memilih berjalan di sebelah kiri agar tangan kanan mereka lebih dekat dengan potensi musuh, sementara pedang dan sarungnya berada di sisi sebaliknya. Karena sarung pedang ditarik dari sisi kiri, posisi ini juga mencegah dua orang berselisih secara tidak sengaja dan memicu duel.

Selain itu, orang yang dominan menggunakan tangan kanan lebih mudah naik ke atas kuda dari sisi kiri, terutama saat mengenakan pedang. Naik dan turun kuda dari sisi bahu jalan juga jauh lebih aman dibandingkan di tengah jalan agar terhindar dari lalu lintas yang padat. Oleh karena itu, kebiasaan naik dari sisi kiri berlanjut pada kebiasaan menunggangi kuda di sisi kiri. Alasan-alasan praktis inilah yang membuat perjalanan di masa lampau umumnya dilakukan di sebelah kiri.

Farm wagons driving on the left side of the road

Memasuki akhir tahun 1700-an, para pengangkut barang mulai menggunakan gerobak yang ditarik oleh sekelompok kuda. Gerobak ini tidak memiliki tempat duduk khusus, sehingga pengemudinya duduk di atas kuda bagian belakang sebelah kiri agar lebih mudah mencambuk kuda-kuda lainnya. Mengingat sebagian besar orang dominan menggunakan tangan kanan, posisi ini dianggap paling efektif.

Karena pengemudi duduk di sisi kiri—mirip dengan posisi pengemudi mobil saat ini di banyak negara—mereka ingin kendaraan lain melintas di sebelah kiri agar dapat mengawasi roda gerobak agar tidak saling bersenggolan. Akibatnya, gerobak-gerobak tersebut mulai berjalan di sisi kanan jalan. Situasi ini tentu bertentangan dengan kebiasaan pejalan kaki yang selama ini berjalan di sebelah kiri, sehingga pengaturan lalu lintas mulai menjadi rumit.

Aturan resmi untuk selalu berjalan di sisi kanan akhirnya diperkenalkan di Paris pada tahun 1794. Seiring dengan ekspansi penaklukan Napoleon, kebiasaan ini menyebar ke sebagian besar wilayah Eropa. Negara-negara yang menentang Napoleon secara alami mempertahankan tradisi berkendara di sebelah kiri sebagai bentuk perlawanan, seperti Inggris, Kekaisaran Austro-Hongaria, dan Portugal. Pembelahan antara negara pengguna jalur kiri dan kanan di Eropa ini pun bertahan selama lebih dari satu abad.

Map of countries driving on the left-side

Seiring berjalannya waktu, sebagian besar negara di dunia memutuskan untuk beralih ke jalur kanan. Kendati demikian, Inggris tetap teguh pada pendiriannya untuk menggunakan jalur kiri. Ketika industri pariwisata dan perjalanan berkembang pesat pada tahun 1800-an, regulasi lalu lintas mulai dibentuk di berbagai negara, hingga akhirnya aturan berkendara di sebelah kiri disahkan menjadi undang-undang di Inggris pada tahun 1835. Wilayah-wilayah yang menjadi bagian dari Imperium Britania, seperti India, Australia, dan bekas koloni Inggris di Afrika, turut mengikuti aturan ini. Lantas, bagaimana dengan Jepang?

Alasan Jepang Menerapkan Jalur Kiri

Japanese railworkers tending to a train car

Meskipun tidak pernah menjadi bagian dari Imperium Britania, Jepang juga menerapkan aturan lalu lintas di sebelah kiri. Tradisi ini sebenarnya telah berakar sejak zaman Edo (1603–1867) ketika para Samurai menguasai negeri, di mana aturan penggunaan pedang dan sarungnya memegang peranan penting. Namun, aturan tak tertulis tersebut baru diresmikan pada tahun 1872, bertepatan dengan peluncuran jalur kereta api pertama di Jepang.

Dalam pembangunan sistem kereta api tersebut, tiga negara sempat menawarkan bantuan kepada pemerintah Jepang, yaitu Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris. Pada akhirnya, Inggris keluar sebagai pemenang. Berkat bantuan Inggris, jaringan kereta api pertama Jepang mulai beroperasi pada tahun 1872. Dari sinilah jaringan kereta api yang luas dan semuanya menggunakan jalur kiri mulai berkembang pesat di Jepang. Seandainya Jepang memilih membangun rel kereta api dengan standar Amerika atau Prancis, besar kemungkinan negara tersebut kini menerapkan aturan berkendara di sebelah kanan jalan.

Japanese city cars driving on the left side at night

Kereta kuda dan trem listrik kemudian mengikuti preseden jalur kiri yang telah ditetapkan oleh jaringan kereta api tersebut. Menjelang tahun 1900, kendaraan bermotor mulai bermunculan di jalan raya. Kepolisian Tokyo mengeluarkan perintah pada tahun 1902 yang untuk pertama kalinya mewajibkan pejalan kaki berjalan di sisi kiri jalan. Puncaknya pada tahun 1924, aturan berkendara di sebelah kiri resmi ditetapkan sebagai undang-undang nasional.

Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, wilayah Okinawa berada di bawah kendali Amerika Serikat dan sempat diubah menjadi sistem berkendara di sebelah kanan. Okinawa baru kembali menerapkan aturan jalur kiri ketika wilayah tersebut dikembalikan ke pangkuan Jepang pada 30 Juli 1978, menjadikannya salah satu sedikit wilayah yang pernah beralih dari jalur kanan kembali ke jalur kiri pada abad ke-20.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *