Bagi kebanyakan orang asing, sushi mungkin menjadi hal pertama yang terlintas di kepala ketika mendengar kata kuliner Jepang. Namun, saat ini posisi tersebut mulai disusul oleh ramen. Hidangan mi berkuah kaldu gurih yang direbus selama berjam-jam ini telah menjelma menjadi tren global yang digandrungi para pencinta kuliner. Meskipun demikian, perjalanan ramen hingga menjadi pusat identitas kuliner Jepang ternyata menyimpan sejarah yang cukup panjang dan kompleks.
Buku karya sejarawan akademis George Solt yang berjudul The Untold History of Ramen: How Political Crisis in Japan Spawned a Global Food Craze mengupas tuntas bagaimana hidangan mi ini merefleksikan dinamika sejarah dan kebudayaan Jepang. Di balik popularitasnya saat ini, ramen memiliki kisah asal-usul yang tidak sederhana.
Kelahiran Ramen

Ramen itu rumit, dan sejarahnya pun tidak sederhana.
Meskipun kini diidentikkan sebagai kuliner khas Jepang, ramen sebenarnya merupakan hidangan pendatang. Hal ini tercermin dari nama-nama yang dahulu disematkan padanya, yaitu Chūka soba dan Shina soba, yang secara harfiah berarti mi Cina. Istilah Chūka soba mulai banyak digunakan kembali usai Perang Dunia II untuk menggantikan kata Shina soba yang berbau politis dan diasosiasikan dengan masa imperialisme Jepang di Asia. Kendati demikian, tidak ada satupun hidangan di Cina yang benar-benar mirip dengan ramen ala Jepang masa kini.
Solt memaparkan tiga mitos utama mengenai asal-usul ramen. Versi pertama yang paling imajinatif berasal dari sebuah buku tahun 1987 yang menyebutkan bahwa penguasa feodal Tokugawa Mitsukuni adalah orang Jepang pertama yang menikmati ramen pada era 1660-an. Cerita ini berakar dari catatan sejarah tentang seorang pengungsi Cina yang memberikan saran kepada sang penguasa untuk menambahkan bawang putih, daun bawang, dan jahe ke dalam sup udon miliknya agar terasa lebih lezat.

Meski hubungan antara sup udon modifikasi tersebut dengan ramen modern masih diperdebatkan, Museum Ramen Yokohama sempat mempopulerkan kisah ini untuk memperkuat kesan bahwa akar ramen sudah tertanam kuat dalam sejarah tradisional Jepang. Sementara itu, cerita kedua yang lebih masuk akal menghubungkan ramen dengan dibukanya pelabuhan-pelabuhan Jepang bagi bangsa asing pada akhir abad kesembilan belas. Kota pelabuhan seperti Yokohama dan Kobe kedatangan para pedagang Cina yang membawa sup mi bernama laa-mien, yakni mi buatan tangan dalam kuah kaldu ayam ringan yang disebut Nankin soba oleh warga lokal.

Versi ketiga mengerucut pada satu figur penemu, yakni Ozaki Kenichi yang membuka kedai bernama Rai-Rai Ken di distrik Asakusa, Tokyo, pada tahun 1910. Kedai ini menyajikan mi kuah berbahan dasar shoyu atau kecap asin yang dilengkapi dengan chāshū (daging babi panggang), naruto (kue ikan), bayam rebus, dan nori. Kombinasi inilah yang kemudian menjadi cetak biru bagi ramen gaya Tokyo yang otentik.
Masa Pertumbuhan Ramen

Perkembangan ramen tidak lepas dari gelombang industrialisasi dan urbanisasi di Jepang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Perpindahan penduduk dari desa ke kota memicu kebutuhan akan makanan yang cepat saji dan padat kalori bagi para pekerja pabrik serta buruh perkotaan.
Waktu penyajian yang singkat serta porsi yang mengenyangkan menjadikan sup mi ini sangat cocok dengan gaya hidup pekerja urban Jepang pada dekade 1920-an dan 1930-an.
Pada masa itu, ramen dipandang sebagai makanan modern yang bergizi karena mengandung lebih banyak daging, gandum, serta lemak dibandingkan makanan tradisional Jepang. Kehadiran mesin pembuat mi mekanis pada akhir tahun 1910-an juga turut menandai ramen sebagai salah satu produk pangan industri awal di Jepang.
Masa-Masa Sulit

Perang Dunia II mengubah segalanya. Krisis pangan yang parah antara tahun 1944 hingga 1947 membuat ramen sempat menghilang akibat kebijakan ransum. Pasca perang berakhir, keterbatasan pasokan beras diiringi oleh masuknya impor gandum dari Amerika Serikat membuat makanan berbahan dasar terigu seperti ramen, gyoza, yakisoba, dan okonomiyaki kembali digemari sebagai sumber penambah stamina.
Ketergantungan pada gandum impor ini secara tidak langsung mengubah pola makan masyarakat Jepang secara permanen. Kendati demikian, pada masa itu ramen masih sering diasosiasikan dalam budaya populer sebagai simbol kemiskinan dan kesenjangan sosial, di mana masyarakat kelas menengah ke atas kerap memandang sebelah mata hidangan tersebut karena melekatnya imej sebagai makanan buruh.
Era Kejayaan

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi Jepang antara tahun 1955 hingga 1973, popularitas ramen pun ikut melonjak drastis. Proyek-proyek pembangunan besar, termasuk persiapan Olimpiade Tokyo 1964, menyerap tenaga kerja dalam jumlah masif yang menjadikan ramen sebagai makanan pokok sehari-hari. Pada era ini pula inovasi mi instan lahir dan mulai mengubah peta kuliner dunia.

Menariknya, pemerintah dan para ilmuwan nutrisi saat itu sempat menggalkampan konsumsi makanan berbasis gandum dengan argumen yang mengaitkan keunggulan bangsa Barat dengan pola makan mereka yang kaya akan daging dan produk olahan gandum, sebuah pandangan yang kini tentu terdengar sangat kontras.
Ramen Menjadi Tren dan Ikon Budaya

Memasuki dekade 1970-an, fenomena datsu-sara atau para pekerja kantoran yang beralih profesi menjadi pemilik kedai ramen mulai marak. Profesi peracik ramen dipandang sebagai simbol kemandirian dan kreativitas di luar kungkungan korporasi.

Pada tahun 1980-an, kedai-kedai ramen spesialis mulai menggantikan posisi gerobak jalanan tradisional. Konsumen dari kalangan generasi muda perkotaan rela mengantre selama berjam-jam demi mencicipi semangkuk ramen favorit mereka. Di tahun 1990-an, para koki ramen bahkan bertransformasi menjadi figur publik selebritas yang kerap tampil di berbagai media.
Transformasi Menjadi Kuliner Khas Jepang

Meskipun berakar dari luar negeri dan mengandalkan bahan baku gandum impor, ironisnya ramen justru sukses bertransformasi menjadi representasi budaya tradisional Jepang. Generasi baru koki ramen mulai mengenakan pakaian kerja tradisional Buddhis bernama samue, yang lazim dipakai oleh para seniman tembikar. Penampilan ini memperkuat citra peracik ramen sebagai seniman kerajinan tangan bernuansa Zen alih-alih sekadar juru masak hidangan Cina.

Kini, kedai ramen dapat ditemukan di berbagai kota besar di seluruh dunia sebagai simbol kuliner Jepang yang terjangkau, digemari anak muda, dan sarat akan keautentikan rasa rumahan. Di sisi lain, produk mi instan juga telah mendunia dan dikonsumsi oleh miliaran orang setiap tahunnya, membuktikan bahwa perjalanan panjang ramen dari masa lalu telah membawanya menjadi fenomena global yang mendunia.








