Home / Travel / Serba-serbi Hikikomori, Sebutan untuk Sejuta Orang Hilang di Jepang

Serba-serbi Hikikomori, Sebutan untuk Sejuta Orang Hilang di Jepang

header 640x 13

Banyak orang sesekali merasa ingin menarik diri dari keramaian dunia. Menghabiskan akhir pekan di kamar sambil bermain gim, menjelajahi internet, atau membaca artikel mungkin tampak seperti satu-satunya agenda Anda. Namun, setelah menghadapi tekanan atau kejenuhan, Anda biasanya akan kembali keluar kamar dan membaur dengan masyarakat. Tubuh Anda yang kekurangan sinar matahari tentu juga membutuhkan asupan nutrisi yang layak.

Kendati demikian, sebagian masyarakat di Jepang memilih untuk menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, di dalam kamar tidur mereka. Mereka hanya keluar pada tengah malam untuk membeli keperluan di minimarket terdekat. Umumnya berjenis kelamin laki-laki dan berada di usia dua puluhan, kelompok ini dikenal sebagai “jutaan orang yang hilang” atau hikikomori. Hingga kini, alasan pasti di balik keputusan mereka mengucilkan diri masih menjadi perdebatan, meskipun berbagai pihak telah berupaya mencari jawabannya.

Sejarah Singkat Hikikomori

hikikomori messy empty bed
Source: Ben Seidelman

Saito Tamaki, seorang terapis yang praktik di Kota Funabashi, awalnya menyadari adanya sebuah pola yang berulang. Para orang tua yang cemas kerap datang menemuinya untuk meminta saran mengenai anak-anak mereka yang pasif, antisosial, dan mengurung diri rapat-rapat di kamar. Saito kemudian mendalami fenomena tersebut dan menuangkan hasil pengamatannya ke dalam buku terbitan tahun 1998 berjudul Hikikomori: Adolescence without End.

Dua tahun setelah buku tersebut terbit dan topik hikikomori ramai dibahas media Jepang, seorang remaja berusia 17 tahun membajak sebuah bus dan melukai beberapa penumpang dengan pisau, setelah sebelumnya mengumumkan niatnya di sebuah forum daring. Peristiwa tragis lain yang melibatkan seorang hikikomori juga terjadi pada tahun yang sama, ketika polisi menemukan seorang gadis yang disekap selama hampir satu dekade oleh seorang pria penyendiri yang tinggal bersama ibunya.

Meskipun kasus-kasus kriminal kekerasan yang dilakukan oleh pria pengurung diri ini tergolong jarang—perlu dicatat bahwa mayoritas penderita gangguan mental tidak melakukan kekerasan—kejadian tersebut semakin menarik perhatian publik Jepang dan dunia internasional. Populasi hikikomori yang selama ini tersembunyi pun menjadi sorotan utama.

Apa yang Sebenarnya Kita Ketahui

hikikomori man looking through blinds
Source: Hunter McGinnis

Istilah hikikomori sering kali digunakan untuk menyebut individunya sekaligus kondisinya; dengan kata lain, seseorang yang mengalami kondisi ini disebut sebagai seorang hikikomori. Hal ini menunjukkan betapa abu-abunya batasan dari fenomena tersebut. Para psikolog dan pakar bahkan berbeda pendapat mengenai cara mengklasifikasikannya: apakah ini murni gangguan kejiwaan atau sekadar gejala? Apakah hikikomori merupakan fenomena khas Jepang atau juga terjadi di negara lain?

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mendefinisikan hikikomori sebagai seseorang yang tidak berpartisipasi dalam masyarakat, khususnya dunia kerja atau sekolah, serta tidak memiliki keinginan untuk melakukannya. Seorang hikikomori juga tidak mempunyai hubungan akrab di luar anggota keluarga. Gejala penarikan diri ini harus berlangsung setidaknya selama enam bulan dan bukan disebabkan oleh masalah patologis lainnya.

Aktivitas harian seorang hikikomori umumnya dimulai saat hari orang lain telah berakhir. Mereka adalah tipe penyuka malam hari yang menghabiskan waktu di dalam kamar diterangi cahaya layar televisi dan komputer, ditemani oleh pikiran mereka sendiri. Karena fenomena ini biasanya bermula dari krisis eksistensial setelah lulus sekolah dan bersiap memasuki dunia kerja, mereka hampir selalu tinggal bersama orang tua yang menyediakan tempat tinggal dan makanan. Berbeda dari penderita agorafobia parah, seorang hikikomori terkadang masih mau keluar kamar atau bahkan rumah, biasanya sekadar menyambangi lorong-lorong minimarket.

Manual diagnostik DSM-5 yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA) tidak secara khusus memasukkan hikikomori sebagai gangguan psikologis mandiri, melainkan melihatnya sebagai gejala dari gangguan kecemasan atau kepribadian. Bagi APA, hikikomori lebih condong ke dalam kategori sindrom terikat budaya, yakni kondisi kesehatan mental yang hanya muncul pada kebudayaan tertentu karena faktor budaya pula.

Apakah Hanya Terjadi di Jepang?

hikikomori walking through fushimi inari
Source: Jay Bergesen

Orang yang mengurung diri di rumah sebenarnya dapat ditemukan di berbagai belahan dunia, dan banyak di antara mereka yang didiagnosis dengan gangguan psikologis yang diakui secara resmi oleh APA. Lantas, apa yang membuat hikikomori memiliki karakteristik yang begitu lekat dengan Jepang?

Jika menelaah berbagai pemberitaan, ada serangkaian faktor yang melatarbelakangi kemunculan fenomena ini di Jepang. Alasan utamanya adalah struktur masyarakat Jepang yang menuntut setiap individu untuk mengikuti jalur baku demi meraih kesuksesan, tanpa memberikan banyak toleransi bagi mereka yang tergelincir. Sebagian besar budaya memang menganut alur serupa: bersekolah, lulus, bekerja, lalu menikah. Namun, di budaya lain biasanya ada sedikit ruang bernapas, seperti mengambil tahun jeda atau berpindah-pindah karier.

Situasi tersebut tidak berlaku di Jepang, di mana sebagian besar lulusan perguruan tinggi diharapkan sudah memiliki kepastian kerja bahkan sebelum mereka menerima ijazah resmi. Kondisi ekonomi Jepang saat ini membuat target tersebut terasa semakin berat untuk dicapai. Beban sosial akibat kegagalan masuk sekolah bergengsi atau mendapatkan pekerjaan yang layak terkadang terlalu berat untuk ditanggung, sehingga tetap tinggal di dalam kamar terasa sebagai pilihan yang paling aman.

Para sosiolog juga menyoroti budaya amae di Jepang, yang pada dasarnya merupakan ketergantungan kekanak-kanakan terhadap orang tua yang sangat memanjakan anak mereka. Pendekatan disiplin yang keras bukan bagian dari gaya pengasuhan tradisional di Jepang. Alih-alih mendobrak pintu kamar dan menuntut anak-anak mereka mengulang ujian masuk atau mencari kerja, para orang tua justru mencucikan pakaian dan menyiapkan makanan mereka. Jalur perlawanan paling minim hambatan ini tentu menjadi pilihan yang paling mudah.

Gangguan Mental atau Masalah Pola Pikir?

books about anxiety hikikomori
Source: James Lee

Dalam bukunya, Saito memaparkan argumennya bahwa hikikomori merupakan sebuah gangguan perkembangan, alih-alih sekadar benturan nilai dalam budaya Jepang. Ia mencatat bahwa banyak gangguan psikologis mulai muncul pada masa remaja, dan akar permasalahan dari hikikomori adalah kegagalan individu untuk beranjak dewasa, meskipun ia tidak menyatakan adanya penyebab fisiologis pasti di baliknya.

Hikikomori memiliki tingkat komorbiditas yang tinggi dengan depresi, serta kerap disertai gangguan mental lain seperti skizofrenia dan gangguan obsesif-kompulsif. Kendati demikian, Saito berpendapat bahwa apa yang kerap dianggap sebagai gejala skizofrenia—seperti lepas dari kenyataan—sebenarnya merupakan manifestasi dari hikikomori itu sendiri. Mereka yang tidak menganggap hikikomori sebagai gangguan mandiri biasanya melihat penarikan diri sosial sebagai gejala dari masalah lain. Padahal, bisa jadi justru sebaliknya: tindakan mengurung diri itulah yang memicu kemunculan gejala lain seperti depresi atau perilaku obsesif. Saito juga mencatat adanya laporan kasus hikikomori di luar Jepang, seperti di Korea Selatan dan Italia, yang mengindikasikan bahwa fenomena ini mungkin lebih luas dari sekadar sindrom budaya lokal.

Hikikomori yang Tak Terlihat

hikikomori woman breaking down
Source: Holly Lay

Ketika membayangkan seorang hikikomori, kebanyakan orang langsung mengarah pada sosok pemuda. Kendati demikian, survei yang dilakukan oleh NHK menunjukkan bahwa hanya 53% hikikomori berjenis kelamin laki-laki, meskipun beberapa pakar lain memperkirakan angka tersebut mendekati 80%. Hal ini mencerminkan sulitnya melakukan pendataan terhadap populasi yang sengaja mengisolasi diri. Yang pasti, ada pula perempuan yang menjadi hikikomori karena mereka menghadapi tekanan kultural yang serupa. Tingginya jumlah laki-laki yang terdampak masih menyisakan pertanyaan tersendiri dalam ranah klinis.

Minimnya representasi perempuan dalam data hikikomori juga bisa disebabkan oleh norma sosial yang lebih memaklumi perempuan muda untuk tinggal bersama orang tua dalam waktu lama, sehingga kasus pada perempuan kerap tidak dilaporkan maupun diobati.

Penanganan Hikikomori

hikikomori man on the computer in the dark
Source: Hunter McGinnis

Di tengah perdebatan mengenai definisi dan penyebab hikikomori, belum ada konsensus baku mengenai metode pengobatan yang paling mujarab. Meski demikian, berbagai pendekatan penanganan telah menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.

Dalam praktiknya, Saito menggunakan perspektif kognitif-perilaku serta terapi wicara untuk menangani pasien hikikomori, metode yang lazim dipakai pada penderita depresi atau kecemasan. Para orang tua dari hikikomori juga disarankan untuk mengikuti sesi terapi dan kelompok dukungan.

Pada masa lalu, sebagian orang tua bahkan menempuh cara ekstrem dengan menyewa pihak tertentu untuk mendobrak pintu dan menyeret anak mereka keluar kamar. Namun, cara konfrontatif semacam ini terbukti tidak efektif dan sebagian besar telah ditinggalkan.

Sebagai bentuk solusi yang lebih kreatif, beberapa organisasi dan rumah singgah seperti New Start mengerahkan perempuan muda untuk mendatangi kediaman para hikikomori dan mencoba mengajak mereka berbicara dari balik pintu kamar. Tujuan dari para “rental sisters” ini adalah memberikan rasa aman, menjalin kedekatan, dan perlahan membujuk mereka keluar untuk mencari bantuan profesional.

Sebuah perusahaan bernama Avex bahkan memproduksi seri video berjudul “Just Looking”, di mana para gadis menatap langsung ke arah kamera selama sekitar satu menit. Tujuannya adalah membantu para hikikomori membiasakan diri mempertahankan kontak mata dari zona nyaman kamar mereka.

Terlepas dari berbagai metode terapi yang ada, pendekatan paling efektif tampaknya justru datang dari para mantan hikikomori itu sendiri. Contohnya adalah Kazushi Suganuma, yang bersama saudaranya mendirikan sebuah kedai kopi tempat para mantan hikikomori dapat bekerja, belajar memikul tanggung jawab, dan membiasakan diri berinteraksi sosial secara langsung.

Meskipun perdebatan mengenai status hikikomori sebagai gangguan psikologis murni masih berlanjut, pihak yang paling memahami cara mengatasi masalah isolasi sosial ini tampaknya adalah mereka yang pernah mengalaminya. Seiring dengan semakin banyaknya mantan hikikomori yang kembali menjejakkan kaki ke dunia luar, pengalaman langsung mereka diharapkan mampu membantu individu lain keluar dari kegelapan kamar tidur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *