Home / Travel / Higuchi Ichiyō: Sosok Perempuan Tangguh dalam Sejarah Jepang yang Berani dan Tanpa Kompromi Kembalikan Sastra Jepang ke Akar Klasiknya

Higuchi Ichiyō: Sosok Perempuan Tangguh dalam Sejarah Jepang yang Berani dan Tanpa Kompromi Kembalikan Sastra Jepang ke Akar Klasiknya

header 640x 17

Kerja keras saja belum cukup untuk mencapai kesuksesan; seseorang juga harus berani melepaskan rasa takut. Prinsip inilah yang mewarnai perjalanan hidup salah satu sastrawan paling berpengaruh dari era Meiji, Higuchi Ichiyō.

Karya-karyanya diakui sebagai mahakarya yang monumental, dan potret wajahnya bahkan diabadikan pada uang kertas pecahan 5000 yen di Jepang. Namun, pencapaian luar biasa ini bukan diraih sekadar berkat ketekunan semata, melainkan keberanian yang luar biasa. Di tengah himpitan keadaan, kemalangan, tragedi, dan dinamika zaman yang penuh tekanan, ia berhasil bangkit dan menorehkan prestasi gemilang dalam hidupnya yang singkat.

Dunia Higuchi Ichiyō pada Zaman Meiji

signing of the meiji constitution

Periode Meiji (1868–1912) merupakan era perubahan besar-besaran di Jepang. Kekuasaan shogun dikembalikan kepada kaisar, sistem kasta feodal yang menempatkan samurai di tingkat tertinggi dihapuskan, dan negara ini mengakhiri politik isolasi yang telah berlangsung sangat lama.

Jepang saat itu merasa tertinggal dari dunia barat dan bergegas melakukan modernisasi secara masif. Pemerintah mengirim para sarjana ke luar negeri untuk mempelajari teknologi, sistem politik, bahasa, serta berbagai aspek kemajuan lainnya. Arus modernisasi yang begitu cepat memaksa masyarakat Jepang untuk beradaptasi seketika.

Bagi kaum perempuan, gelombang perubahan ini membawa dampak yang cukup merugikan.

Pendidikan

Revisi sistem pendidikan justru membatasi akses wajib belajar bagi anak perempuan. Durasi sekolah mereka dipangkas drastis hanya menjadi enam tahun, dengan standar pengajaran yang jauh tertinggal dibandingkan anak laki-laki.

Masyarakat mulai menyuarakan pandangan bahwa pendidikan justru membuat perempuan membangkang, serta menganggap kaum wanita tidak membutuhkan ilmu tinggi jika tugas utama mereka hanyalah menjadi seorang ibu.

Dorongan kuat untuk menjadikan perempuan sebagai “Istri yang Baik, Ibu yang Bijak” (良妻賢母) bertujuan untuk mendidik warga negara yang patuh dan bekerja keras bagi industrialisasi bangsa. Akibatnya, peran perempuan dibatasi hanya sebatas mengurus rumah tangga dan merawat anak.

Kelompok konservatif juga mendesak penutupan sekolah-sekolah misi keagamaan, yang sebelumnya justru memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang jauh lebih layak daripada fasilitas yang disediakan oleh pemerintah.

Kedudukan Sosial

Setelah merampungkan masa sekolah yang singkat, nasib perempuan tidak kunjung membaik. Ketika menikah, mereka praktis kehilangan seluruh hak hukumnya.

Perempuan yang telah bersuami pada masa Meiji dipandang sebagai hak milik suami mereka. Seluruh keputusan penting dalam keluarga—mulai dari urusan pernikahan, tempat tinggal, hingga adopsi anak—sepenuhnya berada di tangan kepala keluarga, baik itu suami maupun ayah.

Sebagian besar keputusan diambil oleh kepala keluarga, sementara istri tidak memiliki otoritas hukum sama sekali. Pernikahan kerap dianggap sebagai transaksi antar keluarga. — Yukiko Tanaka

Status hukum perempuan sebagai properti ini turut memicu maraknya praktik prostitusi berlisensi. Para perempuan dipekerjakan berdasarkan kontrak untuk melunasi utang, sebuah celah hukum yang membuat praktik tersebut tidak dikategorikan sebagai perbudakan ilegal di bawah Konstitusi Meiji yang baru.

Pandangan bahwa perempuan dapat dengan mudah diperjualbelikan menggunakan uang menjadi hambatan besar bagi kesetaraan gender. Pengaruh ideologi Konfusianisme yang mengakar membuat kaum pria memandang rendah perempuan. — Yukiko Tanaka

Selain itu, para suami masih diizinkan untuk memiliki selir. Ketika perempuan mencoba memperjuangkan hak mereka, mereka justru berhadapan dengan para pejabat pemerintah yang sebagian besar mendukung sistem patriarki tersebut.

Gagasan Individu

Aspek penting lainnya dari era ini adalah ketiadaan konsep “individualisme” di Jepang. Masyarakat saat itu menganut sistem kolektivis, di mana kepentingan kelompok atau negara jauh lebih diutamakan daripada keinginan pribadi.

Individualisme adalah fokus pada pemikiran, kebutuhan, serta keinginan individu alih-alih kelompok yang lebih besar.

Dengan latar belakang sosial di mana perempuan dipaksa mengambil langkah mundur di tengah negara yang berlari kencang mengejar kemajuan, Higuchi Ichiyō lahir dan tumbuh besar.

Masa Kecil yang Penuh Keterbatasan

higuchi ichiyo with her mother and sister

Higuchi Ichiyō lahir dengan nama Natsu atau Natsuko di Tokyo—yang saat itu masih bernama Edo—pada tahun 1872. Orang tuanya merantau ke kota tersebut demi mencari penghidupan yang lebih baik. Ayahnya bahkan sempat membeli status samurai rendahan, namun pangkat tersebut kehilangan makna setelah Restorasi Meiji menghapuskan sistem kelas sosial.

Sang ayah kemudian bekerja sebagai pegawai pemerintah tingkat rendah, namun keluarga mereka tidak pernah benar-benar lepas dari kesulitan finansial.

Perjuangan di Masa Muda

Ichiyō adalah seorang anak yang gemar membaca, pendiam, dan hidup dalam kemiskinan. Ia sering membaca kisah-kisah kepahlawanan dan bermimpi untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidupnya, meski realitas di Jepang era Meiji membuat impian tersebut sangat sulit diwujudkan.

Meskipun selalu meraih nilai tertinggi di sekolah dasarnya, ibunya memutuskan untuk mengeluarkan Ichiyō setelah menyelesaikan enam tahun masa wajib belajar, mengikuti pandangan umum saat itu bahwa pendidikan tinggi tidak pantas bagi perempuan. Kendati demikian, sang ayah yang memiliki latar belakang pendidikan memadai justru membelikan buku-buku puisi dan mencarikannya guru privat.

Saat berusia empat belas tahun, Ichiyō mulai menimba ilmu di sekolah swasta bernama Haginoya yang dikelola oleh Nakajima Utako. Di sana ia mempelajari puisi waka serta berbagai karya klasik era Heian seperti The Kokinshū dan The Tale of Genji.

Tragedi Keluarga

Di usia enam belas tahun, cobaan berat menimpa Ichiyō ketika ayah dan kakak laki-lakinya meninggal dunia akibat penyakit tuberkulosis. Kondisi ini menjadikannya sebagai kepala keluarga yang harus menanggung beban hidup ibu serta adiknya.

Kehilangan ayah dan kakaknya di usia muda memaksa Ichiyō memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan tulang punggung bagi ibu serta adiknya.

Rencana pernikahannya dengan seorang mahasiswa hukum terpaksa batal setelah keluarga pria tersebut mengetahui kemiskinan keluarga Higuchi. Tanpa kualifikasi mengajar karena pendidikannya dihentikan lebih awal, Ichiyō dan keluarganya harus bertahan hidup dengan berutang, menerima pekerjaan menjahit, serta mencuci pakaian.

Menulis untuk Bertahan Hidup

meiji period prostitutes sitting together

Sejak masa sekolah, Ichiyō telah terbiasa mencatat berbagai pemikirannya dalam buku harian pribadi. Terinspirasi dari seorang teman sekelasnya di Haginoya yang sukses menjadi novelis terkenal dengan nama pena Miyake Kaho, ia memutuskan untuk mencoba mencari uang dengan menulis fiksi.

Ia menerbitkan novel pertamanya pada usia dua puluh tahun dengan menggunakan nama pena Ichiyō atau “daun yang mengapung”. Meskipun keluarganya hidup dalam kekurangan, ia sangat idealis dan menolak menerbitkan karya yang menurutnya belum cukup matang.

Aku telah merobek naskahku sekitar sepuluh kali. Aku tidak bisa terus begini dan mulai menulis alur cerita yang baru… Aku harus menyelesaikannya lusa bagaimanapun caranya. — Higuchi Ichiyō, diterjemahkan oleh Hisako Tanaka

Tekanan dari keluarga yang mendesaknya untuk menghasilkan uang dengan cepat tidak melunturkan idealismenya untuk menghasilkan karya sastra yang bermutu tinggi.

Menuju Kesuksesan Sastra

higuchi ichiyo and the women of the haginoya school

Pada masa Meiji, kehadiran seorang mentor yang telah mapan di dunia sastra sangat diperlukan untuk menembus dunia penerbitan. Melalui perantara Tosui Nakarai, Ichiyō akhirnya berhasil menerbitkan cerita pendek pertamanya di sebuah jurnal sastra.

“Aku tidak akan berani menulis sesuatu yang hanya pantas dibuang ke tempat sampah… jika aku menggambarkan perasaan yang tulus, bagaimana mungkin karya itu tidak bernilai?”

— Higuchi Ichiyō

Namun, kedekatannya dengan Tosui memicu rumor miring di kalangan sekolah Haginoya, tempat ia sempat bekerja sebagai asisten pengajar. Demi menjaga reputasi dan kariernya, ia terpaksa memutus kontak dengan mentornya tersebut.

Ia kemudian memperluas jaringan pertemanannya di dunia sastra melalui hubungan dengan rekan-rekan penulis wanita seperti Miyake Kaho dan Nakajima Utako, serta bergabung dengan lingkaran sastra bernama Bungakkai.

Dalam upayanya mencari kestabilan finansial, ia bahkan sempat pindah ke sebuah toko kecil di dekat kawasan hiburan Yoshiwara untuk menjual berbagai barang kelontong dan permen. Pengalaman tinggal di dekat kawasan tersebut kelak memberikan inspirasi mendalam bagi karya-karya terbaiknya.

Karya-Karya Cerita Pendek

higuchi ichiyo writing short stories at her desk

Sepanjang hidupnya, Ichiyō menulis 21 cerita pendek, ribuan puisi, serta buku harian multi-tahun yang sangat bernilai seni. Karakter utama dalam cerita-ceritanya sebagian besar adalah perempuan dari kalangan miskin yang tidak memiliki kendali atas nasib mereka sendiri.

Ia menulis dengan gaya realis yang menyayat hati tanpa akhir cerita yang dipaksakan bahagia. Karyanya merefleksikan kepedihan hidup masyarakat kelas bawah di era Meiji dengan memadukan keindahan sastra klasik dan realitas modern.

Tiga Belas Malam (十三夜)

woman pulled in a rickshaw from the thirteenth night by higuchi ichiyo

Cerita ini mengisahkan Oseki, seorang perempuan dari keluarga miskin yang menikah dengan pria kaya demi mengangkat derajat keluarganya. Suatu malam, ia pergi dengan becak ke rumah orang tuanya dengan niat untuk menceraikan suaminya karena tidak tahan menghadapi kekerasan mental yang diterimanya.

Namun, setelah mendengarkan penjelasan orang tuanya dan menyadari bahwa perceraian di masa Meiji akan membuatnya kehilangan hak asuh atas anak laki-lakinya, ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya dan kembali menjalani kehidupan yang penuh penderitaan demi sang buah hati.

Jalan Terpisah (わかれ道)

woman and child from separate ways by higuchi ichiyo

Kisah singkat ini berpusat pada Okyō, seorang wanita yang tinggal di kawasan miskin dan bersahabat dengan seorang anak yatim piatu bernama Kichizō. Suatu hari, Okyō mengabarkan bahwa ia akan pindah untuk menjadi simpanan seorang pria demi memperbaiki taraf hidupnya.

Keputusan tersebut membuat Kichizō merasa dikhianati dan terpukul, menyadari betapa kerasnya realitas hidup yang harus mereka hadapi.

Tamasya Anak-Anak (たけくらべ)

two children from childs play by higuchi ichiyo

Dianggap sebagai mahakarya terbaiknya, cerita ini menggambarkan dinamika kehidupan anak-anak remaja di kawasan Yoshiwara. Fokus utama cerita tertuju pada hubungan antara Midori—gadis muda yang tinggal di rumah bordil tempat kakaknya bekerja—dan Nobu, anak seorang pendeta Buddha.

Kisah ini dengan apik menggambarkan bayang-bayang suram masa depan yang tidak dapat dihindari oleh Midori, di mana kepolosan masa kecil perlahan berganti dengan takdir pahit sebagai wanita penghibur.

Uramurasaki (うらむらさき)

woman from uramurasaki by higuchi ichiyo

Salah satu karya terakhirnya ini menceritakan Oritsu, seorang wanita yang berselingkuh dari suaminya yang kaya demi mencari pemenuhan emosional, meskipun ia menyadari risiko besar yang mengancam hubungan gelap tersebut.

[[MEDIA_0]]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *