Teknologi di Jepang terkadang memiliki keunikan tersendiri yang tidak biasa. Contohnya adalah industri telepon seluler di sana yang sempat mengalami fenomena “Galápagos syndrome”, yakni berkembang secara sangat khusus dan spesifik sehingga hanya cocok digunakan di dalam negeri Jepang saja.
Selain ponsel, fasilitas toilet juga mengalami evolusi unik yang jarang ditemui di belahan dunia lain, mulai dari kursi yang bisa menghangat hingga fitur pembersih canggih.
Namun, salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah mesin faks. Di saat sebagian besar negara di dunia telah beralih menggunakan komputer pribadi dan meninggalkan faks, Jepang justru tertinggal dalam hal ini. Berdasarkan laporan dari Washington Post, hampir 60 persen rumah tangga di Jepang masih memiliki mesin faks, dan sebagian besar pelaku bisnis menggunakannya secara rutin.
Lantas, apa yang membuat masyarakat Jepang begitu menyukai teknologi kuno ini? Terdapat tiga alasan utama mengapa budaya faks masih bertahan di Jepang:
Keengganan Menggunakan Komputer Pribadi
Kecintaan Jepang terhadap mesin faks berkaitan erat dengan adopsi komputer pribadi yang tidak secepat atau semasif negara-negara lain di dunia.

Kondisi ini tidak hanya membuat tampilan situs web di Jepang kerap terlihat unik dan tidak biasa, tetapi juga membuat masyarakatnya kurang terbiasa mengoperasikan komputer pribadi. Akibatnya, proses memindai dan mengirim dokumen via email dirasa jauh lebih rumit daripada sekadar mengirimkannya melalui mesin faks.
Preferensi pada Bentuk Fisik
Sebagian orang masih menyukai bentuk fisik dari suatu hal, seperti menerima tagihan lewat pos atau membeli CD musik karena sensasi nyata yang ditimbulkannya.
Masyarakat Jepang juga masih mempertahankan berbagai tradisi lama karena alasan serupa. Sebagai contoh, surat lamaran kerja sering kali masih harus ditulis tangan, sehingga wajar jika salinan dokumen melalui faks lebih disukai daripada dokumen digital lewat email.
Faktor Demografi Usia Lanjut
Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi penuaan tercepat di dunia, di mana jumlah penduduk lanjut usia jauh lebih mendominasi dibandingkan usia muda. Secara umum, kalangan senior kerap menghadapi tantangan lebih besar dalam beradaptasi dengan teknologi baru.

Selama mesin faks terbukti berfungsi dengan baik dan masyarakat sudah menguasai cara penggunaannya, maka sedikit sekali dorongan untuk mengubahnya.
Apakah Jepang Akan Meninggalkan Mesin Faks?
Alasan di balik penggunaan faks di Jepang sudah cukup jelas, namun masa depan teknologi ini di sana masih belum pasti. Kendala utamanya bukanlah pada aspek teknis, melainkan faktor budaya. Mesin faks baru akan benar-benar ditinggalkan ketika pola pikir dan budaya masyarakatnya mengalami pergeseran. Perubahan kultural sendiri merupakan hal yang sangat sulit diprediksi, sehingga belum dapat dipastikan kapan Jepang akan sepenuhnya meninggalkan faks.
Sumber
- Japan and the fax: A love affair
- In Japan, fax machines remain important because of language and culture







