Sebelum Waktu Bermula: Ōyashima dan Delapan Pulau Legendaris

Dalam mitologi penciptaan Jepang, dua dewa bernama Izanagi dan Izanami ditugaskan untuk menciptakan daratan pertama. Mereka menggunakan tombak berhias permata untuk mengaduk lautan, dan tetesan air asin yang jatuh dari tombak tersebut membentuk pulau mandiri bernama Onogoroshima.
Setelah melalui beberapa ritual pernikahan ulang, lahirlah Ōyashima 大八洲 yang menjadi sebutan tertua untuk wilayah Jepang. Nama ini memiliki arti “Negara Delapan Pulau Besar,” yang merujuk pada pulau-pulau utama seperti Awaji, Iyo (Shikoku), Oki, Tsukushi (Kyushu), Iki, Tsushima, Sado, dan Yamato (Honshu). Wilayah seperti Hokkaido belum dimasukkan karena pada masa itu belum dihuni oleh masyarakat yang tercakup dalam mitos tersebut.
0-300 Masehi: Kerajaan Nakoku

Memasuki era sejarah tercatat, sebelum sistem tulisan diadopsi dari China sekitar abad ke-5 Masehi, eksistensi wilayah di Jepang dapat dilacak melalui catatan asing. Selama Periode Yayoi di sekitar Fukuoka modern, terdapat sebuah negeri bernama Nakoku.
Keberadaan Nakoku (奴国) dibuktikan dengan penemuan sebuah segel kekaisaran yang diberikan oleh Kaisar Guangwu dari Dinasti Han kepada utusan Jepang pada tahun 57 Masehi. Catatan sejarah China mendokumentasikan bahwa negeri ini mengirimkan upeti ke China, menjadikannya salah satu catatan fisik paling awal mengenai entitas politik di kepulauan tersebut.
121 Masehi: Wakoku, Negeri Orang Bertubuh Pendek?

Dalam naskah kuno China dari Era Tiga Kerajaan, Jepang secara keseluruhan sering disebut sebagai wakoku 倭国, di mana wa 倭 berarti Jepang dan koku 国 berarti negara. Karakter kanji untuk wa (倭) sendiri terdiri dari radikal yang melambangkan orang, biji-bijian, dan perempuan.
Para sejarawan menginterpretasikan karakter ini ke dalam dua kemungkinan makna:
- Kaum yang Patuh: Menggambarkan postur membungkuk seperti perempuan yang membawa biji-bijian sebagai bentuk penghormatan dan ketaatan.
- Negeri Orang Pendek: Menyimbolkan perawakan fisik penduduknya yang dianggap lebih pendek oleh bangsa China pada masa itu, yang mencerminkan pandangan yang cenderung merendahkan.
Pengucapan “wa” sendiri diyakini berasal dari kata ganti orang pertama dalam bahasa Jepang kuno, yaitu waga atau ware, yang sering didengar oleh para pelancong China.
499 Masehi: Fusou, Negeri Misterius di Timur

Sejumlah catatan China dari era ini juga menyebut wilayah timur yang misterius sebagai Fusang atau Fousang (dibaca Fusou dalam bahasa Jepang), yang diidentifikasikan sebagai Jepang. Misionaris Buddha Hui Shen mendeskripsikan perjalanan laut ke daratan timur tersebut.
Dalam mitologi China, Fusang adalah pohon suci tempat terbitnya matahari di sebelah timur. Asosiasi dengan terbitnya matahari ini kemudian melekat erat dengan identitas Jepang sebagai negeri tempat terbitnya matahari.

Nama Fusou bahkan masih digunakan hingga era modern, terutama pada masa-masa nasionalisme tinggi seperti Perang Dunia II, di mana nama tersebut disematkan pada kapal perang Kekaisaran Jepang.
250-538 Masehi: Kemunculan Yamato

Pada periode ini, kelompok etnis yang menjadi cikal bakal masyarakat Jepang modern mulai mendominasi wilayah Honshu. Dikenal sebagai suku Yamato, mereka membentuk struktur kenegaraan yang lebih terorganisir dan menjalin hubungan diplomatik dengan China.
Meskipun mereka menyebut diri mereka sebagai Yamato, mereka tetap menggunakan karakter kanji 倭 yang sama dengan sebutan dari China, meskipun dengan cara baca yang berbeda. Nama Yamato sendiri merujuk pada pulau utama Honshu dan menjadi fondasi identitas budaya Jepang.
538-710 Masehi: Penambahan Aksara “Besar”
Selama Periode Asuka, ketika aturan standardisasi penamaan tempat diterapkan dengan kewajiban menggunakan dua karakter kanji, bangsa Jepang menghadapi dilema karena kanji 倭 hanya terdiri dari satu huruf.
Alih-alih menghapus karakter tersebut, mereka menambahkan aksara 大 (besar) di depannya sehingga menjadi 大倭, yang tetap dibaca sebagai “Yamato.” Dengan demikian, sebutan tersebut secara harfiah berubah menjadi “Negeri Orang Kerdil yang Besar,” mempertahankan warisan penamaan dari daratan China.
Yamatai: Versi China dari Yamato?
Para sejarawan kerap memperdebatkan hubungan antara Yamato dan Yamatai, istilah yang digunakan dalam sumber-sumber China untuk merujuk pada kelompok yang sama atau entitas yang berbeda di Jepang kuno. Berbagai variasi ejaan kanji digunakan dalam catatan sejarah kedua negara, yang sering kali mencerminkan pandangan pihak luar terhadap masyarakat kepulauan tersebut pada masa transisi dari budaya tribal menuju peradaban yang lebih terpusat di bawah tokoh seperti Ratu Himiko.
Abad ke-7 Masehi: Land Of The Rising Sun (Negeri Matahari Terbit)

Memasuki abad ke-7, referensi mengenai “Negeri Matahari Terbit” mulai mengemuka. Berdasarkan catatan sejarah, para utusan Jepang merasa keberatan dengan nama sebelumnya yang berkonotasi negatif dan mengusulkan penggunaan nama nippon 日本, yang secara harfiah berarti “Asal Mula Matahari.” Sejak saat itu, identitas baru yang berpusat pada matahari mulai diakui secara luas.
Abad ke-8 Masehi: Mengganti Konotasi Kerdil dengan Perdamaian

Pada abad ke-8, Jepang secara resmi mengganti karakter 倭 (yang diasosiasikan dengan orang kerdil dan sikap submisif) dengan kanji 和 yang bermakna “perdamaian.” Dengan tetap mempertahankan prefiks “besar” (大) untuk memenuhi aturan dua aksara, nama negara tersebut resmi ditulis sebagai 大和 dan dibaca Yamato.
Karakter 和 ini masih dilestarikan hingga kini dalam berbagai istilah budaya tradisional, seperti washoku (kuliner Jepang).
1577: Penamaan ala Marco Polo dan Dunia Barat

Penjelajah asal Italia, Marco Polo, memperkenalkan nama “Cipangu” kepada dunia Barat, yang diserap dari pelafalan dialek bahasa Tionghoa untuk menyebut Jepang (seperti Zeppen). Sementara itu, para pedagang Melayu menggunakan sebutan “Jepun,” yang kemudian diadopsi oleh pedagang Portugis dan berkembang menjadi kata “Japan” dalam bahasa Inggris.
Hal ini menjelaskan mengapa dunia internasional tidak memanggil Jepang dengan nama lokal mereka seperti Nippon atau Nihon, melainkan menggunakan istilah asing yang lahir dari jalur perdagangan Asia.
1867: Restorasi Meiji dan Kebangkitan Kekaisaran

Menjelang akhir abad ke-19, seiring dengan modernisasi pesat di bawah Restorasi Meiji, Jepang secara resmi menggunakan nama 日本国 (Negara Nippon/Nihon). Pada masa ekspansi militer hingga akhir Perang Dunia II, mereka sempat menggunakan nama resmi 大日本帝国 (Imperium Besar Jepang).
Pasca kekalahan di Perang Dunia II, sebutan resmi tersebut ditanggalkan, dan dunia internasional kembali menggunakan nama “Japan.”
Hari Ini: Perbedaan Penggunaan Nihon dan Nippon

Di dalam negeri sendiri, penduduk Jepang menggunakan dua pelafalan untuk aksara kanji 日本, yaitu:
- Nihon: Digunakan secara umum dalam percakapan sehari-hari.
- Nippon: Digunakan dalam konteks yang lebih formal, institusional, seperti pada mata uang, prangko, maupun lembaga perbankan.
Dinamika Nama di Masa Depan
Perjalanan sejarah penamaan Jepang menunjukkan bagaimana sebuah identitas nasional dapat beradaptasi melalui pengaruh budaya asing, mitologi, serta dinamika politik selama ribuan tahun. Meskipun dunia luar mengenal mereka sebagai Japan, masyarakat setempat tetap melestarikan akar sejarah melalui penyebutan Nihon dan Nippon.







