Home / Travel / Benarkah Patung Buddha Raksasa Nara Mencegah Gempa 7,8? Begini Kata Warga Twitter

Benarkah Patung Buddha Raksasa Nara Mencegah Gempa 7,8? Begini Kata Warga Twitter

header 640x 1

Nara adalah sebuah prefektur yang terletak di kawasan Kansai atau Kinki di pulau Honshu, Jepang. Wilayah ini sangat terkenal dengan Taman Nara yang dipenuhi rusa, Todaiji Temple yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO, patung Buddha raksasa Nara Daibutsu, hingga Sento-kun, maskot prefektur tersebut yang kerap dinilai cukup unik sekaligus menyeramkan.

Bagi penulis, Nara memegang tempat tersendiri di hati. Saat berusia lima tahun, keluarganya pindah dari Osaka ke sebuah kawasan pedesaan di Prefektur Nara, dan menetap di sana hingga tahun kedua kuliah. Nara menyimpan banyak sekali kenangan indah dari masa kecil hingga masa muda, di mana orang tua serta banyak teman masa kecilnya masih tinggal di sana.

Pada 8 Agustus 2013, melalui aplikasi LINE, beberapa pesan dari adik laki-laki dan perempuan diterima, membahas tentang gempa bumi di Nara. Pada awalnya, pesan tersebut tidak terlalu dihiraukan karena situasinya tampak tidak serius. Berikut adalah percakapan mereka:

cropped screenshot of web conversation

Bro: 奈良県で地震ですか?

Apakah ada gempa bumi di Nara?

Sis: 震度一もないらしいよ

Sepertinya kekuatannya bahkan kurang dari Skala 1

Bro: おっ

Huh?

Namun, ketika memeriksa informasi lebih lanjut secara daring setelahnya, terungkap bahwa laporan awal menyebutkan gempa berkekuatan 7,8 Skala Richter mengguncang Nara, yang ternyata merupakan alarm palsu. Beruntung hal tersebut hanyalah sebuah kesalahan besar, mengingat gempa berkekuatan besar tentu menjadi situasi yang sangat dihindari.

Meskipun merupakan peringatan palsu, ponsel milik banyak warga sempat berdering dengan peringatan darurat, beberapa layanan kereta serta lift sekolah dihentikan, dan bahkan Yahoo Japan sempat mengalami gangguan sementara. Berbagai komentar menghiasi linimasa Facebook, mulai dari rasa lega karena insiden tersebut tidak nyata hingga keluhan dari masyarakat.

Salah satu yang merasa terganggu adalah seorang teman sekolah menengah yang sedang mengalami mabuk laut akibat sisa minum malam sebelumnya. Ia terbangun oleh suara peringatan darurat dan berusaha menampung air di dalam bathtub sebelum gempa benar-benar terjadi. Dalam kondisi setengah sadar dan pusing, ia justru memutar keran ke arah yang salah dan berbasah-basahan karena terkena air dingin pancuran. Pada saat itulah ia akhirnya benar-benar terbangun, namun gempa yang dinantikan tidak pernah terjadi, yang membuatnya merasa sangat kesal.

Kekuatan Nara Daibutsu

head of Buddha statue
Sumber: David Offf

Di tengah situasi tersebut, sebuah teori konspirasi yang tidak masuk akal mulai menyebar dengan cepat di internet: patung Nara Daibutsu dituduh sebagai pihak yang bertanggung jawab menghentikan gempa bumi tersebut. Sebelum melihat tanggapan para pengikut teori kocak ini, mari mengenal lebih dekat mengenai Nara Daibutsu itu sendiri.

Nara Daibutsu

Nara Daibutsu merupakan salah satu dari tiga patung Buddha utama di Jepang yang berlokasi di Todai-ji Temple di Nara. Secara resmi dinamai Rushana Buddha, patung ini dibangun pada tahun 752. Todai-ji Temple telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia sekaligus harta karun nasional.

close up of Nicholas Cage from a movie

Ukuran patung Buddha raksasa ini sangat luar biasa jika dijabarkan melalui angka:

  • Tinggi: 14,9 meter (49,1 kaki)
  • Wajah: 5,3 meter (17,5 kaki)
  • Mata: masing-masing 1 meter (3,3 kaki)
  • Telinga: 2,5 meter (8,3 kaki)
  • Berat: 500 ton

Sebagai gambaran, tingginya dua kali lipat dari raksasa dalam cerita Jack The Giant Killer. Nara Daibutsu juga terkenal dengan lubang hidungnya yang membawa keberuntungan. Konon, siapa pun yang dapat melewati lubang tersebut akan mendapatkan keberuntungan. Di dalam kuil, terdapat sebuah pilar kayu penyangga tua dengan lubang yang ukurannya dipotong persis sama dengan ukuran lubang hidung sang Buddha.

man attempting to go through nostril test tunnel

Betapa beruntungnya!

Pendapat Para Penganut Teori

Terlepas dari benar atau tidaknya Nara Daibutsu menghentikan gempa, berbagai komentar dari para believer terdengar begitu serius sekaligus menggelitik, sehingga menarik untuk dibagikan. Berikut adalah beberapa kutipan dari Twitter:

Gempa bumi? Ya, aku yang meredakannya.

Peringatan dini gempa bumi keluar

Gempa M7.8 terjadi di Nara

Buddha Raksasa menyadari gempa tersebut

Ia secara diam-diam menembakkan gelombang kejut untuk mematikan gempa

Warga Nara: “Tidak terasa guncangan apa pun”

Warga prefektur lain: “Apakah itu salah informasi?”

Buktinya: bentuk awan menyerupai Buddha secara aneh

Nara Daibutsu: “Gempa bumi terjadi, tetapi aku memukul tanah untuk menetralisir hantamannya.”

tweets about the nara earthquake

Gempa bumi di Wakayama dan suara bising di lautan dekat Prefektur Mie → Nara Daibutsu menyadarinya → Buddha Nara menyelamatkan… benar kan?

Buddha Raksasa: “Aku menghentikannya setelah 9 detik.”

tweet in japanese about buddha

Buddha Raksasa Nara LUAR BIASAAAAAAA!!!!!

tweet of daibutsu in nara
Sumber: Neillo

Buddha Raksasa memegang kendali dunia.

Buddha Raksasa: “Gempa itu datang, kan? Gempa kan bentuknya gelombang. Jadi, kalau kita membuat gelombang dengan arah yang berlawanan… seperti ini ‘Ha!’… tunggu, bukan begitu… seperti ‘Haaa!!’, ya, sepertinya begitu. Lalu… ya… paham kan?”

Warga Nara: “Itu luar biasa, dan kami tidak menyangka gaya bicara Anda begitu santai.”

tweet about nara buddha
Sumber: toropicari

Buddha Raksasa: “Aku menghentikan gempa itu.”

Warga: “Wah, apakah Anda Tuhan?”

Buddha Raksasa: “Bukan. Aku hanyalah Buddha.”

Komentar-komentar kreatif tersebut terus bermunculan di dunia maya. Sebagian besar dari mereka menggambarkan bahwa Nara Daibutsu menghentikan gempa dengan cara memukul bumi demi menciptakan gelombang tandingan yang membatalkan getaran gempa. Fenomena ini menunjukkan betapa masyarakat antusias memperbincangkan simbol kebanggaan tanah kelahiran penulis tersebut, bahkan berlanjut hingga sesi wawancara dengan seorang biksu Buddha asli di Nara.

Wawancara dengan Seorang Biksu di Nara

visual description of the image

Yugaku Ikawa (井川裕覚) dari Daihisen Tatsunoji Temple (悲山 立野寺) di Yagyu, Nara, merupakan seorang biksu yang berasal dari aliran Koyasan Shingon-shu dalam Buddhisme Shingon Jepang. Beliau mengawali penjelasannya dengan menguraikan konsep dasar Buddhisme serta karakteristik aliran Shingon, sebelum akhirnya menanggapi rumor mengenai Nara Daibutsu.

Tentang Buddhisme dan Shingon Buddhism

Buddhisme merupakan sebuah ajaran untuk menumbuhkan sifat Buddha di dalam diri melalui kedekatan dengan Sang Buddha. Sosok Buddha tidak terletak di dalam sutra, patung, ataupun kuil, melainkan di dalam diri setiap individu.

Shingon Buddhism (Shingon-shu) adalah salah satu aliran Esoterik Buddhisme yang masih bertahan, yang dikenal sebagai Mikkyo dalam bahasa Jepang. Mikkyo secara harfiah berarti “jalan rahasia” yang bermula dari India, menyebar ke Tiongkok, lalu dibawa ke Jepang oleh seorang biksu bernama Kobo-Daishi sekitar 1200 tahun yang lalu. Dalam perjalanannya di Jepang, aliran ini menyerap berbagai pemikiran dewa dari agama lain sehingga menjadi sistem yang lebih kompleks. Para biksu Mikkyo menganggap pencapaian “manfaat duniawi” (Genseriyaku) sebagai hal yang esensial, dengan berbagai praktik pendukung seperti ajikan yang merupakan meditasi inti agar dapat merasakan kehadiran Buddha dalam diri mereka.

Tentang Hipotesis Nara Daibutsu dan Gempa Bumi

Pusat gempa yang dilaporkan berada di Nara—wilayah yang jarang dikaitkan dengan aktivitas seismik besar—menjadi pemicu kebingungan sekaligus sensasi besar terkait Nara Daibutsu. Patung Nara Daibutsu (Rushana Buddha) tidak hanya merepresentasikan alam semesta, tetapi juga lingkungan bumi, alam, dan seluruh asal-usul manusia. Dari sudut pandang tersebut, seluruh aktivitas di bumi termasuk gempa dapat dianggap sebagai bagian dari aktivitas Sang Daibutsu.

Ilmu pengetahuan modern tentu membuktikan berbagai hal secara rasional, namun penting juga untuk menyadari bahwa manusia hidup di dalam bumi dan alam semesta yang diibaratkan seperti Daibutsu, sehingga rasa syukur patut senantiasa dipanjatkan. Di balik penjelasan yang serius, terdapat unsur kejenakaan tersendiri ketika membayangkan Sang Buddha seolah-olah bertarung melawan lempeng bumi atau gempa layaknya karakter dalam anime.

Jepang dikenal sebagai negara yang rawan gempa, di mana bencana besar seperti gempa Hanshin dan gempa Tohoku telah terjadi. Belasungkawa mendalam disampaikan kepada para korban, dengan harapan agar masyarakat yang masih menderita dapat menemukan ketenangan. Pemulihan infrastruktur sama pentingnya dengan pemulihan batin manusia demi merajut kembali semangat hidup.

black & white photograph of monk

Meskipun tidak terdapat bukti ilmiah yang menyatakan bahwa Nara Daibutsu benar-benar meredam gempa, tidak ada salahnya mengesampingkan opini ilmiah sejenak dan meresapi pesan bijak untuk memercayai penalaran serta akal sehat diri sendiri. Apapun bentuk kebenarannya, sudut pandang pikiran setiap individu memegang peran utama tanpa harus selalu bergantung pada pembuktian formal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *