Bagi yang belum tahu, botaoshi (棒倒し) adalah salah satu permainan tradisional yang unik dari Jepang. Olahraga ini merupakan perpaduan antara permainan merebut bendera, rugby, dan gaya permainan king of the hill.
Aturan mainnya sederhana: masing-masing tim harus berusaha menjatuhkan tiang milik tim lawan hingga mencapai sudut kemiringan tertentu dari tanah sebelum waktu habis. Meskipun ada beberapa variasi aturan seperti penambahan bendera di ujung tiang—kemungkinan demi keamanan—esensi permainannya tetap sama, yaitu menumbangkan tiang lawan.
Biasanya, botaoshi dimainkan dalam acara hari olahraga tahunan di sekolah-sekolah Jepang, mulai dari tingkat sekolah dasar. Kendati demikian, beberapa sekolah mulai melarang permainan ini karena tingkat keagresifannya yang cukup tinggi.
Berikut adalah beberapa aturan umum dalam permainan botaoshi:
- Dua tim saling berhadapan, di mana setiap tim dibagi menjadi kubu penyerang dan bertahan.
- Anggota tim penyerang dapat bergerak bebas ke mana saja, sementara kubu pertahanan hanya boleh beroperasi di area sekitar tiang.
- Tiang yang digunakan umumnya memiliki panjang sekitar 3 hingga 5 meter.
- Salah satu ujung tiang harus selalu menyentuh tanah sepanjang pertandingan.
- Permainan berakhir ketika sudut kemiringan tiang mencapai batas yang ditentukan, biasanya 30 derajat dari permukaan tanah.
- Karena sifatnya yang keras, para pemain dilarang mengenakan alas kaki.
- Penggunaan pelindung kepala sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko benturan.
- Meskipun perkelahian tangan kosong tidak dianjurkan, penggunaan kaki untuk menyerang tampaknya ditoleransi.

Botaoshi paling terkenal dimainkan pada upacara pelantikan taruna baru di National Defense Academy of Japan setiap tahunnya. Pada musim semi, empat batalion di akademi tersebut masing-masing menerjunkan 150 siswa untuk bertanding demi kehormatan batalion di hadapan penonton dan keluarga.
Setiap tim batalion dibagi rata menjadi 75 orang kelompok pertahanan dan 75 orang kelompok penyerang. Kelompok pertahanan biasanya mengenakan pakaian putih, sementara kelompok penyerang memakai seragam dengan warna khas batalion masing-masing (hijau, biru, merah, dan orangenya).
Sekilas, permainan ini mungkin terlihat seperti tawuran massal yang tidak teratur untuk merobohkan tiang. Namun, terdapat strategi yang matang di baliknya, di mana setiap anggota tim memiliki peran spesifik.
Di dalam kelompok pertahanan, terdapat lima peran penting:
- Pole support — Bertugas menjaga agar tiang tetap berdiri tegak.
- Barrier — Barisan orang yang membentuk benteng pertahanan di sekeliling tiang.
- Interference — Bertugas mengganggu dan menghalau setiap anggota penyerang yang berhasil menerobos masuk ke area benteng.
- Scrum Disabler — Berusaha menggagalkan formasi tim penyerang yang mencoba menggunakan rekan setim mereka sebagai batu loncatan untuk terbang melewati barikade.
- The Ninja — Seseorang yang berdiri di atas tiang dan bertugas menendang siapa saja yang mendekat. Peran ini sangat krusial karena mereka juga harus mengimbangi goyangan tiang dengan memindahkan berat badan ke arah yang berlawanan agar tiang tidak tumbang.
Sementara itu, kubu penyerang memiliki tiga peran utama:
- Springboard/Scrum — Berfungsi sebagai pijakan bagi rekan setim untuk meluncur melewati barikade pertahanan langsung menuju tiang.
- Pole Attackers — Berusaha merebut tiang dari penjagaan pihak pertahanan dan memulai proses menjatuhkan tiang dengan memanfaatkan berat badan serta gravitasi di bagian atas tiang.
- General support attacks — Melakukan gangguan dan pengalihan perhatian terhadap lini pertahanan lawan.







