Home / Travel / Amezaiku: Seni Permen Tradisional Jepang yang Dibentuk dari Gula dan Api

Amezaiku: Seni Permen Tradisional Jepang yang Dibentuk dari Gula dan Api

header 640x 1

Dalam tradisi kuliner Jepang, kelezatan saja tidak cukup; sebuah hidangan juga harus memanjakan mata. Prinsip ini sangat terlihat jelas pada kembang gula tradisional yang kerap dianggap sebagai karya seni kerajinan tangan. Contoh paling populer adalah wagashi musiman yang disajikan saat upacara minum teh, yang bentuknya menyerupai pahatan miniatur bunga, buah, serta simbol-simbol alam lainnya.

Menariknya, seni memahat permen tidak hanya dinikmati oleh kalangan elit saja. Masyarakat umum, termasuk anak-anak, juga mengenal tradisi yang disebut sebagai amezaiku. Seni merangkai figur hewan dan makhluk hidup dari gula cair ini dulunya sering dijajakan oleh pedagang keliling. Kendati sempat terancam punah akibat regulasi kesehatan yang ketat serta persaingan dengan bentuk hiburan modern, para perajin masa kini berhasil menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan sentuhan gaya pribadi mereka.

Membentuk Cairan Gula

confectionary treats shaped like animals
Source: Linda Lombardi

Berbeda dari jenis permen pada umumnya, amezaiku menawarkan hiburan yang bisa dimakan sekaligus pertunjukan seni yang memukau. Salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan proses pembuatan amezaiku secara langsung adalah Amezaiku Yoshihara yang terletak di kawasan Sendagi, Tokyo. Jika pengunjung hanya membeli karya yang sudah jadi, mereka tentu akan melewatkan pengalaman paling menarik dari seni ini.

Sebelum menikmati pertunjukannya, pelanggan dapat memilih bentuk yang diinginkan dari katalog. Para perajin amezaiku mampu membentuk berbagai macam figur seperti jerapah, naga, siput, gurita, koala, babi hutan, burung hantu, flamingo, hingga anjing dari berbagai ras. Mereka juga menyediakan edisi khusus musiman, misalnya maskot kelinci yang mengenakan kostum bernuansa Halloween. Kerumitan tingkat tinggi pada bentuk kumbang tanduk Jepang—dengan kaki-kaki tipis dan antena yang detail—menjadikannya pilihan yang menantang untuk disaksikan pembuatannya.

Bahan utama yang digunakan oleh perajin amezaiku adalah mizuame, yaitu sirup gula yang terbuat dari pati beras atau kentang yang dipanaskan hingga mendidih. Setelah mengambil sejumput adonan panas tersebut di atas kipas angin kecil, perajin akan meregangkan dan menarik-narik adonan layaknya karamel hingga mencapai suhu yang ideal. Karena warna dasar mizuame adalah putih, perajin biasanya menambahkan sedikit pewarna saat proses pengulenan jika figur yang dibuat memerlukan warna lain.

Begitu konsistensinya pas, adonan dibentuk kembali menjadi bola dan ditusuk dengan batang kayu lidi yang panjang. Hanya berbekal jemari tangan dan gunting khusus berukuran kecil, perajin mulai membuat sayatan tipis serta menarik bagian-bagian gula tersebut menjadi kaki, telinga, sayap, atau antena sesuai dengan bentuk makhluk yang dikerjakan.

man inspecting candy octopus on a stick
Source: Linda Lombardi

Proses pembuatan gurita gula yang menggemaskan dapat disaksikan melalui video [[MEDIA_0]]. Perajin hanya memiliki waktu beberapa menit saja untuk merampungkan bentuknya sebelum adonan gula mendingin dan mengeras. Setelah selesai, mereka biasanya mengetuk permen tersebut dengan kuku jari untuk memperlihatkan bahwa strukturnya telah mengeras sempurna. Tahap akhir melibatkan pemberian detail warna menggunakan kuas kecil sebelum akhirnya dibungkus dengan rapi.

candy beetle on a stick
Source: Linda Lombardi

Mengenai bagaimana rasanya, permen tersebut bahkan tidak disentuh untuk dimakan selama berbulan-bulan karena bentuknya yang terlalu indah untuk dihancurkan.

Evolusi Amezaiku

painting of Japanese confectioner working at street stall

Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa tradisi amezaiku telah ada sejak abad kedelapan, ketika seorang pembuat permen mempersembahkan karyanya untuk menandai selesainya pembangunan kuil To-ji saat ibu kota dipindahkan dari Nara ke Kyoto. Namun, bentuk amezaiku yang dikenal masyarakat saat ini diperkirakan bermula pada zaman Edo dengan sebutan “ame no tori” atau “burung gula”, mengingat bentuk tersebut merupakan model yang paling lazim dibuat pada masa itu. Teknik pembuatannya pun berbeda dari sekarang, di mana perajin menempatkan adonan gula pada ujung pipa tiup berongga dan meniupnya seperti teknik pembuatan kaca tiup, menghasilkan permen berongga yang tidak terlalu rumit.

Seiring berjalannya waktu, teknik pembuatan kembang gula ini menjadi semakin canggih. Brosur berbahasa Inggris di Amezaiku Yoshihara bahkan menceritakan kisah legenda mengenai perkembangan teknik tersebut:

Konon para ninja menyamar sebagai perajin permen dan berkeliling kota untuk mempelajari teknik yang digunakan oleh setiap pembuat permen. Keahlian serta rahasia dari berbagai perajin dikumpulkan, sehingga menghasilkan teknologi dan desain yang kian rumit serta indah.

Dahulu, para pembuat amezaiku tidak memiliki toko permanen, melainkan beroperasi sebagai pedagang keliling. Video di bawah ini memperlihatkan seruan tradisional yang biasa dilantunkan oleh para pedagang untuk menarik anak-anak membeli burung gula.

[[MEDIA_1]]

Kebiasaan menjajakan dagangan di jalanan turut andil dalam kemunduran seni ini pada akhir abad ke-20. Memasuki tahun 1970-an, undang-undang kesehatan melarang pembuatan permen di gerai jalanan serta melarang teknik peniupan permen secara manual demi menghindari perpindahan kuman dari perajin ke dalam produk.

Mencari nafkah sebagai pedagang permen keliling selalu dipenuhi ketidakpastian hingga akhirnya menjadi hal yang hampir mustahil dilakukan. Para perajin yang tersisa lantas beralih menerima panggilan untuk mengisi festival maupun acara pribadi. Pada tahun 1995, seorang maestro amezaiku yang dimuat dalam buku “Vanishing Japan” disebut sebagai perajin berpengalaman terakhir di Tokyo. Saat itu, pelanggannya sebagian besar adalah perempuan muda, sementara anak-anak lebih sibuk dengan jadwal kegiatan mereka serta teralihkan oleh maraknya dunia televisi dan permainan video.

Perajin tersebut juga mengungkapkan bahwa meskipun ia telah melatih banyak anak magang selama kariernya selama tiga puluh tahun, tidak ada satupun yang bertahan. Tantangan fisik dalam profesi ini memang sangat berat; mengolah sirup lengket dengan suhu mencapai 80 derajat Celsius menuntut ketahanan tersendiri. Ketika ditanya mengenai trik untuk menahan panasnya gula cair, seorang perajin mengaku bahwa awalnya ia mengira ada trik khusus, namun ternyata tidak ada sama sekali. Perajin lainnya dalam sebuah tayangan televisi NHK pernah menjelaskan bahwa kulit tangan pada akhirnya akan mengeras dan sarafnya mati sehingga rasa panas tidak lagi terasa.

Transformasi Bentuk Mengikuti Zaman

Japanese amezaiku artist at work
Source: Exploratorium

Keberadaan para perajin aktif saat ini membuktikan bahwa amezaiku belum sepenuhnya punah, bahkan generasi perajin baru terus membawa seni ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Takahiro Yoshihara, perajin yang membuat figur kumbang, tercatat sebagai orang pertama yang mendirikan toko fisik permanen untuk amezaiku. Beroperasi sejak tahun 2008, tokonya kini mempekerjakan tiga perajin tambahan. Yoshihara menyampaikan pengamatan menarik mengenai perubahan orientasi seni ini setelah dijajakan di dalam toko. Pembeli di toko tidak hanya menyaksikan proses pembuatannya secara langsung, tetapi juga sering membeli produk siap pakai sebagai oleh-oleh bagi kerabat. Situasi ini mendorong para perajin untuk menyempurnakan kualitas produk agar semakin mengesankan:

“Di festival, orang membeli amezaiku untuk diri sendiri dan menikmati proses pembuatannya. Namun di toko seperti ini, orang datang untuk membeli hadiah bagi orang lain yang tidak melihat proses pembuatannya. Jika hasil akhirnya tidak dikerjakan dengan sangat baik, penerimanya tentu tidak akan merasa senang. Sejak membuka toko ini, saya menyadari bentuk-bentuk yang dihasilkan menjadi semakin indah.”

Kesuksesan toko tersebut memberikan harapan positif bagi kelangsungan warisan budaya ini. Terlebih lagi dengan dibukanya toko kedua pada tahun 2013 di Asakusa oleh Shinri Tezuka melalui brand Ameshin, yang menampilkan gaya khas menggunakan gula bening dengan lapisan warna transparan. Guna menumbuhkan minat publik terhadap seni ini, kedua tempat tersebut rutin menyelenggarakan lokakarya bagi pemula.

Selain kedua toko tersebut, masih terdapat perajin amezaiku independen lain yang tetap mempertahankan cara konvensional dengan berkeliling ke berbagai acara khusus, sembari memanfaatkan teknologi modern untuk pemasaran. Sebagian perajin mengelola blog dan situs web multibahasa untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, serta piawai membuat figur karakter modern populer selain bentuk-bentuk tradisional.

Amezaiku di Kancah Internasional

pikachu and hello kitty shaped confections
Source: Nemo’s Great Uncle

Praktisi amezaiku kini juga dapat ditemukan di luar Jepang. Komunitas keturunan Jepang di beberapa wilayah seperti Hawaii dan Los Angeles turut melestarikan seni ini, bahkan ada perajin yang melatih anggota keluarga mudanya untuk meneruskan keahlian tersebut.

Para seniman amezaiku keliling saat ini memiliki jangkauan geografis yang jauh lebih luas dibandingkan masa lalu. Takahiro Yoshihara sempat diundang untuk mempertunjukkan kebolehannya dalam sebuah pameran di New York City, sementara perajin lain seperti Takahiro Mizuki aktif memenuhi undangan pameran internasional ke berbagai negara di belahan dunia manapun.

Meskipun sebagian masyarakat, termasuk anak-anak sekolah dasar, masih memandang amezaiku sebagai sesuatu yang bernuansa tradisional dan bernilai nostalgia, kembang gula berpahat ini berhasil lolos dari jurang kepunahan dan terus bertahan di era modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *