Banyak pengamat film sering kali membandingkan versi asli horor Jepang, Ringu, dengan adaptasi Hollywood-nya, The Ring. Perdebatan biasanya berkisar pada hantu mana yang lebih menyeramkan atau detail mayat remaja yang malang. Namun, alih-alih terjebak pada perbedaan visual yang dangkal, kedua film ini sebenarnya menawarkan sudut pandang menarik tentang bagaimana unsur budaya Jepang berpadu atau gagal diterjemahkan ke dalam budaya Barat.
[[MEDIA_0]]
Ringu (1998)
[[MEDIA_1]]
Film arahan Hideo Nakata berjudul Ringu memadukan teror universal dengan akar budaya Jepang yang kuat. Diadaptasi dari novel karya Koji Suzuki, cerita ini mendapat pengaruh dari legenda klasik Banchou Sarayashiki, atau kisah Lady Okiku. Dalam legenda tersebut, seorang pelayan dibuang ke dalam sumur setelah kehilangan piring berharga. Arwahnya kemudian kerap muncul dari dalam sumur sambil menghitung piring dan menjerit ketakutan.
Dalam Ringu, premis serupa dikemas dalam bentuk rekaman video misterius. Seorang jurnalis bernama Reiko Asakawa menemukan bahwa siapa pun yang menonton video tersebut akan mati dalam tujuh hari oleh arwah penasaran yang tewas di dalam sumur. Elemen kutukan, sumur, dan tenggat waktu kematian ini mencerminkan akar cerita rakyat tradisional Jepang.
The Ring (2002)
[[MEDIA_2]]
Versi Hollywood garapan Gore Verbinski lahir berkat kesuksesan internasional Ringu. Fenomena pembuatan ulang film sukses dari negara lain bukanlah hal baru di dunia sinema. Kendati demikian, The Ring menonjol karena dieksekusi dengan sangat baik dan mampu menciptakan dampak global yang serupa dengan pendahulunya.
Yang menarik, meskipun alur cerita utamanya hampir persis sama, The Ring terasa efektif dan populer karena alasan yang berbeda. Sejumlah adegan disesuaikan agar lebih relevan dengan penonton Amerika, sementara beberapa bagian dibiarkan tetap sama. Perubahan-perubahan inilah yang menjadi jendela untuk memahami perbedaan antara budaya Jepang dan Barat.
Budaya Remaja
[[MEDIA_3]]
Pada awal kedua film, sang tokoh utama menghadiri pemakaman keponakannya dan mencoba mengorek informasi dari sekelompok anak sekolah yang mengetahui tentang video terkutuk tersebut. Meskipun situasinya sama, kelompok remaja ini digambarkan dengan cara yang sangat berbeda.
Di dalam Ringu, para siswi mengenakan seragam sekolah dengan rapi. Mereka tampak pemalu, pendiam, dan merasa canggung ketika Asakawa mendekati mereka untuk bertanya mengenai kematian temannya. Mereka memberikan informasi dengan nada menyesal dan penuh rasa segan.
[[MEDIA_4]]
Sebaliknya, dalam The Ring, para remaja tersebut tidak mengenakan seragam maupun pakaian duka. Mereka nongkrong di teras rumah mendiang teman mereka sambil merokok dan mengobrol santai. Ketika Rachel mencoba mendekati mereka untuk mencari tahu, mereka bersikap dingin dan cenderung mengabaikannya. Rachel bahkan harus ikut merokok dan mencairkan suasana dengan gaya bicara santai agar mereka mau membuka mulut, meski informasi yang diberikan tetap sangat minim.
Perbedaan ini menyoroti dinamika budaya tentang tingkat penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Dalam masyarakat Jepang, bersikap hormat kepada orang yang lebih tua atau berada di posisi lebih tinggi adalah sebuah keharusan. Oleh karena itu, para siswi di Ringu merasa wajib menjawab pertanyaan Asakawa meskipun mereka sebenarnya enggan.
Tanggung Jawab Seorang Ayah
[[MEDIA_5]]
Kedua film memperkenalkan sosok ayah dari anak sang tokoh utama dengan cara yang hampir identik, yakni saat mereka berpapasan dengan anak laki-laki mereka di jalan dalam cuaca hujan tanpa adanya interaksi atau kedekatan emosional.
Dalam The Ring, sang ayah bernama Noah digambarkan sebagai sosok yang kekanak-kanakan dan ragu-ragu. Ia sebenarnya ingin hadir untuk anaknya, tetapi bayang-bayang masa lalunya sendiri menghalanginya. Karakter ini seolah mencerminkan isu keretakan keluarga dalam budaya Barat.
Sementara itu, ayah dalam Ringu adalah Ryuji Takayama, seorang profesor universitas yang sukses. Pernikahannya dengan Asakawa telah kandas, dan ia sepenuhnya menyibukkan diri dengan pekerjaan serta penelitian akademisnya. Anaknya bukan prioritas utama dalam hidupnya.
Di Jepang, etos kerja ditanamkan sejak usia dini, dan mengutamakan karier di atas keluarga merupakan fenomena sosial yang nyata. Profesor Takayama merepresentasikan sisi gelap dari budaya kerja keras yang begitu mengakar di masyarakat Jepang.
Kasih Sayang Seorang Ibu
[[MEDIA_6]]
Berbeda dengan elemen-elemen sebelumnya, penggambaran sosok ibu di kedua film justru sangat sejalan. Naluri keibuan digambarkan sebagai sesuatu yang universal dan tidak mengenal batas wilayah.
Asakawa dan Rachel sama-sama terdorong untuk memecahkan misteri video terkutuk tersebut demi melindungi anak-anak mereka. Perjuangan mereka tidak berhenti pada anak kandung saja; ketika mereka menyelidiki latar belakang Sadako dan Samara, muncul rasa empati yang mendalam terhadap anak-anak malang yang semasa hidupnya hanya ingin dicintai. Memeluk kerangka yang ada di dalam sumur bukanlah hal mudah, tetapi dorongan kasih sayang ibu melampaui rasa takut tersebut.
[[MEDIA_7]]
Meskipun Sadako dan Samara pada akhirnya berubah menjadi sosok yang penuh teror akibat tragedi masa lalu mereka, kisah kedua film ini secara tidak langsung memperlihatkan kekuatan besar dari naluri orang tua dan kasih sayang seorang ibu.
Adaptasi film asing untuk penonton Barat memang jarang berhasil menyamai kualitas aslinya, namun perbandingan antara Ringu dan The Ring membuktikan bahwa perbedaan budaya dapat menghasilkan nuansa cerita yang sama-sama kuat dan layak untuk dikaji.








