Home / Travel / Akira Haraguchi dan Metode Hafalan 100.000 Digit Pi Berbekal Teknik Mnemonik

Akira Haraguchi dan Metode Hafalan 100.000 Digit Pi Berbekal Teknik Mnemonik

header

Catatan Editor: Selamat Hari Pi (14 Maret) semuanya!

Tidak jauh berbeda dengan Fight Club, terdapat sebuah gerakan bawah tanah yang beranggotakan orang-orang dengan kemampuan menghafal hal-hal unik. Mulai dari kartu, kata-kata, statistik, hingga… yah… maaf, saya hampir lupa apa kalimat terakhir yang ingin saya ucapkan.

Jika kita memperhatikan para ahli memori, ada satu nama yang langsung menduduki peringkat teratas, yaitu Akira Haraguchi, seorang pensiun insinyur asal Jepang yang lahir pada tahun 1946. Sesuai dengan topik yang dibahas, ia adalah sosok yang berhasil meresitasi angka pi hingga mencapai 100.000 digit. Mengingat kemampuan saya sendiri dalam mengingat pi hanya sekitar dua digit saja (3,14), angka 100.000 tentu bukan pencapaian yang sepele. Apakah ia seorang jenius super? Apakah ada hal yang istimewa dari dirinya? Mungkin saja, namun ia mengaku bahwa dirinya bukanlah seorang anak ajaib. Ia bahkan memiliki kenangan masa kecil ketika dihukum berdiri di koridor sekolah karena tidak mampu menghafal perkalian satu digit dengan baik. Tentu itu menjadi kenangan yang cukup menggelitik untuk ia ingat kembali sekarang.

Lantas, apa yang mendorongnya untuk mengambil misi yang terbilang luar biasa ini? Kutipan dari Japan Times berikut ini merangkum alasannya dengan sangat baik:

Menariknya, Haraguchi menyebutkan bahwa ketertarikannya pada pi berkaitan erat dengan pencariannya seumur hidup akan kebenaran abadi. Sejak kecil, ia selalu bertanya-tanya mengapa sebagian orang—terutama mereka yang mengalami disabilitas fisik dan mental—harus menderita. Ia sempat mencari jawaban melalui buku-buku agama dan filsafat, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia kemudian berpaling ke alam dan menyadari bahwa tidak ada satupun di alam—baik itu daun, pohon, maupun pemandangan gunung—yang berbentuk garis lurus atau kotak. “Saya menyadari bahwa alam tidak terbentuk dari garis-garis lurus… Dan saya menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berputar. Rotasi menjadi konsep kunci bagi saya.”

Oleh karena itu, ketika ia mengetahui bahwa pi adalah rangkaian angka tak berujung tanpa pola atau repetisi, hal itu terasa sangat masuk akal baginya untuk dijadikan sebagai simbol kehidupan. Ia bahkan menyebut proses menghafal pi sebagai “agama alam semesta.”

Akira Haraguchi writing Pi on a chalkboard

Dari sanalah ia mulai menghafal. Antara tahun 2004 hingga 2006, ia mencatatkan empat momen penting dalam perjalanan memorinya:

  • September 2004: Meresitasi pi hingga 54.000 digit.
  • Desember 2004: Meresitasi pi hingga 68.000 digit.
  • Juli 2005: Meresitasi pi hingga 83.431 digit.
  • Oktober 2006: Meresitasi pi hingga 100.000 digit.

Rekor 100.000 digit tersebut menjadi puncak kariernya yang dilakukan dalam sebuah acara di Tokyo, di mana ia menghabiskan waktu selama 16,5 jam untuk meresitasi angka demi angka (berhenti sejenak setiap beberapa jam untuk menikmati onigiri agar kondisi fisik dan mentalnya tetap terjaga). Meskipun tiga dari empat resitasi tersebut disaksikan oleh banyak pihak, nama Haraguchi bahkan tidak tercatat dalam daftar “Pi Ranking List”. Mereka telah mengirimkan rekaman video, namun entah mengapa Guinness World Records belum juga menerima satupun dari pengajuan tersebut. Mungkin mereka hanya lupa?

Berikut adalah tampilan dari daftar peringkat pi “resmi”:

  1. Lu, Chao (China) – 67.890 Digit
  2. Chahal, Krishan (India) – 43.000 Digit
  3. Goto, Hiroyuki (Japan) – 42.195 Digit
  4. Tomoyori, Hideaki (Japan) – 40.000 Digit
  5. Mahadevan, Rajan (India) – 31.811 Digit
  6. Tammet, Daniel (Great Britain) – 22.514 Digit
  7. Thomas, David (Great Britain) – 22.500 Digit
  8. Robinson, William (Great Britain) – 20.220 Digit
  9. Carvello, Creigthon (Great Britain) – 20.013 Digit
  10. Umile, Marc (USA) – 15.314 Digit

Sama seperti angka pi itu sendiri, daftar tersebut terus berlanjut tanpa henti.

Seperti yang terlihat, belum ada seorang pun yang mendekati angka 100.000 digit yang dicapai oleh Haraguchi pada tahun 2006. Bahkan tiga percobaan “tidak resmi” miliknya yang lain berhasil menduduki peringkat pertama atau kedua dalam daftar internasional tersebut. Terlepas dari ada atau tidaknya pencatatan tersebut di dalam daftar resmi, apa yang dilakukan oleh Haraguchi tetaplah sebuah pencapaian yang luar biasa.

Visual Mnemonics

Teenagers holding a tiny concert

Meskipun sistem pendidikan di Jepang lekat dengan metode hafalan di luar kepala, menghafal 100.000 digit pi bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang biasa tanpa teknik tertentu. Seperti yang sudah bisa ditebak, ia menggunakan metode mnemonik yang dikembangkannya sendiri untuk mengingat seluruh deretan angka tersebut. Ini tentu menjadi kabar baik bagi kita semua, karena dengan latihan yang tepat, kita pun bisa menghafal deretan angka pi. Meskipun mungkin bukan 100.000 digit, mengingat 100 digit pi tidak akan terlalu sulit jika dilakukan dengan cara yang benar. Kata “benar” di sini adalah kuncinya, sebab manusia sering kali menghafal dengan cara yang tidak efisien. Otak kita sebenarnya cukup buruk dalam mengingat angka mentah, waktu, atau daftar acak. Sebaliknya, otak kita justru sangat andal dalam mengingat hal-hal yang bersifat visual atau melibatkan panca indra. Pernahkah Anda merasa bernostalgia hanya karena mencium aroma tertentu yang tidak sengaja terhirup?

Dalam dunia memori, para ahli cenderung mengandalkan pendekatan visual. Ada alasan mengapa orang sering mengatakan “menelusuri kembali memori masa lalu.” Sebagai contoh, bayangkan Anda memasuki sebuah ruangan yang asing, misalnya kamar teman Anda, selama tiga puluh detik lalu keluar. Tiga bulan kemudian, Anda kembali ke ruangan tersebut. Kemungkinan besar, Anda akan mengingat banyak hal tentang ruangan itu—di mana letak pengendali gim, buku-buku, hingga kursi. Anda mungkin tidak mengingat setiap detail kecil jika tidak mengamatinya secara seksama, namun Anda bisa mengingat lebih dari seratus hal dari ruangan tersebut jika diminta untuk menghitungnya. Pikirkanlah, betapa luar biasanya hal itu. Berapa jam yang dibutuhkan untuk menghafal 50 kosakata bahasa asing, tetapi hanya dengan melangkah masuk ke dalam ruangan, kita bisa langsung merekam ratusan detail secara instan? Begitulah cara kerja otak kita yang sangat visual.

Ada data yang juga mendukung sifat visual dari otak kita. Dalam sebuah eksperimen pada tahun 1970-an, para peneliti memperlihatkan sepuluh ribu gambar berbeda kepada para partisipan secara cepat. Setelah itu, mereka diperlihatkan dua gambar: satu yang sudah pernah mereka lihat dan satu yang belum pernah dilihat sama sekali. Tugas mereka adalah mengenali gambar yang pernah mereka lihat. Hebatnya, mereka mampu mengenali 80 persen foto yang sebelumnya telah diperlihatkan. Dalam studi lain yang melibatkan 2.500 foto, para partisipan diuji dengan menempatkan dua gambar yang sangat mirip secara berdampingan, dan tingkat akurasi mereka mencapai 90 persen.

Itulah sebabnya metode mnemonik sangat bergantung pada visualisasi. Selain itu, Anda juga dianjurkan untuk melibatkan indra lainnya, seperti mencium aroma, menyentuh, atau bahkan merasakan objek dalam cerita imajinasi Anda. Pengalaman multi-indra ini membuat informasi lebih melekat di dalam ingatan. Metode pembelajaran kanji tertentu juga memanfaatkan cerita untuk membantu pembaca mengingat makna dan pelafalan karakter dengan jauh lebih cepat. Hal ini memberikan lebih banyak pemicu untuk menarik kembali informasi dari dalam kepala, karena masalah utama manusia bukanlah memasukkan informasi ke dalam otak, melainkan mengeluarkannya kembali.

The Major Mnemonic System

Numbers streaking into the distance
Sumber: Janet Ramsden

Lantas, metode mnemonik seperti apa yang digunakan oleh Akira Haraguchi hingga mampu menghafal 100.000 digit angka?

Pertama-tama, kita perlu memahami bahwa ada berbagai teknik mnemonik untuk kebutuhan yang berbeda. Haraguchi menggunakan modifikasi dari “Major System”, yang dijelaskan oleh Wikipedia sebagai berikut:

Sistem ini bekerja dengan cara mengubah angka menjadi bunyi konsonan, yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kata dengan menambahkan huruf vokal. Sistem ini didasarkan pada prinsip bahwa otak manusia lebih mudah mengingat bentuk visual daripada angka abstrak.

Jika dijabarkan dari angka 0 hingga 9, berikut adalah konsonan yang dikaitkan dengan masing-masing angka:

0 = s, z
1 = t, d
2 = n
3 = m
4 = r
5 = l
6 = j, sh, g (lembut), ch (lembut)
7 = k, g
8 = f, v
9 = p, b
tidak ditetapkan = vokal, w, h, y, x

Konsep dasarnya adalah mengambil angka yang ingin dipelajari (misalnya 701) lalu menerapkan huruf-huruf konsonan yang sesuai untuk membentuk sebuah kata. Ejaannya tidak harus persis sama, asalkan pengucapannya benar. Untuk angka 701, kita bisa menggunakan konsonan g + s + t. Dengan menambahkan beberapa huruf vokal, kata yang terbentuk adalah “ghost” (hantu). Alih-alih menghafal deretan angka 701, Anda cukup mengingat konsep atau visual dari sesosok “hantu” yang jauh lebih mudah dipanggil kembali ke dalam ingatan. Contoh lainnya:

15 = TaiL
927 = PiNK

Ada berbagai metode mnemonik lain yang lebih kompleks untuk menghafal angka, namun sistem ini adalah salah satu yang paling sederhana. Jika Anda dapat mengasosiasikan dua angka sekaligus menjadi sebuah objek, kecepatan belajar Anda bisa meningkat dua kali lipat.

Akira Haraguchi’s Mnemonic Method

A banner for the Akira Haraguchi mnemonic method

Tentu saja, Akira Haraguchi memiliki pendekatan tersendiri yang disesuaikan dengan karakteristik bahasa Jepang. Untuk menggunakan metodenya, Anda perlu memahami hiragana serta memiliki penguasaan bahasa Jepang yang cukup baik. Karakteristik bahasa Jepang dinilai sangat mendukung karena sebagian besar “huruf” atau kana sudah memiliki bunyi vokal yang melekat secara alami, sehingga proses penerkaannya menjadi jauh lebih sedikit.

Sebagai contoh:

0 → お、ら、り、る、れ、ろ、を、おん

1 → あ、い、う、え、ひ、び、ぴ、あん、ひゃ、ひゃん、びゃ、びゃん

dan seterusnya…

Setiap angka memiliki seperangkat kana yang diasosiasikan dengannya. Melalui latihan yang konsisten, Haraguchi mampu menerjemahkan bunyi-bunyi tersebut secara simultan ke dalam bentuk angka. Seperti yang telah dibahas mengenai gambar dan cerita, ia mengubah setiap digit pi menjadi sebuah narasi. Ia memilih bunyi-bunyi yang membentuk kata bermakna, lalu merangkainya menjadi sebuah cerita utuh. Otak manusia terbukti jauh lebih baik dalam mengingat cerita daripada angka acak. Sebagai contoh, 15 digit pertama pi (3,14159265358979) direpresentasikan melalui sebuah kalimat:

  • 妻子異国に婿さん怖くなかった。
  • “Istri dan anak-anak pergi ke luar negeri; sang suami tidak merasa takut.”

Jika Anda mampu menghafal kalimat tersebut, secara tidak langsung Anda telah mengingat 15 digit pertama angka pi. Tentu saja, proses ini membutuhkan ketekunan untuk membangun asosiasi yang kuat, namun dengan latihan yang rutin, siapa pun dapat melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *