Meskipun letaknya hanya sekitar 40 menit di sebelah selatan Kansai International Airport, sangat sedikit wisatawan mancanegara yang menyempatkan diri singgah di Wakayama City. Sebagai ibu kota prefektur, daerah ini sering kali terlewatkan karena para pelancong biasanya langsung menuju Koyasan atau Kumano Kodo. Mengingat kawasan tersebut telah diakui sebagai Sacred Sites and Pilgrimage Routes in the Kii Mountain Range sejak tahun 2004, tidak heran jika banyak orang mengabaikan Wakayama City.
Baru-baru ini, Wakayama City Tourist Association mengundang saya untuk mengikuti dua tur pemantauan. Tujuannya adalah mengembangkan konten yang menarik bagi wisatawan yang datang atau berangkat melalui Kansai International Airport. Meskipun banyak orang kini memilih menginap di Koyasan atau mendaki Kumano Kodo, destinasi-destinasi tersebut memerlukan alokasi waktu yang cukup besar. Oleh karena itu, bagi wisatawan yang menjalani rencana perjalanan standar Golden Route, tempat-tempat tersebut agak terlalu jauh untuk dimasukkan tanpa mengorbankan agenda lainnya.
Untungnya, lokasi Wakayama City yang dekat dengan bandara memungkinkan para pelancong menikmati kuliner khas prefektur ini tanpa mengacaukan rencana liburan mereka. Topik utama dari kedua tur yang saya ikuti adalah gastronomi, yang mencakup Shojin Ryori dan hidangan laut terbaik di Wakayama.
Shojin Ryori di Wakayama City

Pengalaman pertama bertempat di sebuah restoran terkenal di Wakayama City, di mana kami berkesempatan meracik sebagian dari hidangan Shojin Ryori dari nol. Biasanya, hidangan ini identik dengan pengalaman menginap di kuil seperti di Koyasan, sehingga menikmati Shojin Ryori di tengah kawasan perkotaan merupakan hal yang cukup langka.
Berkat popularitas Koyasan, banyak orang kini familiar dengan Shojin Ryori, tetapi hanya sedikit yang berkesempatan membuatnya langsung bersama seorang master chef. Kami memulai prosesnya dengan mengolah kedelai segar menjadi tahu. Meskipun sudah lama tidak memasak, berada di balik konter restoran bersejarah ini memberikan pengalaman yang sangat berkesan.

Setelah kedelai diblender menjadi pasta halus, adonan tersebut direbus untuk menghasilkan tahu. Sementara kami melakukannya, para staf restoran membantu menyiapkan sisa hidangan lainnya. Setelah matang, rangkaian menu yang menakjubkan siap dinikmati bersama peserta tur lainnya. Ini adalah cara yang menyenangkan untuk mencicipi hidangan khas Koyasan tanpa harus pergi jauh ke pegunungan.
Setelah santap siang, kami juga mengikuti sesi singkat meditasi Ajikan. Diciptakan oleh pendiri Koyasan, biksu legendaris Kukai, pengalaman Ajikan yang diadakan jauh dari kompleks kuil besar ini menjadi salah satu daya tarik utama dari tur tersebut. Kegiatan memasak Shojin Ryori dan meditasi Ajikan ini hanya memakan waktu beberapa jam, sehingga tidak akan mengganggu jadwal liburan di Jepang.
Bagi yang mencari keaslian penuh dari Shojin Ryori, menginap di penginapan peziarah shukubo di Koyasan tetap menjadi pilihan utama. Namun, tur ini menawarkan alternatif yang praktis bagi wisatawan yang akan terbang melalui Kansai International Airport. Pemesanan untuk tur ini tersedia mulai awal tahun 2024 melalui halaman reservasi resmi.
Seafood Wakayama dan Masakan Italia

Tur kedua dimulai di Kuroshio Ichiba. Terletak di pinggiran kota di sebuah pulau buatan di Teluk Wakaura, pasar ikan ini menjual berbagai hasil laut segar tangkapan lokal. Kami didampingi oleh kepala koki GASTROTERIA F, sebuah restoran Italia yang terletak hanya beberapa menit dari Stasiun JR Wakayama. Tujuan kami berkunjung ke Kuroshio Ichiba adalah memilih bahan-bahan segar bersama sang koki untuk pesta kuliner yang istimewa.
Meskipun berada dekat dengan Kansai International Airport, Wakayama City kerap luput dari perhatian para pecinta kuliner. Bagi yang ingin menikmati hidangan laut berkualitas tinggi, meluangkan waktu sekitar satu jam perjalanan menuju tempat seperti Kuroshio Ichiba adalah keputusan yang tepat.

Normalnya, agenda tur ini tidak mengunjungi Kuroshio Ichiba, melainkan membeli hasil tangkapan hari itu langsung dari desa nelayan kecil Saikazaki. Terletak di sebuah semenanjung di bagian selatan Wakayama City, desa ini memancarkan pesona tersembunyi dengan deretan rumah nelayan di lereng bukit yang menyerupai labirin. Membeli makanan laut langsung dari nelayan setempat merupakan sorotan utama dari tur tersebut, meskipun saat itu kami harus beralih ke Kuroshio Ichiba karena faktor cuaca.
Meski demikian, saya tetap berkesempatan mengunjungi Saikazaki selama tur pemantauan berlangsung. Setelah menjelajahi lanskap perkampungan nelayan yang berbukit-bukit, kami menaiki taksi menuju Wakayama Castle sejenak untuk menikmati pemandangan daun-daun musim gugur yang sedang indah-indahnya, khususnya di area Momijidani Garden.
Menjelang matahari terbenam, kami berjalan kaki menuju GASTROTERIA F untuk makan malam. Wakayama City dikenal sebagai kota yang sangat ramah pejalan kaki. Meskipun berbagai titik menariknya tersebar, kawasan pusat kota dapat diakses dengan mudah berjalan kaki maupun memanfaatkan jaringan bus yang luas.

Perjamuan hidangan Italia multi-menu di GASTROTERIA F terasa sangat luar biasa. Terdiri dari berbagai sajian berbahan dasar hasil laut yang kami pilih sendiri di pasar ikan, makanan ini sanggup memuaskan para penikmat kuliner. Jika Anda berpartisipasi dalam tur ini, disarankan untuk menginap di area sekitar agar tidak perlu terburu-buru memikirkan jadwal kereta kepulangan.
Pemesanan untuk pengalaman bersantap ini dapat dilakukan melalui situs reservasi resmi yang tersedia untuk umum.
Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar Kota

Wakayama City menyimpan banyak permata tersembunyi yang membutuhkan waktu lebih dari sekadar setengah hari untuk dijelajahi sepenuhnya, terutama jika Anda berkunjung ke lokasi yang agak jauh dari stasiun kereta utama seperti Kimii-dera.
Jika Anda hanya mengikuti salah satu tur singkat yang dibahas di atas, menyempatkan diri singgah ke Wakayama Castle adalah pilihan yang sangat dianjurkan. Benteng bersejarah ini terletak di tengah kota, sehingga sangat strategis untuk digabungkan baik dengan pengalaman Shojin Ryori maupun makan malam di GASTROTERIA F.








