Home / Travel / Mengenal Shio-no-Michi: Menelusuri Jalur Garam dan Sapi Shorthorn Iwate

Mengenal Shio-no-Michi: Menelusuri Jalur Garam dan Sapi Shorthorn Iwate

Iwates Shio no Michi

Akhir bulan Februari lalu, di tengah salju lembut yang turun menutupi dataran tinggi Appi di Iwate, kami mencari kehangatan di sebuah pondok ski. Di sana, seorang jagal lokal bernama Fugane-san menyambut kami dengan daging sapi terbaik yang pernah kami rasakan, dipanggang di atas perapian terbuka. Sambil bekerja, ia melontarkan sebuah pertanyaan menarik, “Apakah kalian ingin kembali pada bulan Juni untuk menonton adu banteng?” Tentu saja, hanya ada satu jawaban yang pantas untuk ajakan tersebut…

Kisah ini berakar dari ketertarikan saya pada sejarah masa lalu Iwate, di mana sapi-sapi digunakan untuk mengangkut komoditas berharga berupa garam laut melewati Pegunungan Kitakami menuju pusat pemerintahan di Morioka. Jalur penting yang dikenal sebagai Shio-no-Michi atau “Jalur Garam” ini dulunya vital untuk mendistribusikan garam dari pesisir ke wilayah pedalaman yang lebih padat. Di daerah dataran rendah, kuda atau sarana lain mungkin bisa diandalkan, namun di medan yang terjal ini, hanya sapi Tankaku atau Shorthorn Jepang yang mampu mengemban tugas tersebut.

Perjalanan saya menyusuri kawasan pegunongan dan pesisir Prefektur Iwate ini menawarkan pengalaman wisata yang tidak biasa. Meskipun bukan destinasi yang saya rekomendasikan untuk pelancong pemula ke Jepang, rute ini menyuguhkan kombinasi sempurna antara narasi sejarah, budaya lokal, dan pemandangan alam yang memukau melalui jejak sapi Shorthorn Jepang.

Cara Menuju ke Sana

Sebelum membahas lebih jauh tentang Shio-no-Michi, ada baiknya kita memperhatikan aspek logistik perjalanan. Langkah paling mudah untuk mencapai prefektur ini adalah dengan menaiki Hayabusa Shinkansen menuju Stasiun Morioka. Kami sendiri memilih untuk tiba sehari sebelumnya dan menginap di Dormy Inn agar tidak perlu terburu-buru mengejar kereta pagi buta.

Meskipun sebagian besar area Shio-no-Michi dapat dijangkau menggunakan transportasi umum, menyewa kendaraan roda empat adalah pilihan yang jauh lebih bijak. Tanpa mobil, Anda akan melewatkan sebagian besar keindahan dan esensi utama dari wilayah ini. Kebebasan berkendara sangat dibutuhkan untuk menikmati kawasan pedesaan Iwate secara maksimal.

Mengenal Sumber Daging Kami

Sapi Shorthorn Jepang milik Kakiki Toshiyuki di dalam kandang.

Setelah sempat singgah untuk menyapa maskot regional Iwate dan menikmati makan siang berupa mi soba lokal, tujuan pertama kami adalah kandang milik Kakiki Toshiyuki, pemasok utama untuk bisnis Fugane-san. Di sinilah kami melihat dari dekat sapi-sapi Shorthorn Jepang. Hewan-hewan megah ini dulunya adalah pengangkut garam, dan kini menjadi sumber daging wagyu khas Iwate yang terkenal lebih rendah lemak dibandingkan daging sapi Kobe.

Selama berkeliling kandang, Kakiki-san dan Fugane-san menjelaskan bahwa beberapa dari sapi ini akan ikut serta dalam tradisi adu banteng keesokan harinya. Hal ini cukup mengejutkan mengingat sifat mereka yang tampak sangat tenang dan ramah kepada pengunjung. Sebagai pemakan daging, pengalaman berinteraksi langsung dengan hewan yang menghasilkan nutrisi bagi kita adalah cara yang baik untuk mengingat kembali dari mana makanan kita berasal.

Menjelajahi Gua Batu Kapur Ryusendo

Ryusendo

Meninggalkan kandang sapi, kami melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju Ryusendo. Dikenal sebagai salah satu dari tiga gua batu kapur terpenting di Jepang, jaringan gua ini diperkirakan membentang hingga sekitar 5.000 meter ke dalam sisi gunung, meskipun baru sebagian kecil yang telah dieksplorasi sejak tahun 1920-an.

Sekitar 700 meter dari gua ini dibuka untuk umum, dilengkapi dengan jalur pejalan kaki dan jembatan yang memudahkan wisatawan untuk menjelajah. Salah satu daya tarik utamanya adalah tiga danau bawah tanah dengan kedalaman bervariasi mulai dari 35 hingga 98 meter. Pantulan cahaya lampu bawah air memancarkan rona biru misterius yang memukau di dalam gua.

Peternakan Susu Tanohata Yamachi Rakuno

Tanohata Yamachi Rakuno

Perjalanan berlanjut ke Tanohata Yamachi Rakuno, sebuah peternakan susu regeneratif yang terletak di dataran tinggi. Peternakan ini memanfaatkan lereng gunung curam yang diubah menjadi padang rumput subur berkat keberadaan sapi-sapi yang merumput di sana selama puluhan tahun. Pendiri peternakan ini, Dr. Naohara Kyoji, menyambut kami dan menjelaskan siklus simbiosis antara sapi dan alam.

Setelah menikmati keindahan padang rumput tersebut, kami berkesempatan mencicipi produk olahan susu segar di sana. Mentega buatan Dr. Naohara terutama meninggalkan kesan mendalam karena kualitas rasanya yang luar biasa.

Pabrik Garam Noda Shio

Patung Shio-no-Michi

Destinasi berikutnya adalah Pabrik Garam Noda Shio, tempat di mana air laut diolah menjadi garam berkualitas tinggi menggunakan metode tradisional. Tungku-tungku batu bata besar berbahan bakar kayu masih digunakan hingga kini untuk merebus air laut, persis seperti yang dilakukan oleh para leluhur mereka selama berabad-abad.

Setelah membeli beberapa kilogram garam Noda, rombongan kami bertolak ke kawasan Yamagata di Kota Kuji untuk menikmati makan malam bersama para peternak lokal dengan hidangan daging sapi Shorthorn yang luar biasa lezat.

Adu Banteng Hiraniwa di Iwate

Adu Banteng Hiraniwa

Hari kedua di Iwate dikhususkan untuk menyaksikan tradisi adu banteng di dataran tinggi Hiraniwa Kogen. Tradisi ini memiliki kaitan erat dengan Shio-no-Michi, di mana pada masa lalu para banteng diadu untuk menentukan siapa yang berhak memimpin karavan pengangkut garam dari Noda.

Berbeda dengan daerah lain yang mungkin membiarkan pertarungan berlangsung hingga tuntas, pertandingan di Iwate selalu diakhiri dengan hasil imbang. Para pawang akan memisahkan kedua banteng sebelum terluka parah, sehingga kedua hewan merasa sebagai pemenang dan tetap bersemangat untuk memimpin karavan di masa lalu.

Padang Rumput Terbuka dan Kawanan Sapi

Sapi Shorthorn Jepang di Padang Rumput

Menjelang akhir hari kedua, kami mengunjungi padang rumput terbuka tempat sapi-sapi Shorthorn Jepang dibiarkan berkeliaran setelah musim dingin berlalu. Menyaksikan anak-anak sapi berlarian di alam bebas memberikan perspektif tersendiri mengenai praktik peternakan regeneratif yang selaras dengan kelestarian lingkungan.

Sebelum kembali ke Tokyo, kami sempat singgah di toko Fugane-san untuk memborong berbagai produk daging sapi, ditutup dengan makan malam bersama di Morioka sebelum menaiki kereta Hayabusa terakhir.

Atraksi Lain di Sekitar

Morioka Saat Musim Panas

Bagi pelancong yang merencanakan kunjungan ke wilayah Tohoku ini, menyempatkan diri singgah di Kota Morioka adalah keputusan yang tepat. Selain itu, perjalanan dapat diperluas menuju Hakodate di Hokkaido atau menjelajahi Prefektur Akita untuk melengkapi pengalaman wisata musim panas di Jepang utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *