Ketika artikel ini ditulis pada awal April 2020, Tokyo tengah bersiap menghadapi pembatasan wilayah akibat virus corona. Meski intervensi ketat belum sepenuhnya diterapkan di Jepang saat itu, berbagai tekanan untuk segera mengambil tindakan pencegahan semakin meningkat. Terlepas dari bagaimana pemerintah Jepang menavigasi krisis global tersebut, satu hal yang pasti adalah kesempatan untuk bepergian harus ditangguhkan untuk sementara waktu.
Namun, berada di rumah saja bukan berarti absen dalam menyajikan konten yang konsisten. Suatu hari nanti, masa-masa sulit ini akan berlalu dan masyarakat dapat kembali menikmati keindahan Jepang. Di tengah kejenuhan akibat karantina mandiri, sedikit pelarian melalui bacaan tentu menjadi hal yang dinantikan. Melalui tulisan ini, diharapkan pembaca dapat melewati masa sulit dengan sedikit lebih mudah.
Kali ini, topik yang dibahas adalah bencana jenis lain yang pernah melanda Jepang di masa lalu, yaitu kebakaran. Secara lebih spesifik, kita akan mengulas legenda di balik Kebakaran Besar Meireki yang sangat dahsyat. Bencana ini begitu masif hingga melahap sebagian besar wilayah Edo, yang kini dikenal sebagai Tokyo. Walaupun sejarawan meragukan keakuratan detail legenda tersebut, kisah ini tetap menjadi salah satu cerita yang paling berkesan dalam sejarah Jepang.
Berdasarkan cerita rakyat, awal mula Kebakaran Besar Meireki bermula dari sehelai kimono terkutuk pada pertengahan abad ke-17. Ketiga remaja perempuan yang memiliki pakaian tersebut secara misterius meninggal dunia secara beruntun karena penyebab yang tidak diketahui, bahkan sebelum sempat mengenakan pakaian itu sama sekali. Setelah kematian gadis ketiga, para warga setempat merasa cemas dan memutuskan untuk mengambil tindakan.

Meskipun masyarakat modern mungkin meragukan efektivitas solusi tersebut mengingat kebakaran besar sering terjadi di Edo, warga masa itu memilih untuk memusnahkan kimono tersebut. Mereka membawa pakaian itu ke kuil Honmyo-ji dan meminta seorang pendeta Buddha untuk membakarnya. Sayangnya, rencana tersebut berakhir buruk. Kimono terkutuk itu justru menyala dengan api yang sangat ganas, tidak bisa dikendalikan, dan akhirnya merambat membakar bangunan kuil serta rumah-rumah kayu di sekitarnya.
Kebakaran Besar Meireki menghanguskan sekitar 70 persen infrastruktur kota. Kobaran api begitu hebat hingga butuh waktu tiga hari untuk padam, ditambah tiga hari lagi sebelum bantuan dapat dikerahkan. Bencana ini juga menghancurkan benteng utama Kastil Edo, yang kerusakannya tidak pernah bisa dibangun kembali sepenuhnya oleh Keshogunan Tokugawa. Catatan sejarah menunjukkan bahwa lebih dari 100.000 penduduk Edo kehilangan nyawa dalam tragedi tersebut.
Seri tulisan bertema pariwisata lokal ini memiliki pendekatan yang berbeda dari karya lainnya. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bagaimana kekuatan narasi cerita yang dipadukan dengan karakteristik suatu tempat dapat menghidupkan berbagai lokasi di Jepang, membuktikan bahwa pariwisata yang kuat hanya membutuhkan kisah yang otentik.
Kendati demikian, lokasi-lokasi yang dibahas bukanlah destinasi wajib kunjung utama. Kecuali jika Anda memiliki waktu tinggal yang lama di Jepang, waktu liburan yang singkat sebaiknya dialokasikan ke objek wisata utama yang lebih besar. Oleh karena itu, ulasan ini lebih tepat dinikmati sebagai tambahan wawasan dan trivia menarik.
Asal-Usul Kobaran Api

Setelah Kebakaran Besar Meireki, sebagian besar wilayah Edo dibangun kembali. Sayangnya, kota yang kini bernama Tokyo itu kembali rata dengan tanah akibat Gempa Bumi Besar Kanto pada awal tahun 1920-an, serta serangan bom era Perang Dunia II. Inilah salah satu alasan mengapa Kyoto memiliki lebih banyak warisan budaya yang utuh, karena kota tersebut tidak berulang kali hancur seperti halnya Tokyo.
Saat ini, kuil Honmyo-ji yang diyakini sebagai titik awal Kebakaran Besar Meireki telah didirikan kembali. Lokasinya terletak dekat kawasan Sugamo. Untuk mencapainya, Anda dapat menggunakan jalur kereta Yamanote atau jalur Mita menuju Stasiun Sugamo, dan memanfaatkan layanan penunjuk rute untuk mencari jalur terbaik.
Kuil Honmyo-ji berada di ujung sebuah area pemakaman yang tenang. Kompleks pemakaman ini tampak sangat indah pada musim semi ketika bunga sakura bermekaran, yang justru menjadi daya tarik utama tersendiri untuk dikunjungi dibandingkan bangunan kuilnya yang cukup sederhana.
Honmyo-ji Masa Kini

Secara bentuk, bangunan kuil Honmyo-ji yang telah direkonstruksi tidak memiliki keistimewaan yang mencolok dan cenderung menyerupai kuil modern pada umumnya. Jika berkunjung ke tempat ini, pastikan untuk melihat bagian belakang kuil untuk menemukan sebuah monumen yang didedikasikan bagi para korban jiwa dalam Kebakaran Besar Meireki, lengkap dengan keterangan berbahasa Inggris.
Atraksi Menarik di Sekitar

Karena lokasinya yang berada di sekitar Sugamo, kunjungan ke kuil ini dapat dikombinasikan dengan destinasi lain di sekitarnya. Saat berada di kawasan ini, sempatkan pula untuk mampir ke Rikugi-en, sebuah taman tradisional Jepang yang sering dianggap sebagai salah satu taman terindah di Tokyo.








