“I feel uncertain as the days pile on, and yet, I think of crossing the Shirakawa Barrier.”
— Matsuo Basho
Bagi para pelancong yang ingin menjelajahi sisi Jepang yang jarang dijamah wisatawan massal, wilayah Kawaguchiko kini mungkin terasa terlalu ramai akibat lonjakan turis asing. Sejak popularitas Gunung Fuji dan sekitarnya meroket, mencari destinasi yang tenang menjadi tantangan tersendiri. Di tengah pencarian tempat-tempat tersembunyi di Jepang, wilayah Shirakawa menawarkan pelarian sejarah yang kaya tanpa harus berdesakan dengan banyak orang.
Mungkin Anda pernah mendengar tentang desa bersejarah Shirakawa-go di Prefektur Gifu yang terkenal dengan rumah beratap jerami tradisionalnya. Namun, Shirakawa di Prefektur Fukushima memiliki arti sejarah yang tidak kalah penting. Terletak di perbatasan antara Dataran Kanto dan wilayah Tohoku, kawasan ini sejak lama dikenal sebagai gerbang utama menuju bagian utara Jepang.
Bagi banyak pelancong, Shirakawa mungkin belum begitu familiar. Kota bekas kastil ini telah berdiri sejak periode Nara sebagai benteng pertahanan antara negara Yamato dan suku Emishi di utara. Berperan penting di sepanjang jalur Oshu Kaido, wilayah ini dulunya merupakan pusat kendali politik yang strategis.
Meskipun mungkin bukan destinasi utama yang wajib dikunjungi jika Anda hanya singgah sebentar, Shirakawa menjadi persinggahan yang sangat menarik jika Anda memanfaatkan JR East Pass untuk menjelajahi wilayah Tohoku. Di sini, Anda bisa menikmati situs-situs bersejarah seperti Kastil Komine yang jarang dikunjungi wisatawan asing.
Cara Menuju ke Sana
Mencapai Shirakawa di bagian selatan Prefektur Fukushima sebenarnya cukup mudah. Anda bisa menaiki kereta Tohoku Shinkansen menuju Sendai, meskipun perlu diingat bahwa tidak semua kereta cepat berhenti di Stasiun Shin-Shirakawa. Sebaiknya gunakan layanan perencana rute perjalanan seperti Jorudan untuk memastikan jadwal keberangkatan.
Tantangan logistik biasanya baru terasa sesampainya di Stasiun Shin-Shirakawa, karena berbagai objek wisata di sini letaknya agak tersebar dan jadwal kereta lokal tergolong jarang. Sebagian pelancong memilih untuk berjalan kaki dari stasiun menuju Kastil Komine karena transportasi lokal terkadang memakan waktu lebih lama. Untuk akomodasi, banyak pelancong menyarankan untuk menginap di pemandian air panas ryokan di Dataran Tinggi Nasu atau langsung melanjutkan perjalanan ke Sendai.
Kawasan Kastil Komine

Berdiri megah di atas bukit yang menghadap ke bekas kota kastil, Kastil Komine adalah ikon utama Shirakawa. Dibangun pertama kali pada tahun 1340 oleh klan Yuki dan kemudian direkonstruksi pada periode Edo di bawah kepemimpinan Niwa Nagashige, benteng ini memegang peran vital dalam mengontrol arus perjalanan di jalur Oshu Kaido.
Suasana di Kastil Komine terasa jauh lebih intim dan tenang jika dibandingkan dengan kastil-kastil besar seperti Osaka atau Himeji. Pengunjung dapat menjelajahi menara benteng kayu yang telah dipugar serta menyusuri dinding batu yang diperbaiki pascagempa bumi. Saat musim semi tiba, area ini dipenuhi oleh keindahan bunga sakura yang mempercantik lanskap benteng bersejarah ini.
Taman Nanko & Suiraku-en

Terletak tidak jauh dari pusat kota Shirakawa, Taman Nanko tercatat sebagai salah satu taman publik tertua di Jepang. Dibangun pada tahun 1801 oleh seorang daimyo bernama Matsudaira Sadanobu, taman ini dirancang dengan prinsip lanskap tradisional Jepang yang mengedepankan keharmonisan alam.
Salah satu daya tarik utamanya adalah Suiraku-en, sebuah taman tradisional Jepang yang tertata sangat apik dengan jalur setapak berliku, lentera batu, air terjun kecil, dan kolam ikan koi. Tempat ini menawarkan suasana damai yang sempurna untuk bersantai sambil menikmati secangkir teh hijau di kedai teh terdekat.
Shirakawa-no-Seki

Situs bersejarah lain yang tidak boleh dilewatkan adalah Shirakawa-no-Seki, sebuah pos pemeriksaan kuno yang dulunya menandai perbatasan antara wilayah kekuasaan Yamato dan suku Emishi. Berasal dari abad ke-8, pos ini menjadi salah satu dari “Tiga Gerbang Kuno” di Jepang yang mengatur lalu lintas orang dan barang.
Kini, area tersebut berubah menjadi ruang yang tenang dan penuh kontemplasi. Kuil Shinto kecil bernama Kuil Shirakawa berdiri di tengah pepohonan rindang, dikelilingi oleh jalur jalan kaki yang damai serta berbagai monumen batu bersejarah yang mengingatkan pengunjung pada perjalanan para sastrawan terkenal seperti Matsuo Basho di masa lampau.
Pusat Properti Budaya Prefektur Fukushima

Bagi wisatawan yang ingin mendalami sejarah kawasan ini, Pusat Properti Budaya Prefektur Fukushima merupakan tempat singgah yang sangat informatif. Museum ini menyimpan berbagai artefak arkeologi penting, mulai dari tembikar kuno hingga alat-alat rumah tangga yang menceritakan kehidupan masyarakat Fukushima pada masa lampau.
Pameran di pusat budaya ini berfokus pada fungsi Benteng Shirakawa sebagai gerbang menuju wilayah utara, lengkap dengan penjelasan mendalam mengenai suku Emishi dan perkembangan jalur Oshu Kaido. Melalui model miniatur dan pajangan interaktif, pengunjung dapat memahami konteks sejarah wilayah ini secara lebih menyeluruh.
Destinasi Menarik Lainnya di Sekitar

Karena posisinya sebagai pintu gerbang menuju Tohoku, Shirakawa sangat cocok dijadikan titik awal untuk menjelajahi wilayah utara Jepang yang lebih luas. Anda dapat melanjutkan perjalanan ke Dataran Tinggi Nasu yang terletak di sebelah selatan untuk menikmati pemandangan alam pegunungan serta sumber air panas yang menenangkan.
Di Dataran Tinggi Nasu, Anda bisa mengunjungi Sessho-seki atau “Batu Pembunuh”, sebuah situs batu vulkanik yang lekat dengan legenda rubah ekor sembilan dalam cerita rakyat Jepang. Untuk pengalaman menginap yang autentik, bermalam di Kita Onsen Ryokan, sebuah penginapan tradisional dengan bangunan bersejarah yang berasal dari abad ke-19, akan melengkapi perjalanan Anda di wilayah ini.








