Mitama Festival merupakan salah satu acara musim panas yang paling ikonik di ibu kota Jepang. Perayaan cahaya ini menandai dimulainya musim panas serta rangkaian panjang tradisi Obon setiap bulan Juli. Suasana malam menjadi begitu magis berkat puluhan ribu lentera bercahaya yang menerangi area sekitar, sebuah pemandangan indah yang sepadan dengan cuaca musim panas yang terik. Namun, seluruh rangkaian perayaan ini bertempat di Yasukuni Shrine yang terletak di pusat Tokyo dan sering kali menjadi subjek kontroversi publik.
Yasukuni Shrine memiliki sejarah yang kompleks sejak didirikan pada tahun 1869 atas perintah Kaisar Meiji. Awalnya bernama Tokyo Shokonsha untuk mengenang mereka yang gugur dalam Boshin War, kompleks ini berganti nama pada tahun 1879. Tempat suci ini didedikasikan bagi mereka yang gugur dalam dinas militer Jepang, menampung hampir 2,5 juta jiwa termasuk para prajurit, hewan seperti kuda dan anjing perang, hingga merpati pos. Gerbang torii baja raksasa setinggi sekitar 25 meter menyambut para pengunjung di jalur masuk utamanya.
Kuil ini kerap menjadi sorotan internasional karena mencantumkan nama lebih dari 1.000 terpidana penjahat perang Perang Dunia II di antara jutaan arwah yang diabadikan di sana. Sebanyak 14 di antaranya diklasifikasikan sebagai pelanggar Kelas-A, termasuk Tojo Hideki selaku perdana menteri masa perang yang menyetujui serangan terhadap Pearl Harbor. Masukan nama-nama tersebut dalam sebuah upacara rahasia pada tahun 1978 membuat keluarga kekaisaran menjauh, di mana tidak ada kaisar yang kembali mengunjungi Yasukuni Shrine sejak saat itu. Akibatnya, kunjungan dari politikus terkemuka Jepang selalu memicu perdebatan media internasional.
Terlepas dari perdebatan tersebut, kuil ini rutin menggelar Mitama Festival setiap pertengahan Juli sebagai pembuka musim Obon di Tokyo. Diselenggarakan pertama kali pada tahun 1947, festival ini menampilkan sekitar 30.000 lentera besar dan kecil yang menerangi jalan setapak demi menghormati arwah para korban perang serta mendoakan perdamaian.
Cara Menuju ke Sana

Yasukuni Shrine terletak di pusat Tokyo, tepatnya di dekat sisi utara kawasan Imperial Palace. Jalur termudah untuk menjangkaunya adalah dengan naik Hanzomon Line menuju Stasiun Kudanshita, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki sebentar menuju pintu masuk kuil. Alternatif lainnya adalah turun di Stasiun Ichigaya yang dilayani oleh Nanboku Line dengan jarak tempuh sekitar 10 menit berjalan kaki. Disarankan untuk menggunakan aplikasi navigasi seperti Jorudan guna merencanakan rute perjalanan terbaik.
Mitama Festival diselenggarakan secara rutin setiap tahun pada tanggal 13 hingga 16 Juli. Mengingat periode ini bertepatan dengan puncak musim panas di Jepang, suhu udara cenderung sangat panas dan lembap. Pengunjung disarankan mengenakan pakaian yang mudah menyerap keringat, membawa alas kaki yang nyaman untuk berjalan, serta menyiapkan kipas portabel atau gel pendingin demi kenyamanan selama menghadiri acara.
Sejarah Mitama Festival

Asal-usul Mitama Festival bermula pada tahun 1947 di tengah masa pendudukan Sekutu pasca Perang Dunia II. Istilah mitama sendiri mengacu pada arwah mulia dari mereka yang telah meninggal. Acara ini awalnya digagas untuk memberikan ketenangan bagi keluarga yang berduka melalui pantulan cahaya lentera di kompleks Yasukuni Shrine. Berbeda dengan sebagian besar wilayah Jepang yang merayakan Obon pada bulan Agustus, Tokyo melaksanakannya pada pertengahan Juli, sehingga jadwal festival ini selalu konsisten pada tanggal 13 sampai 16 setiap tahunnya.
Komponen utama festival ini adalah deretan kerangka baja tinggi yang menopang puluhan ribu lentera kertas kuning bertuliskan nama para penyumbang dengan tinta hitam. Selain itu, terdapat sekitar 300 lentera bonbori yang dilukis secara manual oleh tokoh-tokoh terkemuka dari dunia seni, hiburan, politik, dan sumo. Atraksi tambahan seperti pita Sendai Tanabata yang berwarna-warni turut mempercantik area gerbang utama, menarik lebih dari 100.000 pengunjung setiap tahunnya dalam balutan kegiatan keagamaan dan ritual formal.
Hal yang Dapat Dilihat di Mitama Festival

Lentera-lentera di area festival biasanya mulai menyala sejak petang hingga pukul 21.30 waktu setempat sebelum petugas keamanan meminta pengunjung untuk meninggalkan area. Suasana paling padat biasanya terjadi menjelang matahari terbenam pada hari pertama, sehingga datang lebih awal merupakan strategi yang tepat jika ingin menikmati pemandangan dengan lebih leluasa.
Selain lautan lentera, pengunjung dapat menikmati berbagai pertunjukan kebudayaan tradisional seperti tari Bon Odori, parade mikoshi yang meriah, serta replika kendaraan hias yang terinspirasi dari Nebuta Festival di Aomori. Pertunjukan tabuh drum taiko, tarian yosakoi, hingga penampilan musik rakyat juga turut memeriahkan suasana malam.
Bagi para pencinta kuliner, berbagai truk makanan siap menyajikan hidangan khas Jepang seperti takoyaki, yakisoba, kakigori, hingga ayam goreng Jepang. Meskipun harus mengantre cukup panjang karena ramainya pengunjung, pengalaman menikmati kuliner di tengah festival tetap menjadi daya tarik tersendiri.
Apakah Mitama Festival Layak Dikunjungi?

Menghadapi cuaca musim panas yang menyengat serta latar belakang sejarah kuil yang kompleks tentu menjadi pertimbangan tersendiri. Kendati demikian, pemandangan 30.000 lentera yang menyala terang di tengah kota Tokyo menawarkan pengalaman visual yang sulit ditemukan pada acara musiman lainnya. Ditambah dengan tiket masuk yang gratis serta jadwal penyelenggaraan yang pasti setiap tahunnya, festival ini sangat mudah dimasukkan ke dalam rencana perjalanan.
Kehadiran personel keamanan berseragam dalam jumlah cukup banyak merupakan hal yang lumrah dijumpai di sekitar area kuil akibat reputasinya yang sensitif. Sebagai pelengkap perjalanan, pengunjung dapat meluangkan waktu untuk berjalan-jalan santai di Koishikawa Korakuen yang merupakan salah satu taman tradisional terbaik di Tokyo pada siang hari, sebelum kembali ke kuil untuk menyaksikan lautan lentera menyala di waktu senja.








