Ketika membahas periode Sengoku di Jepang yang penuh pertumpahan darah (1467–1600), tidak ada konflik yang lebih ikonik selain Pertempuran Sekigahara. Pecah pada pagi hari yang berkabut tanggal 21 Oktober 1600, bentrokan krusial ini menjadi puncak dari perselisihan militer dan kekacauan politik selama berpuluh-puluh tahun yang menyusul runtuhnya otoritas pusat keshogunan Ashikaga. Dalam salah satu konfrontasi paling menentukan dalam sejarah Jepang, pasukan yang setia kepada mendiang Toyotomi Hideyoshi, yang dipimpin oleh Ishida Mitsunari, berhadap-hadapan dengan kekuatan Tokugawa Ieyasu yang sedang naik daun. Sekitar 160.000 samurai turun ke medan perang untuk menentukan masa depan bangsa. Pada akhirnya, Tokugawa Ieyasu keluar sebagai pemenang, membuka jalan bagi masa damai dan stabilitas selama lebih dari 250 tahun di bawah keshogunan Tokugawa.
Kekacauan ini berakar dari pertengahan abad ke-15 ketika keshogunan Ashikaga kehilangan kendali, menjerumuskan negara ke dalam perang saudara yang brutal. Para panglima perang yang ambisius, atau daimyo, saling berebut kuasa atas provinsi-provinsi yang terpecah, membentuk aliansi rapuh, dan terus-menerus berperang. Dari situasi penuh darah inilah muncul para pemersatu secara beruntun, dimulai dari Oda Nobunaga lalu dilanjutkan oleh penerusnya Toyotomi Hideyoshi, yang berhasil menyatukan sebagian besar wilayah negeri di bawah pemerintahan terpusat.
Menjelang wafatnya Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1598, Jepang praktis telah bersatu. Namun, masalah tersembunyi mulai muncul karena putra Hideyoshi, yaitu Hideyori, masih terlalu kecil. Dewan lima wali dibentuk untuk menjalankan pemerintahan klan Toyotomi hingga ia cukup usia, tetapi perpecahan segera terjadi. Salah satu wali terkemuka adalah Tokugawa Ieyasu, sosok kuat dan penuh perhitungan yang mulai memperkuat pengaruh serta aliansinya. Hal ini tentu tidak disukai oleh pihak yang tetap setia kepada klan Toyotomi.

Ishida Mitsunari memimpin perlawanan terhadap Ieyasu dengan menggalang faksi daimyo penentang. Pertarungan politik yang penuh intrik dan pergeseran loyalitas pun tak terhindarkan, hingga akhirnya kedua belah pihak memobilisasi pasukan masing-masing untuk berperang pada musim gugur tahun 1600.
Dari sudut pandang pariwisata, bekas medan perang Sekigahara adalah destinasi yang sangat menarik untuk dikunjungi saat berada di Jepang. Terletak di lembah pegunungan yang memisahkan prefektur Shiga dan Gifu, kawasan ini memiliki museum sejarah yang sangat luar biasa bernama Gifu Sekigahara Battlefield Memorial Museum, yang menyajikan kisah pertempuran legendaris ini melalui pameran modern.
Selain museum, terdapat berbagai markas bersejarah di sekitar Sekigahara yang mudah dijangkau menggunakan sepeda. Saat musim panas, terdapat kafe dan toko suvenir yang nyaman di dekat museum untuk beristirahat sejenak.
Tokugawa Ieyasu vs. Tentara Barat

Saat matahari terbit pada tanggal 21 Oktober 1600, kabut tebal menyelimuti lembah Sekigahara. Pasukan timur Tokugawa Ieyasu yang berjumlah sekitar 75.000 prajurit tiba melalui jalur Nakasendo, berhadap-hadapan langsung dengan pasukan barat Ishida Mitsunari yang berkekuatan antara 80.000 hingga 120.000 orang. Meskipun tentara barat memiliki keunggulan dataran tinggi dan dukungan klan besar seperti Mori serta Shimazu, faksi mereka diwarnai oleh perpecahan internal dan keraguan dari beberapa sekutu.

Pertempuran dimulai ketika barisan depan Ieyasu yang dipersenjatai baju zirah merah di bawah komando Ii Naomasa menyerbu pasukan Ukita Hideie. Baku tembak dan bentrokan senjata tajam meletus hebat di seluruh area lembah. Pertarungan berjalan seimbang pada awalnya, hingga jenderal andalan Mitsunari, Shima Sakon, terluka parah oleh tembakan musuh.

Situasi berubah ketika pasukan di bawah komando Kobayakawa Hideaki, yang menempati posisi strategis di lereng Gunung Matsuo, memilih untuk tetap pasif dan tidak bergerak kendati telah diberi sinyal oleh Ishida Mitsunari. Keragu-raguan ini akhirnya berakhir ketika Hideaki memutuskan untuk mengkhianati aliansi barat dan menyerang sisi pertahanan Otani Yoshitsugu atas desakan tekanan dari pihak Tokugawa.

Pengkhianatan tersebut memicu efek domino di mana panglima-panglima lain seperti Wakisaka Yasuharu dan Ogawa Suketada ikut membelot ke kubu timur. Pasukan barat pun runtuh dari dalam. Sementara itu, klan Mori menolak bergerak sama sekali sehingga kekuatan mereka menjadi tidak berguna. Di ujung selatan, klan Shimazu melakukan terobosan nekat untuk melarikan diri dari kepungan musuh meskipun harus menanggung korban jiwa yang besar.
Menjelang siang hari, kemenangan berada di tangan Tokugawa Ieyasu. Ishida Mitsunari berhasil melarikan diri namun kemudian ditangkap dan dihukum mati. Dalam kurun waktu tiga tahun, Ieyasu berhasil menyatukan Jepang dan dinobatkan secara resmi sebagai shogun oleh istana kekaisaran, sekaligus menandai dimulainya Zaman Edo (1603–1868).
Cara Menuju ke Sana
Bagi pelancong yang ingin mengunjungi lokasi pertempuran ini, Sekigahara dapat diakses melalui Stasiun Sekigahara di Jalur Utama Tokaido JR Central. Sebagian besar objek wisata utama, termasuk museum peringatan pertempuran, dapat dicapai dengan berjalan kaki atau menyewa sepeda dari pusat informasi pariwisata di luar stasiun.
Gifu Sekigahara Battlefield Memorial Museum

Dibuka pada tahun 2020, Gifu Sekigahara Battlefield Memorial Museum merupakan pusat dari upaya pelestarian sejarah kota ini. Museum modern ini menawarkan fasilitas mutakhir, termasuk teater imersif berteknologi tinggi yang membawa pengunjung merasakan ketegangan pertempuran secara langsung melalui proyeksi 3D dan tata suara yang dramatis.
Selain pertunjukan teater, museum ini menyimpan koleksi artefak berharga seperti baju zirah, senjata, peta, dan dokumen asli dari tokoh-tokoh penting sezaman yang dilengkapi dengan penjelasan dwibahasa. Di lantai atas, terdapat dek observasi yang menawarkan pemandangan luas ke arah dataran Sekigahara, memberikan gambaran nyata mengenai tata letak pertempuran masa lampau.
Hal Lain untuk Dilihat di Prefektur Gifu









