Home / Travel / Pesona Sejarah “Edo Kecil” di Kawasan Gudang Kawagoe

Pesona Sejarah “Edo Kecil” di Kawasan Gudang Kawagoe

The Kurazukuri District of Kawagoe

Terletak sekitar 45 menit dari pusat Tokyo di Prefektur Saitama yang bertetangga, kota Kawagoe sering kali terlewatkan oleh wisatawan biasa. Bagaimanapun, kawasan ini kerap dipandang sekadar sebagai tempat tinggal bagi para pekerja komuter yang bolak-balik ke Tokyo. Kendati demikian, tidak seperti kebanyakan wilayah lain di Saitama, sejarah Kawagoe terjaga dengan sangat baik. Dikenal dengan julukan “Little Edo” karena kemiripannya dengan Tokyo masa lampau yang dahulu bernama Edo, kawasan pusat kota ini dipenuhi bangunan-bangunan berusia ratusan tahun. Berkunjung ke Kawagoe terasa seperti menaiki mesin waktu menuju masa lalu.

Pada era yang telah berlalu, Kawagoe pernah menjadi pemasok utama berbagai barang kebutuhan bagi metropolis Edo, yang kala itu merupakan salah satu kota terbesar di dunia. Berkat aktivitas perdagangan yang masif antara kedua wilayah tersebut selama periode Edo (1603–1868), Kawagoe menyerap banyak karakteristik budaya dan arsitektur khas Edo. Kota ini memegang peranan yang begitu penting hingga Keshogunan Tokugawa menempatkan para pengikut setianya secara strategis di Kawagoe untuk melindungi wilayah tersebut dan mengawasinya.

An old drawing Saitama Prefecture’s town of Kawagoe would have looked like a hundred years ago

Kawagoe pada mulanya berkembang sebagai kota benteng yang diposisikan untuk mengamankan jalur utara menuju Edo selama periode Edo (1603–1868). Di bawah Keshogunan Tokugawa, letak geografis tersebut memberikan nilai strategis yang jauh melampaui ukuran wilayahnya. Oleh karena itu, pemerintah mempercayakannya kepada para daimyo yang terbukti loyalitasnya, termasuk Sakai Tadatsugu pada dekade-dekade awal kekuasaan Tokugawa. Kastil Kawagoe menjadi pusat politiknya, sementara jalan-jalan di sekitarnya dipenuhi kediaman samurai, kuil, toko pedagang, dan area kerja dalam pola kota benteng yang lazim. Kawasan ini memang dirancang untuk urusan administrasi dan pertahanan, sehingga kota perdagangan yang lahir kemudian berkembang dari kerangka dasar tersebut.

Tokoh yang paling lekat dengan perkembangan Kawagoe pada pertengahan abad ke-17 adalah Matsudaira Nobutsuna, seorang penguasa domain yang dijuluki “Chie Izu” atau “Izu yang Bijaksana”. Nobutsuna memperluas wilayah kota beserta perekonomiannya seiring dengan semakin teraturnya hubungan Kawagoe dengan Edo. Jalur sungai Shingashigawa memegang peran vital dalam mengangkut beras, kayu, ubi jalar, serta berbagai komoditas lain ke arah selatan menuju ibu kota keshogunan. Perahu-perahu menghubungkan produksi pedalaman dengan pasar perkotaan Edo yang masif, sementara kota benteng menyediakan struktur administratif untuk mengelola arus logistik tersebut. Menjelang pertengahan abad itu, Kawagoe telah bertransformasi menjadi pusat kediaman daimyo sekaligus simpul komersial yang memiliki fondasi kota yang kemudian dilestarikan oleh generasi-generasi berikutnya.

Kebakaran berulang kali mengubah wajah tata kota tersebut. Kebakaran Besar tahun 1638 meluluhlantakkan Kawagoe pada awal zaman Tokugawa, sementara bencana kebakaran yang jauh lebih besar pada tahun 1893 mengubah distrik perdagangan pada periode Meiji (1868–1912). Kendati terjadi pada abad yang berbeda, kedua bencana ini menjelaskan alasan mengapa proses rekonstruksi tidak terpisahkan dari arsitektur Kawagoe yang bertahan hingga kini. Tokyo mengalami modernisasi pesat setelah Edo menjadi ibu kota kekaisaran, sementara Kawagoe tetap mempertahankan tradisi pedagang, tata jalan, gudang penyimpanan, dan bentuk arsitektur yang diasosiasikan dengan kota lama. Julukan Little Edo lahir dari kesinambungan tersebut. Apa yang bertahan hingga saat ini adalah sebuah kota benteng berlapis yang dibangun kembali berkali-kali namun tetap mempertahankan wajah Edo bahkan setelah Edo sendiri telah berubah wujud.

Cara Menuju ke Sana

A yellow train at Hon-Kawagoe Station in Saitama Prefecture

Bagi sebagian besar pelancong yang berangkat dari pusat Tokyo, Ikebukuro merupakan titik awal yang paling praktis. Jalur Tobu Tojo mencapai Stasiun Kawagoe dalam waktu sekitar 26 menit menggunakan kereta Limited Express, sementara layanan Rapid dan Express umumnya memakan waktu sekitar 30 menit. Stasiun Kawagoe terletak di sebelah selatan distrik bersejarah utama, sehingga perjalanan akhir Anda akan memadukan pengalaman naik kereta dan berjalan kaki di area perkotaan. Rute ini sangat cocok untuk kunjungan setengah hari atau sehari penuh dari Tokyo karena frekuensi keberangkatannya yang tinggi dan durasi perjalanan yang singkat.

Alternatif utama lainnya adalah menggunakan Jalur Seibu Shinjuku menuju Stasiun Hon-Kawagoe. Kereta Limited Express “Koedo” pada jalur ini membutuhkan waktu sekitar 44 menit, dan Stasiun Hon-Kawagoe merupakan terminal kereta yang paling dekat dengan distrik kurazukuri, dengan jarak jalan kaki sekitar 10 hingga 15 menit. Pilihan via Seibu ini sangat berguna jika meminimalkan jarak berjalan kaki ke Ichibangai lebih diutamakan daripada memangkas beberapa menit waktu di dalam kereta. Wisatawan yang datang dari arah Saitama juga dapat memanfaatkan Jalur JR Kawagoe dari Omiya, yang tiba di Kawagoe dalam waktu sekitar 20 menit.

Pihak Tobu juga menyediakan tiket terusan Kawagoe Discount Pass yang berangkat dari Ikebukuro. Versi Dasar (Basic) mencakup perjalanan pulang pergi antara Ikebukuro dan Kawagoe, sementara versi Premium menambahkan fasilitas naik bus lokal yang berpartisipasi sepuasnya. Kedua jenis tiket ini juga menawarkan diskon di toko-toko pilihan. Kendati demikian, ketepatan waktu jauh lebih krusial daripada tarifnya. Banyak toko dan objek wisata yang tutup sekitar pukul 17.00, sehingga memulai perjalanan lebih awal akan memberikan lebih banyak pilihan destinasi. Kawagoe sangat cocok disandingkan dengan destinasi pelesir singkat lainnya di dekat Tokyo: cukup dekat untuk dikunjungi setengah hari, namun cukup kaya akan atraksi untuk menghabiskan waktu seharian penuh.

Distrik Gudang Kurazukuri

Another shot of the historic warehouses of Kawagoe’s Kurazukuri District

Kurazukuri, gaya bangunan gudang tahan api, merupakan ciri khas arsitektur yang memberikan identitas paling ikonik pada pusat kota Kawagoe. Rumah-rumah pedagang ini mengandalkan dinding tanah liat dan plester tebal untuk meredam laju api yang merambat di antara blok-blok perkotaan yang padat. Bangunan kayu biasa menawarkan perlindungan yang minim ketika kobaran api melompati atap atau gang, sehingga metode gudang yang kokoh ini berfungsi ganda sebagai bentuk asuransi perkotaan yang praktis. Jalan utama, Ichibangai, menyimpan konsentrasi arsitektur semacam ini terbanyak, dengan sekitar 30 bangunan kurazukuri yang masih berdiri hingga hari ini. Asal-usulnya berakar dari periode Edo (1603–1868), namun deretan bangunan yang kini diasosiasikan dengan Little Edo tersebut sebagian besar terbentuk akibat bencana yang terjadi setelah era keshogunan berakhir.

Titik balik tersebut terjadi pada 17 Maret 1893, pada masa periode Meiji (1868–1912). Kebakaran Besar Kawagoe menghanguskan sekitar 1.302 dari total kurang lebih 3.315 rumah tangga di kota itu dalam waktu satu malam, melenyapkan sebagian besar struktur kayu di pusat komersial. Sejumlah bangunan berdinding tanah liat terbukti mampu bertahan di saat struktur kayu konvensional ludes terbakar, memberikan para pedagang bukti nyata mengenai keunggulan desain tahan api. Oleh karena itu, proses rekonstruksi pascabencana mengutamakan metode kurazukuri, sehingga lanskap di sepanjang Ichibangai lebih mencerminkan era pascakebakaran daripada lanskap jalanan zaman Edo yang belum tersentuh. Rumah Osawa, yang didirikan pada tahun 1792, menjadi satu-satunya bangunan yang dibangun sebelum bencana tersebut terjadi dan merupakan contoh tertua yang masih ada.

Kawasan perkotaan pedagang yang dibangun kembali ini pada akhirnya bertransformasi menjadi proyek konservasi tersendiri. Pada tahun 1999, area tersebut ditetapkan sebagai Distrik Pelestarian Bangunan Tradisional Penting Nasional. Kawasan ini kembali mendapat pengakuan nasional pada tahun 2007 ketika terpilih sebagai salah satu dari “100 Lanskap Sejarah Terindah di Jepang”. Banyak bekas properti pedagang kini beralih fungsi menjadi toko dan restoran, sementara dinding tebal, atap genteng, dan bentuk gudangnya terus mendefinisikan kawasan Ichibangai. Menjulang di atas distrik tersebut adalah Toki-no-Kane, menara lonceng yang sekaligus menjadi landmark paling ikonik di Kawagoe. Struktur aslinya dibangun sekitar 400 tahun lalu pada awal periode Edo (1603–1868) oleh penguasa domain Sakai Tadatsugu, sementara bangunan yang berdiri saat ini merupakan generasi keempat yang didirikan pada tahun 1894.

Kashiya Yokocho, Gang Permen

Kawagoe in Saitama Prefecture is known for its sweet potato meibutsu

Kashiya Yokocho merangkum sejarah industri katering dan manisan selama lebih dari dua abad dalam sebuah gang sempit di dekat kompleks kuil Yoju-in. Produksi permen di kawasan Kawagoe ini sudah tercatat sejak tahun 1796, ketika para pembuatnya mulai beroperasi di sekitar pekarangan kuil. Perdagangan tersebut mendapatkan jalur komersial yang lebih jelas pada periode Meiji (1868–1912) melalui kiprah pembuat manisan Suzuki Tozaemon dan usahanya yang bernama Matsumotoya. Lokakarya kecil dan toko-toko sederhana tumbuh di sepanjang gang ini secara organik, menjadikan Kashiya Yokocho berkembang dari klaster kerajinan lokal menjadi pemasok dengan basis pelanggan yang meluas hingga luar wilayah Kawagoe.

Ekspansi besar-besaran terjadi setelah Gempa Bumi Besar Kanto tahun 1923. Kerusakan parah di seluruh penjuru Tokyo mengganggu produksi dan distribusi manisan, sehingga pesanan beralih ke para pembuat di Kawagoe yang masih sanggup memasok ibu kota. Menjelang awal periode Showa (1926–1989), Kashiya Yokocho mencapai puncak kejayaannya dengan sekitar 70 toko yang beroperasi. Saat ini, sekitar 30 toko masih bertahan di gang tersebut, menawarkan berbagai jajanan tempo dulu, permen keras, dango tusuk, serta aneka camilan berbahan dasar ubi jalar khas Kawagoe. Meskipun variasi produknya telah beradaptasi dengan pasar, identitas sebagai sentra manisan yang terbentuk pada abad ke-18 dan ke-19 tetap terpelihara dengan baik.

Kashiya Yokocho juga mengantongi pengakuan nasional yang cukup unik. Pada tahun 2001, Kementerian Lingkungan Hidup memasukkan gang ini ke dalam daftar “100 Pemandangan Aroma”, mengapresiasi perpaduan aroma manisan dan dango yang khas di kawasan tersebut. Hal ini membuktikan bagaimana pusat sejarah Kawagoe dapat bertahan tidak hanya melalui bangunan-bangunan kuno yang diawetkan, tetapi juga melalui tradisi perdagangan yang masih aktif dijalankan hingga kini.

Kuil Kawagoe Hikawa

A tunnel of thousands of wooden ema prayer plaques strung in dense rows along both walls and across the top at Kawagoe Hikawa Shrine in Saitama, arching over a narrow stone path lit by dappled sunlight. Each small plaque is inked with a handwritten wish and many are tied with red cords, reflecting the shrine's long association with en-musubi, the deities of marriage and the forging of bonds.

Kuil Kawagoe Hikawa memiliki sejarah yang jauh lebih tua dibandingkan kawasan kota pedagang di sekitarnya. Berdasarkan tradisi kuil, fondasinya diletakkan pada abad ke-6 di masa pemerintahan Kaisar Kinmei, yang berarti institusi ini telah berusia sekitar 1.500 tahun. Identitas religiusnya berpusat pada pemujaan terhadap lima dewa yang dipandang sebagai sebuah keluarga, termasuk dua pasang suami istri. Susunan dewa yang tidak biasa ini mendasari kaitan erat kuil tersebut dengan perjodohan dan en-musubi, yakni ikatan serta hubungan antarmanusia. Di kota yang kerap diasosiasikan dengan periode Edo (1603–1868), Kuil Kawagoe Hikawa menyumbangkan kronologi religius yang bermula hampir satu milenium sebelum berdirinya keshogunan Tokugawa.

Di sisi timur kuil, berdiri sebuah gerbang torii bergaya Myojin dengan tinggi mencapai 15 meter. Otoritas pariwisata Kawagoe mencatatnya sebagai salah satu gerbang torii kayu terbesar di Jepang, dengan spesifikasi konstruksi kayu, gaya, dan skala yang khas. Plakat pada gerbang tersebut menampilkan kaligrafi karya Katsu Kaishu, yang semakin memperkaya aspek historis pada jalur pendekatan bagian timur. Ketika musim panas tiba, kuil ini menghadirkan lapisan ritual kontemporer melalui acara Enmusubi Furin, di mana ribuan lonceng angin kaca digantung di sepanjang jalur pejalan kaki, memperluas tema ikatan dan hubungan personal menjadi instalasi musiman yang memukau.

Kita-in & Sisa-sisa Kastil Edo

The main hall of Kita-in, the Tendai Buddhist temple in Kawagoe, Saitama, with its broad sweeping copper-green roof and a row of five-colored Buddhist banners strung across the front for a goma fire ritual. Stone steps climb to the entrance beneath summer greenery. Kita-in preserves the only surviving buildings of the original Edo Castle, relocated here after a 17th-century fire.

Kita-in merupakan salah satu situs Tokugawa paling penting di Kawagoe, meskipun sejarahnya bermula jauh sebelumnya. Kuil ini beraliran Tendai dalam agama Buddha di Jepang dan secara tradisional diyakini didirikan pada tahun 830 oleh biksu Ennin. Pentingnya peranan politik kuil ini semakin menguat berkat Tenkai, seorang biksu Tendai berpengaruh yang memiliki hubungan erat dengan Keshogunan Tokugawa. Hubungan tersebut menjadi sangat krusial usai terjadinya Kebakaran Besar Kawagoe pada tahun 1638 yang menghancurkan hampir seluruh kompleks kuil kecuali gerbang utamanya. Tokugawa Iemitsu, shogun ketiga, memerintahkan agar Kita-in dibangun kembali dengan mendatangkan bangunan-bangunan dari kompleks istana Momiji-yama di dalam Kastil Edo itu sendiri.

Pemindahan tersebut mencakup aula tamu istana, ruang belajar, dan area dapur yang dibongkar di Edo dan didirikan kembali di Kita-in. Bangunan-bangunan ini merupakan satu-satunya struktur yang tersisa dari kompleks asli Kastil Edo di mana pun, menjadikan Kawagoe sebagai penjaga tak terduga dari arsitektur yang sudah tidak lagi dimiliki oleh Tokyo modern. Dua ruangan di dalamnya bahkan menyimpan kaitan langsung dengan istana Tokugawa: satu ruangan dilestarikan sebagai tempat kelahiran Tokugawa Iemitsu, sementara ruangan lainnya diidentifikasi sebagai kamar rias Kasuga-no-Tsubone, pengasuhnya yang merupakan tokoh berpengaruh dalam keshogunan.

Kompleks Kita-in juga menyimpan Gohyaku Rakan, yakni sekumpulan 538 arca batu yang dipahat antara tahun 1782 hingga 1825 yang menggambarkan para murid tercerahkan Sang Buddha. Tepat di sebelah selatan kuil berdiri Kuil Senba Toshogu, yang didirikan oleh Tenkai pada tahun 1617 dan masuk dalam jajaran tiga kuil Toshogu agung di Jepang yang memuja Tokugawa Ieyasu. Bersama-sama, kuil ini, ruangan-ruangan eks Kastil Edo, Gohyaku Rakan, dan Kuil Toshogu membentuk pusat sejarah Tokugawa dan Tendai yang sangat padat dan bernilai tinggi.

Melampaui Batas Gudang Bersejarah

A towering wooden dashi float glowing with paper lanterns rolls through the streets at night during the Kawagoe Festival in Saitama, a crowned doll figure mounted on top and musicians riding in the tiers below. A second illuminated float follows through the crowd. The UNESCO-listed festival's float tradition reaches back to the mid-17th century in the old castle town of Little Edo.

Identitas historis Kawagoe juga mengalir melalui komoditas ubi jalar. Budidaya tanaman ini mulai meluas sejak tahun 1751, ketika ketahanan pangannya menjadikannya cadangan yang diandalkan untuk menghadapi ancaman kelaparan, sehingga kawasan Kawagoe segera menjelma menjadi pemasok penting bagi Edo. Kedekatannya dengan ibu kota membantu ubi jalar ini melekat sebagai spesialisasi regional dengan sebutan Kawagoe imo. Sejarah agraris tersebut kini mewarnai industri kuliner lokal dalam bentuk keripik ubi, es krim, kerupuk beras, sake, dan berbagai olahan lainnya di seluruh penjuru pusat Kawagoe.

Komoditas andalan ini bahkan melahirkan salah satu merek modern paling terkenal dari Kawagoe, yaitu bir craft COEDO yang didirikan pada tahun 1996 dan menggunakan ubi jalar lokal dalam proses penyeduhannya. Penamaan merek ini menggunakan aksara untuk Little Edo, 小江戸, yang menghubungkan langsung pabrik bir kontemporer tersebut dengan identitas historis Koedo. Dengan demikian, warisan pertanian yang telah berakar sejak abad ke-18 diterjemahkan ke dalam produk minuman modern, mempertemukan sebuah perusahaan era kontemporer dengan tradisi agraris yang telah berusia lebih dari dua ratus tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *