Katori Jingu merupakan salah satu kuil tertua di Prefektur Chiba yang memiliki sejarah sangat panjang. Berdasarkan catatan resmi, kuil ini didirikan lebih dari dua milenium lalu bersamaan dengan kuil saudaranya, Kashima Jingu, yang terletak di Prefektur Ibaraki. Pada masa lalu, kedua kuil kembar ini berfungsi sebagai titik awal bagi pasukan kekaisaran sebelum melancarkan ekspedisi militer ke wilayah Jepang utara.
Kuil ini memeuliakan Futsunushi, dewa petir dan pedang. Bersama dengan Takemikazuchi dari Kashima Jingu, dewa-dewa ini sangat dihormati oleh para samurai sebagai dewa perang. Selain itu, kedua kuil tersebut juga melahirkan aliran seni bela diri tradisional, di mana Katori Jingu dikenal sebagai asal mula dari aliran ilmu pedang Tenshin Shoden Katori Shinto-ryu yang masih disegani oleh para praktisi bela diri hingga saat ini.
Cara Menuju ke Sana

Letak Katori Jingu sangat strategis karena berada tidak jauh dari Bandara Internasional Narita, sehingga menjadikannya destinasi yang ideal sebelum kepulangan atau saat singgah dalam waktu transit yang cukup panjang. Anda disarankan untuk menyediakan waktu sekitar enam jam secara keseluruhan untuk mengakomodasi perjalanan pergi-pulang serta proses imigrasi.
Bagi pelancong yang ingin menjadikannya pemberhentian terakhir sebelum pulang, menginap semalam di sekitar Stasiun Narita pada malam sebelumnya adalah pilihan yang bijak. Untuk mencapainya, Anda perlu naik kereta JR Narita Line menuju Stasiun Sawara. Setibanya di Stasiun Sawara, lanjutkan perjalanan dengan bus dari halte nomor dua yang memakan waktu sekitar lima belas menit untuk langsung tiba di area Katori Jingu. Hindari turun di Stasiun Katori karena Anda harus berjalan kaki cukup jauh melewati area persawahan.
Kawasan Kompleks Katori Jingu

Setibanya dari halte bus, jalur utama menuju kuil dipenuhi oleh berbagai warung makan dan toko suvenir. Setelah melewati area komersial tersebut, pengunjung akan disambut oleh gerbang torii berwarna vermilion yang berasal dari tahun 1700-an, serta jalan setapak yang dihiasi jejeran lentera batu yang indah.
Di bagian utama kompleks, terdapat bangunan aula ibadah utama atau haiden dan honden yang bernuansa hitam legam dengan aksen emas yang memukau. Meskipun sejarah kuil ini sangat kuno, struktur bangunan yang berdiri saat ini berasal dari abad ke-18. Jangan lewatkan pula balai harta karun yang menyimpan cermin perunggu-nikel kuno asal Dinasti Tang di China, serta pohon berlubang di sisi kiri bangunan utama yang dipercaya sebagai sumber energi spiritual.
Destinasi Menarik di Sekitar

Jika memiliki waktu luang, sangat diarankan untuk mengunjungi Kashima Jingu yang menyimpan kaitan sejarah dengan rusa-rusa di Taman Nara. Selain itu, kota Sawara yang berada di dekat kuil juga terkenal dengan sebutan “Little Edo” berkat pemandangan kanal airnya yang menawan dan mempertahankan arsitektur tempo dulu.








