Bagi pembaca setia blog ini, mungkin Anda menyadari bahwa saya biasanya jarang membahas objek wisata populer di Kyoto. Alasannya sederhana, kota tersebut sering kali terlalu padat oleh wisatawan hingga terasa seperti taman hiburan budaya. Selain itu, sudah ada banyak sekali artikel yang mengulas keindahan Kyoto, sehingga tidak perlu lagi ada tambahan ulasan mengenai tempat-tempat mainstream seperti Kiyomizu-dera atau hutan bambu Arashiyama. Blog ini pada dasarnya berfokus pada destinasi yang jarang dijamah wisatawan!
Kendati demikian, di balik popularitas Kyoto yang masif, masih tersimpan beberapa permata tersembunyi yang luput dari sorotan. Salah satu tempat tersembunyi yang sangat berharga namun jarang dibahas adalah Iwashimizu Hachimangu. Terletak sekitar 30 menit di sebelah selatan kawasan Gion yang terkenal di Kyoto, kuil ini didedikasikan untuk Hachiman, dewa perang dan memanah. Sepanjang sejarah, kuil ini memegang peranan penting bagi keluarga Kekaisaran maupun klan Genji atau klan Minamoto, yang kemudian mendirikan Keshogunan Kamakura pada tahun 1185.

Saya pertama kali mengetahui tentang Iwashimizu Hachimangu saat menelusuri kisah di balik Usa Jingu di Prefektur Oita. Meskipun merupakan cerita yang panjang, roh dewa Hachiman sebagian dipindahkan dari kuil asal tersebut ke Iwashimizu Hachimangu tak lama setelah Kyoto—yang saat itu bernama Heian-kyo—ditetapkan sebagai ibu kota pada tahun 794. Berdasarkan legenda, kuil ini didirikan pada tahun 859 atas permintaan Kaisar Seiwa, yang mendengar dari seorang biksu Buddha bahwa Hachiman ingin berada lebih dekat dengan Kyoto demi melindungi keluarga Kekaisaran.
Cara Menuju ke Sana

Iwashimizu Hachimangu berdiri megah di atas Gunung Otoko di kota Yawata, Prefektur Kyoto. Untuk mencapainya, Anda dapat menumpang kereta Keihan menuju Stasiun Yawatashi. Perjalanan ini paling mudah diakses dari Stasiun Shijo-Gion, dan Anda disarankan untuk memeriksa jadwal melalui layanan seperti Jorudan jika berangkat dari lokasi lain. Total waktu perjalanan dari pusat Kyoto tidak lebih dari setengah jam, dengan alokasi waktu sekitar tiga hingga empat jam secara keseluruhan termasuk transportasi.
Setibanya di Stasiun Yawatashi, Anda dihadapkan pada dua pilihan: menaiki tangga panjang menuju puncak atau menggunakan kereta kabel (funicular). Walaupun perjalanan dengan berjalan kaki cocok bagi mereka yang menyukai tantangan fisik, menggunakan kereta kabel adalah opsi yang lebih efisien agar tenaga Anda tidak habis. Dengan tambahan biaya sekitar 200 yen untuk sekali jalan, Anda dapat menghemat energi untuk menjelajahi berbagai tempat menarik lainnya di Kyoto.

Terlepas dari moda transportasi yang Anda pilih untuk mendaki, kompleks utama Iwashimizu Hachimangu terletak di ujung barisan lentera batu yang panjang. Jika Anda memilih menggunakan kereta kabel, Anda akan langsung tiba di dekat area utama kuil. Namun, menyempatkan diri berjalan di jalur tangga bersejarah akan memberikan nuansa kemegahan tersendiri yang mungkin terlewatkan.
Perlu dicatat pula bahwa kuil ini menyediakan tur berbahasa Jepang pada pukul 11.00 dan 14.00 siang. Tur berdurasi sekitar 30 menit ini memberikan kesempatan langka untuk memasuki area interior kuil dengan biaya 1,000 yen. Meskipun kendala bahasa mungkin menjadi tantangan, terdapat petugas yang dapat berbahasa Inggris dasar, atau Anda dapat membawa rekan yang bisa menerjemahkan.
Iwashimizu Hachimangu dan Klan Minamoto

Selain memiliki ikatan erat dengan keluarga Kekaisaran, Iwashimizu Hachimangu juga sangat berkaitan dengan klan Minamoto yang berpengaruh. Hachiman dipuja sebagai pelindung klan tersebut. Selama periode Heian (794–1185), kuil ini memegang peranan krusial dalam peningkatan kekuasaan klan Minamoto, hingga sebagian roh Hachiman turut dibawa ke Kamakura saat mereka mendirikan keshogunan di akhir abad ke-12, yang kini bersemayam di Tsurugaoka Hachimangu.
Letak geografis kuil ini di puncak Gunung Otoko memberikan pemandangan panorama sekitar yang sangat strategis. Di dekat lokasi ini, tiga sungai utama Kyoto—Kizu, Uji, dan Katsura—bertemu membentuk Sungai Yodo, yang secara historis menjadikannya simpul transportasi penting antara Kyoto dan Osaka. Kombinasi lokasi strategis dan dukungan spiritual inilah yang menjadikan klan Genji memiliki pengaruh politik yang sangat kuat pada masanya.
Jangan Lewatkan Ukiran Rumit di Kuil

Saat menjelajahi Iwashimizu Hachimangu, pastikan untuk memperhatikan detail arsitekturnya. Kuil ini dihiasi dengan berbagai karya ukiran menakjubkan yang dirancang oleh pematung maestro Hidari Jingoro, figur yang juga bertanggung jawab atas dekorasi Kuil Toshogu di Nikko dan Kuil Chichibu.
Monyet Paku Mata
Karya seni ini tersembunyi di bagian atas koridor barat. Menurut cerita rakyat setempat, ukiran monyet ini tampak begitu hidup hingga konon sempat gentayangan dan mencuri persembahan warga sekitar, sehingga sebuah paku dipasang di matanya untuk menghentikan perilakunya.
Ukiran Tupai Khayalan
Ketika agama Buddha masuk ke Jepang, banyak kisah mengenai hewan asing yang digambarkan hanya berdasarkan deskripsi lisan. Di kuil ini, terdapat ukiran tupai buatan seniman yang belum pernah melihat hewan tersebut secara langsung, sehingga wujudnya menyerupai tikus dengan ekor mirip sulur tanaman.
Keunikan Simbol Tomoe
Simbol tomoe yang berbentuk tiga titik melengkung dapat ditemukan di berbagai penjuru Jepang. Di Iwashimizu Hachimangu, salah satu simbol tomoe sengaja dipahat terbalik sebagai simbol filosofis bahwa sebuah bangunan yang sempurna memerlukan ruang untuk terus berkembang.
Kaitan dengan Thomas Edison

Hal yang paling mengejutkan bagi banyak pengunjung adalah hubungan antara kuil di pinggiran Kyoto ini dengan penemu asal Amerika, Thomas Edison. Filamen bambu pertama yang digunakan untuk bola lampu buatan Edison ternyata diambil dari rumpun bambu di kawasan kuil ini pada tahun 1880, dan terbukti mampu menyala lebih lama dari bahan-bahan lainnya yang pernah diuji.
Hingga saat ini, festival tahunan masih diselenggarakan untuk memperingati kelahiran dan kematian Edison. Anda juga dapat menemukan berbagai atribut maupun monumen peringatan sang penemu lampu pijar ini di sekitar area Stasiun Yawatashi.








