“Meskipun artikel ini awalnya ditulis pada masa pandemi, seluruh lokasi dan informasi yang ditampilkan masih relevan.”
— Donny Kimball
Banyak wisatawan asing yang terbiasa dengan penggambaran samurai di media populer sering kali keliru mengira bahwa para kasta prajurit ini hanya hidup untuk bertempur. Faktanya, pada babak akhir kekuasaan mereka selama periode Edo (1603–1868), ketika Jepang berada di bawah cengkeraman keshogunan Tokugawa yang relatif damai, para samurai lebih mirip sebagai pegawai negeri atau administrator. Tanpa adanya perang besar yang harus dihadapi, energi dan jiwa kempempuran mereka dialihkan ke dalam berbagai bidang seni dan disiplin spiritual.
Praktik seperti memanah yang dulunya vital di medan perang berubah menjadi ritual penuh makna, melahirkan seni bela diri seperti kyudo. Kegemaran yang sama juga merambah ke dalam tradisi merangkai bunga dan upacara minum teh. Transisi sejarah inilah yang mendasari perjalanan ke Akizuki, permata tersembunyi yang terletak di Kota Asakura, Prefektur Fukuoka.

Kota kastil bersejarah ini menawarkan suasana pedesaan yang asri serta menjadi rumah bagi berbagai bentuk seni warisan samurai yang masih dilestarikan hingga kini. Melalui kolaborasi dengan pihak pemerintah setempat, berbagai pengalaman autentik yang tadinya sulit diakses oleh wisatawan internasional kini mulai dibuka untuk umum.
Cara Menuju ke Sana

Letak Akizuki yang berada di tengah pegunungan membuat perjalanan ke sana cukup menantang karena tidak ada jalur kereta api langsung yang melayani wilayah tersebut. Pilihan terbaik adalah menyewa mobil setibanya Anda di Fukuoka. Jika Anda memilih transportasi umum, Anda bisa menaiki kereta menuju Stasiun Amagi, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bus lokal yang beroperasi setiap jam.
Hari Pertama di Akizuki

Petualangan dimulai dengan mengunjungi Ikeda-ya untuk mengenakan kimono, lalu dilanjutkan dengan bersantai di onsen dan menikmati hidangan kaiseki mewah di ryokan Seiryuan. Hidangan yang disajikan menggunakan bahan-bahan lokal pilihan dengan kualitas yang sangat terjaga.

Perjalanan diteruskan dengan menjelajahi kediaman samurai yang diawetkan, seperti Kediaman Keluarga Hisano yang berfungsi sebagai museum terbuka. Pengunjung dapat melihat langsung interior tempat tinggal samurai pada era Edo dengan membayar tiket masuk yang terjangkau.

Di Kediaman Keluarga Tashiro, kelompok perjalanan berkesempatan mengikuti kelas chabana, yaitu seni merangkai bunga gaya teh, menggunakan bunga liar yang dipetik di sepanjang jalan. Setelah itu, kunjungan singkat dilakukan ke Reruntuhan Kastil Akizuki yang menyisakan gerbang utama megah dan jalan Sugi-no-Baba yang dipenuhi pohon cerai serta pohon berdaun musim gugur.

Malam harinya diisi dengan menikmati pertunjukan penabuh drum taiko aliran Kogetsu-ryu, sebuah gaya tabuh tradisional yang diwariskan turun-temurun oleh para samurai Akizuki. Gaya ini terasa lebih tenang dan bermartabat dibandingkan pertunjukan taiko yang megah di tempat lain.
Hari Kedua di Akizuki

Hari kedua dimulai dengan mengenakan perlengkapan baju zirah tradisional samurai yang disebut yoroi, diikuti sarapan pagi khas samurai yang sederhana namun bernutrisi tinggi berupa ikan, nasi, dan acar di Kediaman Keluarga Tashiro.

Perjalanan berlanjut ke Kansui untuk mencoba seni bela diri memanah tradisional kyudo. Aktivitas ini membutuhkan fokus tingkat tinggi, ketepatan postur tubuh, serta kekuatan otot bagian atas guna menguasai teknik tarikan busur yang memiliki energi kinetik besar.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan mengikuti upacara minum teh tradisional yang dipadukan dengan hidangan cha-kaiseki, mencerminkan dedikasi kaum samurai era damai terhadap keindahan dan ketelitian dalam setiap prosesnya.








