Bagi siapa saja yang ingin melarikan diri dari kesibukan kota, Prefektur Chiba sering kali menjadi pilihan pelarian yang ideal. Setelah sebelumnya menjelajahi berbagai wilayah di Semenanjung Boso, perjalanan kali ini berlanjut ke titik paling timur Chiba, yaitu Kota Choshi, untuk mencari ketenangan dari rutinitas pekerjaan.
Bagi sebagian besar pelancong, nama Choshi mungkin masih terdengar asing. Terletak di bagian timur laut Chiba yang menjorok seperti siku, kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting di wilayah Kanto. Kota ini mulai berkembang pesat pada zaman Edo (1603–1868) berkat dukungan Keshogunan Tokugawa yang memajukan industri perikanan dan pabrik kecap di sana, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi pelabuhan modern.

Sayangnya, status Choshi sebagai pelabuhan perikanan penting pada masa Jepang Imperial membuat kota ini menjadi sasaran serangan Sekutu selama Perang Dunia II. Akibatnya, banyak jejak sejarah berharga yang hilang, termasuk bangunan asli di sekitar kuil Enpuku-ji yang didedikasikan untuk bodhisattva Kannon dan merupakan bagian dari jalur Ziarah Bando. Meskipun sebagian besar telah dibangun kembali, kehilangan warisan sejarah akibat perang tetap menjadi sebuah tragedi.
Kendati demikian, Choshi tetap menyimpan berbagai daya tarik yang layak dikunjungi. Baik sebagai destinasi liburan sehari dari Tokyo maupun tempat menginap akhir pekan, kota ini menawarkan pengalaman menjelajahi sisi lain Jepang yang jarang dijamah wisatawan asing. Mulai dari pasar ikan yang ramai, kuliner lezat, hingga pemandangan Samudra Pasifik yang memukau, Choshi siap memberikan kesan mendalam.
Cara Menuju ke Sana

Bagi pelancong yang berangkat dari area Tokyo, cara paling praktis adalah menaikkan kereta Limited Express Shiosai dari Stasiun Tokyo menuju Stasiun Choshi. Sebagai alternatif, bus jalan raya (highway bus) juga tersedia bagi yang lebih menyukai perjalanan darat tanpa harus berpindah moda transportasi.
Setibanya di Choshi, mobilitas antar-destinasi dapat diandalkan melalui Choshi Electric Railway. Karena beberapa objek wisata seperti Mercusuar Inubosaki berada cukup jauh dari stasiun utama, pengunjung disarankan menyewa sepeda di pusat informasi wisata lokal atau menumpang kereta antik setempat yang juga menjadi daya tarik tersendiri.
Letaknya di garis pantai pesisir Chiba juga membuat Choshi terkenal dengan pemandangan fajar yang spektakuler. Banyak warga lokal sengaja datang untuk menyaksikan matahari terbit pertama di tahun baru sebelum menikmati sarapan pagi. Tersedia pula sejumlah penginapan tradisional ryokan di sebelah selatan Cape Inubo bagi wisatawan yang ingin menginap.
Menjelajahi Sekitar Stasiun JR Choshi

Beberapa titik menarik dapat dicapai dengan berjalan kaki dari Stasiun JR Choshi. Salah satunya adalah Taman Kawagishi yang terletak tidak jauh dari stasiun. Taman kecil ini menyuguhkan pemandangan Jembatan Choshi yang membentang di atas Sungai Tone, titik di mana aliran sungai penting tersebut bermuara ke Samudra Pasifik.
Selain taman, pasar ikan di Choshi wajib dikunjungi untuk mencicipi aneka hasil laut segar. Reputasi Choshi sebagai pusat perikanan besar menjamin kualitas hidangan laut yang ditawarkan, baik untuk dinikmati langsung di tempat maupun sebagai oleh-oleh.

Kuil Enpuku-ji juga menjadi situs bersejarah penting yang menjadi cikal bakal perkembangan kota Choshi. Kompleks kuil yang asri ini memiliki pagoda lima tingkat yang megah dan merupakan salah satu pos penting dalam jalur Ziarah Bando.
Tidak jauh dari stasiun, wisatawan dapat mampir ke pabrik kecap Higeta Shoyu. Mengingat sejarah panjang Choshi sebagai produsen kecap sejak zaman Edo, mengikuti tur pemanduan di fasilitas ini memberikan wawasan menarik mengenai proses pembuatan bumbu tradisional Jepang tersebut.
Menara Pelabuhan Choshi

Menara Pelabuhan Choshi setinggi 57,7 meter berdiri sebagai marka tanah yang menawarkan pemandangan panorama laut, Sungai Tone, dan aktivitas kapal di pelabuhan dari dek observasinya. Pada hari yang cerah, garis pantai Prefektur Ibaraki bahkan dapat terlihat dari sini.
Selain area observasi, menara ini juga memuat ruang pameran tentang industri perikanan lokal serta pasar kecil yang menjual produk hasil laut dan cendera mata. Meskipun lokasinya agak jauh dari stasiun kereta dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki dari Stasiun Motochoshi, tempat ini sangat direkomendasikan bagi pengunjung yang memiliki kendaraan pribadi.
Mercusuar Inubosaki

Mercusuar Inubosaki merupakan ikon paling terkenal di Choshi. Dibangun pada tahun 1874 oleh insinyur asal Inggris Richard Henry Brunton, mercusuar bergaya Barat setinggi 31 meter ini berdiri kokoh di atas tebing karang yang menjorok ke Samudra Pasifik.
Di dekat mercusuar, terdapat fasilitas modern bernama NUBOW TERASU TERRACE yang menyediakan kafe, pabrik bir mikro, dan pusat informasi wisata dengan pemandangan laut yang menawan. Untuk mencapai area ini, pengunjung dapat naik Choshi Electric Railway dan turun di Stasiun Inubo, dilanjutkan dengan berjalan kaki singkat.
Jangan lewatkan pula kesempatan untuk mencicipi “Nure Senbei”, kerupuk beras basah khas Choshi. Membeli camilan ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga membantu kelangsungan operasional jalur kereta bersejarah tersebut.
Atraksi Menarik Lainnya

Choshi masih menyimpan banyak pesona lain yang belum banyak diketahui wisatawan asing. Pada bulan Juli dan Agustus, ladang bunga matahari bermekaran di dekat Stasiun Inubo dan pelabuhan bagian selatan. Di dekat Pelabuhan Tokawa, terdapat formasi batuan alami bernama Inu-no-Iwa (Batu Anjing) yang bentuknya menyerupai anjing duduk di tepi laut.
Bagi yang menyukai kegiatan mendaki ringan, Gunung Atago menawarkan jalur pendakian mudah dengan pemandangan pelabuhan ikan di bagian selatan dari puncaknya. Suasana kawasan sekitar Stasiun Tokawa juga menawarkan nuansa klasik masa lampau yang tenang dan cocok untuk berjalan-jalan santai.
Perjalanan di Choshi dapat ditutup dengan mengunjungi kuil terkemuka seperti Kashima Jingu dan Katori Jingu yang terletak tidak jauh dari sana sebelum kembali ke Tokyo menggunakan bus jalan raya.








