Home / Travel / Lagi dan Lagi: Alasan Anda Harus Kembali Mengunjungi Tempat-Tempat di Jepang

Lagi dan Lagi: Alasan Anda Harus Kembali Mengunjungi Tempat-Tempat di Jepang

Ama Hut Hachiman Kamado

Saat menulis ini, saya sedang berada di kereta ekspres terbatas yang meluncur turun dari Nagoya menuju Toba untuk menikmati hidangan keempat saya bersama para penyelam ama di Mie Prefecture. Karena harus mendampingi beberapa anggota keluarga yang sempat tertahan sekian lama akibat kebijakan perbatasan ketat Jepang selama pandemi lalu, saya belakangan ini sering menelusuri kembali tempat-tempat favorit saya. Di sela-sela perjalanan tersebut, saya menyadari satu hal: mengunjungi destinasi seperti Nikko hanya sekali saja tentu tidak akan pernah cukup.

Semenjak aktif memproduksi konten bertahun-tahun silam, saya telah mengumpulkan daftar panjang lokasi di Jepang yang ingin saya sambangi. Hingga penghitungan hari ini, daftarnya bahkan telah menembus angka 5.000 tempat. Sekeras apapun saya mencoba memangkas daftar tersebut, kecepatan saya menemukan daya tarik baru di Jepang selalu jauh lebih cepat. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya pasti membutuhkan waktu seumur hidup yang tak terhingga untuk benar-benar menuntaskan seluruh impian perjalanan saya.

Tentu saja, bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke Jepang pada musim semi untuk menikmati bunga sakura, keindahan negeri ini selalu berubah seiring bergantiannya musim. Oleh karena itu, singgah sekali saja di tempat seperti Kakunodate in Akita Prefecture tentu belum memadai. Agar benar-benar tuntas, seseorang setidaknya harus datang pada musim semi sekaligus musim gugur. Mengingat ada begitu banyak tempat serupa di Jepang, para pencinta kelengkapan destinasi tampaknya harus melipatgandakan waktu hidup mereka hingga empat kali lipat.

Banyak pengikut yang kerap bertanya mengapa saya tidak pernah mencoba meluangkan waktu untuk menjelajahi belahan dunia lain. Jawabannya sederhana: saya tidak memiliki cukup waktu. Perlu diingat, jatah tahun hidup saya bahkan tidak akan cukup untuk mendatangi separuh dari tempat yang ingin saya kunjungi di Jepang. Sungguh tidak mungkin bagi saya memikirkan perjalanan ke luar negeri ketika masih begitu banyak destinasi domestik yang menanti. Coba saja lihat petualangan musim semi saya tahun ini, di mana saya mendatangi sudut-sudut unik seperti Senbonzakura of Torayama semata-mata demi menikmati bunga sakura.

Kondisi inilah yang melahirkan dilema klasik bagi para pelancong: apakah harus memilih destinasi baru yang belum pernah dijarah, atau kembali ke lokasi lama demi menikmati perayaan musiman tertentu? Sebagai contoh, kawasan Furano and Biei di Hokkaido sama-sama menawarkannya keajaiban saat musim dingin maupun musim panas. Pada bulan-bulan yang lebih hangat, kita akan disuguhi hamparan ladang lavender tanpa batas. Begitu salju mulai turun, kawasan tersebut berubah menjadi negeri dongeng musim dingin yang memukau.

Hirosaki Park in Aomori Prefecture is enchantingly beautiful during the springtime and is somewhere that you could visit every year.

Menentukan pilihan antara mendatangi tempat baru atau kembali ke tempat lama terkadang memang membingungkan. Apakah kita harus mengejar puncak mekarnya bunga sakura hingga ke wilayah ekstrem Tohoku, atau justru menjelajahi Kyushu dan Shikoku yang belum pernah diinjak sama sekali? Sejujurnya, saya tidak memiliki rumus pasti untuk menentukan pilihan ini dan memilih menyerahkannya begitu saja pada takdir. Saya sudah lama menerima kenyataan bahwa saya harus bereinkarnasi berkali-kali jika ingin merampungkan seluruh daftar perjalanan ini.

Daripada merasa cemas apakah Anda bisa kembali ke tempat yang pernah dinikmati saat musim gugur demi melihat bunga sakura, ada baiknya Anda juga mengikuti alur semesta. Pada akhirnya, setiap sudut di Jepang selalu menyimpan potensi pengalaman yang luar biasa, sekalipun tempat itu sudah pernah dijelajahi sebelumnya. Dengan kata lain, Anda pasti akan tetap menikmati momen yang berharga apa pun keputusan akhir yang diambil.

There are always seasonal allures in Japan like summertime fireworks that make returning to old haunts something you would want to consider.

Kendati demikian, catatan ini tentu belum lengkap tanpa membagikan beberapa kiat praktis dalam merencanakan perjalanan Anda selanjutnya ke Jepang:

  • Saat mendatangi kembali tempat yang sudah pernah dikunjungi, cobalah melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Berhubung saya sering harus kembali ke lokasi yang sama untuk keperluan peliputan pers pemerintah—seperti mengunjungi Aizu-Wakamatsu hingga setengah lusin kali dalam setahun—saya selalu berusaha menggali pengetahuan baru berdasarkan pengalaman yang telah terkumpul. Melalui cara ini, Anda bisa meraup kepuasan ekstra bahkan dari objek wisata mainstream sekalipun, seperti Senso-ji di Asakusa.
  • Sebaiknya susun rencana perjalanan berdasarkan rute ketimbang terpaku pada satu titik lokasi saja. Alih-alih hanya berniat pergi ke Matsumae Castle semata-mata demi melihat bunga sakura yang mekar belakangan, pertimbangkan untuk menggabungkannya dengan kunjungan ke kota terdekat yang mungkin sudah pernah Anda datangi sebelumnya, seperti Hakodate. Dengan demikian, Anda berkesempatan menyusuri tempat lama sekaligus menyaksikan pemandangan baru.
  • Jika memutuskan untuk kembali ke suatu tempat, pastikan ada alasan yang benar-benar kuat. Contohnya, keindahan autumn in Aomori sangat sepadan untuk dijadikan alasan melakukan kunjungan kedua ke prefektur tersebut. Sebaliknya, sekadar menuntaskan satu kuil yang terlewat dari belasan kuil lainnya tentu tidak akan memberikan kepuasan yang sepadan. Lebih baik cari destinasi baru yang mampu menorehkan memori segar daripada sekadar memperbarui kenangan lama.
  • Sejumlah keindahan musiman di Jepang sungguh layak untuk dinikmati berulang kali. Hampir setiap tahun, saya selalu menyempatkan diri mendatangi tempat populer seperti Hirosaki Park demi bunga sakura atau Nikko demi menikmati warna-warni daun musim gugur. Sekalipun Anda pernah ke sana, menyelipkan keajaiban alam ini ke dalam rencana perjalanan berikutnya tidak akan pernah disesali. Terlebih lagi, pemandangan tersebut sering kali dapat dipadukan dengan destinasi lain yang sedang berada di puncak keindahannya pada periode yang sama.
  • Mengingat pintu masuk penerbangan umumnya melalui Tokyo atau Osaka, kawasan metropolitan besar ini sangat ideal dijadikan “zona familiar” setibanya Anda di sana. Berdasarkan pengalaman perjalanan domestik saya, memiliki tempat yang sudah dikenal dengan baik akan sangat membantu mobilitas saat kembali berkunjung ke Jepang.
  • Kehadiran rekan seperjalanan dapat memberikan warna yang sama sekali berbeda. Berkunjung kembali ke tempat lama bersama teman dekat selalu menghadirkan pengalaman yang hidup. Sebagai contoh, saya telah mendatangi lokasi seperti Kawagoe dan Kashima Jingu berkali-kali karena mendampingi para kreator lain, dan suasananya selalu terasa baru lantaran saya bisa menikmati perjalanan tersebut melalui sudut pandang mereka.

Bagaimanapun juga, semoga berbagai tips di bahan bacaan ini bermanfaat. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Jepang adalah destinasi yang luar biasa dan Anda pasti akan mendulang pengalaman terbaik, bahkan ketika harus mengulang kunjungan ke beberapa tempat di tengah perjalanan. Seperti biasa, apabila Anda memiliki pertanyaan seputar layak atau tidaknya kembali ke suatu tempat di Jepang demi menikmati sakura atau momiji, silakan kirimkan surel kepada saya agar bisa saya bantu carikan jawabannya.

Sampai jumpa di petualangan berikutnya, para pelancong…


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *