Hanami, yang secara harfiah berarti “melihat bunga”, merupakan tradisi tahunan di Jepang untuk menikmati keindahan bunga sakura yang mekar dalam waktu singkat. Setiap tahun, mulai paruh kedua bulan Maret, bunga sakura bermunculan dengan warna merah muda yang memukau setelah melewati musim dingin. Sebagai salah satu pengalaman paling ikonis di Jepang, musim semi selalu menjadi waktu favorit bagi wisatawan asing untuk berkunjung. Mari kita telusuri sejarah singkat hanami serta beberapa tips penting agar Anda dapat menikmati tradisi ini secara maksimal.
Berdasarkan catatan sejarah, tradisi hanami telah berusia lebih dari 1.000 tahun, bermula sejak zaman Nara (710–794). Pada mulanya, bunga plum lah yang menjadi objek kaguman dalam acara hanami. Namun, ketika Kyoto (yang saat itu bernama Heian-kyo) ditetapkan sebagai ibu kota, pohon sakura mulai mencuri perhatian, hingga akhirnya hanami identik dengan menikmati bunga sakura. Istilah hanami sendiri pertama kali muncul dalam karya sastra klasik Genji Monogatari yang ditulis oleh salah satu sastrawan wanita pertama Jepang, Murasaki Shikibu.
Dulu, sake Jepang dipersembahkan kepada pohon sakura sebagai bagian dari ritual keagamaan. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini berkembang menjadi kegiatan perjamuan di bawah pohon yang sedang berbunga. Memasuki zaman Edo (1603–1868), tradisi minum bersama teman dan orang terkasih saat hanami mulai terbentuk dan mengakar kuat dalam budaya Jepang. Masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat jelata hingga samurai, berkumpul untuk merayakan keindahan sakura sambil menikmati makanan dan minuman berlimpah.
Tradisi turun-temurun ini masih terus dilanjutkan hingga hari ini, di mana orang-orang berkumpul di berbagai lokasi yang dipenuhi pohon sakura yang sedang mekar. Setiap tahun, warga Jepang berbondong-bondong mendatangi tempat-tempat populer dengan membawa tikar biru andalan mereka. Biasanya, ada satu orang yang mendapat tugas berat untuk datang pagi-pagi sekali demi mengamankan tempat terbaik. Menjelang siang hari, taman-taman di kota besar sudah dipenuhi oleh orang-orang yang merayakan suasana dengan gembira, tak sedikit pula yang sudah mulai mabuk namun tetap tertib. Hanami sungguh menjadi salah satu momen paling meriah dan waktu yang tepat untuk berbaur dengan penduduk lokal.
Kendati demikian, lautan manusia dan alkohol ini bisa jadi sangat melelahkan bagi pendatang baru. Oleh karena itu, saya telah merangkum beberapa panduan penting yang perlu diingat sebelum mengikuti hanami pertama Anda. Meskipun ini adalah pengalaman khas Jepang yang wajib dicoba, acara ini bisa berantakan jika Anda tidak mempersiapkan diri dengan matang.
1. Datang Lebih Awal dan Bawa Terpal atau Alas Duduk

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, jika Anda baru tiba di lokasi hanami pada siang hari, jangan heran jika seluruh tempat terbaik sudah terisi penuh. Di taman-taman utama, banyak orang bahkan berangkat sejak kereta pertama beroperasi sekitar pukul 5 pagi demi mengamankan tempat. Anda memang tidak harus sepagi itu, tetapi pastikan ada seseorang yang datang jauh lebih awal dari perkiraan normal.
Barang paling krusial yang wajib dibawa oleh kelompok Anda adalah terpal atau alas untuk menandai wilayah. Tanpa benda ini, Anda akan kesulitan mendefinisikan batas area kelompok Anda. Seperti yang sudah disebutkan, lokasi populer biasanya sangat padat hingga sering kali tepi terpal Anda akan bersinggungan langsung dengan milik tetangga sebelah.
2. Jaga Batas Minum Anda Selama Hanami!

Kesalahan terbesar yang kerap dilakukan oleh pemula maupun warga lokal berpengalaman adalah menganggap hanami sebagai perlombaan cepat alih-alih maraton. Perayaan hanami yang seru bisa berlangsung dari siang hari hingga tengah malam. Bersikap terlalu berlebihan sejak awal hanya akan membuat Anda jatuh pingsan di tempat atau posisi yang memalukan.
Jika Anda mengira pemandangan para pekerja kantoran yang mabuk berat di sekitar stasiun Shinjuku sudah luar biasa, maka Anda belum melihat apa-apa. Abaikan peringatan ini dengan risiko Anda sendiri!
3. Bawa Banyak Makanan dan Air Minum

Walaupun banyak spot hanami populer menyediakan kios penjual makanan lezat, air mineral, hingga minuman beralkohol, harganya biasanya dipatok jauh lebih mahal. Maklum saja, ada ribuan calon pembeli di sekitar lokasi dan antrean di minimarket terdekat bisa memakan waktu hingga dua puluh menit. Bertindaklah bijak dengan membawa persediaan sendiri, dan Anda pasti akan merasa berselamatan.
Sekali lagi, hanami adalah sebuah maraton, bukan lari cepat. Pastikan Anda mengonsumsi cukup makanan dan air agar tetap sadar dan terkontrol. Silakan membuka beberapa kaleng minuman dingin dan menikmati keindahan bunga sakura, asalkan Anda tidak berakhir menjadi bagian dari kerumunan orang yang mabuk berat.
4. Toilet Sangat Padat Selama Musim Hanami

Fasilitas toilet di sebagian besar taman utama dirancang untuk kapasitas penggunaan normal. Anda tentu bisa membayangkan betapa kewalahan fasilitas tersebut ketika jumlah pengunjung melonjak hingga seratus kali lipat saat musim hanami. Belum lagi, sebagian besar minimarket sengaja menutup toilet mereka selama periode ini untuk menghindari penumpukan pengunjung di dalam toko. Catatlah lokasi toilet terdekat dan bersiaplah untuk mengantre hingga setengah jam lamanya.
Namun, para pria sedang beruntung! Pembaca pria mungkin akan senang mengetahui bahwa hanami memberikan kesempatan untuk bernostalgia dengan tradisi kuno Jepang, yaitu buang air kecil di balik semak-semak atau dinding luar yang agak tersembunyi. Carilah area yang relatif sepi dari orang mabuk yang tertidur, buka ritsleting, dan nikmati momen santai bersama para pria lain yang juga sedang menuntaskan hajat. Meski demikian, tetap jaga etika dan jangan sampai memerhatikan apa yang dilakukan oleh tetangga sebelah!
5. Pertimbangkan Alternatif Selain Lokasi Populer

Destinasi hanami paling terkenal seperti Ueno Park dan Yoyogi Park biasanya dipadati oleh lautan pengunjung muda Jepang. Suasana pun bisa menjadi cukup liar ketika malam semakin larut dan batas-batas kesopanan mulai kendur. Jika usia Anda sedikit lebih matang dan mendambakan suasana yang lebih tenang, sangat disarankan untuk mencari lokasi alternatif di luar jalur utama. Tempat-tempat yang lebih tenang ini tetap menawarkan pengalaman yang sama—bahkan mungkin lebih baik—tanpa harus berdesakan dengan kerumunan besar. Jika Anda membawa anak kecil, memilih lokasi alternatif adalah keputusan yang sangat bijak.
Jika kebetulan sedang berada di wilayah Kansai, saya menyarankan Anda untuk berkunjung ke Mt. Yoshino (seperti pada gambar di atas). Walaupun bukan tempat yang benar-benar tersembunyi, kawasan ini telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi terbaik di Jepang untuk menikmati bunga sakura. Letaknya yang agak jauh dari pusat kota juga berarti suasana di sini jauh dari hingar-bingar pesta liar yang biasa ditemui di titik-titik utama perkotaan.
Itulah lima tips untuk bertahan hidup dan menikmati hanami pertama Anda. Jika Anda sedang berada di Jepang dan ingin bergabung di akhir pekan untuk melihat sakura bersama, jangan ragu untuk terhubung dengan saya melalui media sosial atau menghubungi saya secara langsung.
Sampai jumpa di petualangan berikutnya, para pelancong…








