Artikel ini dibuka dengan sebuah kutipan menarik dari buku berjudul “Art & Fear” karya David Bayles dan Ted Orland.
Seorang guru keramik mengumumkan pada hari pertama kuliah bahwa ia membagi kelasnya ke dalam dua kelompok. Seluruh mahasiswa di sisi kiri studio akan dinilai semata-mata dari kuantitas karya yang mereka hasilkan, sementara kelompok kanan dinilai berdasarkan kualitasnya. Prosedurnya sederhana: pada hari terakhir kelas, ia akan membawa timbangan kamar mandi dan menimbang karya kelompok kuantitas. Lima puluh pon kendi mendapat nilai “A”, empat puluh pon mendapat nilai “B”, dan seterusnya. Di sisi lain, kelompok kualitas hanya perlu menghasilkan satu kendi saja — meskipun itu harus berupa kendi yang sempurna — untuk meraih nilai “A”.
Tibalah waktu penilaian, dan sebuah fakta unik pun terlihat: karya-karya dengan kualitas tertinggi justru dihasilkan oleh kelompok yang dinilai berdasarkan kuantitas. Rupanya, sementara kelompok kuantitas sibuk memproduksi tumpukan karya — dan belajar dari kesalahan-kesalahan mereka — kelompok kualitas justru duduk berteori tentang kesempurnaan. Pada akhirnya, tidak banyak yang bisa mereka pamerkan selain teori-teori muluk dan segumpal tanah liat yang tak berbentuk.
Kedua paragraf inilah yang menginspirasi pembuatan program 500 Japanese Sentences dari Tofugu (yang kemudian berkembang menjadi 4500 Japanese Sentences). Buku latihan ini dirancang untuk memberikan sangat banyak kalimat bahasa Jepang untuk diterjemahkan, disusun berdasarkan kata-kata yang paling sering digunakan. Fokus utamanya tentu saja pada kuantitas, bukan kualitas. Jika Anda tidak tahu cara menerjemahkan sesuatu dan tidak dapat segera memecahkannya, lanjutkan saja. Jika Anda bingung atau merasa terjebak, lewati saja. Lakukan apa yang sesuai dengan tingkat kemampuan Anda atau sedikit di atasnya, lalu abaikan sisanya. Materi tersebut akan tetap ada saat Anda mengulanginya untuk kedua kalinya.
Pendekatan ini bertentangan dengan apa yang umumnya diajarkan di sekolah. Anda mungkin sering mendengar ungkapan populer: “Kualitas di atas kuantitas.” Namun kenyataannya, kuantitaslah yang justru menciptakan kualitas, dan prinsip ini dapat diterapkan pada hampir semua keterampilan yang ingin Anda kembangkan, termasuk bahasa Jepang.
Mari Buat Beberapa Asumsi Terlebih Dahulu

Untuk memahami mengapa kuantitas lebih unggul daripada kualitas, kita perlu memahami sebuah gagasan mengenai cara seseorang memperoleh bahasa. Hari ini kita akan melihat sebuah hipotesis terkenal yang disebut “Input Hypothesis” oleh Stephen Krashen. Perlu dicatat bahwa ini hanyalah sebuah hipotesis, bukan sebuah hukum mutlak. Kendati demikian, banyak dukungan terhadap gagasan ini bersumber dari pengalaman pribadi, pengalaman orang lain, serta beberapa orang yang pernah menjadi subjek percobaan.
Hipotesis ini terdiri dari lima bagian, namun kita hanya akan membahas satu bagian saja, yaitu:
Input Hypothesis: Kemajuan seorang pembelajar dalam menguasai bahasa terjadi ketika mereka memahami masukan (input) bahasa yang tingkatannya sedikit lebih maju daripada kemampuan mereka saat ini. Krashen menyebut tingkat input ini sebagai “i+1”, di mana “i” adalah input bahasa yang sudah dikuasai dan “+1” adalah tahap berikutnya dalam pemerolehan bahasa.
Harus diakui, ada beberapa bagian dari teori ini yang kurang saya sukai, tetapi ada juga gagasan-gagasan di dalamnya yang sangat masuk akal. Untuk saat ini, mari kita ikuti konsep tersebut dan lihat hubungannya dengan prinsip kuantitas mengalahkan kualitas.
+1 +1 +1 +1 +1 +1

Hipotesis Input menyatakan bahwa kemajuan dalam bahasa yang sedang dipelajari berasal dari kemampuan memahami input bahasa yang berada sedikit di atas level Anda saat ini. Memahami sesuatu yang berada pada tingkat +1 di atas kemampuan Anda sebenarnya tidak terlalu sulit. Bagaimanapun, itu hanya terpaut satu tingkat. Sebaliknya, mencoba memahami sesuatu yang jauh melampaui +1 bukanlah pemanfaatan waktu yang baik. Berusaha memahami kalimat yang berada, misalnya, +10 di atas level Anda kemungkinan besar tidak akan mengajarkan hal baru, melainkan hanya mendatangkan kebingungan dan rasa frustrasi.
Meskipun hal ini mungkin tidak berlaku di setiap situasi, saya dapat memahami maksud dari teori tersebut. Saya menerapkan filosofi yang sangat mirip dalam menyusun materi pembelajaran. Semuanya berjalan secara bertahap: +1 +1 +1 +1. Banyak langkah kecil yang saling berkesinambungan. Jika kita melihat gambaran yang lebih besar dan mengesampingkan beberapa pengecualian, banyak contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari yang membuktikan hal ini. Apakah Anda mengalami salah satunya?
Belajar Kanji:
-
Kualitas: Untuk mempelajari satu buah kanji, Anda berusaha menghafal setiap arti dan cara baca yang ada, serta belajar menulisnya secara manual. Dengan tangan Anda sendiri. Semua hal ini tentu penting, dan saya setuju bahwa Anda harus mempelajarinya pada akhirnya. Kelompok “kualitas” akan mempelajari kanji satu per satu dengan cara ini, dan prosesnya akan memakan waktu cukup lama.
-
Kuantitas: Alih-alih mempelajari semuanya sekaligus, Anda hanya mempelajari batas minimum agar bisa segera beralih ke kanji berikutnya. Dalam kasus ekstrem, metode ini hanya berfokus pada arti kanji tersebut saja (seperti metode Heisig). Di platform kami (WaniKani), pengguna biasanya cukup mempelajari satu arti dan satu cara baca.
Anda memang melewatkan banyak informasi ketika menggunakan metode kuantitas di atas kualitas. Namun, ada satu fenomena menarik yang sering saya amati pada para pembelajar: semakin banyak kanji yang mereka ketahui, semakin mudah pula bagi mereka mempelajari kanji berikutnya. Pengalaman benar-benar melahirkan kemahiran. Dengan memangkas informasi yang tidak esensial (seperti cara baca sekunder, arti tambahan, dan latihan menulis tangan), Anda bisa menyelesaikan jauh lebih banyak kanji dalam durasi waktu yang sama.
Hal ini sangat penting karena Anda membutuhkan perbendaharaan kanji yang luas agar mampu membaca teks bahasa Jepang yang sesungguhnya. Bayangkan saat Anda sedang membaca artikel blog, situs resep masakan, buku, atau manga berbahasa Jepang, lalu menemukan sebuah kata gabungan atau jukugo. Jika Anda belum mengenal arti masing-masing kanji penyusunnya, Anda terpaksa harus mencari arti kanji tersebut, cara bacanya, baru kemudian mencari arti kata gabungannya secara keseluruhan. Ini jelas bukan level +1, melainkan sekitar +4. Artinya, tingkat kesulitan tersebut terlalu tinggi untuk dapat dipahami secara alami.
Namun, jika Anda sudah mengenali arti dan cara baca dari kanji-kanji pembentuk kata tersebut, yang perlu Anda cari tahu hanyalah arti kata utuhnya saja karena Anda sudah bisa membacanya. Terlebih lagi, arti kata tersebut biasanya berkaitan erat dengan arti kanji penyusunnya. Situasi seperti ini jauh lebih mendekati level +1. Bahkan, seringkali Anda bisa menebak arti kata tersebut berdasarkan makna kanjinya tanpa harus membuka kamus. Itulah contoh level +1 yang ideal.
Tentu saja, pendekatan kualitas juga bisa mencapai titik ini, tetapi peluangnya jauh lebih kecil. Membaca teks bahasa Jepang sambil harus mencari kamus untuk 75% kanji dan kata di halaman tersebut adalah pengalaman yang sangat melelahkan. Sebaliknya, jika Anda memilih jalur kuantitas dalam mempelajari kanji, Anda akan lebih jarang menghadapi situasi frustrasi tersebut. Pada akhirnya, kuantitaslah yang melahirkan kualitas.
Belajar Melalui Kalimat:
Mari kita beralih ke metode belajar menggunakan kalimat. Konsep dasarnya adalah memanfaatkan kalimat untuk mempelajari dan meningkatkan kemampuan bahasa Jepang Anda melalui aktivitas membaca dan menerjemahkan. Anggaplah Anda berada di tingkat menengah atau lebih tinggi, atau setidaknya kalimat-kalimat yang dipelajari telah disesuaikan dengan level Anda.
-
Kualitas: Anda menghabiskan banyak waktu untuk membedah setiap kalimat. Anda berupaya mempelajari dan menghafal setiap kata di dalamnya, serta memastikan setiap aturan tata bahasa sudah benar-benar sempurna sebelum beranjak ke kalimat berikutnya.
-
Kuantitas: Anda tidak menghabiskan waktu terlalu lama untuk satu kalimat tertentu. Anda mencari arti kosakata dan tata bahasa sebaik mungkin, tetapi jika Anda merasa kesulitan, Anda tidak perlu ambil pusing. Fokus utamanya adalah tetap berada di level kemampuan Anda saat ini atau sedikit di atasnya. Bagian yang terlalu sulit untuk dipahami cukup dilewati saja.
Hal yang paling utama di sini adalah Anda bergerak maju dengan cepat. Anda tidak perlu terobsesi menghafal setiap kata. Jika sebuah kata sering muncul, secara alami Anda akan mengingatnya. Apabila tingkat kesulitannya sudah pas, belajar melalui kalimat adalah cara yang sangat efektif untuk memicu proses pembelajaran (+1) secara berulang-ulang. Tantangan terbesarnya adalah membiasakan diri dengan pola pikir bahwa “Tidak apa-apa untuk melangkah maju dengan cepat.”
Keuntungan besar dari metode ini adalah Anda akan mulai mengenali pola-pola bahasa, yang hanya bisa dicapai jika Anda fokus pada kuantitas. Menemui 500 kalimat dalam rentang waktu satu bulan (kuantitas) tentu memberikan dampak yang jauh berbeda dibanding melihat 500 kalimat dalam waktu satu tahun (kualitas). Pola-pola bahasa akan terlalu tersebar dan sulit dikenali jika Anda terlalu lama berdiam pada satu kalimat.
Jika kita kembali merujuk pada Hipotesis Input, mari renungkan hal ini dalam konteks mempelajari kalimat:
Dalam satu kalimat, mungkin hanya ada satu atau dua hal yang berada pada level +1 terhadap kemampuan Anda saat ini. Sisanya mungkin berada di level +5 atau +10. Jika kita sepakat bahwa hal-hal yang terlalu sulit tersebut belum saatnya membantu Anda berkembang, maka menghabiskan waktu berlebihan untuk memecahkan bagian +5 dan +10 tidak akan memberikan banyak manfaat. Sebaliknya, jika Anda memaksa diri untuk menelan *banyak* kalimat sekaligus, Anda akan menjumpai lebih banyak peningkatan di level +1. Dalam jangka panjang, hasil yang Anda peroleh akan jauh lebih besar. Setelah menyelesaikan banyak materi, ketika Anda kembali meninjau bagian yang tadinya terasa sulit, Anda akan menyadari bahwa materi yang tadinya berada di level +5 kini terasa seperti level +1.
Kanji dan kalimat hanyalah sebagian kecil contoh. Jika Anda merenungkan proses belajar bahasa Jepang dari sudut pandang ini, Anda akan menyadari bahwa prinsip serupa berlaku di berbagai aspek lainnya. Jika Anda ingin lancar berbicara… ya, Anda harus sering berbicara. Lakukan sesering mungkin. Jangan terpaku pada kesempurnaan karena hal itu justru akan memperlambat kemajuan Anda dan membuat Anda merasa takut untuk berbicara. Prinsip ini berlaku untuk kemampuan membaca, menulis, mendengarkan, dan aspek pembelajaran lainnya. Coba pikirkan, hal apa yang sedang menjadi kendala Anda saat ini? Apakah masalah tersebut berkaitan dengan kecenderungan Anda yang terlalu fokus pada kualitas alih-alih kuantitas?
Bagaimana dengan Metode Immersion?

Pada titik ini, Anda mungkin mulai memikirkan bagaimana cara memasukkan unsur kuantitas ke dalam rutinitas belajar bahasa Jepang Anda. Lalu, bagaimana dengan metode *immersion* (penyelaman total ke lingkungan bahasa)?
Metode *immersion* pada dasarnya adalah penerapan ekstrem dari prinsip kuantitas di atas kualitas. Anda menerima *begitu banyak input bahasa hingga mau tidak mau Anda pasti akan mempelajari sesuatu*. Hal ini terjadi karena Anda terekspos pada jauh lebih banyak peluang +1. Ini adalah strategi yang mengandalkan volume secara masif, dan terbukti ampuh. Itulah sebabnya banyak orang menganggap *immersion* sebagai cara terbaik dan termudah untuk menguasai bahasa baru.
Kendati demikian, metode *immersion* tidak selalu realistis bagi semua orang. Baik itu menciptakan lingkungan yang imersif secara mandiri maupun pindah dan tinggal langsung di Jepang, seringkali hal tersebut bukan merupakan pilihan yang memungkinkan.
Oleh karena itu, kita harus mencari jalan tengah… kompromi yang tetap mendukung kemajuan belajar bahasa Jepang Anda. Untuk mewujudkannya, Anda perlu…
Menemukan Guru yang Baik

Sosok guru yang dimaksud tidak selalu berarti seseorang yang berdiri di depan kelas atau duduk berhadapan dengan Anda di meja belajar, meskipun terkadang memang demikian. Kategori guru di sini juga mencakup diri Anda sendiri, buku teks yang Anda gunakan, serta diskusi dari para pembelajar bahasa Jepang di berbagai forum daring. Guru bisa hadir dalam berbagai bentuk dan rupa.
Namun, ada cara yang cukup efektif untuk membedakan mana pengajar yang baik dan mana yang kurang baik. Ukurannya kembali pada prinsip kuantitas versus kualitas serta bagaimana mereka menerapkan prinsip tersebut dalam proses belajar Anda.
-
Guru yang baik tidak akan menuntut Anda menjadi sempurna. Mereka tahu materi apa yang masih di luar jangkauan Anda dan memilih untuk fokus pada hal-hal kecil yang secara bertahap meningkatkan kemampuan Anda (+1).
-
Guru yang buruk akan terobsesi pada kesempurnaan. Hal ini justru akan membuat Anda cemas dan terlalu takut membuat kesalahan. Perlahan-lahan, Anda akan menghabiskan waktu memikirkan cara agar tidak salah, yang pada akhirnya berujung pada semakin berkurangnya frekuensi Anda menggunakan bahasa Jepang. Anda mungkin berusaha membuat beberapa hal tampak sempurna, sementara aspek lainnya terbengkalai.
-
Guru yang baik akan membiarkan Anda membuat kesalahan, bahkan dalam jumlah yang banyak. Seperti yang pernah dikatakan oleh Michael Jordan: “Saya telah meleset lebih dari 9.000 tembakan sepanjang karier saya. Saya telah kalah hampir 300 pertandingan. Sebanyak 26 kali, saya dipercaya mengambil tembakan penentu kemenangan dan gagal. Saya telah gagal berulang-ulang dalam hidup saya. Dan itulah alasan mengapa saya sukses.” Kesalahan adalah bagian penting dari proses belajar, dan jika Anda tidak cukup sering berbuat salah, Anda tidak akan pernah berkembang. Bahkan, berbagai studi menunjukkan bahwa kesalahan tata bahasa sebenarnya hanyalah bagian natural dari proses belajar; itu adalah salah satu anak tangga yang harus dilalui sebelum Anda bisa naik ke tingkat berikutnya.
-
Guru yang baik sangat bijak dalam menentukan takaran kuantitas materi yang diberikan. Materi tersebut haruslah sesuatu yang benar-benar Anda butuhkan untuk naik tingkat, bukan sekadar tumpukan tugas tanpa arah. Kuantitas memang bagus, tetapi ia akan kehilangan kegunaannya jika tidak lagi memuat peluang +1 di dalamnya.
-
Guru yang buruk akan menyuruh Anda menghafal sesuatu “karena begitulah aturan yang sudah-sudah.” Materi yang diberikan seringkali berada jauh di atas kemampuan Anda (misalnya level +10). Anda mungkin akan mendengar instruksi seperti “Pokoknya dihafal saja!” tanpa disertai penjelasan atau alasan yang logis. Materi tersebut tidak diurai ke dalam potongan-potongan kecil yang mudah dicerna (+1). Bagi seorang pemula, sangat sulit untuk memecah materi yang rumit menjadi bagian-bagian kecil yang sesuai kapasitas. Itulah tugas seorang guru, setidaknya sampai Anda cukup mahir dalam “belajar bahasa Jepang”. Akibat pendekatan yang buruk ini, Anda akhirnya membuang banyak waktu berharga untuk memikirkan tugas tingkat +10, padahal waktu yang sama bisa digunakan untuk menghasilkan kemajuan seratus kali lipat melalui metode +1.
-
Guru yang baik membuat Anda merasa nyaman menggunakan bahasa Jepang. Untuk mencapai hal ini, mereka harus mengurangi rasa bersalah atau takut saat Anda melakukan kesalahan. Dengan begitu, frekuensi penggunaan bahasa Jepang Anda akan meningkat, kemampuan Anda terasah, dan Anda bisa mencapai tingkat lancar dengan lebih cepat. Inilah perbedaan paling mendasar antara pengajar yang berorientasi pada kuantitas dan kualitas.
Daftar ini tentu masih bisa terus berlanjut. Mengetahui kapan dan seberapa banyak kuantitas yang harus diterapkan dalam sesi belajar memang bukan hal yang mudah. Kadang-kadang, Anda harus mencoba berbagai metode yang berbeda untuk menemukannya. Salah satu cara terbaik adalah bertanya kepada para senior mengenai hal apa yang paling mereka sesali tidak dilakukan sejak awal masa belajar. Dalam kasus bahasa Jepang, banyak orang mungkin akan mengatakan, “Andai saja dulu saya mempelajari lebih banyak kanji.” Dari sini, menjadi lebih mudah untuk mengidentifikasi materi apa yang perlu Anda perbanyak.
Bagaimana cara Anda menerapkan prinsip kuantitas dalam studi bahasa Jepang Anda? Atau di bagian mana Anda bisa memperbaiki pendekatan belajar agar lebih mengutamakan kuantitas ketimbang terobsesi pada kesempurnaan? Bagikan pendapat Anda kepada kami melalui media sosial.







