Setiap orang di dunia ini pasti pernah membuat kesalahan, baik dalam hal tata bahasa sehari-hari maupun kekeliruan besar dalam sejarah. Melakukan kesalahan adalah sesuatu yang sebenarnya ingin kita hindari, tetapi terkadang hal itu tidak bisa dihindari sama sekali.
Bagi siapa pun yang sedang mempelajari bahasa baru, membuat banyak kesalahan adalah hal yang sangat wajar. Kendati demikian, kita selalu bisa memetik pelajaran berharga darinya agar tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Meski begitu, beberapa kesalahan justru terasa begitu menggelitik hingga kadang membuat kita tidak keberatan jika itu terjadi lagi.
Orang Jepang dan Bahasa Inggris

Meskipun banyak warga Jepang dari generasi terdahulu tidak pernah mendapatkan pelatihan bahasa Inggris formal, generasi yang lebih muda biasanya telah mempelajari bahasa tersebut selama tiga tahun di tingkat SMP dan tiga tahun di SMA. Di sebagian besar universitas di Jepang, bahasa Inggris juga menjadi mata kuliah wajib, sehingga para lulusannya sering kali telah belajar bahasa Inggris selama satu dekade atau bahkan lebih.
Kendati demikian, para pengajar di Jepang umumnya terlalu memfokuskan diri pada tata bahasa dan membaca, sehingga kemampuan menyimak, berbicara, dan pelafalan kurang dilatih secara optimal. Hal ini sering dijadikan pemakluman atas rendahnya kemampuan lisan orang Jepang dalam berbahasa Inggris. Namun, jika Anda pernah melihat fenomena “EngRish” yang lucu di Jepang, Anda tentu tahu bahwa kemampuan mereka dalam hal tata bahasa dan membaca pun sebenarnya tidak selalu sempurna. Pengalaman pribadi saya sendiri, saya sempat terbiasa mengucapkan “a sox” dan “soxes” alih-alih sock dan socks, dan baru menyadari kekeliruan tersebut dua tahun setelah lulus kuliah. Bahkan baru-baru ini pun saya baru tahu bahwa selama ini saya menyebut “toothbrush” sebagai “teethbrush”, seolah-olah proses belajar ini tidak ada habisnya.
Tertukar Saat Menggunakan Kosakata Bahasa Inggris

Salah satu momen paling kocak sekaligus memalukan bagi saya terjadi ketika saya mencampuradukkan beberapa kata dalam bahasa Inggris. Pada suatu hari di musim panas ketika saya sedang mengikuti program liburan sambil bekerja di Kanada, saya berencana menghadiri pesta perpisahan untuk teman sekelas saya yang berasal dari Rusia. Usai jam sekolah ESL hari itu, saya pulang ke rumah untuk meletakkan buku-buku pelajaran. Saat masuk melalui pintu belakang, ayah angkat saya bertanya, “Apakah kamu mau minum bir bersama kami?” Biasanya, saya akan langsung menjawab “Yeeesss!” dengan antusias, tetapi karena saya harus menghadiri pesta perpisahan tersebut, dengan nada penuh duka saya malah berkata, “Maaf, hari ini saya harus pergi ke pesta pemakaman untuk teman Rusia saya.” Ya, saya tanpa sengaja tertukar mengucapkan kata “funeral” (pemakaman) dan “farewell” (perpisahan).
Saya melihat ekspresi wajah ayah angkat berubah menjadi sangat sedih dan kaget. Saat itu saya sama sekali tidak paham mengapa ia begitu bersedih dan mengira ia hanya sangat ingin saya menemukannya minum bir. Setibanya di tempat acara, ketika mendengar teman-teman saya menyebutnya sebagai pesta “farewell”, seketika itu juga saya teringat arti kata yang telanjur saya ucapkan kepada ayah angkat saya. “Wah, gawat,” pikir saya dalam hati karena dilanda rasa malu yang luar biasa.

Tertukar mengucapkan kata saat berbicara sepertinya juga menjadi masalah yang sering dialami banyak orang lain. Salah seorang teman saya pernah diundang ke sebuah restoran dan memesan hidangan makanan laut, namun kerang yang ia terima ternyata belum matang sempurna. Ketika pelayan datang menanyakan keadaan makanan mereka, ia berniat mengatakan, “Saya sama sekali tidak suka kerang di sini,” namun yang keluar dari mulutnya justru, “Saya sama sekali tidak suka orang selingkuh” atau dalam kasus aslinya, ia keliru mengucapkannya mirip kata “selfish” (egois). Pelayan tersebut sempat terkejut sesaat sebelum akhirnya meminta maaf dan pergi begitu saja. Tentu saja teman saya merasa kesal karena pelayan itu tampak tidak peduli dengan makanannya yang kurang baik dan tidak menggantinya. Teman-temannya baru kemudian menyadarkan bahwa ia telah salah mengucapkan kata.
Kisah lucu lainnya datang dari seorang teman yang sedang menceritakan keponakan-keponakannya yang begitu menggemaskan. Ia berkata bahwa ia hidup demi mereka dan selalu berusaha memanjakan mereka kapan pun ada kesempatan karena ia sendiri tidak pernah dimanjakan semasa kecil. Di tengah ceritanya, ia membuat kami semua terkejut dengan melontarkan kalimat, “Saya mencoba menjalani hidup secara bi-curious melalui mereka.” Seperti yang mungkin sudah bisa Anda tebak, maksud yang ingin ia sampaikan sebenarnya adalah “vicariously” (secara proksi atau melalui pengalaman orang lain). Meskipun ia terkadang memiliki sisi kepribadian yang agak unik, kata “bi-curious” sama sekali tidak nyambung untuk situasi tersebut. Teman-teman terus meledeknya akibat kesalahan tersebut, bahkan lelucon itu masih berlanjut hingga tiga tahun kemudian.
Tertukar Saat Menggunakan Kosakata Bahasa Jepang

Seperti yang mungkin sudah Anda ketahui, kalimat standar dalam bahasa Jepang dibentuk menggunakan tiga set aksara: hiragana, katakana, dan kanji. Walaupun hiragana lazim dipakai untuk tata bahasa, penghubung antar kata, serta partikel, para pemula terkadang menulis seluruh kalimat hanya dengan hiragana atau lebih menyukai bentuk tulisan tersebut. Kendati demikian, kalimat yang ditulis sepenuhnya dengan hiragana akan menjadi sangat panjang dan justru lebih sulit dipahami dibandingkan kalimat yang memuat katakana dan kanji.
Meskipun kalimat tersebut masih bisa dimengerti setelah dibaca secara cermat berdasarkan konteksnya, Anda akan kesulitan membedakan rangkaian huruf hiragana mana yang membentuk suatu kata tanpa harus membacanya beberapa kali. Terlebih lagi, Anda bisa keliru menempatkan partikel atau kosakata Jepang lainnya sehingga kalimat yang tercipta malah menjadi sangat konyol.
Sebagai ilustrasi, kalimat-kalimat berikut ditulis sepenuhnya dalam aksara hiragana, namun bisa memiliki dua arti atau lebih tergantung pada penggunaan katakana dan kanjinya:
ぱんつくったことある?
パン作ったことある? (Pernahkah kamu membuat roti?)
パンツ食ったことある? (Pernahkah kamu makan pakaian dalam?)
にくかった
肉買った。 (Aku membeli daging.)
憎かった。(Aku membencinya.)
きのうえきにいった
昨日駅に行った。(Kemarin aku pergi ke stasiun.)
木の上気に入った。(Aku menyukai tempat di atas pohon itu.)
きょうとしよりきたよ。
今日年寄り来たよ。(Hari ini orang-orang lanjut usia datang berkunjung.)
京都市より北よ。(Letaknya berada di sebelah utara Kota Kyoto.)
ねえちゃんとふろはいった?
ねえ、ちゃんと風呂入った?(Hei, apakah kamu sudah mandi dengan benar?)
姉ちゃんと風呂入った? (Apakah kamu mandi bersama kakak perempuanmu?)
はしのはしをみてください。
橋の端を見てください。(Perhatikanlah bagian ujung jembatan itu.)
箸の端を見てください。(Perhatikanlah bagian ujung sumpit itu.)
端の端を見てください。(Perhatikanlah bagian paling ujung.)
ハシの箸を見てください。(Perhatikanlah sumpit milik Hashi.)
Jika Anda memanfaatkan katakana dan kanji, keseluruhan kalimat akan menjadi lebih ringkas dan mudah dipahami. Namun, ketika sedang bercakap-cakap secara lisan, Anda tentu tidak bisa melihat bentuk katakana atau kanji tersebut. Oleh karena itu, wajar jika banyak orang yang sedang belajar bahasa Jepang kerap keliru menggunakan kosakata lisan.
Berikut adalah beberapa contoh menarik yang diambil dari forum diskusi Gaijin Pot:
Saya kadang kala pergi ke KFC dan memesan Chicken Burger, namun saya melafalkannya secara keliru menjadi “Chikan baagaa” sampai pada suatu hari saya mengucapkannya dengan benar yaitu “Chikin baagaa”. Namun, pegawai paruh waktu yang beberapa kali melayani saya sebelumnya malah berkata, “Chikin baagaa desu ne? Chikan baagaa ja nai desu yo ne?”, yang membuat pegawai wanita di dekatnya langsung tertawa terbahak-bahak. -Since1990
Chikin: Ayam
Chikan: Pelaku pelecehan seksual
Suatu hari saya tertukar mengucapkan kata ninjin (wortel) dan ninshin (hamil). Perempuan itu mendadak berubah menjadi wortel alih-alih sedang mengandung! -Scrum Doctor
Ninjin: Wortel
Ninshin: Hamil
Saya pernah mendengar seseorang merasa marah kepada orang-orang di dalam kereta karena ia merasa sedang diperhatikan. Niatnya ia ingin mengatakan, “Aku bukan hewan, aku adalah manusia!” namun yang terlontar justru, “Aku bukan hewan, aku adalah wortel!”. -Since1990
Ninjin: Wortel
Ningen: Orang, manusia
Dua kata yang paling sering tertukar bagi saya adalah penyedot debu (sojiki) dan pemakaman (soshiki), yang sering kali berujung pada situasi memalukan. -renkachan71
Sojiki: Penyedot debu
Soshiki: Pemakaman
Setelah berada di Jepang selama beberapa bulan dan baru menguasai ungkapan-ungkapan dasar, saya mendatangi salah satu murid senior saya di sebuah bar untuk menanyakan apakah ia sudah minum banyak: “oppai nomu?” tanya saya. Ia lantas membalas menggunakan salah satu kata lain yang pernah saya pelajari: baka! -Dennis
Ippai: Banyak
Oppai: Payudara, air susu ibu
Seperti yang bisa Anda lihat, orang lain juga melakukan kesalahan serupa! Jika mereka bisa melewati kesalahan memalukan seperti ini dan terus melangkah maju, Anda tidak perlu merasa khawatir sama sekali. Bagaimanapun juga, sebuah kesalahan hanyalah sebuah kesalahan biasa.
Kegagalan Adalah Guru Kebaikan

Nah, sudah ada begitu banyak contoh kesalahan yang dibahas. Saya ingin menyampaikan peribahasa shippai wa seikou no moto yang berarti kegagalan adalah pangkal keberhasilan kepada semua orang yang sedang belajar bahasa Jepang di sini! Bahkan Michael Jordan pernah berkata, “Saya telah gagal terus-menerus sepanjang hidup saya dan itulah alasan mengapa saya sukses.” Ini bukanlah sebuah joudan (gurauan). Mohon maaf, itu tadi sedikit pelesetan yang agak garing. Intinya, jangan pernah ragu untuk berbicara dalam bahasa Jepang yang kurang sempurna demi meningkatkan kemampuan berbahasa Anda. Hal itu justru akan membantu proses perkembangan Anda menjadi lebih baik!








