Home / Game / 6 RPG di Mana Pahlawan Berubah Menjadi Villain Terakhir

6 RPG di Mana Pahlawan Berubah Menjadi Villain Terakhir

rpgs where a hero becomes the final villain

Transformasi seorang pahlawan menjadi tokoh antagonis merupakan salah satu tema yang sangat diminati di berbagai media, termasuk dalam industri video game yang telah mengeksplorasinya selama beberapa dekade. Narasi seperti ini sangat cocok diterapkan dalam game RPG, di mana kebebasan pemain, keputusan yang diambil, serta konsekuensinya mampu memberikan dampak yang jauh lebih mendalam dibandingkan buku atau film. Baik itu kemampuan untuk berpindah sisi sebagai karakter utama maupun menyadari bahwa rekan seperjalanan yang setia mendampingi sepanjang petualangan ternyata adalah pihak lain sejak awal, momen-momen semacam itu biasanya meninggalkan kesan yang tahan lama.

Video game menyajikan berbagai cara untuk merangkai konsep menarik ini, yang semakin diperkuat oleh sifat interaktif serta siklus permainan yang kerap berulang. Seorang protagonis bisa saja terkorupsi oleh kekuasaan atau hancur akibat trauma masa lalu. Tokoh yang tampak seperti pahlawan mungkin saja sengaja menyembunyikan niat aslinya hingga akhir cerita, atau dua karakter gagal menemukan titik temu pada bagian penutup. Bahkan, beberapa game menghubungkan entri yang berbeda atau siklus permainan baru dengan mengubah pahlawan yang sebelumnya dapat dimainkan menjadi ancaman terbesar di masa depan.

Setiap game RPG dalam daftar ini menghadirkan sudut pandang uniknya masing-masing mengenai proses perubahan tersebut.

Fokus pembahasan kali ini adalah variasi eksekusi dari gagasan dasar tersebut. Topik ini tidak hanya terbatas pada game di mana protagonis utama yang dapat dimainkan berubah menjadi penjahat akhir, meskipun contoh-contoh tersebut tentu saja turut disertakan.

Peringatan: Mengandung bocoran cerita yang cukup berat di bawah ini!

Dragon Age: Inquisition & Dragon Age: The Veilguard

Salah Satu Alur Karakter Paling Kompleks dalam Genre Ini

Kritik mengenai antagonis utama yang terasa kurang kuat dalam game-game rilisan BioWare selanjutnya—mulai dari Corypheus dalam Dragon Age: Inquisition hingga Archon di Mass Effect: Andromeda dan Monitor pada Anthem—akhirnya terbayar tuntas melalui kombinasi Inquisition dan The Veilguard, di mana Solas atau dikenal sebagai Dread Wolf mengambil panggung utama. Menyebut Solas secara mutlak sebagai pahlawan atau penjahat mungkin terlalu sederhana karena karakternya jauh lebih berlapis, namun perkembangan kisahnya di kedua game tersebut sangat pas untuk tema ini. Awalnya diperkenalkan sebagai rekan bangsa elf yang dapat diandalkan meski memiliki kebijaksanaan yang mencurigakan, Solas kemudian terungkap sebagai Fen’Harel, dewa purba bangsa elf yang bertekad memulihkan peradaban masa lalunya yang agung, sekalipun tindakan tersebut harus mengorbankan kehancuran dunia Thedas saat ini.

Terlepas dari berbagai perdebatan seputar game The Veilguard, game tersebut tetap konsisten pada janjinya untuk menjadikan Solas sebagai figur sentral dan merangkum perjalanan karakternya dengan sangat memuaskan. Mulai dari prolog mencekam yang menggambarkan Dread Wolf sebagai penjahat utama yang wajib dihentikan bagaimanapun caranya, hingga peran lanjutannya sebagai sekutu yang meragukan sekaligus tahanan dengan motif tersembunyi, Solas tetap menjadi salah satu karakter terbaik dalam seri Dragon Age. Para pemain juga diberikan kebebasan untuk menentukan nasib akhirnya melalui beberapa cara, termasuk bertarung secara langsung, mengecohnya, atau meyakinkannya agar bersedia melakukan pengorbanan yang diperlukan secara sukarela.

Torchlight & Torchlight 2

Mengambil Status Penerus Diablo 2 Secara Harfiah

Selama kurun waktu tertentu, seri Torchlight dikenal sebagai penerus sejati dari Diablo 2, sehingga sangat menarik melihat bagaimana sekuelnya mengadopsi pola trope pahlawan menjadi penjahat serupa dari game legendaris yang menjadi inspirasinya dengan sentuhan tersendiri. Sebagai pengingat, dalam Diablo 2 para pemain harus menghadapi Diablo yang merasuki tubuh Warrior dari game pertamanya—karakter yang sebelumnya berhasil mengalahkan iblis tersebut dan berupaya mengurungnya di dalam diri sendiri. Dalam Torchlight 2, plot twist yang dihadirkan kurang lebih serupa: Alchemist, salah satu dari tiga pahlawan yang dapat dimainkan dari game pertamanya, berubah menjadi penjahat utama di sekuel ini dan menggerakkan keseluruhan cerita meskipun secara teknis ia bukan bos terakhir.

Setelah membantu mengalahkan Ordrak, Alchemist terpengaruh oleh korupsi Ember Blight yang lambat laun membuatnya kehilangan kewarasan, mengubah niat awalnya untuk menyembuhkan infeksi tersebut menjadi sebuah ambisi yang destruktif. Menjelang peristiwa di Torchlight 2, ia telah menghancurkan kota Torchlight dan menyedot kekuatan dari para Elemental Guardians karena diyakini mampu menyembuhkan Blight, meski harus meninggalkan jejak kehancuran di belakangnya. Nasib Alchemist berputar kembali ke titik awal: ia tidak mencari kekuatan semata-mata untuk menghancurkan dunia, melainkan untuk melenyapkan wabah yang dahulu pernah ia bantu basmi, hanya saja kini melalui cara-cara yang menyimpang.

Dragon’s Dogma: Dark Arisen

Memanfaatkan Keunggulan Media Permainan Secara Optimal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *