Resonance: A Plague Tale Legacy membawa perubahan besar bagi waralaba garapan Asobo Studio. Alih-alih melanjutkan kisah Amicia dan Hugo setelah peristiwa dalam A Plague Tale: Requiem, permainan ini mengambil latar waktu di masa lampau dengan menempatkan Sophia sebagai karakter utama, serta mengusung gaya bermain yang lebih berfokus pada aksi di pulau bernuansa mitologi Yunani.
Dalam ajang Gamescom 2026, perwakilan pengembang yang terdiri dari Carol-Ann Bañuls selaku penulis utama dan Valérian Robert selaku perancang tingkat utama membagikan cerita di balik keputusan menjadikan Sophia sebagai protagonis, perombakan formula dasar Plague Tale, perancangan dunia yang sesuai dengan kemampuan sang karakter, serta cara Resonance memperluas mitologi Macula.
Ketika disinggung mengenai kehadiran unsur mitologi Yunani, Bañuls menjelaskan bahwa timnya berkeinginan untuk memperluas cakupan semesta A Plague Tale tanpa menghilangkan ciri khas aslinya. Elemen cerita yang emosional tetap dipertahankan, namun dipadukan dengan mekanisme permainan, sistem pertarungan, dan latar pulau yang baru. Robert menambahkan bahwa tim pengembang memang ingin bereksperimen dengan hal-hal baru, termasuk sistem pertarungan, agar tidak mengulang pola yang sama persis seperti di Requiem.
Meskipun menghadirkan banyak pembaruan, Resonance tetap mempertahankan DNA dari seri pendahulunya. Kedalaman cerita yang emosional, nada cerita yang kelam, serta elemen permainan sembunyi-sembunyi (stealth) dari Requiem tetap dibawa ke dalam game ini.
Terkait penggunaan elemen mitologi, Bañuls menegaskan bahwa mereka tidak sekadar mengadaptasi mitos secara mentah-mentah, melainkan membuat sebuah interpretasi tersendiri. Pendekatan ini mirip dengan dua game sebelumnya yang mengangkat wabah sungguhan di dunia nyata namun dibalut dengan narasi fiksi buatan Asobo Studio, termasuk bagaimana mereka mengolah legenda Minotaur untuk kebutuhan cerita.
Pemilihan Sophia sebagai tokoh sentral didasari oleh kecocokan karakternya untuk memimpin pengalaman baru ini. Sebagai game mandiri, pemain baru tidak diwajibkan untuk menamatkan Innocence atau Requiem terlebih dahulu untuk dapat menikmati jalan cerita Resonance.
Dalam merancang sistem pertarungan yang belum pernah mereka garap sebelumnya, tim pengembang mengambil inspirasi dari berbagai game laga petualangan AAA ternama seperti Ghost of Tsushima, Tomb Raider, Assassin’s Creed, dan Uncharted.
Mengenai nasib Amicia dan Hugo, Bañuls menyatakan bahwa tim ingin menghormati akhir cerita Requiem yang sangat emosional dan intens. Meskipun mereka tidak menutup kemungkinan apa pun di masa depan, fokus saat ini adalah menghadirkan sesuatu yang segar alih-alih mengulang narasi yang sama.
Terkait porsi aksi Sophia yang lebih dominan, Robert menjelaskan bahwa tantangan terbesar adalah mencari keseimbangan agar Sophia tidak terlalu mendominasi pertempuran layaknya pasukan militer, namun tetap mempertahankan elemen ketegangan yang menjadi ciri khas seri ini. Bañuls menambahkan bahwa rasa takut tersebut tetap ada, hanya saja dihadirkan melalui bentuk yang berbeda.
Menanggapi potensi kekhawatiran penggemar lama terhadap perubahan arah permainan, pengembang optimistis bahwa babak awal Resonance sudah cukup untuk membuktikan bahwa jiwa dari Plague Tale masih tetap terjaga di dalamnya.
Menutup perbincangan, ketika ditanya mengenai adaptasi serial televisi A Plague Tale: Innocence yang sempat diumumkan beberapa tahun lalu, Bañuls mengaku bahwa tim pengembang tidak terlibat secara langsung dan belum mengetahui perkembangan terbarunya. Kendati demikian, ia yakin bahwa Asobo Studio pasti menginginkan hasil adaptasi yang berkualitas tinggi jika proyek tersebut benar-benar diwujudkan.








