Anime Corner berkesempatan untuk mewawancarai Reiji Miyajima, pencipta manga Rent-a-Girlfriend, di sela-sela kunjungannya ke DOKOMI di Düsseldorf. Dalam perbincangan tersebut, ia membagikan berbagai pandangan seputar gagasan di balik karyanya, proses kreatif yang ia jalani, serta ketertarikannya pada kisah cinta dan hubungan antarmanusia di era modern.
Tanya: Rent-a-Girlfriend terinspirasi dari fenomena nyata sewa pacar di Jepang. Apa yang membuat Anda tertarik mengangkat konsep ini sebagai fondasi cerita?
REIJI MIYAJIMA: Dalam cerita komedi romantis, biasanya ada tuntutan kecepatan di mana para karakter harus segera bersatu dan menjadi dekat dengan cepat. Fenomena pacar sewaan ini kurang lebih sama—jika Anda membayar, Anda bisa langsung berkencan secepat mungkin. Cara berpikir seperti itu sangat modern, dan justru itulah yang menarik perhatian saya untuk menjadikannya bahan cerita manga sekaligus motif utama, mengingat profesi ini benar-benar ada di dunia nyata.
Tanya: Seri ini menyoroti isu kesepian di era modern dan sulitnya membangun hubungan yang tulus. Sejauh mana hubungan antara Chizuru dan Kazuya mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh anak muda di Jepang saat ini?
REIJI MIYAJIMA: Profesi pacar sewaan ini tergolong baru, sekaligus menjadi simbol masyarakat modern. Saat ini kita dikelilingi oleh media sosial, di mana semakin banyak koneksi yang kita miliki, hubungan tersebut justru menjadi semakin tipis dan dangkal. Di tengah masyarakat seperti itu, Kazuya berkeinginan untuk menjalin hubungan dengan satu orang wanita saja. Sikap tersebut terasa heroik dan memiliki karismanya sendiri, di mana seseorang teguh mempertahankan satu hal. Itulah alasan utama mengapa saya memilihnya sebagai karakter utama.
Tanya: Ketegangan antara perasaan yang “asli” dan “sewaan” menjadi benang merah dalam cerita ini. Apa pesan yang ingin Anda sampaikan mengenai keaslian dalam sebuah hubungan?
REIJI MIYAJIMA: Sambil menggambar dan menulis, saya sendiri masih mencari arti dari hal tersebut dan terus mempertanyakannya. Sekalipun Anda mencintai pasangan dan sudah sangat dekat, Anda tidak akan pernah benar-benar tahu apa yang dirasakan oleh orang lain—baik itu dalam hubungan pacar sewaan maupun hubungan asmara yang nyata. Terkadang saya bahkan berpikir mungkin tidak ada perbedaan sama sekali antara pacar sewaan dan pacar sungguhan. Namun, saya tetap yakin bahwa harus ada perbedaannya. Saya terus mencari jawaban tersebut setiap hari melalui proses menulis.
Tanya: Seri ini memadukan unsur komedi dan momen emosional yang serius. Bagaimana cara Anda meracik keseimbangan antara humor dan kedalaman cerita?
REIJI MIYAJIMA: Saya pribadi sangat menyukai komedi. Secara garis besar, porsinya adalah 90 persen komedi dan 10 persen keseriusan bagi saya. Idealnya adalah ketika pembaca menikmati cerita sambil tertawa, lalu tiba-tiba mereka menyadari bahwa mereka sedang menangis. Kira-kira seperti itulah takaran keseimbangan yang saya inginkan.
Tanya: Banyak karakter Anda yang mengenakan “topeng” atau memainkan peran tertentu. Apakah konsep performatif ini digunakan secara sadar sebagai motif berulang?
REIJI MIYAJIMA: Hal ini berkaitan dengan apa yang saya sebutkan sebelumnya: begitu dua orang dipertemukan, selalu ada semacam topeng atau dinding di antara mereka. Dalam komedi romantis, sering kali ada ekspektasi bahwa semuanya akan berjalan dengan santai dan sederhana. Sayangnya, kenyataannya tidak semudah itu. Banyak pembaca yang mungkin memiliki pengalaman serupa, dan pesan itulah yang ingin saya sampaikan kepada mereka.
Tanya: Chizuru mewakili berbagai sudut pandang ekspektasi terhadap perempuan. Bagaimana cara Anda menggambarkan karakter wanita dalam sebuah komedi romantis, termasuk melakukan riset seperti urusan busana?
REIJI MIYAJIMA: Pertanyaan itu sering diajukan kepada saya, dan saya memang memasukkan unsur fesyen ke dalamnya. Saya mencoba menggambar setiap karakter sesuai dengan bagaimana mereka ingin terlihat. Chizuru, misalnya, merepresentasikan sosok wanita ideal dengan rambut panjang hitamnya. Di sisi lain, Ruka sangat ingin disukai oleh Kazuya, sehingga ia berbusana dengan gaya yang imut secara sengaja dan menonjolkan bentuk tubuhnya. Mami memiliki perawakan yang lebih mungil tetapi dianugerahi kaki yang indah, jadi saya menonjolkan bagian seperti tulang selangkanya. Sementara itu, Sumi yang kurang percaya diri berusaha menunjukkan eksistensinya melalui berbagai detail busana yang manis.
Tanya: Seberapa besar peran kota Tokyo dalam membangun suasana dan tema cerita?
REIJI MIYAJIMA: Saya belum mengunjungi semua kota di dunia dan tidak secara khusus memilih Tokyo karena alasan yang rumit—saya hanya tidak begitu mengenal kota lain, sehingga Tokyo menjadi pilihan yang paling masuk akal. Tokyo adalah kota yang sangat besar, dan setelah tinggal di sini, saya menyadari betapa rapuhnya hubungan antarmanusia. Di sebuah gedung apartemen, orang-orang tinggal berdampingan namun tidak saling mengenal wajah tetangga atau bahkan sekadar bertegur sapa. Situasinya mirip dengan hubungan asmara: kedekatan fisik sama sekali tidak menjamin hati kedua belah pihak saling terhubung. Hal itu sangat menyedihkan, dan saya rasa Tokyo merefleksikan kondisi tersebut dengan sangat akurat.
Tanya: Seri ini meraih kesuksesan besar di kancah internasional. Menurut Anda, mengapa cerita ini dapat diterima dengan baik melintasi batas-batas budaya?
REIJI MIYAJIMA: Sepertinya hampir setiap orang pernah merasakan jatuh cinta, dan itulah sebabnya tema ini mudah dipahami oleh siapa saja. Rapuhnya hubungan antarmanusia juga terjadi di luar Jepang; ini adalah isu universal di zaman kita. Saya sendiri menikmati tontonan serial dan film asing. Beberapa nilai dalam budaya Jepang mungkin terlalu khas, tetapi melalui apresiasi terhadap karya luar negeri, saya berharap karya saya sendiri bisa menjadi sedikit lebih universal.
Tanya: Apakah ada film, serial, atau buku barat yang memengaruhi cara Anda bertutur dalam cerita romantis?
REIJI MIYAJIMA: Saya sangat menyukai Breaking Bad, Lost, dan Game of Thrones. Karya-karya yang sangat kita sukai biasanya akan kita tonton berulang kali, dan pada akhirnya kita baru menyadari bahwa konsep-konsep serupa telah tebawa ke dalam karya ciptaan kita sendiri.
Tanya: Banyak penggemar berdiskusi secara antusias mengenai berbagai karakter wanita dalam cerita. Bagaimana Anda menyikapi opini dan ekspektasi yang kuat dari komunitas?
REIJI MIYAJIMA: Ada penggemar yang memberikan dukungan penuh kepada karakter favorit mereka. Namun, saya tidak secara aktif memasukkan reaksi penggemar ke dalam alur cerita yang sedang berjalan. Meskipun demikian, secara tidak sadar, ada kemungkinan sebagian dari masukan tersebut merembes ke dalam perkembangan cerita di masa mendatang.
Tanya: Jika Anda harus merangkum pesan utama atau inti emosional dari cerita ini dalam satu kalimat, seperti apa bunyinya?
REIJI MIYAJIMA: Karya komedi romantis juga sering kali menjadi favorit pribadi saya. Jatuh cinta itu sulit dan terkadang menyakitkan—meskipun bukan berarti tidak ada sisi bahagianya, namun sisi yang menyakitkan itu tetap ada. Orang-orang yang jatuh cinta pasti bergulat dengan berbagai kerumitan dalam hubungan mereka, dan itulah yang saya gambarkan dalam seri ini melalui balutan komedi yang menghibur. Apakah cinta tersebut pada akhirnya akan berujung bahagia atau tidak, kita tidak pernah tahu. Namun, siapa pun yang membaca kisah ini harus bisa menikmatinya. Pesan saya adalah: mari tetap mencintai, terlepas dari segala rintangan yang ada.
Tanya: Bagaimana perjalanan Anda hingga akhirnya bisa menjadi seorang mangaka? Adakah momen tertentu yang membuat Anda yakin ingin menjadi seorang penulis cerita?
REIJI MIYAJIMA: Sejak kecil saya sangat suka menggambar dan sering mendapatkan pujian karenanya. Kemudian saat duduk di bangku SMP, saya membaca One Piece dan merasa sangat terkesan. Dari sanalah saya menyadari bahwa manga bukanlah sebuah kisah nyata, melainkan sebuah bentuk “kebohongan” atau fiksi. Seorang seniman tunggal mampu menciptakan fiksi tersebut sepenuhnya seorang diri dan menggerakkan hati banyak orang melalui karyanya. Hal itulah yang sangat memikat hati saya sejak dini.
Tanya: Bagaimana proses kreatif Anda dimulai ketika menggarap bab baru—apakah berawal dari visual gambar atau dari alur cerita?
REIJI MIYAJIMA: Secara garis besar, saya selalu memulainya dari cerita. Saat mengerjakan Rent-a-Girlfriend, saya ingin membuat sebuah komedi romantis, jadi saya mencari motif yang sesuai terlebih dahulu sebelum mengumpulkan berbagai informasi serta materi pendukung di sekitarnya.
Tanya: Karakter mana dalam Rent-a-Girlfriend yang paling mirip dengan diri Anda secara pribadi, dan apa alasannya?
REIJI MIYAJIMA: Karakter yang paling dekat dengan saya adalah sang protagonis, Kazuya. Hubungan kami ibarat bayangan kembar: apa yang saya pikirkan, kurang lebih itulah yang dipikirkan oleh Kazuya.
Tanya: Bagaimana perkembangan gaya gambar Anda sejak bab pertama hingga sekarang?
REIJI MIYAJIMA: Gaya gambar saya telah berubah cukup drastis, meskipun hal itu tidak terjadi secara sengaja. Seiring dengan pertumbuhan diri saya sebagai seniman, gaya gambar tersebut ikut bergeser secara alami. Ketika melihat kembali bagian awal cerita hari ini, saya sendiri merasa terkejut melihat seberapa banyak perubahan yang telah terjadi.
Tanya: Seperti apa keseharian Anda dalam bekerja? Anda juga dibantu oleh para asisten—bagaimana pembagian tugasnya, dan bagian mana yang paling Anda sukai untuk dikerjakan sendiri?
REIJI MIYAJIMA: Karena saya bekerja untuk majalah mingguan, praktis setiap hari terasa berbeda. Hari kerja yang panjang biasanya dimulai dengan bangun tidur pukul 6:30 pagi dan mulai menggambar pukul 7:00 pagi. Waktu makan siang pukul 11:30, lalu saya melanjutkan menggambar dari pukul 13:00 hingga sekitar pukul 18:00, dilanjutkan kembali hingga pukul 20:00 atau 21:00, dan berlanjut sampai pukul 23:00 malam. Itu adalah hari yang sangat panjang, tetapi saya hanya menjalaninya sekali dalam seminggu. Bagian yang paling saya sukai adalah menggambar para karakter dengan tangan saya sendiri. Sementara itu, para asisten membantu mengerjakan hal lain seperti latar belakang. Dialog serta seluruh konsep konten dikerjakan sendiri oleh saya, termasuk koreksi-koreksi kecil—sedangkan sisanya ditangani oleh para asisten.
Tanya: Seberapa besar peran editor dalam membantu pengembangan cerita Anda?
REIJI MIYAJIMA: Di Jepang, editor memegang peran yang sangat krusial. Saya menyampaikan gagasan serta pesan yang ingin saya sampaikan kepada editor. Ia kemudian membacanya dari sudut pandang profesional sebagai pembaca perwakilan dan memberikan masukan mengenai cara agar pesan tersebut dapat tersampaikan dengan lebih baik serta pemilihan ekspresi yang tepat.
Tanya: Bagaimana cara Anda mengatasi tekanan tenggat waktu mingguan atau berkala?
REIJI MIYAJIMA: Saya tidak bisa menulis dan menggambar dengan baik di bawah tekanan. Oleh karena itu, saya selalu berusaha menyelesaikan semuanya secepat mungkin, jauh sebelum batas waktu yang ditentukan. Itu adalah strategi yang bagus: jika Anda bisa menyelesaikannya lebih awal, Anda bisa melanjutkan bab berikutnya dengan pikiran yang lebih tenang.
Tanya: Bagaimana perasaan Anda saat menyaksikan para karakter ciptaan Anda dihidupkan melalui adaptasi anime?
REIJI MIYAJIMA: Melalui anime, karakter-karakter tersebut dapat bergerak dan bersuara secara langsung—menyaksikan hal itu memberikan kesenangan tersendiri. Manga dan anime memiliki cara kerja yang berbeda: manga dibuat khusus untuk para pembaca, sementara dalam anime banyak hal diwujudkan dengan pendekatan yang berbeda. Sangat menarik bagi saya melihat beberapa hal diekspresikan dengan cara tertentu di manga, tetapi tampil sangat berbeda di versi anime. Terlebih lagi, lewat anime, karya saya dapat menjangkau seluruh dunia. Hal itu sangat luar biasa.
Tanya: Manga atau mangaka mana yang paling Anda kagumi?
REIJI MIYAJIMA: Ada seorang mangaka yang telah saya kagumi sejak lama, yaitu Yuichi Kumakura.
Tanya: Nasihat apa yang ingin Anda berikan kepada calon mangaka yang baru memulai karier mereka?
REIJI MIYAJIMA: Saran saya sangat sederhana: banyak-banyaklah menggambar, dan lakukan dengan penuh kegembiraan. Ada juga platform pembelajaran bernama “Kakikomi.” Situs tersebut saat ini belum diterjemahkan, tetapi ada rencana untuk memperluasnya bagi audiens internasional. Platform tersebut semacam sekolah menggambar, dan saya juga turut memberikan ulasan serta umpan balik secara pribadi di sana.
Tanya: Apakah ada genre atau jenis cerita lain yang ingin Anda coba di masa depan?
REIJI MIYAJIMA: Saat ini saya belum memikirkan hal itu terlalu jauh—fokus utama saya adalah menyelesaikan serial ini terlebih dahulu. Secara umum, selalu ada unsur percintaan di setiap karya saya; itulah genre yang paling saya sukai. Apakah nantinya saya akan tetap berkecimpung di bidang yang serupa atau mencoba sesuatu yang sama sekali berbeda, itu masih menjadi hal yang terbuka.
Tanya: Apa yang ingin Anda sampaikan kepada para pembaca di Jerman dan Eropa?
REIJI MIYAJIMA: Saat ini saya berkunjung ke luar negeri sebagai turis untuk pertama kalinya; saya belum pernah tinggal di luar negeri sebelumnya dan praktis hampir tidak memiliki kontak dengan orang-orang di luar Jepang. Namun, seperti yang saya katakan tadi: tidak ada satu pun orang di dunia ini yang belum pernah jatuh cinta, dan setiap orang pasti pernah melewati pengalaman yang menyakitkan. Meskipun demikian, saya berharap para pembaca dapat menemukan keberanian saat membaca karya saya atau menyaksikan perjuangan Kazuya. Itulah hal utama yang ingin saya berikan kepada mereka.
Tanya: Bagaimana kesan Anda terhadap DOKOMI di Düsseldorf serta para penggemar di Jerman?
REIJI MIYAJIMA: Kesan saya sangat baik—acara ini jauh lebih besar dari yang saya bayangkan, dan masih banyak hal yang bahkan belum sempat saya lihat. Orang-orang di sini jauh lebih ekspresif dan penuh gairah. Mungkin antusiasme terhadap manga dan anime begitu kuat justru karena mereka tinggal jauh dari Jepang. Jepang juga memiliki acara serupa dengan pengunjung yang membludak, tetapi suasananya terasa sedikit berbeda dan tidak terlalu memancarkan aura festival seperti di sini. Orang-orang di sini bersenang-senang dan menikmati waktu mereka dengan sangat luar biasa.
Tanya: Terima kasih banyak atas waktu Anda! Ini sungguh menyenangkan!
Image Copyrights ©Reiji Miyajima, KODANSHA/″Kanojo Okarishimasu” Production Committee








