Merek busana asal Jepang, MAYLA, untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam konvensi AnimagiC di Jerman. Dalam ajang tersebut, mereka memamerkan sekaligus menjual berbagai produk hasil kolaborasi dengan waralaba populer seperti Black Butler, Attack on Titan, Hatsune Miku, NieR:Automata, dan Violet Evergarden.
Di sela-sela acara, kami berkesempatan berbincang dengan General Manager MAYLA, Natsumi Ikegami. Diskusi tersebut membahas filosofi di balik kolaborasi mereka dengan berbagai judul anime, cara mereka menerjemahkan estetika permainan video dan anime ke dalam rancangan busana, serta visi masa depan merek tersebut.
Q: Apa arti di balik nama “MAYLA”?
A: MAYLA merepresentasikan sosok “diriku yang kecil” yang belum memiliki nama untuk memulai kisahnya. Setiap individu menyimpan sisi diri yang unik di dalam diri mereka. Suatu hari, kita menyadari keberadaan sosok kecil tersebut dan memberikan sebuah nama pilihan kita sendiri. Sebelum nama itu ditemukan, MAYLA menjadi sebutan sementara. Oleh karena itu, kami mendefinisikan MAYLA sebagai “nama depan” yang diberikan kepada seseorang pada permulaan kisah hidupnya.
Q: Produk-produk Anda memadukan estetika Eropa dan Jepang. Mengapa kombinasi ini dinilai berhasil?
A: Sebagian besar rancangan MAYLA menggabungkan kehalusan, ketelitian kerajinan tangan, serta perhatian pada detail khas Jepang dengan gaya klasik yang kaya akan dekorasi. Kami percaya bahwa emosi seperti rasa antusias, nuansa estetika yang menggemaskan, serta apresiasi terhadap keindahan dapat melintasi berbagai batasan budaya.
Berinteraksi secara langsung dengan para pelanggan di Eropa memberikan kesan mendalam bagi kami. Kami kagum karena detail rumit, pemilihan warna, serta pembentukan dunia fiksi yang disukai pelanggan di Jepang ternyata juga sangat diminati oleh para konsumen di Eropa.
Q: Bagaimana awal mula keputusan Anda untuk berkolaborasi dengan waralaba permainan video dan anime?
A: Kami meyakini bahwa anime dan permainan video merupakan bagian dari kebudayaan Jepang yang patut dibanggakan di kancah global serta menjadi industri unggulan negara ini. Melalui perpaduan antara narasi mendalam dari karya-karya tersebut dan kreativitas merek Mayla Classique dalam mengekspresikan fantasi melalui mode, kami ingin menciptakan nilai baru yang belum pernah ada sebelumnya dan membawanya ke seluruh dunia.
Q: Dari NieR:Automata hingga Jojo’s Bizarre Adventure, portofolio kolaborasi Anda sangat beragam. Kriteria apa yang digunakan untuk memilih merek mitra?
A: Salah satu hal utama yang kami pertimbangkan adalah kemampuan untuk menyampaikan keunikan suatu karya melalui desain dan pengerjaan khas MAYLA. Selain itu, rasa hormat yang tulus terhadap karya tersebut merupakan hal yang mutlak. Tanpa pemahaman dan kecintaan yang mendalam, akan sulit menerjemahkan detail-detail kecil yang sangat berarti bagi para penggemar.
Q: Apa tantangan terbesar saat mengadaptasi estetika anime ke dalam produk fesyen?
A: Tantangan utamanya adalah menjaga keseimbangan antara identitas karya asli dan keindahan produk sebagai barang fesyen. Jika tujuannya sekadar membuat karya asli mudah dikenali, kami bisa saja langsung menempelkan karakter atau logo begitu saja. Namun, MAYLA mengutamakan produk yang sekilas tampak sebagai barang fesyen elegan, sementara para penggemar sejati dapat mengenali detail tersembunyi dari karakter favorit mereka.
Q: Apakah bekerja sama dengan judul-judul bernuansa klasik Eropa seperti Bungo Stray Dogs, Black Butler, atau Violet Evergarden terasa lebih mudah?
A: MAYLA memang berspesialisasi dalam desain klasik dan dekoratif, sehingga ada kecocokan yang kuat dengan latar dunia tersebut. Kendati demikian, justru karena kesesuaian alami itu, kami harus berhati-hati agar tidak sekadar menciptakan desain yang tampak pas, melainkan menggali keunikan estetika yang hanya dimiliki oleh masing-masing karya melalui analisis warna, kostum, motif, serta latar belakang ceritanya.
Q: Anda juga berkolaborasi dengan banyak judul shonen meski fokus pada alas kaki wanita. Apakah profil pembelinya sesuai dengan perkiraan?
A: Target audiens utama sebuah karya tidak selalu sama persis dengan konsumen produk MAYLA. Sebagian pelanggan mengenal merek kami karena menyukai suatu judul tertentu dan akhirnya mencoba produk fesyen yang sebelumnya tidak pernah mereka lirik. Sebaliknya, ada pula yang terpikat oleh desain produknya terlebih dahulu sebelum akhirnya tertarik dengan karya aslinya.
Q: Bagaimana cara Anda menentukan elemen kunci untuk menangkap esensi sebuah anime ke dalam rancangan produk?
A: Kami memulainya dengan mendalami karakter dan jalan cerita. Kami menelaah warna, kostum, motif simbolis, kepribadian, hingga peran karakter dalam narasi. Alih-alih memasukkan seluruh elemen, kami memilih detail paling esensial yang mendefinisikan karakter tersebut agar tetap otentik.
Q: Apa yang menjadi titik awal pembuatan sebuah koleksi baru?
A: Hal tersebut bergantung pada karyanya dan inspirasi yang dirasakan oleh perancang. Terkadang prosesnya berawal dari karakternya, namun bisa juga terinspirasi dari adegan ikonik atau kostum tertentu. Kami selalu mengawali proses kreatif dengan pertanyaan mendasar: “Jika MAYLA menerjemahkan karya ini, seperti apa bentuk produk yang seharusnya?”
Q: Apakah Anda pernah diminta mengubah desain oleh pemilik lisensi, dan apa alasannya?
A: Tentu saja. Dalam kolaborasi kekayaan intelektual, menjaga keaslian dunia dan karakter dari karya aslinya adalah hal yang krusial. Pemilik lisensi telah merawat karya tersebut selama bertahun-tahun, dan proses peninjauan ini membantu kami melihat aspek-aspek penting yang mungkin terlewat.
Oleh karena itu, kami tidak menganggap proses peninjauan tersebut sebagai sekadar koreksi, melainkan bentuk kerja sama untuk menyempurnakan produk demi kepuasan para penggemar.
Q: Bagaimana kesan Anda saat berinteraksi langsung dengan para penggemar di Eropa dalam ajang AnimagiC?
A: AnimagiC menjadi kesempatan yang sangat berharga. Kami terkesan saat mendengar pengunjung yang baru pertama kali melihat produk MAYLA menyebutnya sebagai sebuah “karya seni” yang indah.
Meskipun memiliki budaya dan bahasa yang berbeda, ekspresi antusiasme masyarakat Eropa saat mengenali barang dari karya favorit mereka tidak ada bedanya dengan para pelanggan di Jepang. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap keindahan dapat menjangkau berbagai batasan budaya.
Q: Apakah ada karakteristik khusus yang diminati oleh konsumen Eropa?
A: Kami melihat respons yang sangat positif terhadap produk-produk dekoratif yang memiliki daya tarik visual yang kuat sejak pandangan pertama. Selain barang kolaborasi, banyak pengunjung yang juga menjajal produk orisinal Mayla Classique.
Q: Apakah sebagian besar pelanggan benar-benar mengenakan produk tersebut atau menyimpannya sebagai koleksi?
A: Kami memiliki kedua jenis pelanggan tersebut. Sebagian orang memakainya sebagai bagian dari fesyen sehari-hari, sementara yang lain merawatnya sebagai barang koleksi. Oleh sebab itu, MAYLA selalu memperhatikan aspek kegunaan sekaligus kepuasan dalam memiliki barang tersebut.
Kami merancang tidak hanya produknya, tetapi juga kemasan serta pengalaman saat memajangnya, sehingga setiap orang dapat menikmati produk MAYLA dengan cara mereka sendiri tanpa batasan usia maupun gender.
Q: Apakah ada rencana untuk memperluas jangkauan pasar internasional di masa mendatang?
A: Ya, ekspansi global merupakan salah satu fokus utama kami ke depan. Setelah menggelar pameran pop-up di Taiwan dan berpartisipasi di AnimagiC Jerman pada tahun 2026, kami berencana untuk terus hadir di berbagai acara anime dan fesyen di negara-negara lain, termasuk di Eropa.
Kami juga ingin bekerja sama dengan pihak lokal di berbagai wilayah untuk menciptakan cerita dan proyek baru. Pengalaman di Jerman semakin memotivasi kami untuk mendalami pasar internasional.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak MAYLA yang telah meluangkan waktu untuk membagikan wawasan mengenai proses kreatif mereka.
Bagi Anda yang memiliki kesempatan, jangan lewatkan kunjungan ke toko baru mereka di Harajuku, Tokyo!








