Seikan Tunnel merupakan terowongan bawah laut yang menghubungkan pulau utama Jepang, Honshu, dengan pulau utamanya di bagian utara, Hokkaido. Di setiap ujung terowongan ini, terdapat sebuah stasiun kereta api, yaitu Stasiun Yoshioka-Kaitei yang terletak di Fukushima, Hokkaido, serta Stasiun Tappi-Kaitei yang berada di Sotogahama, Honshu.

Kedua stasiun tersebut baru-baru ini berhenti beroperasi sebagai stasiun penumpang reguler akibat proyek pembangunan jalur kereta kecepatan tinggi yang baru. Setelah melayani penumpang selama puluhan tahun, kedua stasiun ini tentu menyimpan banyak cerita menarik.
Pengenalan
Wawancara ini mempertemukan pewawancara dengan dua stasiun legendaris tersebut. Yoshioka-Kaitei berada di ujung utara Seikan Tunnel, sementara Tappi-Kaitei terletak di ujung selatan. Keduanya sempat bernostalgia mengenai perjalanan panjang mereka sejak dibuka bersama pada tahun 1988, sebuah era penuh kegembiraan sebelum tantangan ekonomi melanda Jepang.


Mengenal Seikan Tunnel
Seikan Tunnel membentang di bawah Selat Tsugaru, perairan yang memisahkan Honshu dan Hokkaido. Gagasan mengenai terowongan ini muncul setelah Perang Dunia Kedua ketika lonjakan ekonomi membuat pengiriman barang antar-pulau meningkat drastis, sehingga alternatif selain kapal feri sangat dibutuhkan.

Proses survei dimulai sejak tahun 1940-an dengan mempertimbangkan kondisi geografis yang rawan gempa dan gunung berapi. Pembangunan fisik baru dimulai pada tahun 1971 dan memakan waktu hampir dua dekade sebelum akhirnya rampung pada akhir tahun 1980-an.
Perbandingan dengan Terowongan Lain di Dunia
Terowongan bawah laut bukan hanya milik Jepang. Di Inggris, terdapat Thames Tunnel yang tercatat sebagai terowongan transit di bawah air yang pertama di dunia, serta Severn Tunnel. Selain itu, terdapat Channel Tunnel yang menghubungkan Inggris dan Prancis.

Jika dibandingkan, Seikan Tunnel memegang rekor sebagai terowongan keseluruhan terpanjang yang memiliki bagian bawah laut, dengan total panjang sekitar 54 kilometer. Bagian bawah laut Channel Tunnel memang lebih panjang, namun bentang keseluruhan Seikan Tunnel tetap lebih unggul.
Di Jepang sendiri, terdapat pula Tokyo Bay Aqua-Line yang melintasi Teluk Tokyo dan menjadi terowongan jalan raya bawah air terpanjang di dunia. Ada pula Kanmon Tunnel yang dibangun pada dekade 1930 hingga 1940-an untuk menghubungkan Honshu dengan Kyushu.

Alasan Pemilihan Terowongan
Meskipun pembangunan terowongan membutuhkan biaya yang sangat besar, moda transportasi ini menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan jembatan atau kapal feri. Jembatan dinilai rentan dan kurang efisien untuk beberapa kondisi, sementara kapal feri sangat bergantung pada cuaca. Tragedi badai pada tahun 1950-an yang menenggelamkan beberapa kapal feri di Selat Tsugaru menjadi salah satu alasan kuat beralih ke terowongan.

Dengan melintas di bawah laut, konsumsi bahan bakar menjadi lebih efisien, terhindar dari gelombang ekstrem, serta tidak mengganggu lalu lintas kapal maupun ekosistem laut.
Faktor Keamanan

Aspek keselamatan merupakan prioritas utama dalam operasional terowongan bawah laut, terutama penanggulangan bahaya kebakaran. Seikan Tunnel dilengkapi dengan sistem ventilasi canggih untuk menyedot asap, detektor panas modern, alat penyiram air otomatis, serta sistem pengawasan terpadu.
Stasiun Yoshioka-Kaitei dan Tappi-Kaitei juga dirancang untuk berfungsi sebagai jalur evakuasi darurat jika terjadi situasi yang tidak diinginkan. Di balik keamanan operasionalnya, pembangunan terowongan ini menuntut pengorbanan besar, termasuk korban jiwa dari para pekerja selama proses pengeboran berlangsung.
Dampak Proyek Hokkaido Shinkansen
Stasiun Yoshioka-Kaitei ditutup pada tahun 2006, disusul oleh Tappi-Kaitei pada tahun 2013, demi kelancaran proyek pembangunan Hokkaido Shinkansen. Jalur kereta kecepatan tinggi yang mampu melaju di atas 200 kilometer per jam ini direncanakan beroperasi penuh untuk menghubungkan wilayah tersebut.

Meskipun tidak lagi melayani penumpang reguler, kedua stasiun ini tetap aktif membantu proyek konstruksi sebagai tempat penyimpanan material dan siaga sebagai jalur evakuasi darurat.









