Di bagian utara Prefektur Hyogo, terdapat sebuah taman dengan nilai ilmiah tinggi yang terletak tidak jauh dari Stasiun JR Kinosaki atau Stasiun JR Toyooka. Tempat ini dikenal sebagai Genbudō Park (玄武洞公園), sebuah kawasan yang memiliki lima gua basalt unik yang masing-masing dinamai berdasarkan empat makhluk mitologi Tiongkok kuno.
Lokasi ini cukup dekat dengan Kinosaki Onsen town, sehingga sangat mudah dikunjungi dalam hari yang sama. Pilihan transportasi untuk menuju ke taman dan museumnya meliputi bus, taksi, ataupun kombinasi kereta dan perahu jika kondisi cuaca memungkinkan. Menyewa sepeda juga menjadi opsi yang sangat disarankan karena perjalanan dari Kinosaki hanya memakan waktu sekitar lima belas menit saja.
Meski sudah memasuki bulan Juni, pengunjung masih dapat melihat beberapa bunga camelia yang mekar bersama jenis bunga indah lainnya. Datang pada sore hari memberikan keunggulan tersendiri karena suasana yang lebih sepi memungkinkan pengunjung menikmati jalan-jalan santai dengan tenang. Kelebihan lainnya, taman semacam ini biasanya tidak mengenakan biaya masuk serta memiliki jam operasional yang cukup fleksibel.

Jika menilik sejarahnya, para ahli geologi menemukan bahwa aktivitas basalt alkali olivin sempat terjadi di sepanjang pesisir Laut Jepang pada Periode Kuarter, yaitu rentang waktu dari 2.588.000 tahun lalu hingga masa kini. Bukti aktivitas vulkanik ini bahkan ditemukan hingga wilayah barat daya Jepang, dengan Hyogo sebagai titik paling timur dari temuan tersebut.
Aktivitas geologi ini memicu letusan gunung berapi sekitar 1,6 juta tahun lalu. Lava yang dimuntahkan kemudian mendingin dan memadat, namun proses penyusutan tersebut memunculkan retakan-retakan. Retakan ini merambat ke arah atas—berlawanan dengan arah aliran lava semula—dan membentuk struktur tiang kekar kolom (columnar joints) yang tampak menyerupai pola sarang lebah raksasa. Fenomena alam inilah yang kemudian memicu berbagai penemuan ilmiah penting di kemudian hari.
Gua Pertama: Genbudō

Setibanya di lokasi pada sore hari menjelang senja, suasana taman terlihat lengang. Menyusuri jalur tangga batu membawa pengunjung tiba di gua pertama yang bernama Genbudō. Sebagai gua terbesar di antara kelima gua di kompleks tersebut, formasi batuan di sini tampak begitu luar biasa hingga terkesan seperti bukan berasal dari bumi.
Berdasarkan catatan sejarah, seorang sarjana Konfusianisme dari Keshogunan Tokugawa bernama Shibano Ritsuzan (柴野栗山) mengunjungi tempat ini pada tahun 1807. Ia memutuskan untuk menamainya Genbudō karena bentuk formasi batuan tersebut mengingatkannya pada salah satu makhluk legendaris Tiongkok, yaitu Genbu sang Kura-Kura Hitam.
Beberapa dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1884, seorang ahli geologi dari Universitas Tokyo bernama Koto Bunjiro (小藤文次郎) mendapat tugas untuk menentukan nama Jepang untuk batuan basalt. Ia memilih nama Genbugan (玄武岩) yang secara harfiah berarti batu-Genbu, diambil dari nama gua ini (Genbu + gua).
Perkembangan penting berikutnya terjadi pada tahun 1929 ketika seorang ahli geofisika dan paleomagnetologi asal Jepang, Matsuyama Motonori (Matsuyama Motonori / 松山基範), menemukan bahwa orientasi kemagnetan purba pada basalt tersebut berlawanan arah dengan medan magnet bumi saat ini. Dari temuan itu, ia berteori bahwa kutub magnet Bumi pernah berada pada posisi terbalik di masa lalu, dan pembalikan tersebut terjadi ketika Genbudō masih dalam proses pembentukan.
Teori ini kini telah diakui secara luas, di mana periode pembalikan kutub magnet bumi yang terjadi antara 2,6 juta hingga 780.000 tahun lalu diabadikan dalam istilah Matsuyama Reversed Polarity Epoch (Matsuyama Gyakujikigoku / 松山逆磁極期).
Pemandu Wisata

Bagi pengunjung yang ingin mendalami sejarah dan informasi geologi tempat ini, tersedia layanan pemandu wisata sukarela mulai pukul 09.00 hingga 16.00. Meskipun tidak ada batasan waktu bagi pengunjung untuk menikmati area taman, fasilitas pusat informasi dan para pemandu biasanya akan meninggalkan lokasi pada pukul 17.00 sore.
Layanan tur ini dikenakan biaya yang sangat terjangkau, yakni ¥300 per orang untuk kunjungan ke dua gua, atau ¥500 per orang untuk tur lengkap yang mencakup kelima gua. Tersedia pula tarif khusus rombongan untuk kelompok berisi 16 orang atau lebih. Pemandu wisata lokal umumnya menyampaikan penjelasan dalam bahasa Jepang, sehingga hal ini juga bisa menjadi sarana latihan bahasa yang baik, sementara papan informasi berbahasa Inggris juga telah tersebar di berbagai sudut taman.
Gua Kedua: Seiryūdō

Mengambil jalur di sebelah kanan gua utama akan mengarahkan pengunjung ke Seiryūdō (青龍洞), yang dinamai berdasarkan makhluk mitologi Naga Biru (Azure Dragon). Bersama Genbudō, gua ini telah ditetapkan sebagai harta karun nasional sejak tahun 1931.
Gua ini memiliki tinggi mencapai tiga puluh tiga meter, menjadikannya pemilik struktur kekar kolom terpanjang di antara kelima gua yang ada—jauh melebihi rata-rata tinggi kolom normal yang biasanya berkisar sekitar lima belas meter. Selain itu, formasi tiang batu yang menjulang tinggi di gua ini juga menghadirkan pantulan yang sangat memukau pada permukaan air di bawahnya.

Gua Ketiga: Byakkodō

Bergerak ke sisi kiri dari Genbudō terdapat tiga gua lainnya. Gua pertama di kelompok ini adalah Byakkodō (白虎洞) yang mengambil nama dari Macan Putih (White Tiger). Berbeda dari Genbudō dan Seiryūdō yang tiang batunya tersusun secara vertikal, formasi di Byakkodō cenderung horizontal, memungkinkan pengunjung untuk melihat detail potongan melintang batuan dari jarak yang sangat dekat.
Gua Keempat: Minami-Suzakudō

Gua berikutnya dalam kelompok sebelah kiri adalah Minami-Suzakudō (南朱雀洞) atau Gua Suzaku Selatan, yang dinamai berdasarkan Burung Vermilion (Suzaku) atau yang sering disamakan dengan burung phoenix. Di sini, pengunjung juga dapat leluasa mengamati struktur gua secara dekat langsung dari jalur pejalan kaki.
Gua Kelima: Kita-Suzakudō

Gua terakhir dinamai Kita-Suzakudō (北朱雀洞) atau Gua Suzaku Utara. Karena letaknya yang berdekatan dan ukurannya yang relatif kecil, kedua gua ini berbagi nama dari makhluk mitologi yang sama. Bagian yang menarik dari gua ini adalah gradasi formasi kolom batunya yang berawal secara vertikal di bagian bawah lalu berangsur-angsur berubah menjadi horizontal di bagian atas. Apabila dipotret dari sudut ketinggian tertentu, formasi tersebut tampak menyerupai siluet Burung Vermilion.

Sumber: Photozou
Batuan Segi Lima dan Segi Enam

Di seluruh area taman, pengunjung akan sering menjumpai batuan berbentuk segi lima dan segi enam, baik di dalam gua maupun berserakan di atas tanah. Batu-batu ini dikenal sebagai Rokkaku-ishi/Rokkaku-seki (六角石) atau Nada-ishi (灘石), yang terbentuk akibat retakan transversal pada tiang-tiang kolom basalt.
Selama periode Edo, masyarakat setempat menambang batuan dari Genbudō untuk berbagai keperluan praktis. Contoh pemanfaatannya dapat dilihat pada dinding pelindung banjir di sepanjang Sungai Otani, serta sebagai batu pemberat tradisional untuk proses pembuatan acar Jepang (tsukemono) yang dipamerkan di museum setempat.
Gen-san dan Museum

Tepat di bagian depan taman terdapat sebuah museum kecil yang beroperasi pukul 09.00 hingga 17.00. Museum ini menyimpan berbagai koleksi batuan serta informasi sejarah geologi, sekaligus menjadi tempat tinggal bagi maskot resmi kawasan ini yang bernama Gen-san.
Maskot unik ini biasanya hadir menyapa pengunjung pada akhir pekan dan hari Senin pukul 10.30 hingga 14.00. Menariknya, jika museum sedang buka dan tidak ada petugas yang mengenakan kostum tersebut, pengunjung diberi kesempatan untuk mengenakan kostum Gen-san sendiri seharga ¥200 untuk menghibur wisatawan selama tiga puluh menit.
Selain itu, Sungai Otani yang mengalir di dekat kawasan ini dihiasi oleh pepohonan willow di kota onsen Kinosaki, di mana batuan basalt juga dapat ditemukan di beberapa titiknya. Pihak pengelola juga tengah merencanakan fasilitas museum baru yang dijadwalkan untuk melengkapi destinasi wisata ini.
Bangunan Misterius di Seberang Sungai

Pemandu wisata setempat kadang kala menceritakan kisah lokal mengenai sebuah bangunan berwarna cokelat terbengkalai di seberang sungai. Konon, bangunan tersebut merupakan proyek hotel yang mangkrak sejak tahun 1985 dan sering dikaitkan dengan cerita-cerita misterius, menambah nuansa unik di balik kunjungan wisata edukasi ini.
Pemandangan yang Tenang dan Mengesankan

Secara keseluruhan, Genbudō Park menawarkan pengalaman wisata geologi yang sangat layak dikunjungi, terutama bagi pelancong yang sedang singgah di wilayah utara Hyogo. Kombinasi antara lanskap gua basalt yang menakjubkan, suasana taman yang tenang, flora yang indah, serta keramahan para pemandu sukarela menjadikan tempat ini destinasi yang ideal bagi pecinta alam maupun penggemar sejarah.
[[MEDIA_0]]
[[MEDIA_1]]







