Mempelajari bahasa Jepang bagi penutur asli bahasa Inggris terkadang terasa sangat menantang, hingga membuat kita lupa bahwa sebenarnya ada beberapa aspek dalam bahasa Jepang yang jauh lebih sederhana dibandingkan bahasa lain. Salah satu contoh terbaik adalah sistem kala atau waktu (tenses) dalam kata kerja bahasa Jepang yang jumlahnya sangat sedikit dan tidak perlu dicemaskan secara berlebihan. Kita mungkin sering lupa akan hal ini karena bentuk lampau yang ada justru terkesan sangat rumit. Akhiran bentuk lampau sebenarnya cukup sederhana jika ditambahkan pada dasar kata yang berakhiran vokal, yaitu cukup menambahkan -ta. Kata taberu dalam bentuk lampau menjadi tabeta, yang tentu sangat mudah dipahami. Namun, praktiknya tidak selalu sesederhana itu. Bagi siapa pun yang sudah mulai mendalami konjugasi kata kerja, Anda pasti menyadari ada banyak kata kerja dengan pola yang jauh lebih kompleks:
- shinu – shinda
- yomu – yonda
- yobu – yonda
- kaku – kaita
- kagu – kaida
- kasu – kashita
Faktanya, pola-pola tersebut sebenarnya memiliki logika tersendiri jika kita mau menyelami detail fonetiknya. Melalui panduan ini, Anda akan mempelajari bagaimana konsonan diproduksi serta aturan yang membatasi jenis suku kata dalam bahasa Jepang. Kombinasi dari aturan-aturan inilah yang menjelaskan mengapa pola bentuk lampau yang selama ini dianggap sebagai pengecualian acak sebenarnya memiliki keteraturan yang sistematis.
Suku Kata Sederhana
Bahasa Jepang meminjam banyak kosakata dari bahasa Inggris. Namun, seperti yang mungkin sudah Anda amati, hal tersebut tidak selalu memudahkan proses pembelajaran. Banyak kata yang menjadi hampir tidak dikenali karena keterbatasan bunyi tertentu dalam bahasa Jepang, serta tambahan bunyi vokal di berbagai tempat. Percaya atau tidak, fenomena ini justru terjadi karena kesederhanaan struktur suku kata bahasa Jepang, bukan karena kerumitannya.
- Bahasa Inggris memperbolehkan banyak konsonan berdempetan, baik di awal maupun di akhir suku kata. Sebaliknya, bahasa Jepang umumnya tidak mengizinkan hal tersebut. Oleh karena itu, rangkaian konsonan di awal kata “story” dipecah dengan menyisipkan vokal menjadi sutorii.
- Dalam bahasa Jepang, sebuah suku kata umumnya bahkan tidak diakhiri oleh satu konsonan saja, sehingga Anda harus menambahkan vokal di akhir kata. Sebagai contoh, kata “beer” dalam bahasa Inggris diserap menjadi biiru.
Kendati demikian, terdapat beberapa pengecualian yang biasanya terletak di tengah kata, termasuk bentuk-bentuk lampau yang telah disebutkan sebelumnya serta banyak contoh lainnya (batas suku kata ditandai dengan titik):
kam.pai
yon.da
gak.koo
kap.pa
yat.ta
Meskipun ada banyak kata dengan pola semacam itu, Anda tidak bisa begitu saja menempatkan huruf m, n, atau p di akhir suku kata secara sembarangan. Jika suku kata tersebut digabungkan secara acak, hasilnya adalah kata-kata yang mustahil diucapkan dalam bahasa Jepang (tanda bintang digunakan oleh para ahli bahasa untuk menandakan bentuk yang tidak valid):
*kap.da
*kam.ta
Generalisasi aturan ini akan menjadi masuk akal setelah kita mencermati karakteristik yang dimiliki oleh konsonan-konsonan tersebut, yang memerlukan pemahaman dasar tentang fonetik.
Klaster Konsonan dan Fonetik
Terdapat dua cara konsonan dapat berdampingan di tengah kata dalam bahasa Jepang. Pertama adalah ketika konsonan tersebut identik atau kembar. Beberapa konsonan dalam bahasa Jepang dapat diucapkan secara panjang, yang dalam ilmu bahasa disebut sebagai geminate. Konsonan jenis ini ditulis dengan huruf kecil tsu di tengah kata, seperti pada gak.koo, yat.ta, dan kap.pa.
Untuk saat ini, kita dapat mencatat konsonan apa saja yang tidak dapat digandakan dengan cara ini: Anda tidak dapat menggandakan huruf b, d, atau g.
Untuk memahami jenis klaster konsonan kedua, di mana dua konsonan yang tidak identik diletakkan berdampingan, kita perlu menguasai tiga elemen dasar fonetik konsonan.
- Konsonan nasal adalah bunyi yang dapat di dengungkan, seperti n dan m. Terdapat tiga bunyi nasal dalam bahasa Jepang, di mana bunyi ketiganya tidak memiliki huruf tersendiri dalam abjad Inggris, tetapi ditulis dengan rangkaian huruf ng, seperti pada akhir kata “sing”.
-
Setiap konsonan memiliki tempat artikulasi, yaitu bagian di dalam mulut yang saling bersentuhan untuk menghasilkan bunyi tersebut. Coba rasakan bagaimana Anda memproduksi bunyi-bunyi berikut:
- m bersifat bilabial: bibir Anda saling bersentuhan saat berdengung.
- n bersifat alveolar: lidah Anda menyentuh bagian gusi di belakang gigi atas.
- (ng) bersifat velar: bagian belakang lidah menyentuh langit-langit lunak di bagian belakang mulut.
Dapatkah Anda merasakannya? Mari kita lanjutkan dengan melihat bagaimana hal ini berlaku pada konsonan lainnya:
- p & b adalah bilabial
- t & d adalah alveolar
- k & g adalah velar
Kita dapat menyusunnya ke dalam sebuah tabel:
Bilabial Alveolar Velar Nasal m n ng (non-nasal) p,b t,d k,g Dari tabel tersebut, kita dapat memahami mengapa hanya kombinasi tertentu antara konsonan nasal dan konsonan berikutnya yang diizinkan: keduanya harus memiliki tempat artikulasi yang sama:
- kam.pai keduanya merupakan bunyi bilabial.
- yon.da keduanya merupakan bunyi alveolar.
Kembali ke topik bentuk lampau, kita memerlukan elemen fonetik ketiga sekaligus karakteristik rumit dalam kosakata bahasa Jepang.
-
Sifat fonetik terakhir ini paling mudah dirasakan melalui bunyi s dan z. Ucapkan bunyi zzzzzz sambil meletakkan jari pada pita suara Anda. Anda akan merasakan getaran kecil, yang menandakan bahwa z bersifat bersuara (voiced). Lakukan hal yang sama pada bunyi ssssss dan Anda tidak akan merasakan getaran apa pun, karena s bersifat tidak bersuara (voiceless).
Sifat ini lebih sulit dirasakan pada konsonan seperti t dan k yang tidak dapat diucapkan secara panjang, sehingga Anda perlu memahami prinsip dasarnya:
- t dan k bersifat tidak bersuara.
- d dan g bersifat bersuara.
Mari kita lengkapi detail tersebut ke dalam tabel:
Bilabial Alveolar Velar Nasal m n ng Voiceless p t,s k Voiced b d,z g
Kini Anda mengetahui konsonan mana saja yang boleh digandakan menjadi geminate, yaitu hanya konsonan yang tidak bersuara seperti p, t, dan k, serta tidak berlaku untuk konsonan bersuara b, d, dan g.
Pembatasan Klaster dan Bentuk Lampau
Setelah memahami aturan umum klaster konsonan dalam bahasa Jepang, hal terakhir yang perlu diketahui adalah adanya sedikit perbedaan pembatasan pada kategori kosakata tertentu.
Klaster konsonan yang diizinkan dalam konjugasi kata kerja sedikit lebih ketat dibandingkan bahasa secara keseluruhan: konsonan yang mengikuti bunyi nasal wajib bersifat bersuara.
Oleh karena itu, bentuk berikut diperbolehkan dalam kata kerja: nd dan mb, karena konsonan kedua bersifat bersuara.
Bentuk berikut tidak diperbolehkan: nt dan mp, karena konsonan kedua tidak bersuara.
Dengan pemahaman tersebut, kita dapat kembali meninjau berbagai bentuk lampau yang tampak rumit agar terlihat lebih masuk akal.
Dalam pembentukan bentuk lampau, idealnya kita bisa langsung menambahkan akhiran –ta pada kata kerja. Sayangnya, struktur suku kata bahasa Jepang seringkali tidak mengizinkan hal tersebut. Akibatnya, berbagai karakteristik konsonan harus menyesuaikan diri melalui kompromi tertentu.
Penyesuaian Konsonan yang Menghasilkan Klaster Nasal-Konsonan
Pada tiga jenis dasar kata kerja, kompromi bunyi menghasilkan klaster konsonan nasal-bersuara yang diizinkan dalam konjugasi:
- Dasar kata berakhiran -n
- shinu (mati).
Anda berniat menggabungkan dasar kata shi(n) dengan akhiran ta. Namun, dalam kata kerja, klaster nasal yang diikuti konsonan tak bersuara tidak diizinkan. Solusinya sangat sederhana: ubah konsonan t pada akhiran ta menjadi bentuk bersuaranya, sehingga menjadi shinda.
- Dasar kata berakhiran -m
- yomu (membaca).
Penggabungan yom+ta memiliki dua masalah: huruf t yang tidak bersuara tidak dapat mengikuti bunyi nasal, dan klaster konsonan nasal hanya diizinkan jika keduanya memiliki tempat artikulasi yang sama. Oleh karena itu, dua hal harus diubah. Huruf “t” diubah menjadi konsonan bersuara d, dan huruf “m” yang bersifat bilabial diubah menjadi “n” yang bersifat alveolar agar selaras dengan huruf “t”, sehingga menghasilkan yonda.
- Dasar kata berakhiran -b
- yobu (memanggil).
Penggabungan yob+ta tampak lebih rumit, namun sebenarnya hanya memerlukan satu penyesuaian tambahan dibandingkan jenis sebelumnya.
- Seperti pada poin kedua, ubah tempat artikulasi konsonan pertama dari bilabial menjadi alveolar.
- Ubah konsonan pertama menjadi bunyi nasal. Karena bunyi nasal secara alami bersifat bersuara, karakteristik dasar dari huruf “b” tetap dipertahankan.
- Seperti pada poin pertama, karena huruf t kini berada setelah bunyi nasal, ubah menjadi bentuk bersuara.
Proses perubahannya adalah: yob+ta → mengubah tempat artikulasi menjadi yod+ta → mengubah menjadi konsonan nasal menjadi yon+ta → mengubah konsonan kedua menjadi bersuara menjadi yonda.
Penyesuaian Konsonan yang Tidak Membentuk Klaster
Tiga kasus sebelumnya menunjukkan bagaimana konsonan melakukan kompromi dengan mempertahankan sebagian karakteristik aslinya. Jenis konsonan lainnya ternyata menyelesaikan penyesuaian dengan cara yang berbeda:
-
S: Pada dasar kata yang berakhiran “s”, prosesnya jauh lebih mudah bagi pembelajar bahasa karena huruf “s” menolak untuk mengubah karakteristiknya. Sebagai solusinya, bahasa Jepang menyisipkan sebuah vokal untuk memecah klaster konsonan, mirip seperti cara penyerapan kata asing dari bahasa Inggris:
- kasu: kas+ta → kashita
-
Konsonan velar sepenuhnya menghilang dan digantikan oleh bunyi vokal saat berhadapan dengan aturan ini:
- kaku: kak+ta → kaita
-
G: Sebelum konsonan velar bersuara “g” menghilang akibat aturan vokal, ia sempat meninggalkan sifat bersuaranya pada akhiran kata kerja, yang kemudian berubah menjadi “d”:
- kagu: kag+ta -> kaida
Penyesuaian Konsonan yang Menghasilkan Geminat “t”
Selain klaster nasal yang selaras tempat artikulasinya, rangkaian konsonan lain yang diizinkan dalam bahasa Jepang adalah geminat tak bersuara. Karena “t” adalah konsonan tak bersuara, tidak mengherankan jika solusinya menghasilkan rangkaian huruf “tt”.
-
R – Konsonan ini kehilangan seluruh karakteristik aslinya dan berubah menjadi “t”, sehingga menyisakan urutan konsonan kembar tak bersuara:
- hairu: hair+ta -> haitta
- agaru: agar+ta -> agatta
- karu: karu+ta -> katta
-
T – Pada kata kerja seperti “matsu” (menunggu), tidak diperlukan perubahan besar karena urutan “tt” sudah sesuai dengan aturan:
- mat+ta -> matta
- kat+ta -> katta
Hal yang mungkin membingungkan adalah konsonan tersebut sering muncul sebagai ts dalam bentuk kamus (matsu, katsu).
-
Dasar kata berakhiran W. Kata kerja jenis ini biasanya dianggap berakhiran vokal tetapi menggunakan akhiran -u alih-alih -ru:
- ka-u, tsuka-u
Namun, dalam konjugasi lain, bunyi “w” tersembunyi tersebut muncul kembali, seperti saat ditambahkan akhiran -anai:
- kawanai, tsukawanai
Kita dapat menganggap kata-kata ini memiliki dasar yang berakhiran “w”, yang kemudian melebur ketika bertemu dengan akhiran bentuk lampau “t”:
- kaw + ta -> katta
- tsukaw + ta -> tsukatta
Kesimpulan
Semoga penjelasan mengenai pola-pola dalam bentuk lampau bahasa Jepang ini dapat membuat Anda lebih memahaminya. Selain memperkaya wawasan linguistik, pemahaman ini tentu akan sangat membantu ketika Anda harus menghafal bentuk-bentuk tersebut, termasuk bentuk -te yang mengikuti pola serupa.
Sebagai catatan akhir, terdapat beberapa kata kerja yang benar-benar tidak beraturan, yaitu suru/shita dan kuru/kita. Pada titik ini, Anda mungkin merasa lega karena tidak ada penjelasan rumit di balik ketidakberaturan kata tersebut.







