Home / Travel / Sisi Gelap Klub Kisha dan Koran Jepang: Saat Internet Mati, Surat Kabar Cetak Kembali Berjaya

Sisi Gelap Klub Kisha dan Koran Jepang: Saat Internet Mati, Surat Kabar Cetak Kembali Berjaya

header 640x 25

Sementara banyak negara lain mulai meninggalkan media cetak, Jepang justru mempertahankan tradisi membaca koran dengan sirkulasi tertinggi di dunia. Harian terbesarnya, Yomiuri Shinbun, bahkan memiliki oplah mencapai sekitar 10 juta eksemplar, jauh melampaui surat kabar global lainnya.

Kendati tingkat pembaca koran sangat tinggi, praktik jurnalistik di balik pemberitaan tersebut menyisakan persoalan serius. Berdasarkan catatan Reporters Without Borders, peringkat kebebasan pers Jepang sempat merosot tajam pada 2013 lalu. Kondisi ini tentu terasa kontras bagi sebuah negara demokrasi liberal, yang sebagian besar dipengaruhi oleh sistem tertutup bernama kisha clubs.

Mengenal Kisha Clubs dan Cara Kerjanya

Japanese reporter and cameraman
Source: M M

Kisha adalah istilah bahasa Jepang untuk wartawan. Yang dimaksud dengan kisha clubs adalah kelompok eksklusif yang beranggotakan jurnalis dari koran-koran arus utama Jepang—seperti Yomiuri Shinbun dan Asahi Shinbun—yang berkantor langsung di dalam gedung-gedung instansi pemerintah maupun kantor partai politik. Mereka menerima siaran pers dari lembaga yang menjadi bidang liputan mereka, yang ruang humasnya sering kali berada tepat di sebelah ruangan klub tersebut.

Tugas utama para anggota klub ini adalah menyunting atau menulis ulang siaran pers tersebut untuk diterbitkan di koran masing-masing, serta mengatur jalannya konferensi pers. Menurut Nihon Shinbun Kyokai selaku Asosiasi Penerbit dan Editor Surat Kabar Jepang, keberadaan kelompok ini dinilai sangat membantu karena mereka mampu menyaring informasi politik yang rumit secara cepat dan efisien. Kendati demikian, sistem ini kerap menghasilkan berita yang seragam di berbagai media saingan.

Kelompok ini juga berdiri sebagai aliansi yang solid antara jurnalis dan narasumber birokrat. Meski terkesan kompak, pola hubungan semacam ini mengabaikan prinsip independensi jurnalistik yang seharusnya menjaga jarak objektif dari pihak yang berkuasa.

scene from High School Musical

Dampak Buruk bagi Dunia Jurnalistik

Dalam praktiknya, jurnalisme yang ideal seharusnya bertindak sebagai pengawas kekuasaan, bukan sekadar perpanjangan tangan atau corong pemerintah. Ketika batasan etika ini kabur, berbagai masalah mulai bermunculan, salah satu contoh paling nyata terlihat dalam penanganan bencana nuklir Fukushima Daiichi pada 2011.

Selepas gempa bumi dan tsunami yang memicu kerusakan parah pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima I serta memicu kebocoran radiasi, liputan investigatif mendalam dari media lokal amat minim. Pemerintah juga dinilai kurang transparan mengenai tingkat radiasi dan langkah pencegahan.

Perusahaan pengelola PLTN tersebut, TEPCO, memiliki kisha club tersendiri, namun para wartawan di dalamnya justru jarang melontarkan pertanyaan krusial yang dibutuhkan publik. Di sisi lain, jurnalis independen maupun wartawan asing sering kali dilarang menghadiri konferensi pers resmi akibat aturan ketat klub tersebut. Bahkan, mereka yang berhasil masuk kerap mendapat intervensi atau sorotan tajam dari anggota klub mapan apabila melontarkan pertanyaan di luar skenario.

Aturan Ketat dan Perjanjian Papan Tulis

actor Jack Black in School of Rock

Sebagai sebuah perkumpulan eksklusif, kisha clubs tentu memiliki aturan internal yang ketat. Selain membatasi kehadiran jurnalis independen, terdapat pula tradisi yang disebut sebagai perjanjian papan tulis (blackboard agreements). Aturan ini berisi daftar topik atau temuan berita yang disepakati bersama oleh anggota klub untuk tidak dipublikasikan hingga batas waktu tertentu.

Aturan emas dalam kelompok ini melarang keras anggotanya untuk mendahului rekan sesama klub dalam memuat berita eksklusif, meskipun mereka berasal dari perusahaan media yang bersaing. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat berujung pada sanksi penggusuran dari keanggotaan.

Peran Majalah Mingguan

tabloids on magazine rack

Untuk menyiasati kebuntuan akibat perjanjian papan tulis, jurnalis terkadang memilih menjual temuan eksklusif mereka kepada majalah mingguan terbitan lokal. Majalah mingguan di Jepang dikenal memuat campuran berita umum, hiburan, olahraga, hingga gosip selebriti.

Meskipun tingkat prestise majalah mingguan tidak setinggi koran harian arus utama, kemunculan sebuah berita besar di media tersebut kerap menjadi pemecah kebekuan. Begitu sebuah isu mendapat perhatian luas dari publik lewat majalah mingguan, kesepakatan pembatasan berita pun otomatis gugur, sehingga media massa lain bebas membahasnya.

Pengaruh Internet dan Tantangan Masa Depan

people using public computers
Source: Hobvias Sudoneighm

Kehadiran internet perlahan mulai menggerus dominasi kisha clubs. Sejumlah media online independen, portal berita asing, serta jurnalis warga berupaya membangun alternatif sumber informasi yang terbebas dari kendali birokrasi konvensional.

Walau demikian, media digital alternatif seperti Days Japan dan Free Press Association of Japan masih harus menghadapi tantangan besar karena masyarakat Jepang cenderung lebih mempercayai saluran berita tradisional.

Japanese reporters in a press gang
Source: Masayuki Kawagishi

Situasi kebebasan pers kian diuji ketika pemerintah memberlakukan undang-undang rahasia negara yang memperberat sanksi pidana bagi pihak yang membocorkan informasi rahasia. Kendati demikian, secercah harapan sempat muncul ketika beberapa kepala daerah di masa lalu, seperti mantan Gubernur Prefektur Nagano Yasuo Tanaka, secara berani membubarkan kisha clubs di kantor pemerintahan daerahnya demi memberikan akses informasi yang setara bagi seluruh wartawan tanpa terkecuali.

Meski dominasi kelompok ini belum sepenuhnya runtuh, gelombang kritik publik terkait penanganan bencana Fukushima serta perdebatan seputar regulasi informasi rahasia mengisyaratkan bahwa era kejayaan kisha clubs perlahan mulai mendekati batas akhirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *