Home / Travel / Senjata Unik Jepang Kuno: Digunakan oleh samurai, ninja, biksu prajurit, preman, dan jagoan tangguh

Senjata Unik Jepang Kuno: Digunakan oleh samurai, ninja, biksu prajurit, preman, dan jagoan tangguh

header 640x 2

Saat seseorang membayangkan seorang samurai, gambaran yang umumnya muncul di benak adalah seorang petarung dengan pedang. Bukan sembarang pedang, melainkan katana asal Jepang yang terkenal di seluruh dunia—bilah melengkung yang dirancang secara presisi untuk menumbangkan musuh secara efisien. Medan pertempuran Jepang sendiri sebenarnya jauh lebih beragam dengan kehadiran pasukan tombak dan pemanah.

Kendati demikian, para pejuang kuno di Jepang juga mengandalkan persenjataan lain yang kurang begitu disorot, tidak terlalu glamor, namun justru jauh lebih menarik. Alat-alat seperti jutte dan kusarigama memungkinkan penggunanya untuk bertahan sekaligus melawan katana. Selain itu, kipas, pipa rokok, serta berbagai senjata yang disamarkan sebagai benda sehari-hari menuntut siapapun untuk selalu waspada setiap saat. Ada pula senjata seperti peluncur roket yang tampaknya lebih cocok muncul di dalam manga daripada di medan perang sungguhan.

The Katana: Japan’s Famous Blades

Three-Japanese-katanas-lined-up
Source: Rama

Senjata paling ikonik dari Jepang ini hampir tidak memerlukan pengenalan panjang. Teknik para pandai besi Jepang yang berulang kali memanaskan dan melipat baja menjadikan ketajaman serta kekuatan katana begitu unik jika dibandingkan dengan pedang-pedang lain di dunia. Cukup kuat untuk bertahan namun amat tajam untuk memotong anggota tubuh, katana memperoleh reputasi sebagai jiwa seorang samurai—sebuah status yang tetap bertahan lama setelah para samurai menukar pedang mereka dengan pena.

Tekkan and Hachiwari: Japan’s Not-So-Famous Blades

Tekkan iron sword with no edge
Source: Samuraiantiqueworld
Ancient Japanese weapon Hachiwari
Source: Samuraiantiqueworld

Sekilas, tekkan dan hachiwari mungkin tidak terlihat begitu mengesankan. Bilah tumpul yang berat ini berfungsi sebagai senjata pukul yang dirancang untuk menghantam musuh berzirah dengan dampak maksimal. Sebagaimana dijelaskan oleh Sergei Mol, “Tekkan dikembangkan secara khusus untuk menghadapi lawan yang mengenakan baju besi, sehingga bobotnya harus berat agar bisa dihantamkan ke titik-titik lemah zirah tersebut.”

Sama-sama tumpul dan berat, hachiwari menyerupai tekkan tetapi dilengkapi kait pendek di bagian pangkalnya yang kemungkinan dipakai untuk mengait zirah lawan atau mencari daya ungkit guna merobek baju besi tersebut. Alih-alih mengandalkan keluwesan mematikan seperti katana, tekkan dan hachiwari bertujuan untuk melumpuhkan musuh melalui hantaman keras.

Gunsen, Tessen, and Gunbai: Fans of War

The-ancient-Japanese-Weapon Gunsen
Source: BrokenSphere

Di Jepang kuno, bahkan benda yang awalnya ditujukan untuk meredakan panas dan kelembapan musim panas pun bisa bertransformasi menjadi senjata. Gunsen dan tessen, yakni kipas lipat yang diperkuat dengan lapisan logam, biasanya hanya diandalkan sebagai upaya terakhir. Petugas kepolisian dan penjaga malam menggunakan alat tumpul yang tidak mematikan ini untuk memukul pelaku kejahatan hingga tak berdaya.

Kipas yang tampak sederhana namun perkasa ini bahkan sanggup menaklukkan seluruh pasukan. Para panglima perang membawa kipas sebagai simbol pangkat, tetapi gunbai yang berukuran besar dan kokoh ini juga berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi pasukan yang dikerahkan. Dapat terlihat dari jarak jauh, lambaian kipas tersebut mengarahkan tindakan di medan laga. Saat ini, para wasit sumo menggunakan gunbai untuk mengisyaratkan pemenang dalam pertandingan sumo.

Kiseru Battle Pipes: Smoke Your Enemies

Painting-of-a-lady smoking a kiseru pipe
Source: Brooklyn Museum

Bayangkan Anda adalah seorang peziarah yang sedang menyusuri perbukitan di Jepang kuno. Merasa lelah karena perjalanan panjang, Anda memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah naungan pohon. Tepat saat Anda bersantai untuk menikmati isapan dari pipa kesayangan, beberapa penjahat muncul dan menuntut uang. Apa yang akan Anda lakukan?

Jika Anda memiliki keberanian tinggi, Anda tentu akan menghajar para pengganggu yang tidak sopan itu menggunakan pipa Anda. Meskipun tidak semua pipa dirancang untuk bertarung, ukuran dan bobot sebuah pipa terkadang bisa mengungkap niat tersembunyi penggunanya. “Banyak pipa yang terbuat dari logam dan panjangnya mencapai tiga hingga empat kaki. Beberapa dekrit menunjukkan fakta bahwa pipa semacam itu kerap digunakan dalam perkelahian… Sejumlah pipa bahkan dilengkapi dengan pelindung standar, persis seperti pedang.” Pipa pertempuran menjadi begitu lumrah hingga sekolah-sekolah seni bela diri merancang teknik khusus untuk penggunaannya.

Kama: The Sickle

The-ancient-Japanese-Weapon-Kama,-or sickle
Source: Katorisi

Menurut legenda, kama awalnya merupakan alat pertanian yang dipakai untuk memotong rumput dan tanaman. Kendati demikian, Don Cunningham meyakini bahwa kama berevolusi dari jingama, yaitu sejenis sabit serupa yang digunakan untuk membersihkan area perkemahan. Bagaimanapun juga, senjata ini kemudian meraih popularitas di kalangan bushi kelas rendah dan dapat diandalkan untuk memotong serta menebas.

Manriki-kusari: The Ten-thousand Power Chain

Manriki-an-ancient-Japanese-chain-weapon
Source: Samuraiantiqueworld

Meskipun manriki-kusari (yang terkadang disebut fundo-kusari atau rantai berPemberat) terkenal sebagai senjata ninja, para petugas kepolisian sebenarnya turut mengadopsi senjata ini guna melucuti serta menangkap para kriminal. Terlepas dari siapa yang menggunakannya, senjata serbaguna ini menyimpan banyak keunggulan. Rantai yang dapat dilipat ini bisa digulung, disembunyikan, serta dibawa dengan mudah. Alat tersebut dapat dimanfaatkan untuk memanjat, menahan musuh, hingga dililitkan pada bagian tubuh guna memberikan perlindungan ekstra.

Di tengah pertempuran, pengguna dapat memperpendek genggamannya dan menyesuaikan panjang rantai sesuai dengan situasi yang dihadapi. Begitu digerakkan, manriki-kusari melesat dengan kecepatan tinggi hingga tampak tidak kasat mata. Praktisi berpengalaman mampu mengayunkan rantai tersebut di sekeliling tubuh mereka untuk menjaga jarak dari lawan. Berkat ujungnya yang berbobot, manriki-kusari sekaligus berfungsi sebagai proyektil; beban logamnya dapat dilempar untuk menghantam musuh. Namun, tidak seperti senjata lempar lain seperti panah atau pisau yang harus diambil kembali untuk digunakan lagi, pemberat manriki-kusari dapat ditarik kembali ke tangan penggunanya melalui rantai yang terhubung.

Manriki-kusari juga mampu menjerat serta melumpuhkan senjata lawan. Ayunan rantainya tidak dapat dipotong oleh bilah pedang dan justru akan melilitnya, sehingga sangat efektif ketika berhadapan dengan katana. Sekali rantai tersebut berhasil mengait senjata lawan, pengguna yang terampil dapat dengan mudah melucuti musuhnya.

Kendati demikian, manriki-kusari juga memiliki kekurangan. Sebagai senjata yang sulit dikuasai, penggunanya bisa saja melukai diri sendiri dengan pemberat yang berayun liar. Terlepas dari sifatnya yang dapat disesuaikan, manriki-kusari terbukti paling lemah saat digunakan di ruang sempit seperti area yang padat atau berhutan, di mana rantai tidak bisa diayunkan secara bebas sehingga membatasi kekuatannya.

Kusarigama: The Best of Both Worlds

Ancient-Japanese-Weapon-Kusarigama-mix-of chain and sickle
Source: Worldantiques

Penegak hukum masa itu juga secara rutin memanfaatkan kusarigama, yang merupakan gabungan antara manriki-kusari dan kama. Musuh dapat dijauhkan menggunakan rantai berbobot yang diayunkan, lalu disusul dengan tebasan bilah sabit saat pertarungan memasuki jarak dekat.

Chigiriki: The Japanese Mace

Chigiriki-or-mace-an-ancient Japanese weapon
Source: Samuraiantiqueworld

Terbuat dari kayu atau logam, tongkat ini memiliki pemberat yang dihubungkan dengan rantai di bagian ujung atasnya, yang biasa dipakai untuk menjegal, memukul, atau melucuti senjata lawan. Dengan bagian rantai yang dapat disembunyikan di dalam batangnya, chigiriki mampu disamarkan sebagai tongkat jalan atau tongkat biasa.

Yumi: Death From Afar

Yumi-an-ancient-bow-used-by-Samurai
Source: Fukutaro

Sebagai senjata asli para samurai, busur tradisional Jepang memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Isolasi dari budaya luar memungkinkan Jepang mengembangkan alat serta teknik memanah yang khas milik mereka sendiri.

Busur berburu dan seremonial tertua di Jepang bahkan sudah ada sejak tahun 10.000 Sebelum Masehi. Tanpa teknologi pengikatan kayu seperti yang lazim di negara lain, Jepang menciptakan busur kayu yang sangat panjang—beberapa bahkan melebihi 2,5 meter—guna memaksimalkan tenaga dorongnya. Posisi pegangan yang rendah sengaja dikembangkan demi mengakomodasi panjangnya busur, penggunaannya saat menunggang kuda, atau untuk mencapai kekuatan maksimum. Friday menuliskan, “Apa pun alasan di balik adopsi awalnya, mencengkeram busur pada dua pertiga bagian bawah dari panjangnya terbukti mampu memaksimalkan daya lenturnya serta meminimalkan kelelahan pemanah jauh lebih baik daripada pegangan di bagian tengah yang lebih umum.”

Berkat keterbatasan teknologi pada masa itu, Jepang berhasil menciptakan busur inovatif dengan gaya tembak tersendiri yang telah ada jauh sebelum katana, senjata api pelatuk (matchlock), ataupun peluncur roket dikenal.

Fukiya: Death From Not-So-Afar

Illustration of man using ancient Japanese weapon Fukiya or blowdart
Source: Golgo 13

Fukiya tanpa ragu merupakan senjata ninja, seperti yang digambarkan dalam gulungan ninja Mansenshukai abad ke-17. Senjata sumpitan ini tidak bising, mudah dibawa ke mana-mana, serta bisa difungsikan ganda sebagai seruling, pipa, ataupun sedotan pernapasan. Dalam situasi mendesak, bahan dari bambu atau kertas pun dapat digunakan sebagai pengganti. Penggunaan racun pada anak panah kecil tersebut membuat senjata ini menjadi jauh lebih efektif.

Namun, fukiya tidak hanya dipakai sebagai alat membunuh semata. Tabung tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk meluncurkan surat dan pesan kepada rekan sekutu. Para pemburu turut mengandalkan fukiya untuk menjatuhkan burung.

Kini, fukiya telah berkembang menjadi olahraga internasional yang menyerupai panahan. Jangkauan jarak tembaknya berkisar antara 10 hingga 90 meter. Para praktisi sering kali menyebut kesederhanaan senjata ini sebagai salah satu daya tarik utamanya.

Fire Arrows and Bohiya

Illustration of men using the ancient Japanese weapon bohiya or fire arrows

Panah api serta roket mini yang dinamakan bohiya sanggup mendatangkan malapetaka bagi bangunan kayu, benteng pertahanan, maupun armada kapal laut. Kendati mulanya diluncurkan menggunakan busur, masuknya teknologi mesiu dan senjata api ke Jepang memicu terciptanya peluncur panah bertenaga pemicu portabel yang menyerupai senapan. “Bahan pembakar pada panah api tersebut terbuat dari tali yang telah dibuat kedap air dengan cara merebusnya dalam campuran air, abu daun cedar yang terbakar, serta zat besi tertentu, yang semuanya dibungkus rapi dalam kertas lengkap dengan sumbunya… Dalam sebuah pertempuran laut, kita sempat membaca catatan mengenai bohiya yang ‘berjatuhan bagaikan air hujan’.”

Horokubiya: Bombs Away

Horokubiya-an-ancient-Japanese-bomb
Source: Jiao Yu and Liu Ji

Juga kerap dipakai dalam pertempuran laut, horokubiya meniru teknik dari Tiongkok yang membungkus bahan peledak di dalam wadah besi, keramik, atau kertas. Bom-bom tersebut diisi dengan mesiu serta serpihan logam. Berdasarkan buku karya Stephen Turnbull berjudul Fighting Ships of the Far East, bom jenis ini diluncurkan dengan cara memutar tali di atas kepala atau melalui ketapel genggam yang bentuknya menyerupai tongkat lacrosse.

Hiya Taihou: Samurai Rocket Launchers

Hiya-an-ancient-Japanese-rocket-launcher used by the samurai
Source: Worldantiques

Benar sekali, Jepang kuno ternyata telah memiliki peluncur roketnya sendiri. Pada pertengahan tahun 1500-an, senjata api asal Portugis menginspirasi orang Jepang untuk merakit senjata api buatan lokal serta mengembangkan bentuk panah api yang ditembakkan dari senjata genggam portabel. Meriam mini yang disebut hiya taihou ini terbukti ampuh menghantam pasukan musuh serta benteng pertahanan dengan roket eksplosif berbatang kayu tebal dan berujung logam.

Tanegashima (Japanese Matchlock): Firearms

Tanegashima an ancient Japanese firearm used by the samurai
Source: ryochiji

Menjelang akhir abad ke-16, Jepang memproduksi beberapa senjata api terbaik di dunia. Tatkala negara-negara Barat mulai meninggalkan sistem pemantik sumbu (matchlock) demi teknologi yang lebih baru, Jepang justru terus melakukan inovasi, bahkan merancang cara untuk melindungi mekanisme pembakaran dari terpaan air hujan. Popor yang pendek serta gaya yang elegan menjadi ciri khas dari senjata api buatan Jepang.

Meskipun katana memegang tempat utama dalam citra pejuang Jepang, senjata proyektil selalu menempati posisi penting di medan pertempuran, dan senjata api tentu tidak terkecuali. Para panglima perang memanfaatkan kedahsyatan daya tembak senjata api, sehingga matchlock bertransformasi menjadi kekuatan yang mematikan di berbagai medan laga Jepang.

Shuriken: Throwing Death

Ancient-Japanese-Weapon-Shuriken-or-Throwing-Star
Source: kaexor

Lebih dikenal luas sebagai bintang lempar, senjata ninja, atau bintang lempar Tiongkok, Turnbull menerjemahkan istilah tersebut sebagai “bilah yang disembunyikan di tangan.” Walaupun hadir dalam beragam bentuk dan ukuran, bintang lempar klasik dengan banyak ujung dapat berputar stabil saat melayang di udara sehingga membutuhkan keahlian yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan pisau lempar panjang atau bentuk lainnya.

Kunai: Can You Dig It?

Kunai or Throwing Dagger
Source: alelag

Kunai adalah senjata lempar menyerupai belati yang populer melalui berbagai anime ninja. Namun, kunai yang berbentuk pipih dan menyerupai sekop kecil ini sebenarnya berfungsi jauh lebih baik sebagai perkakas ketimbang proyektil lempar. Para ninja memanfaatkan kunai untuk memanjat serta menggali lubang pada dinding istana yang terbuat dari kerangka kayu dan plester.

Testubishi or Makibishi: Watch Your Step

An-ancient-Japanese-weapon-called-Makibishi-or metal spikes
Source: Samuraiantiqueworld

Majalah Black Belt menjuluki senjata ini sebagai “duri kejutan.” Berupa paku logam kecil yang menyerupai mainan anak-anak, tetsubishi ditebar di atas tanah guna memperlambat laju musuh serta mencegah kejaran. Paku-paku tersebut cukup panjang dan tajam untuk menembus alas kaki tipis yang lazim dikenakan pada masa itu. Sebagaimana dikemukakan oleh penulis Tiko Yamashita, “Benda ini juga bisa dipakai secara ofensif dalam serangan balik.” Kendati demikian, pengguna harus merencanakannya secara matang karena paku-paku kecil tersebut pada akhirnya juga dapat menjadi bumerang bagi pihak yang meleparnya.

Yawara: Death In the Palm of Your Hand

Yawara a small handheld weapon
Source: Evan-Amos

Terkadang disebut sebagai kubotan, yawara merupakan senjata genggam berukuran kecil yang pas di dalam telapak tangan. Walaupun ada kalanya memiliki ujung yang runcing, yawara umumnya menampilkan sisi tumpul di kedua ujungnya yang dirancang untuk menghantam musuh, serta terbukti sangat efektif manakala diarahkan ke titik-titik tekanan tubuh. Dengan bentuk bulat atau segi enam, keunggulan terbesar dari yawara terletak pada genggamannya yang mampu memperkuat pukulan penggunanya sekaligus mencegah cedera pada tangan.

Ono: Not Just For Falling Trees

An-ono-or-Japanese-stone-axe
Source: Worldantiques

Kapak batu asal Jepang mendahului masa penggunaan besi dan baja, serta menjadikan ono sebagai senjata pilihan bagi para yamabushi atau bhiksu prajurit kuno di Jepang. “Para yamabushi menggunakan kapak bertangkai panjang ini (yang sebagian tingginya mencapai enam kaki) di tengah berkecamuknya pertempuran, mengayunkannya secara berputar pada berbagai ketinggian; atau dalam duel perorangan.”

Tobiguchi: Not Just For Fighting Fires

Tobiguchi-or-an-ancient-Japanese-axe
Source: FG2

Alat yang menyerupai kapak ini lebih berperan sebagai pengait dan dulunya dipakai untuk menyingkirkan puing-puing dari bangunan yang terbakar. “Bahkan di tengah musibah kebakaran sekalipun, tetap penting untuk membekali diri… dan seseorang harus selalu siap menghadapi kemungkinan pihak-pihak yang memanfaatkan situasi kacau untuk menyerang.” Sebagai bukti fungsinya sebagai senjata, beberapa tobiguchi dilengkapi dengan kait guna membantu melucuti lawan. Alat pemadam kebakaran yang dijuluki “paruh layang-layang” ini mendapatkan sebutan kenkatobi atau “layang-layang pertarungan” berkat tingginya popularitas benda tersebut di kalangan rakyat jelata.

Bo and Jo: The Long and Short Of It

Donatello from Teenage Mutant Ninja Turtles with ancient Japanese staff
Source: IDW Teenage Mutant Ninja Turtles

Berakar sejak zaman prasejarah, “bo, atau tongkat kayu panjang, merupakan jenis persenjataan paling kuno di Jepang.” Para petarung memanfaatkan keunggulan panjang bo untuk melancarkan serangan dari jarak jauh atau mengayunkannya guna menepis musuh.

Bo sendiri hadir dalam berbagai bentuk serta ukuran. Sebagai contoh, maru-bo memiliki penampang bundar, sementara hakaku-bo berpenampang segi enam. Jika rata-rata bo berukuran antara 5 hingga 6 kaki—atau kurang lebih setinggi penggunanya—panjang jo yang lebih pendek sepenuhnya ditentukan berdasarkan preferensi pribadi pemakainya. “Jo yang tampak sederhana itu ternyata memiliki banyak atribut dari ketiga senjata yang dihormati: daya pukul seperti katana, jangkauan tusukan tombak, serta kekuatan hantaman bolak-balik yang tidak mudah hancur seperti bo.”

Kanabo

The-ancient-Japanese-weapon-Kanabo-or-a spiked iron club
Source: mamboo

Sebagai varian yang tampak paling mematikan dari rumpun senjata “bo”, kanabo berduri besi ini dibentuk menyerupai bo atau dibuat meruncing layaknya sebuah pemukul baseball dengan spesialisasi menghancurkan musuh melalui hantaman keras. Barangkali itulah alasan mengapa senjata ini menjadi pilihan utama bagi para oni, sejenis makhluk mitologi atau raksasa yang kerap muncul dalam cerita rakyat Jepang. Faktanya, gambaran sosok oni yang menggenggam kanabo begitu kuat hingga diabadikan dalam sebuah peribahasa (kotowaza), yaitu oni ni kanabou (“oni dengan tongkat besi”) yang menyimbolkan tingkat kekuatan yang tidak terkalahkan.

Otsuchi: Not Just For Nails

Print-of-men-wielding-Otsuchi-or-ancient Japanese war hammer
Source: Bejnar

Palu perang raksasa ini dulunya difungsikan sebagai linggis pendobrak dan kemungkinan besar lebih sering dipakai untuk menghancurkan pintu, gerbang, serta dinding ketimbang dipakai langsung untuk meremukkan mus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *