Home / Travel / Sejarah Kopi di Jepang: Perjalanan 120 Tahun Menjadi Budaya Pagi yang Populer

Sejarah Kopi di Jepang: Perjalanan 120 Tahun Menjadi Budaya Pagi yang Populer

header 640x 26

Kopi adalah bahan bakar utama bagi banyak orang untuk memulai hari atau sekadar menjaga energi tetap terjaga. Di berbagai belahan dunia, komoditas ini bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari gaya hidup bahkan sumber mata pencaharian utama. Secara global, konsumsi kopi mencapai angka yang fantastis, yaitu sekitar 2,5 miliar cangkir setiap harinya. Kopi juga memegang posisi sebagai komoditas yang paling banyak diperdagangkan kedua di dunia setelah minyak mentah, dengan nilai industri mencapai miliaran dolar. Lalu, bagaimana posisi Jepang dalam peta budaya kopi global ini?

Jika Anda pernah melihat menu Starbucks di Jepang atau menggunakan sirup gula khusus bernama gamu shiroppu, Anda pasti menyadari bagaimana negara ini memberikan sentuhan unik pada cita rasa musiman dan pelayanan yang efisien. Memahami evolusi kebiasaan minum kopi di Jepang membuka jendela baru untuk melihat budaya unik yang dicintai banyak orang. Berdasarkan berbagai literatur dan penjelajahan langsung, ada banyak hal menarik mengenai kedai kopi di Jepang yang layak untuk disimak.

Akar Kissaten

picture of old Japanese coffee house
“…[I]t began as a new place, not directly inheriting the social space of the chaya [tea house]” (White 30)

Kopi pertama kali masuk ke Jepang melalui kapal dagang Belanda pada tahun 1800-an. Namun, tren minum kopi tidak akan berkembang pesat tanpa kehadiran kedai kopi tradisional Jepang yang disebut kissaten. Istilah ini secara harfiah dapat diartikan sebagai “toko mencicipi teh”, tetapi fungsinya lebih mirip dengan ruang santai untuk menikmati minuman dan makanan ringan tanpa terburu-buru. Sering diterjemahkan sebagai “lounge kopi”, tempat ini dulunya menjadi tempat berkumpulnya para seniman kreatif, penulis, hingga penyair.

foujita cafe painting
Foujita’s “Café” (1949)

Sebelum era kissaten, masyarakat Jepang terbiasa mengunjungi chaya, yaitu kedai teh tradisional yang berfungsi sebagai tempat bersosialisasi dan bertukar informasi di desa-desa maupun sepanjang jalur perjalanan. Berbeda dengan chaya yang menyajikan teh hijau dan dango dengan suasana akrab, kissaten fokus menyajikan kopi atau teh hitam, menyediakan tembakau serta koran, dan mengusung interior bergaya modern dengan meja ala Barat serta sentuhan Art Deco.

Menurut Merry White, penulis buku Coffee Life in Japan, kedai kopi di Jepang dari masa ke masa selalu menawarkan lebih dari sekadar secangkir kopi, melainkan ruang ketenangan pribadi yang disesuaikan dengan kebutuhan penduduk perkotaan.

Kedai kissaten pertama didirikan pada tahun 1888 oleh Tei Eikei, seorang pria kosmopolit anak angkat dari sekretaris Taiwan di Kementerian Luar Negeri Jepang. Tempat bernama Kahiichakan tersebut sayangnya harus gulung tikar dalam waktu lima tahun.

man behind counter at Japanese kissaten
Source: LWYang

Meskipun berumur pendek, kissaten pionir tersebut memicu tren aula minum bertema kopi di Tokyo pada era Meiji, di mana industrialisasi dan urbanisasi sedang berkembang pesat. Seiring perpindahan masyarakat ke pusat kota untuk bekerja atau bersekolah, kissaten tumbuh subur di dekat stasiun kereta, berfungsi sebagai pusat informasi sekaligus tempat singgah bagi para pekerja.

Meskipun memiliki sejarah yang penting, istilah “kissaten” kini terdengar cukup klasik. Generasi yang lebih muda biasanya lebih akrab menggunakan kata kafe untuk menyebut tempat minum kopi, terutama tempat yang juga menyajikan hidangan seperti Naporitan selain kopi standar.

Japanese noodle dish
Source: giovanniscanavino
chart of Japanese coffee imports
Interesting there wasn’t much of a drop after the 1990s bubble.

Meskipun sempat populer pada periode Meiji, ledakan besar industri kopi di Jepang baru terjadi pada tahun 1960-an setelah pembatasan impor dicabut pada tahun 1949. Saat ini, Jepang mengimpor ratusan ribu ton kopi setiap tahunnya, menunjukkan lonjakan yang sangat drastis dibandingkan dekade-dekade sebelumnya.

Lonjakan ini didorong oleh ketertarikan masyarakat Jepang terhadap segala hal yang berbau Barat pasca Perang Dunia II, serta investasi besar dalam bidang pemasaran dan penelitian. Terobosan besar terjadi pada tahun 1965 ketika kopi kalengan pertama di dunia diluncurkan di Jepang. Empat tahun kemudian, UCC Ueshima Coffee Co. memperkenalkan kopi kalengan ke pasar massal, yang kemudian diikuti oleh kemunculan mesin penjual otomatis minuman panas dan dingin pada tahun 1973.

Selain produk siap minum, jaringan kedai kopi lokal juga mulai bermunculan dalam skala besar. Jaringan seperti Doutor Coffee yang dibuka pada tahun 1980 merancang bisnisnya khusus untuk para pekerja komuter yang sibuk. Model bisnis ini mendominasi hingga pertengahan tahun 1990-an, ketika Starbucks masuk membawa konsep tempat ketiga yang santai dan ramah.

Mutasi Waralaba Kedai Kopi

close up of coffee cup and saucer
Source: MIKI Yoshihito

Doutor merupakan salah satu pemain terbesar di industri ini dan dikenal piawai melakukan diversifikasi merek berdasarkan harga, variasi menu, serta lokasi. Mulai dari kedai di dekat stasiun dengan harga terjangkau hingga kafe kelas atas di area metropolitan mewah.

Isu lain yang kerap ditemui di kedai kopi Jepang adalah aturan merokok. Sejumlah kafe, termasuk beberapa jaringan asing dan lokal, dulunya menyediakan area merokok yang kurang terbatasi dengan baik. Meskipun sebagian kalangan senior menikmati kombinasi kopi dan tembakau, mayoritas konsumen saat ini justru lebih menyukai area bebas asap rokok, yang pada akhirnya mendongkrak popularitas kafe-kafe yang melarang merokok.

Di sisi lain, kedai-kedai independen dan bar espresso terus beradaptasi. Meskipun jumlah total kafe sempat mengalami penyesuaian akibat dampak ekonomi pasca-Bubble Economy, basis pelanggan kedai independen tetap memiliki tempat tersendiri di hati penikmatnya tanpa harus bersaing secara langsung dengan jaringan kedai kopi raksasa.

Berapa Banyak Kopi yang Diminum Jepang?

Japanese emigrants on deck of steamship
Japanese emmigrants learning Portuguese on their way to Brazil. 1908.

Dalam hal tingkat konsumsi per kapita, Jepang berada di peringkat ke-39 dunia. Namun, negara ini merupakan importir kopi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Jerman, dengan mengimpor ribuan ton biji kopi setiap tahunnya. Hubungan dagang yang terjalin sejak akhir tahun 1800-an, khususnya dengan para petani kopi di Brasil, menjadi fondasi kuat mengapa budaya minum kopi bisa berakar dengan baik di Jepang.

Produk Kopi di Jepang Saat Ini

Shibuya downtown buildings
Can you spot the famous Starbucks located in Shibuya?

Pasar kopi di Jepang sangat kompetitif dan jenuh. Berbagai merek kopi kalengan populer diproduksi oleh perusahaan lintas industri, mulai dari produsen minuman keras, makanan, hingga produk tembakau. Merek-merek seperti Boss dari Suntory, Georgia dari Coca-Cola, Nescafe, hingga Roots menghiasi deretan mesin penjual otomatis di seluruh negeri. Kampanye pemasaran mereka pun kerap menggandeng pesohor dunia, seperti kemunculan karakter “Alien Jones” yang diperankan oleh Tommy Lee Jones dalam iklan Boss Coffee.

Waralaba Asing di Jepang

customers at Japanese Starbucks
Source: Dick Johnson

Tiga penyedia kopi asing terbesar di Jepang saat ini adalah Starbucks, Tully’s, dan McDonald’s. Melalui lini McCafé by Barista, McDonald’s menawarkan kopi berkualitas lebih tinggi dibandingkan restoran cepat saji biasa dengan harga yang bersaing. Sementara itu, Tully’s asal Seattle hadir dengan menawarkan variasi menu yang cukup beragam seperti pasta dan es krim.

Adapun Starbucks, yang membuka gerai pertamanya di Ginza, Tokyo pada tahun 1996, berkembang pesat hingga memiliki lebih dari seribu cabang di seluruh negeri. Berdasarkan berbagai survei, Starbucks berhasil merebut hati konsumen lokal karena kemampuannya beradaptasi dengan cepat terhadap gaya hidup masyarakat perkotaan.

Invasi ke Tottori

people walking over sand dune
Source: Yazan Badran

Prefektur Tottori sempat menjadi pusat perhatian ketika jaringan kedai kopi besar seperti Tully’s dan Starbucks mengumumkan rencana untuk membuka cabang di wilayah tersebut, mengingat sebelumnya wilayah yang terkenal dengan wisata bukit pasir ini belum memiliki gerai dari merek-merek multinasional tersebut.

Rencana ini memicu beragam reaksi dari warga setempat. Sebagian menyambut baik kehadiran tempat baru untuk bersantai dan menikmati kopi, sementara yang lain merasa khawatir bahwa masuknya merek global akan menggeser identitas kafe lokal mandiri yang selama ini menjadi ciri khas daerah mereka.

Transformasi yang Berkelanjutan

stuffed monkey perched on coffee sign
Source: Ryosuke Yagi

Beragamnya respons terhadap ekspansi kedai kopi modern menunjukkan bahwa masyarakat Jepang memiliki spektrum preferensi yang luas—mulai dari kesetiaan terhadap kissaten bergaya klasik hingga antusiasme terhadap kedai kopi bergaya barat. Perjalanan panjang dari era Kahiichakan hingga jaringan waralaba modern membuktikan bagaimana budaya kopi di Jepang mampu terus bertransformasi dan bertahan lintas generasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *