Bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke Jepang dan kesulitan membaca menu beraksara kanji, keberadaan replika makanan tiruan atau yang dikenal sebagai sampuru サンプル adalah sebuah penyelamat. Berkat detailnya yang begitu luar biasa, pelanggan dapat mengetahui secara persis hidangan apa yang akan mereka pesan—mulai dari topping pada mangkuk ramen hingga lauk pendamping dalam satu paket hidangan. Cukup dengan menunjuk pajangan tersebut, pesanan pun beres.
Meskipun sangat membantu wisatawan asing, sampel makanan ini sebenarnya tidak diciptakan khusus untuk para pelancong. Industri ini bahkan sudah ada jauh sebelum pariwisata massal berkembang di Jepang. Di mata sebagian pelancong asing yang belum terbiasa, pajangan makanan ini terkadang justru terasa ganjil atau bahkan mencurigakan, mengingat plastik kerap diasosiasikan sebagai sesuatu yang palsu dan murah.

Anggapan bahwa replika makanan ini berharga murah tentu saja keliru. Faktanya, pembuatan sampuru memakan biaya yang sangat mahal. Seporsi teh hijau tiruan atau sebuah onigiri replika bisa dibanderol dengan harga yang cukup tinggi, sementara hidangan utama yang kompleks bisa mencapai jutaan rupiah. Jika dihitung untuk mengisi seluruh etalase sebuah restoran, total investasi yang dikeluarkan tentu tidak sedikit.

Asal-Usul Model Makanan: Antara Mitos dan Realitas
Model makanan tiruan pertama kali dibuat pada tahun 1917, dan industrinya berkembang pesat pada era 1930-an, jauh sebelum fotografi berwarna menjadi hal yang lumrah. Tokoh yang diakui sebagai pelopor industri ini adalah Takizo Iwasaki, yang mendirikan perusahaan Iwasaki-bei yang masih bertahan hingga kini.
Kisah di balik inspirasi awal Iwasaki pada tahun 1932 di Osaka sering kali diceritakan kembali dengan sentuhan romantis. Salah satu versi menyebutkan bahwa ide tersebut muncul ketika ia memperhatikan tetesan lilin lilin malam yang jatuh di atas tatami dan membentuk pola tertentu. Versi lain menyebutkan tetesan lilin di dalam air yang menyerupai bentuk bunga. Kendati demikian, penelusuran lebih mendalam menunjukkan bahwa pembuat model anatomi dari lilin untuk keperluan medis sebenarnya sudah lebih dulu ada sebelum tahun 1932. Pengrajin model anatomi di Kyoto dan Tokyo telah terbiasa menggunakan lilin untuk mereplikasi organ tubuh manusia atau penyakit kulit sebelum akhirnya diminta oleh pihak restoran untuk membuat tiruan makanan.

Lonjakan tren makan di luar pada dekade tersebut serta kebutuhan untuk menarik minat pelanggan di pusat perbelanjaan turut mendorong penggunaan pajangan makanan. Makanan asli tidak digunakan karena membusuk dan mengundang serangga, sehingga replika berbahan lilin, parafin, dan tallow nabati menjadi solusi yang ideal.
Evolusi Pembuatan Model Makanan
Meskipun bahan lilin pada awalnya mendominasi, material tersebut kemudian digantikan oleh plastik yang jauh lebih tahan lama sejak tahun 1970-an. Kendati demikian, teknik pembuatan tradisional menggunakan lilin masih sering diperagakan dalam berbagai lokakarya publik, di mana pengunjung dapat mencoba membuat selada tiruan atau tempura.

Hingga saat ini, proses pembuatan sampuru サンプル tetap mempertahankan sentuhan tangan manusia atau dikerjakan secara handmade. Sebagian seniman bahkan menggunakan metode yang mirip dengan proses memasak aslinya demi mendapatkan tingkat keakuratan yang tinggi.

Di era modern, cetakan silikon digunakan untuk menangkap detail terkecil dari makanan asli, seperti tekstur pada sepotong daging ikan tuna. Setelah cetakan mengeras, plastik cair berwarna dituangkan ke dalamnya. Untuk elemen tertentu seperti mi ramen, atau proses perakitan sushi yang menggunakan butiran nasi plastik satu per satu, ketelatenan tangan sangat diandalkan. Pewarnaan akhir juga dilakukan secara manual menggunakan kuas dan airbrush agar menyerupai warna makanan segar.

Sentra Penjualan Sampuru di Jepang
Bagi wisatawan yang ingin melihat langsung atau membeli replika makanan ini, kawasan Kappabashi di Tokyo atau distrik Doguya-suji di Osaka merupakan destinasi utama. Kappabashi terkenal sebagai pusat pasokan perlengkapan restoran di mana berbagai toko khusus menjual beraneka ragam model makanan tiruan, baik dalam bentuk porsi utuh untuk restoran maupun suvenir kecil seperti gantungan kunci dan magnet kulkas.

Sementara itu, Gujo Hachiman yang terletak di prefektur Gifu dikenal sebagai kota asal Takizo Iwasaki sekaligus pusat dari beberapa pabrik pembuat model makanan. Industri unik ini terus melestarikan warisan budaya katering Jepang yang tidak hanya fungsional bagi industri restoran, tetapi juga dicari oleh wisatawan sebagai kenang-kenangan khas yang autentik.












