Home / Travel / Reruntuhan Kastil Takeda: “Machu Picchu” Jepang di Hyogo

Reruntuhan Kastil Takeda: “Machu Picchu” Jepang di Hyogo

The Takeda Castle Ruins Floating Above a Sea of Clouds

Bagi yang sudah lama mengikuti perjalanan saya, mungkin tahu bahwa saya pernah mencoba menjelajahi sebagian besar Prefektur Hyogo dalam satu perjalanan singkat. Meskipun banyak destinasi utama yang berhasil dikunjungi, ada beberapa lokasi yang terpaksa dilewati karena keterbatasan waktu. Dari sekian banyak tempat yang terlewat, reruntuhan Istana Takeda adalah lokasi yang paling membuat saya penasaran. Sering dijuluki sebagai “Machu Picchu Jepang,” permata tersembunyi ini tentu layak masuk dalam daftar kunjungan wajib para pelancong.

Kendati demikian, reruntuhan Istana Takeda tidak mudah untuk diakses. Terletak jauh di pedalaman pegunungan Hyogo, Anda harus melakukan perjalanan yang cukup jauh dari kota besar seperti Kobe atau Himeji untuk mencapai kawasan pedesaan ini. Namun, usaha ekstra tersebut akan terbayar jika Anda beruntung menyaksikan fenomena alam yang luar biasa. Dikenal dalam bahasa Jepang sebagai unkai (lautan awan), pemandangan ini membuat reruntuhan Istana Takeda tampak seperti benteng kuno yang melayang di angkasa.

Berdasarkan catatan sejarah, reruntuhan Istana Takeda sudah ada sejak awal tahun 1400-an. Sepanjang periode Sengoku, benteng perkasa ini berdiri kokoh mengawasi wilayah tersebut. Dibangun di atas tebing yang menjulang tinggi, Istana Takeda menawarkan pemandangan lembah di bawahnya dengan sangat jelas. Pasukan musuh yang datang dari arah selatan bahkan harus melewati area di bawahnya. Mengingat nilai strategisnya, tidak mengherankan jika penguasa militer Toyotomi Hideyoshi dengan cepat memasukkan wilayah ini ke dalam daerah kekuasaannya saat menaklukkan Jepang bagian barat.

Sayangnya, bangunan istana ini tidak luput dari gerusan waktu dan sejarah. Karena berada di bawah kendali faksi Toyotomi, para penguasa setempat memihak pihak yang kalah dalam Pertempuran Sekigahara melawan Tokugawa Ieyasu. Akibatnya, kekalahan tersebut memicu runtuhnya pengaruh politik di sana, yang berujung pada terbengkalainya Istana Takeda. Kendati demikian, pengunjung masa kini tetap bisa mengagumi sisa-sisa dinding batu kuno yang kokoh dan mencerminkan arsitektur pertahanan masa perang.

Cara Menuju ke Sana

People come in and out of Himeji Station in Hyogo Prefecture

Seperti yang telah disinggung, perjalanan menuju istana di atas awan ini tidaklah mudah. Berlokasi sekitar tujuh puluh kilometer di sebelah utara Himeji, letak Reruntuhan Istana Takeda sebenarnya lebih dekat dengan kawasan pemandian air panas Kinosaki Onsen. Jika berangkat dari kota Himeji, Anda harus menumpang kereta Jalur JR Bantan selama hampir dua jam. Gunakan layanan seperti Jorudan untuk merencanakan jadwal perjalanan dan transit Anda dengan tepat. Perlu diingat bahwa frekuensi kereta di daerah pedesaan ini cukup jarang, sehingga ketinggalan kereta bisa sangat mengacaukan jadwal Anda.

Karena lokasinya yang berada di bagian barat Hyogo, Anda tentu perlu tiba di prefektur ini terlebih dahulu. Pelancong yang datang dari Bandara Internasional Kansai biasanya harus transit sejenak di Osaka sebelum melanjutkan perjalanan ke Himeji. Alternatif lainnya, perjalanan dapat dimulai langsung dari Tokyo menggunakan kereta Shinkansen. Apa pun rute yang dipilih, Anda harus menuju ke Himeji terlebih dahulu untuk berpindah ke Jalur JR Bantan.

Setibanya di Stasiun Takeda, lokasi istana sebenarnya tidak terlalu jauh. Kendati demikian, sangat disarankan untuk tiba di kawasan Prefektur Hyogo ini pada malam hari sebelum hari kunjungan Anda. Pilihan akomodasi di daerah pedesaan ini umumnya terbatas pada penginapan lokal yang sederhana alih-alih hotel mewah, seperti Guest House TENKU dan beberapa penginapan sejenis di sekitarnya.

Benteng di Langit

A view from the Takeda Castle Ruins that looks like Machu Picchu

Menyaksikan Reruntuhan Istana Takeda melayang di atas awan menuntut Anda untuk bangun pagi-pagi sekali. Sebagian besar kabut biasanya akan menghilang beberapa jam setelah matahari terbit, jadi Anda harus bersiap sejak subuh. Pendakian umumnya dimulai dari area parkir terdekat, di mana para pengunjung lain juga kerap berkumpul untuk menantikan matahari terbit. Membawa segelas kopi hangat dari malam sebelumnya tentu akan sangat membantu menghalau udara dingin pagi hari.

Salah satu tantangan dalam menikmati lautan awan di Takeda adalah akses transportasi yang terbatas, di mana membawa kendaraan pribadi memberikan keuntungan tersendiri. Meski Anda bisa berjalan kaki menuju puncak tebing tempat reruntuhan berada, pendakian curam tersebut memakan waktu sekitar empat puluh menit dalam kondisi gelap gulita, sehingga faktor keselamatan harus diutamakan. Bus dan taksi sebenarnya tersedia, tetapi jadwal operasionalnya tidak mendukung kebutuhan untuk berangkat sebelum fajar.

Bagi yang tidak menyewa kendaraan, mendaki dalam gelap adalah pilihan utama kecuali Anda berhasil memesan taksi pagi-pagi. Pastikan untuk membawa senter atau menyalakan lampu ponsel dengan tingkat kecerahan maksimal agar perjalanan aman dari risiko tersandung atau cedera.

Setelah mencapai puncak bukit tempat reruntuhan berada, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk seharga sekitar lima ratus yen. Dari sana, pendakian singkat akan membawa Anda ke area fondasi dinding batu istana. Walaupun bangunan utamanya sudah tidak tersisa, struktur fondasinya masih tertata dengan baik. Ikuti jalur satu arah yang telah ditentukan sambil membayangkan kemegahan benteng ini di masa lampau, dan jangan lewatkan dek observasi yang menyuguhkan panorama lembah di bawahnya.

Musim terbaik untuk menikmati kabut tebal di kawasan ini adalah pada musim gugur, saat udara pagi menghangatkan sungai di dekatnya dan memicu terbentuknya kabut padat. Kondisi cuaca ideal yang dicari adalah pagi hari yang cerah dan tanpa angin setelah hari yang panas. Perlu dicatat bahwa sudut pandang terbaik untuk melihat pemandangan klasik “istana di atas awan” bukanlah dari area reruntuhan itu sendiri, melainkan dari titik pengamatan Ritsuunkyo di seberang lembah.

Bagi para fotografer yang mengincar lanskap sempurna, disarankan untuk mengunjungi Ritsuunkyo terlebih dahulu sebelum beranjak ke area istana. Mengingat fenomena lautan awan hanya terjadi pada dini hari dan tidak ada transportasi umum menuju dek observasi tersebut, penggunaan kendaraan sewa atau taksi pagi menjadi kebutuhan mutlak.

Destinasi Wisata di Sekitar

An aerial shot of Mt. Kannabe’s caldera in Hyogo Prefecture

Selain Kinosaki Onsen yang menawan atau Istana Himeji yang megah, perjalanan di wilayah ini dapat diperluas dengan mengunjungi Dataran Tinggi Kannabe di sebelah barat laut. Terbentuk dari aktivitas vulkanik sekitar 25.000 tahun lalu, kawasan pedesaan ini menawarkan berbagai kegiatan rekreasi luar ruangan yang menarik.

Berjalan-jalan di sekitar kaldera Gunung Kannabe membuka kesempatan untuk menikmati aktivitas seperti bersepeda gunung di lereng curamnya saat cuaca hangat. Ketika musim dingin tiba dan salju menutupi permukaan tanah, lokasi ini berubah menjadi area ski dan seluncur salju. Bagi para pencinta adrenalin, tersedia pula fasilitas paralayang di sekitar dataran tinggi tersebut.

Kawasan ini juga dikelilingi oleh berbagai area perkemahan serta lanskap geologi yang menarik untuk dijelajahi. Meski kendala bahasa mungkin memerlukan bantuan pemandu lokal, menjelajahi Dataran Tinggi Kannabe akan memberikan pengalaman wisata yang menyegarkan dan berbeda dari liburan standar di Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *