Home / Travel / Ratu Himiko: Sosok Wanita Tangguh dalam Sejarah Jepang yang Dicintai Rakyat dan Dewa, Tapi Dibenci Sejarawan Abad ke-8

Ratu Himiko: Sosok Wanita Tangguh dalam Sejarah Jepang yang Dicintai Rakyat dan Dewa, Tapi Dibenci Sejarawan Abad ke-8

header 640x 54

Sebelum Jepang Menjadi Jepang

queen-himiko-kofun-scenery
Source: Saigen-Jiro

Masa pemerintahan Ratu Himiko berlangsung sekitar paruh pertama abad ke-3, jauh sebelum kepulauan Jepang menjadi satu kesatuan politik seperti yang dikenal sekarang. Pada masa itu, wilayah Nusantara Jepang masih dipenuhi oleh ratusan “negara” kecil atau bangsa klon yang tergabung dalam konfederasi regional. Komunitas agraris mulai berkembang menjadi kerajaan yang lebih beragam, sementara kekuasaan politik terkonsolidasi dan status sosial semakin terstratifikasi. Para sejarawan dan arkeolog sering menyebut dekade ini sebagai era transisi antara zaman Yayoi dan zaman Kofun.

Faktor apa yang membuat seseorang layak memimpin kerajaan-kerajaan awal ini? Tentu saja sangat membantu jika seseorang memiliki kedekatan dengan para dewa, atau setidaknya mampu meyakinkan orang lain bahwa mereka memilikinya. Sebagaimana dalam banyak masyarakat kuno, otoritas keagamaan di Jepang abad ke-3 sangat berkaitan erat dengan otoritas spiritual. Beruntung bagi Himiko, dukun wanita sangat dihormati dalam agama rakyat dan bentuk awal Shinto pada masa itu. Mereka dianggap mampu mengusir roh-roh jahat sekaligus berbicara atas nama para dewa. Karena kaum perempuan memiliki akses yang setara ke ranah spiritual, mereka juga memiliki akses ke ranah politik. Oleh karena itu, Himiko bukanlah satu-satunya ratu dukun yang ada, melainkan salah satu dari sekian banyak yang memegang peran serupa.

queen-himiko-kofun-graves
Source: Japan’s-Ministry-of Land, Infrastructure, and Transportation

Ciri khas lain dari zaman tersebut bahkan menjadi asal-usul nama Zaman Kofun. Secara sederhana, kofun adalah gundukan tanah yang berukuran sangat besar dan berbentuk menyerupai lubang kunci. Dibangun pertama kali pada pertengahan abad ke-3, gundukan tanah raksasa ini berfungsi sebagai makam bagi para penguasa yang telah wafat. Tradisi ini bermula di wilayah Kyoto-Osaka-Nara dan kemudian menyebar ke seluruh kepulauan seiring dengan meningkatnya dominasi Klan Yamato. Hingga kini, lebih dari 5.200 kofun telah diidentifikasi dengan berbagai bentuk standar dan ukuran yang luar biasa besar. Himiko kemungkinan besar dimakamkan di salah satu kofun awal tersebut.

Catatan Tiongkok tentang Ratu Himiko

queen himiko bronze mirror
Source: Jonathan Dresner

Informasi terbatas mengenai kehidupan Himiko sebagian besar diperoleh dari catatan sejarah Tiongkok dan Korea yang dipadukan dengan temuan arkeologis. Sebelum bangsa Jepang menulis sejarah mereka sendiri, pihak Tiongkok telah lebih dulu mendokumentasikannya. Kitab Sejarah Kerajaan Wei yang ditulis sekitar tahun 297 M menjadi sumber tertulis mandiri pertama mengenai Jepang. Kendati demikian, para sejarawan Tiongkok saat itu memasukkan informasi tentang “Tanah Wa” (sebutan mereka untuk Jepang) ke dalam bagian catatan “Keluarga Barbar Timur”, seolah-olah sebagai informasi tambahan. Meski demikian, catatan tersebut memuat banyak detail menarik mengenai sang ratu dukun dan kerajaannya. Catatan dinasti Tiongkok berikutnya kemudian mengonfirmasi informasi tersebut, sementara teks Korea tertua, Sejarah Tiga Kerajaan yang disusun pada tahun 1145 M, secara singkat menggambarkan hubungan Himiko dengan Semenanjung Korea.

Berdasarkan sumber-sumber tersebut, diketahui bahwa pada paruh kedua abad ke-2, antara tahun 147 hingga 190 M, ketiadaan pemimpin yang cakap sempat menyeret Tanah Wa ke dalam kekacauan politik dan gejolak kekerasan. Akhirnya, pada tahun 190 M, sang dukun wanita yang belum menikah dipilih oleh rakyat untuk memimpin. Bersemayam di sebuah istana yang dilengkapi pengawal bersenjata dan menara pengawas, ia dilayani oleh seribu pelayan wanita, sementara saudara laki-lakinya bertindak sebagai perantara yang menyampaikan berbagai instruksi serta titahnya kepada dunia luar. Setelah naik takhta, ia berhasil memulihkan ketertiban dan menjaga perdamaian selama 50 hingga 60 tahun berikutnya.

Selain menjalankan tugas keagamaan, Himiko memimpin lebih dari 100 negara yang mengakui kekuasaannya. Ia juga tidak hanya tinggal diam di wilayahnya sendiri. Atas nama seluruh konfederasi Yamatai, ratu dukun ini mengirimkan misi diplomasi ke Tiongkok setidaknya sebanyak empat kali selama masa pemerintahannya. Sebagai bentuk pengakuan atas legitimasinya, Dinasti Wei menganugerahinya gelar “Ratu Wa Sahabat Wei”, lengkap dengan sebuah stempel emas serta lebih dari 100 cermin perunggu seremonial. Pada masa itu, cermin merupakan simbol status tertinggi yang dapat mendongkrak pengaruh seseorang secara signifikan.

Sayangnya masa kejayaan tersebut harus berakhir ketika Ratu Himiko wafat pada tahun 248 M. Seorang tokoh pria sempat mencoba merebut takhta sepeninggalannya, namun mendapat perlawanan keras dan masa kekuasaannya berlangsung singkat. Menurut catatan Tiongkok, ketertiban baru benar-benar pulih setelah Ratu Iyo yang berusia 13 tahun naik takhta; sosok yang ternyata merupakan kerabat sang ratu pendahulu.

Penghormatan kepada Himiko tidak berhenti sampai di situ. Sebuah gundukan makam besar dengan diameter lebih dari seratus langkah dibangun untuk mengenangnya, disertai tradisi pengorbanan di mana seratus pelayannya turut mengikuti sang ratu ke dalam liang lahat. Gundukan besar tersebut hampir pasti merupakan salah satu kofun pertama yang pernah dibuat. Pada tahun 2009, sekelompok arkeolog Jepang menyatakan bahwa mereka telah mengidentifikasi makam sang ratu dukun sebagai Hashihaka Kofun di Kota Sakurai dekat Nara. Artefak hasil penanggalan radiokarbon yang ditemukan di sekitar situs tersebut berasal dari kurun waktu antara 240 hingga 260 M, yang bertepatan dengan masa kematian Himiko. Kendati demikian, Badan Rumah Tangga Kekaisaran menetapkan Hashihaka sebagai makam kekaisaran sehingga penggalian lanjutan dilarang keras.

Warisan Ratu Himiko: Dari Pahlawan, Terlupakan, hingga Kembali Dipuja

queen himiko statue

Nama Himiko sempat tenggelam dan tidak memiliki pengaruh besar hingga akhir Periode Edo (1600-1868). Hal ini terjadi karena ia secara mencolok diabaikan dalam teks-teks awal Jepang, seperti kitab mitologi Kojiki (712) dan catatan sejarah Nihongi (720). Baik sang ratu dukun maupun kerajaannya sama sekali tidak disinggung, meskipun para penulis Nihongi sebenarnya merujuk pada catatan Tiongkok tempat nama Himiko berasal. Para sarjana menilai pengabaian ini disebabkan oleh para penguasa Jepang abad ke-8 yang secara sadar mengadopsi nilai-nilai dan institusi patriarkal Tiongkok. Kerangka ideologis tersebut tidak menyediakan ruang bagi keberadaan ratu dukun. Selain itu, masuknya agama Buddha dan Konfusianisme ke Jepang turut memperkuat posisi kaum lelaki dan meredupkan status perempuan. Akibatnya, demi menyesuaikan diri dengan standar Tiongkok, istana Jepang memilih untuk mengabaikan sejarah sang ratu dukun.

Beruntung, sosok Himiko tidak terhapus selamanya. Ratu Himiko dan kerajaan Yamatai kembali menjadi topik hangat pada Periode Edo berkat karya seorang filsuf sekaligus negarawan bernama Arai Hakuseki dan seorang cendekiawan bernama Motoori Norinaga. Keduanya memicu salah satu perdebatan paling sengit dalam sejarah kesarjanaan Jepang mengenai lokasi pasti dari kerajaan Yamatai. Hakuseki menolak catatan sejarah Jepang yang dianggapnya tidak akurat, lalu memilih mempercayai catatan Tiongkok dan menyatakan bahwa Yamatai terletak di jantung Jepang, yaitu wilayah Dataran Kinai di kawasan Kyoto-Osaka-Nara. Sebaliknya, Norinaga menolak catatan Tiongkok dan bersikukuh pada keakuratan sejarah versi Jepang, bahkan mengeklaim bahwa kerajaan Yamatai sebenarnya hanya mengelabui pemerintah Tiongkok agar mengira mereka adalah klon penguasa.

Pandangan Norinaga mendominasi diskursus publik selama era Meiji hingga akhir Perang Dunia II. Pada masa itu, perdebatan mengenai Yamatai kerap kali dikaitkan dengan politik nasionalis-imperialis yang berlaku. Ketika kaisar disakralkan sebagai keturunan dewa, penolakan terhadap sejarah kuno Jepang dianggap sebagai serangan terhadap sistem kekaisaran secara keseluruhan, sehingga para sejarawan yang membangkang kerap menghadapi sanksi berat akibat undang-undang sensor. Salah satu akademisi tersebut adalah Naka Michiyo, yang secara konsisten mengkritik kronologi sejarah kuno dan mematahkan klaim Norinaga terkait Yamatai sejak tahun 1878 hingga akhir hayatnya.

Memasuki era pascaperang, para sejarawan dan arkeolog melanjutkan penelitian yang dirintis oleh Naka Michiyo dengan menggali teks-teks kuno serta berbagai situs penggalian. Antara tahun 1955 hingga 1964, serangkaian penemuan arkeologis kembali memicu perdebatan sengit mengenai letak Yamatai, termasuk ditemukannya sebuah makam di dekat Kyoto yang menyimpan banyak cermin perunggu dari abad ke-3. Dasawarsa 1960-an hingga awal 1970-an menandai periode yang disebut media sebagai “ledakan Yamatai”, di mana perdebatan ini berubah menjadi obsesi nasional antara pihak yang mendukung wilayah Kyushu dan pihak yang mendukung wilayah Kinai.

Himiko Masa Kini: Maskot Kota, Panutan, hingga Fantasi Pop Kultur

queen himiko manga
Source: geraldford

Dalam masa hidupnya, Himiko adalah seorang pemimpin religius dan politis. Namun dalam kematiannya, ia telah bertransformasi menjadi berbagai macam simbol budaya populer. Karena minimnya catatan sejarah yang pasti, sosoknya menjadi kanvas kosong yang sangat subur bagi imajinasi kreatif. Sebagai buktinya, berbagai daerah di Jepang memanfaatkan namanya sebagai maskot kota. Di Kyushu, patung-patung Himiko dapat ditemukan di luar Stasiun Kanzaki, dekat Ngarai Miyazaki Takachiho, serta di area Kuil Himiko di Hayato.

Kota Yoshinogari menyelenggarakan festival api unggun tahunan yang dimeriahkan oleh kemunculan figur berkostum “Himiko”, sementara sebuah pabrik sake di Kyushu meluncurkan produk shochu bernama “Himiko Fantasia”. Di wilayah Kinai, Kota Sakurai—tempat Hashihaka Kofun berada—menampilkan sang ratu dukun pada berbagai papan petunjuk, situs web resmi, hingga dalam wujud maskot berkostum. Para pemimpin kota bahkan memproduksi serial anime pendek bertema Himiko dan mendirikan halaman khusus berjudul Halaman Himiko-chan.

Sebagai panutan, sang ratu dukun dapat melambangkan kekuatan perempuan, kemampuan spiritual bawaan, asal-usul bangsa, hingga kebiasaan makan yang baik. Ia pernah dijadikan tokoh utama dalam kampanye sekolah yang menganjurkan para siswa untuk mengunyah makanan secara saksama seperti yang dilakukan Ratu Himiko demi menjaga kesehatan gigi dan pencernaan. Selain itu, diselenggarakan pula kontes kecantikan bertajuk Pemilihan Ratu Himiko, di mana para peserta wanita berusia 18 tahun ke atas bersaing memperebutkan hadiah uang tunai berdasarkan pesona dan penampilan mereka.

queen himiko mascot
Source: Sakurai City Mascot

Himiko turut menginspirasi banyak karakter dalam berbagai film, novel, manga, anime, dan video game. Karakter ratu dukun yang anggun dan berwibawa digambarkan dengan apik dalam novel laris tahun 1967 berjudul Maboroshi no Yamatotaikoku, yang kemudian diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2008 dan gambarnya sempat diabadikan dalam prangko resmi pemerintah Jepang. Di sisi lain, sutradara Masahiro Shinoda mengangkat kisah sang ratu dengan interpretasi berbeda dalam drama film Himiko pada tahun 1974.

Dalam ranah manga, mangaka legendaris Osamu Tezuka menggunakan figur ratu yang ambisius dalam seri Phoenix untuk menyampaikan pesan bahwa kekuasaan kerap berujung pada korupsi. Karakter yang terinspirasi dari Himiko juga bermunculan dalam berbagai judul populer, mulai dari manga Afterschool Charisma dan anime Shangri-la, hingga permainan video Tomb Raider rilisan 2013 yang menampilkan Himiko sebagai antagonis utamanya. Ia juga hadir sebagai “Ratu seluruh Nippon” dalam game Okami, serta menjadi pusat cerita dalam seri multimedia The Legend of Himiko.

Apa yang Membuat Ratu Himiko Begitu Istimewa?

queen himiko book cover
Source: 皇なつき

Himiko memerintah sebuah kerajaan ribuan tahun lalu, memicu perdebatan akademik yang panjang, dan terus hadir dalam berbagai bentuk representasi modern di Jepang. Namun, hal terpenting yang membuatnya menonjol bukanlah karena ia satu-satunya perempuan yang berkuasa pada masanya. Pada periode awal sejarah Jepang, kaum perempuan secara umum memiliki otoritas publik, kekuatan ekonomi, dan prestise spiritual yang tinggi. Himiko adalah representasi dari puncak kepemimpinan politik dan religius yang dipegang oleh perempuan di Jepang sebelum masuknya pengaruh budaya Tiongkok, Buddha, dan Konfusianisme.

Dengan kata lain, Himiko bukanlah sebuah anomali sejarah. Ia merupakan tokoh leluhur terkemuka dari tradisi panjang para pemimpin religius perempuan—seperti para pendeta wanita miko dalam tradisi Shinto—serta para pemimpin politik wanita di Jepang. Meskipun peran perempuan kemudian mengalami pergeseran dari pemrakarsa aktif menjadi pendukung di ranah sekuler maupun spiritual seiring berjalannya waktu, Himiko tetap berdiri sebagai teladan cemerlang yang merefleksikan kontribusi banyak perempuan masa lalu yang kini namanya telah terlupakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *