Pada hari terakhir kunjungan penuh di Jepang, tim Tofugu bersama Gakuranman menyempatkan diri berkunjung ke Sega Joypolis, sebuah pusat permainan dan taman hiburan indoor yang terletak di kawasan Odaiba, Tokyo.
Di sana, mereka mencoba purikura, mesin foto box khas Jepang. Seperti yang bisa dibayangkan, hasil akhirnya tampil penuh warna sekaligus tampak sedikit surel:

Purikura, yang merupakan singkatan dari print club, dapat ditemukan di berbagai sudut Jepang. Hampir setiap pusat arcade atau area hiburan pasti menyediakan fasilitas ini.
Lalu, apa sebenarnya purikura itu?
Mengenal Lebih Dekat Purikura
Mesin foto otomatis sebenarnya sudah ada sejak hampir satu abad lalu, namun konsepnya jauh berbeda dengan purikura modern. Di negara barat, bilik foto umumnya menghasilkan cetakan hitam-putih sederhana yang biasa ditemui di pusat perbelanjaan atau pasar malam.

Pertama kali diperkenalkan di pusat arcade Jepang pada pertengahan era 90-an, purikura menawarkan pengalaman yang jauh lebih dinamis, interaktif, dan mengutamakan estetika yang menggemaskan.
Masyarakat Jepang sangat menyukai hal-hal yang bernuansa kawaii, dan purikura dirancang khusus untuk memuaskan kecintaan tersebut. Sebagian besar fitur penyuntingan di dalam mesin ini bertujuan untuk mempercantik subjek foto. Pengguna dapat menambahkan berbagai stiker seperti bentuk hati, kilau bintang, teks lucu, dan beragam hiasan dekoratif lainnya.
Target utama pengguna purikura adalah perempuan muda, mulai dari siswi sekolah menengah hingga usia dewasa muda. Sayangnya, popularitas ini juga menarik perhatian pihak-pihak usil yang memanfaatkan situasi.

Akibatnya, banyak area purikura yang memberlakukan aturan larangan masuk bagi laki-laki, kecuali jika mereka datang bersama pendamping perempuan. Untungnya, kelompok yang semuanya laki-laki tersebut tetap bisa menikmati fasilitas purikura di Sega Joypolis.
Kebijakan pembatasan ini pada akhirnya menjadikan purikura kembali sebagai ruang yang aman bagi pengunjung untuk berfoto tanpa perlu merasa khawatir. Setelah berada di dalam bilik, prosesnya pun dimulai.
Panduan Singkat Menggunakan Purikura
Secara garis besar, cara menggunakan purikura tergolong cukup sederhana:
- Masuk ke dalam bilik bersama rekan-rekan
- Berpose di depan kamera sesuai waktu yang ditentukan
- Menghias hasil foto pada layar sentuh
Beberapa saat setelah proses penyuntingan selesai, cetakan foto akan keluar dari mesin dan siap untuk dibawa pulang.
Kendati demikian, proses penyuntingan foto purikura memiliki tingkat kerumitan tersendiri dan sudah menjadi semacam seni kreatif di kalangan penggemarnya.
Tips dan Proses Penyuntingan Foto
Bahkan sebelum menyentuh alat pengeditan manual, mesin purikura modern biasanya sudah menyematkan fitur otomatis. Sistem ini mampu mencerahkan dan menghaluskan kulit, memperbesar ukuran mata, membuat bentuk dagu lebih lancip, hingga memberikan efek kaki yang tampak lebih jenjang.

Tujuannya tentu saja untuk menghadirkan kesan yang sangat menggemaskan, meski terkadang efek manipulasi tersebut membuat wajah seseorang terlihat agak asing.
Setelah sesi pemotretan berakhir, pengguna akan keluar dari bilik utama untuk melanjutkan proses kreatif di stasiun penyuntingan terpisah.
Tersedia layar sentuh lengkap dengan pena digital dan berbagai perangkat dekorasi digital yang sangat beragam. Pengguna bebas membubuhkan stiker bertema bintang dan hati, menyisipkan teks, atau menggambar secara bebas menggunakan kuas virtual.

Setelah seluruh proses selesai, hasilnya bisa dicetak fisik, dikirimkan ke ponsel pintar, atau disimpan melalui opsi digital yang tersedia. Memiliki lembaran purikura menjadi kenang-kenangan tersendiri yang menarik untuk dibagikan.
Meskipun saat ini sudah banyak aplikasi seluler serupa, sensasi berdesakan di dalam bilik foto dengan batas waktu yang ketat tetap menghadirkan pengalaman yang autentik. Mencoba purikura secara langsung menjadi salah satu aktivitas yang wajib dicoba saat berkunjung ke Jepang.







