Hubungan saya dengan franchise Rainbow Six memang cukup rumit. Pertama kali mengenal seri ini lewat demo PC jadul dari Rainbow Six pertama saat saya masih berumur sekitar tujuh tahun. Jelas saja waktu itu saya tidak sepenuhnya paham apa yang terjadi, tapi game tersebut meninggalkan kesan mendalam hingga ketika Rainbow Six: Vegas rilis, saya punya sedikit bayangan apa yang akan saya hadapi. Saya menikmati Rainbow Six: Vegas beserta sekuelnya, sampai-sampai saya membeli Rainbow Six Siege pada hari peluncurannya. Saya rasa saya menghabiskan sekitar 200 jam bermain Siege semasa SMA, namun mulai jarang memainkannya ketika menginjak masa kuliah. Tahun lalu, saya sempat mencoba kembali Siege dan sejujurnya, saya merasa kewalahan luar biasa. Intinya, Rainbow Six adalah franchise yang dulu sangat saya sukai, namun kini rasanya sudah tidak sejalan lagi dengan preferensi bermain saya.
Namun, kehadiran Rainbow Six Tactics berpotensi mengubah segalanya. Diumumkan dalam ajang Gamescom Opening Night Live, Rainbow Six Tactics merupakan game taktik berbasis giliran (turn-based) untuk pemain tunggal di mana pemain memimpin sekelompok Operator Rainbow Six Siege yang populer dalam berbagai misi lintas negara. Selama Gamescom 2026, saya berkesempatan mengamati sesi permainan langsung selama 30 menit yang memberikan gambaran umum mengenai gameplay Rainbow Six Tactics. Meskipun sesi 30 menit tanpa memegang kendali langsung tentu belum cukup untuk membentuk penilaian penuh, durasi tersebut sudah cukup meyakinkan saya bahwa Rainbow Six Tactics layak untuk dicoba saat dirilis tahun depan.
<
Adaptasi yang Sangat Matang dari Formula Rainbow Six
Pratinjau langsung Rainbow Six Tactics yang saya ikuti dimulai saat para pengembang dari Ubisoft memilih empat Operator untuk menjalankan misi cerita. Versi penuh game ini nantinya akan menyediakan total 15 Operator yang semuanya diambil dari Rainbow Six Siege. Menariknya, para developer menjelaskan bahwa meskipun para Operator ini berasal dari Siege, desain mereka di sini lebih terinspirasi dari arketipe hero shooter. Setiap Operator dibekali seperangkat kemampuan dan senjata unik yang tidak selalu terikat dengan peran Defender atau Attacker seperti di Rainbow Six Siege. Dalam demo Gamescom tersebut, pengembang memilih Glaz, Ash, Nøkk, dan Montagne.
Setelah keempat Operator ditentukan, misi pun dimulai. Tujuan utama misi ini adalah menyusup ke dalam sebuah gudang, mengamankan target, dan mengevakuasi tim. Ketika kamera beralih ke sudut pandang dari atas (top-down), sebuah siklus gameplay yang sangat familiar langsung terasa. Mirip seperti game taktik berbasis giliran sejenis seperti XCOM maupun Star Wars Zero Company, inti permainan Rainbow Six Tactics berputar pada aktivitas menggerakkan Operator, menembak musuh, serta menggunakan kemampuan khusus yang semuanya memerlukan sejumlah Action Points. Daya tarik utama dari game taktik berbasis giliran seperti ini terletak pada kepuasan pemain dalam merancang strategi dan mengeksekusi rencana matang yang memadukan kemampuan seluruh anggota tim. Kontak senjata awal ini berjalan persis seperti ekspektasi saya terhadap sebuah game taktik Rainbow Six, di mana setiap Operator mengambil posisi apit (flanking) dan dengan cepat melumpuhkan musuh menggunakan tembakan standar.
Namun, di sinilah kejutan utama dari Rainbow Six Tactics muncul dan menjadi pembeda utama dari game sejenis. Setiap misi dalam Rainbow Six Tactics memiliki beberapa fase gameplay yang berbeda. Setelah mengamankan area pintu masuk gudang, pemain diminta untuk memasuki ‘Preparation Phase’ atau Fase Persiapan. Serupa dengan mekanisme dalam Rainbow Six Siege, pemain harus menggunakan drone kecil untuk memantau situasi di dalam ruangan serta menandai posisi musuh.
Rainbow Six Tactics Terus Berinovasi
Tahap berikutnya adalah ‘Assault Phase’ atau Fase Serangan. Bisa dibilang ini adalah bagian paling penting sekaligus paling memuaskan dari siklus gameplay Rainbow Six Tactics. Pada fase ini, waktu akan berhenti sepenuhnya agar pemain dapat menyusun strategi penyergapan yang nantinya akan langsung dieksekusi secara instan. Pengembang memilih Glaz terlebih dahulu untuk merencanakan jalur pergerakan sang penembak jitu, memerintahkannya naik ke balkon yang menghadap langsung ke area dalam gudang dan menggunakan kemampuan khususnya untuk melumpuhkan dua musuh sekaligus dalam satu tembakan. Fitur pembeda lain dari Rainbow Six Tactics juga terlihat di sini; tidak seperti dalam XCOM di mana pemain hanya perlu memilih target musuh lalu menembak, Rainbow Six Tactics mengharuskan pemain untuk membidik garis tembak senjata secara manual, memberikan tambahan lapisan strategi terkait posisi Operator.
Ash kemudian dipilih untuk menjebol dinding gudang menggunakan C4, lalu memanfaatkan sisa Action Points miliknya untuk berlari ke depan dan menembakkan roket menembus dinding di hadapannya ke arah sekelompok musuh yang menunggu di sisi seberang. Sementara itu, Nøkk diarahkan untuk mengapit kelompok musuh yang berbeda dan menghabisi mereka menggunakan shotgun, berkat kemampuan pasifnya yang memungkinkan dirinya tetap berada dalam mode stealth asalkan ia berhasil mengeliminasi setidaknya satu musuh setiap giliran. Terakhir, Montagne diminta berjalan di depan Ash dan dan Nøkk untuk melindungi rekan-rekannya dengan perisai tahan peluru dari tembakan siaga (overwatch) musuh yang tidak langsung tumbang.
Setelah seluruh pergerakan dan aksi para Operator selesai direncanakan, serangan pun diluncurkan. Semua tindakan dimainkan secara serentak sementara sudut pandang kamera berubah menjadi perspektif orang ketiga dari belakang bahu yang jauh lebih sinematik. Momen ini menjadi bagian paling berkesan bagi saya selama sesi pratinjau Rainbow Six Tactics. Meskipun saya bukan orang yang merancang setiap langkah tersebut secara langsung, melihat rencana itu berjalan tetap terasa sangat memuaskan. Menyaksikan semuanya terjadi secara real-time dengan sudut pandang kamera yang menonjolkan aksi dramatis bertempo cepat rasanya seperti sebuah evolusi yang mengejutkan dari formula game taktik berbasis giliran pada umumnya.








