Tinggal di Jepang menuntut banyak penyesuaian, salah satunya adalah menghadapi budaya merokok. Berbeda dengan di Inggris—tempat aturan bebas asap rokok di ruang publik sudah menjadi hal biasa dan mayoritas kenalan saya adalah non-rokok—Jepang justru menghadirkan situasi yang sebaliknya. Bagi seseorang dengan kondisi asma seperti saya, udara yang dipenuhi kepulan asap rokok di berbagai tempat makan atau setelah acara kumpul-kumpul kantor menjadi tantangan tersendiri.
Meskipun rokok bukan hal yang saya sukai, industri tembakau di Jepang melahirkan sesuatu yang menarik, yaitu poster-poster etika merokok yang artistik, puitis, dan kerap kali bernada jenaka.
Jika Anda Memperhatikan…

Wisatawan yang berkunjung ke Jepang biasanya akan langsung memerhatikan desain poster etika merokok yang minimalis. Menggunakan kombinasi dua warna, hijau dan putih, poster-poster ini menggambarkan berbagai dilema moral disertai teks dalam bahasa Jepang dan Inggris. Kalimat-kalimatnya sering kali mengingatkan kita pada struktur puisi tradisional seperti haiku, yang menggunakan jeda baris untuk mengubah sudut pandang pembaca.
“Api menghilang di balik sepatu. Sayangnya, puntungnya tetap tertinggal.”
Alih-alih memberikan aturan yang kaku, poster-poster ini dirancang untuk memicu refleksi diri dengan sentuhan humor yang khas:
“Jangan merokok di tengah keramaian. Mantel itu mahal.”
Beberapa poster bahkan melemparkan pertanyaan terbuka kepada pembacanya:
“Membuang puntung rokok karena orang lain juga melakukannya? Apakah itu alasan yang bagus?”
Pesan utama dari kampanye ini terangkum dalam slogan: Jika Anda lebih peka, tata krama pun akan ikut berubah.
Tata Krama yang Berubah

Topik yang diangkat dalam poster-poster ini sangat beragam, mulai dari larangan membuang puntung sembarangan, kesadaran akan perokok pasif, risiko membakar pakaian orang lain, hingga pentingnya membawa asbak portabel. Edisi baru biasanya dirilis setiap pergantian musim, seperti poster musim dingin yang sempat saya temui di area Sapporo Yuki Matsuri.

Keberadaan poster di area khusus merokok ini memunculkan pertanyaan penting mengenai siapa pihak di balik pembuatan kampanye tersebut.
Poster Anti-Rokok atau Pro-Rokok?

Bagi yang belum tahu, petunjuk utama dari pembuat poster ini tersimpan pada logo kecil bertuliskan JT, yang merupakan singkatan dari Japan Tobacco. Kampanye ini sebenarnya bukan dibuat oleh lembaga kesehatan untuk menghentikan kebiasaan merokok, melainkan oleh salah satu produsen rokok terbesar di Jepang sekaligus perusahaan tembakau paling menguntungkan ketiga di dunia.
Sekilas hal ini tampak bertentangan, namun motif di baliknya berkaitan erat dengan norma sosial masyarakat Jepang yang sangat menjunjung tinggi opini publik dan rasa malu. Seiring menurunnya jumlah perokok dan mulai pudarnya budaya merokok sebagai norma sosial, para perokok menjadi lebih rentan terhadap penilaian negatif dari masyarakat. Melalui kampanye ini, Japan Tobacco berupaya menjaga agar para perokok tetap santun sehingga tidak memicu protes publik yang lebih luas atau aturan larangan merokok yang dapat merugikan bisnis mereka.
Di balik tujuan bisnisnya, kampanye yang digarap oleh agensi periklanan milik Kinya Okamoto ini nyatanya tetap memberikan dampak positif bagi kebersihan lingkungan, terlepas dari perdebatan jangka panjang mengenai dampaknya terhadap industri rokok.
Melampaui Batas Urusan Merokok

Kesuksesan kampanye ini bahkan diadopsi oleh industri lain, seperti kerja sama antara Japan Rail dengan Japan Tobacco untuk menampilkan poster dengan gaya serupa di dalam gerbong kereta. Alih-alih hanya membahas etika merokok, poster-poster ini juga mengingatkan penumpang tentang aturan umum di dalam kereta, termasuk tata cara membawa barang bawaan yang berukuran besar.

Sarana Belajar Bahasa Jepang

Selain menyampaikan pesan sosial, poster-poster ini juga berfungsi sebagai media pembelajaran bahasa Jepang yang unik. Pertama, kalimatnya yang singkat dan sederhana memudahkan pembelajar untuk berlatih membaca kanji sekaligus mencocokkan arti kata kerja dengan terjemahan bahasa Inggris yang disertakan.

Kedua, terjemahan bahasa Inggris pada poster tidak menggunakan gaya penutur asli standar, melainkan terjemahan harfiah yang justru memberikan wawasan menarik tentang bagaimana cara orang Jepang merangkai sebuah kalimat dan gagasan.

Ketiga, poster-poster ini mencerminkan struktur argumen dalam budaya Jepang yang lebih mengandalkan pendekatan tersirat, ilustrasi, atau pemanggilan respons emosional alih-alih perintah langsung. Memahami pola pikir di balik penyusunan pesan ini merupakan bagian penting dalam mempelajari bahasa Jepang secara menyeluruh.
Di Balik Asap

Terlepas dari aspek artistik dan nilai edukatifnya, kita tidak boleh melupakan fakta bahwa poster-poster ini tetaplah bagian dari pencitraan untuk menutupi persoalan kesehatan yang lebih besar akibat rokok. Kendati tingkat merokok di Jepang berangsur-angsur turun dan isu kesehatan seperti kanker paru-paru semakin mendapat perhatian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar negara ini benar-benar menjadi lingkungan yang ramah bagi seluruh masyarakat.








