Home / Study / Pola Pikir Debat Orang Jepang: Alasan Cara Orang Jepang Berargumen Berbeda

Pola Pikir Debat Orang Jepang: Alasan Cara Orang Jepang Berargumen Berbeda

header 640x 79

Sistem pendidikan di Jepang sering kali mendapat sorotan karena kurangnya penekanan pada komunikasi, retorika, dan seni berargumentasi jika dibandingkan dengan dunia Barat. Hal ini kerap menjadi dorongan bagi para pelajar Jepang untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Retorika Barat sendiri berakar dari tradisi filsuf Yunani dan Romawi kuno seperti Plato, Socrates, dan Cicero, yang terbiasa mempertanyakan berbagai argumen secara mendalam. Sebaliknya, Jepang tidak memiliki tradisi retorika yang serupa; gaya penulisan mereka justru berkembang dari tradisi puisi dan teater, sebagaimana lazimnya kawasan Asia Timur.

Pola argumen standar di Barat—di mana gagasan utama harus dinyatakan secara eksplisit pada paragraf pertama dan diikuti oleh kalimat pendukung—berkembang dari tradisi demokrasi dan kebebasan untuk berbeda pendapat. Para orator Yunani dan Romawi sangat menghargai suara individu yang berani menantang kemapanan, sebuah konsep yang kurang sejalan dengan budaya kolektif di Jepang yang lebih mengutamakan harmoni kelompok. Akibatnya, gaya penulisan langsung ala Barat terkadang dianggap terlalu frontal atau bahkan arogan oleh masyarakat yang terbiasa dengan tradisi tulis Asia Timur.

A statue of Socrates seated
Sumber: Sébastien Bertrand

Perbedaan kultural ini sering kali memicu tantangan tersendiri bagi pelajar Jepang yang belajar di lingkungan akademik Barat. Di kelas-kelas yang menuntut kemampuan menulis tinggi, siswa bisa kehilangan poin jika menyimpang dari model argumen standar Barat. Sebagian tradisi retorika Asia cenderung menyampaikan maksud secara tersirat tanpa langsung menyebutkan inti permasalahan. Ada pula model induktif yang menyajikan data pendukung terlebih dahulu baru kemudian menarik kesimpulan di akhir. Di ruang kelas Barat, tulisan semacam ini sering kali dianggap bertele-tele atau tidak terstruktur dengan baik, padahal masalahnya bukan pada kesalahan tata bahasa, melainkan pada cara penyampaian yang asing bagi pembaca lokal.

Untuk memahami perbedaan mendasar antara penulis Jepang dan penutur bahasa Inggris, seorang peneliti bernama John Hinds pada tahun 1970-an dan 1980-an mengidentifikasi beberapa metode retorika khas yang kerap ditemukan dalam tulisan berbahasa Jepang. Hinds merumuskan empat gaya retorika utama, yaitu Return to Baseline, Tempura, Jo-Ha-Kyu, dan Kishoutenketsu.

Gaya Return to Baseline

Gaya Return to Baseline berpusat pada upaya penulis untuk kembali mengulas opini atau gagasan yang telah diperkenalkan di awal tulisan. Penulis biasanya memaparkan berbagai contoh masalah yang sepintas tampak tidak saling berkaitan, namun sebenarnya merujuk pada satu inti yang sama. Meskipun gagasan utamanya sudah dimunculkan sejak paragraf awal, contoh-contoh yang dijabarkan tidak berfungsi untuk membuktikan argumen secara langsung, melainkan sebagai ilustrasi yang luas. Bagi pembaca Barat yang terbiasa langsung pada inti permasalahan, gaya ini kerap dinilai melenceng dari topik atau terkesan berputar-putar, meskipun sebenarnya memiliki fokus yang sangat kuat.

Gaya Tempura

A dish of tempura
Sumber: OiMax

Gaya Tempura sering ditemukan dalam artikel surat kabar Jepang. Istilah ini merujuk pada analogi makanan tempura, di mana lapisan tepung yang tebal harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum bagian utamanya (ikan) dapat ditemukan. Gaya ini tergolong pola induktif karena opini atau gagasan utama baru diungkapkan pada paragraf-paragraf akhir. Di bagian awal, pembaca disuguhi berbagai fakta, angka, dan contoh pendukung. Penerjemah Yuka Yutani kerap harus memangkas bagian awal artikel berita Jepang semacam ini agar pembaca berbahasa Inggris bisa langsung menangkap inti berita utamanya.

Gaya Jo-Ha-Kyuu

A miniature model of a Shinkasen train
Sumber: Foolish adler

Gaya Jo-Ha-Kyuu dan Kishoutenketsu berakar dari seni puisi dan teater klasik Jepang. Jo-Ha-Kyuu secara harfiah berarti “mulai”, “pecah”, dan “cepat”. Konsep ini mengisyaratkan bahwa sebuah karya seni harus dimulai dengan lambat, meningkatkan tempo, lalu diakhiri secara cepat dan tegas. Prinsip ini tidak hanya dipakai dalam seni peran, tetapi juga dalam seni bela diri Kendo dan upacara minum teh. Dari segi struktur penulisan, gaya ini adalah yang paling mirip dengan pola penulisan Barat, yakni memiliki pendahuluan, penjabaran, dan kesimpulan singkat.

Gaya Kishoutenketsu

A Japanese comic demonstrating the Kishoutenketsu style

Berbeda dengan Jo-Ha-Kyuu, gaya Kishoutenketsu sama sekali tidak memiliki padanan di dunia Barat. Diadaptasi dari puisi empat baris tradisional Tiongkok, struktur ini terdiri dari Ki (pengenalan), Shou (pengembangan), Ten (kejutan atau tikungan alur), dan Ketsu (kesimpulan). Sebagai ilustrasi, penyair Sanyo Rai pernah memberikan contoh berikut:

  • Ki: Tokoh-tokohnya adalah para putri dari Itoya di Osaka.
  • Shou: Kakak perempuan berusia enam belas tahun dan adiknya berusia empat belas tahun.
  • Ten: Secara historis di Jepang, para prajurit membunuh musuh mereka menggunakan busur dan anak panah.
  • Ketsu: Namun, para putri Itoya membunuh hanya dengan pandangan mata mereka.

Bagian Ki memperkenalkan tokoh, Shou memperluas informasi awal, Ten menghadirkan elemen baru yang tak terduga untuk memberi konteks, dan Ketsu menghubungkan elemen baru tersebut dengan bagian awal. Struktur semacam ini sangat populer digunakan dalam komik empat panel atau yonkoma untuk menciptakan efek humor.

Bagi komunitas akademis Barat, gaya ini kerap menimbulkan kebingungan karena bagian kesimpulan (Ketsu) justru memasukkan elemen informasi baru. Dalam tradisi akademik Barat, kesimpulan seharusnya hanya berfungsi merangkum pengetahuan yang telah dibahas sebelumnya tanpa menambah gagasan baru. Memasukkan tiga topik berbeda dengan bobot yang sama tentu menyulitkan pembaca akademik Barat yang terbiasa berfokus pada satu pokok bahasan tunggal.

Seiring dengan arus globalisasi dan internasionalisasi di Jepang, gaya argumen langsung ala Barat kini semakin luas diajarkan di sekolah-sekolah setempat. Meskipun demikian, keberagaman gaya retorika tradisional ini membuktikan betapa kaya dan bervariasinya cara manusia mengekspresikan pikiran di berbagai belahan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *