Selama setahun terakhir, saya bekerja sama dengan Setouchi DMO untuk membantu mempromosikan wilayah tersebut secara internasional melalui media dan media sosial. Dari kerja sama yang terjalin, saya banyak belajar tentang kawasan Jepang yang luar biasa ini. Jika melihat kembali ulasan awal saya mengenai Setouchi, saya merasa daftar tempat yang saya rekomendasikan ternyata masih sangat kurang. Kali ini, saya ingin mengenalkan salah satu kawasan bersejarah yang menarik, yaitu kota kuno Mitarai.
Jika Anda belum pernah mendengar tentang Mitarai, Anda tidak sendirian. Saya sendiri baru mengetahui permata tersembunyi ini berkat pekerjaan saya dengan Setouchi DMO. Terletak jauh di Laut Pedalaman Seto di ujung gugusan pulau yang panjang, Mitarai adalah sebuah kota yang seolah membeku di dalam waktu. Pada masa lalu, kawasan ini merupakan kota pelabuhan yang sangat sibuk, di mana para pelancong harus singgah dan menunggu kondisi pasang surut air laut yang ideal untuk melanjutkan perjalanan. Untuk menampung banyaknya pendatang, tata kota dengan pola grid ini dipenuhi dengan berbagai penginapan, rumah tinggal, dan kedai teh.
Meskipun perjalanan menuju Mitarai tidak bisa dibilang mudah, salah satu alasan utama untuk mengunjunginya adalah karena kota ini merupakan cerminan sempurna untuk memahami karakter Setouchi. Serupa dengan Tomonoura yang lebih populer, Mitarai terbentuk akibat dinamika pasang surut Laut Pedalaman Seto. Memiliki salah satu selisih pasang dan surut tertinggi di dunia, kapal-kapal modern sekalipun seringkali harus berjuang melawan arus di perairan ini.

Walaupun Hiroshima dan Miyajima menjadi destinasi yang paling sering dikunjungi di wilayah Setouchi, kawasan seperti Mitarai justru jauh lebih merepresentasikan budaya lokal yang autentik. Karena para pelancong terpaksa menunggu air laut, berbagai industri mulai dari kuliner, penginapan, hingga hiburan berkembang pesat di pelabuhan ini untuk melayani kebutuhan mereka.
Secara keseluruhan, Mitarai adalah destinasi yang sangat tepat bagi siapa saja yang ingin keluar dari jalur wisata umum dan memahami keistimewaan Setouchi. Walaupun Anda disarankan menggunakan mobil sewaan untuk menjelajahinya, perjalanan ke Mitarai menawarkan kombinasi antara cerita sejarah, lokasi, dan keindahan yang membuat perjalanan terasa jauh lebih bermakna dibandingkan tempat wisata utama yang padat pengunjung.
Bagi para penggemar sepeda, perlu dicatat bahwa Mitarai berada di sepanjang jalur yang dikenal sebagai Tobishima Kaido. Jangan keliru dengan Shimanami Kaido, rute ini mencakup tujuh pulau yang dihubungkan oleh serangkaian jembatan baja. Jalur Tobishima Kaido dikenal sebagai rute bersepeda yang populer sekaligus cukup menantang.
Cara Menuju ke Sana

Harus diakui bahwa mencapai Mitarai tergolong cukup sulit jika Anda tidak memiliki kendaraan pribadi. Transportasi umum menuju ketujuh pulau di jalur Tobishima Kaido kurang begitu optimal. Oleh karena itu, menggunakan mobil sewaan sangat disarankan agar Anda memiliki kebebasan lebih untuk menjelajahi berbagai tempat di sepanjang perjalanan tanpa harus terikat jadwal bus yang jarang.
Jika Anda tidak dapat mengemudi, Anda tetap bisa menjangkau Mitarai menggunakan bus. Pertama, Anda perlu naik Jalur JR Kure menuju Stasiun Kure. Dari sana, lanjutkan perjalanan dengan bus Tobishima Liner yang dioperasikan oleh Sanyo Bus. Perjalanan ini akan membawa Anda ke Mitarai dalam waktu sekitar 90 menit, dan Anda harus turun di halte Pelabuhan Mitarai.
Untuk panduan rute, Google Maps kini sangat membantu karena menampilkan representasi visual rute beserta petunjuk jalan menuju halte. Informasi tambahan ini sangat berguna saat harus bepergian menggunakan bus di daerah pedesaan.
Tempat Menarik di Mitarai

Setibanya di Mitarai, luangkan waktu setidaknya satu atau dua jam untuk berjalan-jalan menikmati suasana kota. Terdaftar sebagai Distrik Penting untuk Pelestarian Kelompok Bangunan Bersejarah pada tahun 1994, Mitarai memiliki pesona khas wilayah Setouchi. Letaknya yang berada di area perkampungan nelayan yang sempit membuat tata ruangnya menyerupai labirin.
Berikut adalah beberapa lokasi yang patut Anda kunjungi saat berada di Mitarai:
- Museum Peta Ino Tadataka
Ino Tadataka adalah kartografer pertama Jepang. Pada tahun 1800-an, ia memetakan seluruh negeri, dan banyak dari peta buatannya dapat ditemukan di museum lokal ini. Meskipun seluruh keterangan menggunakan bahasa Jepang, tempat ini tetap menarik untuk disinggahi sejenak. - Teater Geisha Otomeza
Fasilitas peninggalan sebelum Perang Dunia II ini awalnya berfungsi sebagai teater tempat pertunjukan geisha, sebelum beralih fungsi menjadi bioskop pada pertengahan abad ke-20. Bangunan ini telah dipugar dan menawarkan kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan suasana Mitarai di masa lalu dengan tiket masuk seharga 200 yen. - Kuil Sumiyoshi
Kuil Sumiyoshi di Mitarai memiliki pesona tersendiri, terutama saat bunga sakura bermekaran di musim semi. Terletak tepat di dekat area pelabuhan, kuil ini dulunya menjadi tempat bagi para pelaut untuk memohon keselamatan sebelum berlayar. - Mercusuar Batu Mitarai
Terletak tepat di sebelah Kuil Sumiyoshi, dermaga dan mercusuar batu Mitarai merupakan simbol ikonik dari wilayah Setouchi yang menggambarkan sejarah maritim kawasan tersebut. - Taman Rekishi-no-Mieruoka
Berada di atas bukit di belakang kota, taman ini menyuguhkan pemandangan panorama Mitarai dan Laut Pedalaman Seto dari ketinggian. - Gerbang Harapan (The Gate of Possibilities)
Terletak di area Kuil Tenmangu di bagian belakang aula doa, gerbang ini dipercaya memiliki kekuatan untuk mengabulkan keinginan. Kuil ini juga sangat indah dikunjungi pada musim semi saat bunga sakura mekar penuh.
Bagi yang ingin merasakan pengalaman menginap di pulau tempat Mitarai berada, tersedia beberapa rumah tamu sederhana yang cukup memadai untuk beristirahat.
Shoto-en & Museum Seni Rantokaku

Selain kawasan kotanya, terdapat beberapa objek wisata menarik di sepanjang perjalanan menuju Mitarai, salah satunya adalah Shoto-en. Terletak di Shimo-Kamagarishima, pulau pertama di jalur Tobishima Kaido, area ini dulunya juga merupakan kota pelabuhan yang makmur di Laut Pedalaman Seto.
Taman bergaya Jepang ini menampilkan lanskap kerikil rakit dan pohon cemara hijau yang mencerminkan estetika zaman Edo (1603–1868). Pada masa lalu, Shoto-en berfungsi sebagai tempat penyambutan bagi para utusan Korea yang datang ke Jepang.
Tidak jauh dari Shoto-en terdapat Museum Seni Rantokaku. Museum ini menyimpan lebih dari 2.000 karya agung dari seniman lokal, mulai dari lukisan gaya Jepang hingga lukisan cat minyak dan cetakan.
Destinasi Wisata Terdekat Lainnya

Bagi wisatawan yang menggunakan bus atau mobil sewaan, menyempatkan diri untuk singgah di Kure dalam perjalanan pulang adalah pilihan yang sangat tepat. Di sana, Anda dapat mengunjungi Museum Yamato yang mendedikasikan pamerannya untuk kapal perang terbesar yang pernah dibuat, guna melihat sisi lain sejarah Perang Dunia II di Hiroshima.
Bagi yang memiliki fleksibilitas transportasi lebih, perjalanan singkat ke Pulau Okamurajima juga sangat direkomendasikan. Pulau terakhir di jalur Tobishima Kaido ini secara administratif merupakan bagian dari Prefektur Ehime di Shikoku, yang menunjukkan betapa pentingnya pengaruh arus pasang surut terhadap sejarah pembagian wilayah di Setouchi.

Terakhir, jalur Tobishima Kaido juga sangat terkenal di kalangan pesepeda. Namun, perlu dicatat bahwa rute ini tergolong sangat menantang karena melewati tujuh jembatan antar-pulau dengan kontur jalan naik turun yang cukup terjal. Berbeda dengan Shimanami Kaido, infrastruktur di jalur ini masih cukup terbatas, sehingga persiapan yang matang sangat diperlukan.
Jika Anda berencana untuk bersepeda di sini, pastikan untuk berkendara searah jarum jam agar selalu berada di sisi jalan yang menghadap langsung ke Laut Pedalaman Seto, serta lakukan riset terlebih dahulu mengenai penyewaan sepeda karena dukungan bahasa Inggris di jalur ini cukup terbatas.








