Bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dalam sisi autentik wilayah Setouchi di Jepang, kota bersejarah Mitarai adalah salah satu destinasi yang wajib masuk dalam daftar kunjungan. Terletak di ujung gugusan pulau di Laut Pedalaman Seto, kawasan ini seolah terhenti di tengah waktu. Pada masa lampau, Mitarai berfungsi sebagai kota pelabuhan yang sangat sibuk, tempat para pelancong terpaksa singgah sambil menunggu kondisi pasang surut air laut yang aman untuk melanjutkan perjalanan.
Meskipun Hiroshima dan Miyajima jauh lebih populer di kalangan pelancong mancanegara, Mitarai menawarkan pemahaman yang jauh lebih autentik mengenai budaya maritim setempat. Dinamika pasang surut Laut Pedalaman Seto yang ekstrem membentuk seluruh aspek kehidupan di kota ini, mulai dari tata letak jalan berstruktur kotak, penginapan, rumah penduduk, hingga berbagai fasilitas hiburan masa lalu.

Selain menyimpan nilai sejarah yang tinggi, kawasan ini juga dilalui oleh rute bersepeda Tobishima Kaido. Berbeda dengan Shimanami Kaido yang lebih terkenal, rute ini menghubungkan tujuh pulau melalui rangkaian jembatan baja dan dikenal menantang bagi para pesepeda yang menyukai perjalanan jarak jauh.
Cara Menuju ke Mitarai

Mengakses Mitarai dengan kendaraan umum membutuhkan sedikit kesabaran karena keterbatasan jadwal bus yang melayani gugusan pulau Tobishima Kaido. Oleh karena itu, menggunakan mobil sewaan adalah pilihan terbaik untuk mendapatkan kebebasan lebih dalam menjelajahi berbagai tempat menarik di sepanjang perjalanan tanpa terikat jadwal.
Bagi yang mengandalkan transportasi umum, perjalanan dapat dimulai dengan naik Jalur JR Kure menuju Stasiun Kure. Dari sana, lanjutkan perjalanan dengan bus Tobishima Liner yang dioperasikan oleh Sanyo Bus menuju halte Pelabuhan Mitarai dengan durasi sekitar 90 menit.
Tempat Menarik di Mitarai

Mitarai ditetapkan sebagai Distrik Penting untuk Pelestarian Kelompok Bangunan Bersejarah pada tahun 1994. Dengan area perkampungan yang cukup padat, berjalan kaki menyusuri lorong-lorongnya akan memberikan pengalaman menyelami suasana masa lampau. Beberapa titik penting yang patut dikunjungi meliputi:
- Museum Peta Ino Tadataka: Tempat yang memamerkan berbagai peta karya kartografer pertama Jepang yang melakukan survei ke seluruh negeri pada era 1800-an.
- Teater Geisha Otomeza: Bangunan peninggalan sebelum Perang Dunia II yang sempat berfungsi sebagai panggung kesenian geisha dan kemudian bioskop. Pengunjung dapat masuk dengan tiket seharga 200 yen.
- Kuil Sumiyoshi: Kuil yang terletak persis di dekat area pelabuhan, dahulu menjadi tempat para pelaut memanjatkan doa demi keselamatan perjalanan mereka di laut.
- Mercusuar Batu Mitarai: Berada di sebelah Kuil Sumiyoshi, dermaga dan mercusuar batu ini menjadi salah satu simbol paling ikonis dari lanskap maritim Setouchi.
- Taman Rekishi-no-Mieruoka: Taman di atas bukit yang menyuguhkan pemandangan panorama Mitarai dan Laut Pedalaman Seto dari ketinggian.
- Gerbang Kuil Tenmangu: Bagian belakang aula doa kuil ini memiliki gerbang khusus yang diyakini masyarakat setempat memiliki tuah untuk mengabulkan permohonan.
Shoto-en dan Museum Seni Rantokaku

Sebelum atau sesudah mencapai pusat kota Mitarai, sempatkan diri mampir ke Shoto-en di pulau Shimo-Kamagarishima. Kompleks taman bergaya Jepang tradisional ini dulunya berfungsi sebagai pusat penyambutan utusan resmi dari Korea pada zaman dahulu. Penataan lanskap dengan pohon hijau dan hamparan kerikil memberikan gambaran kemakmuran para saudagar zaman Edo.
Tidak jauh dari taman tersebut berdiri Museum Seni Rantokaku. Museum berstruktur kayu autentik ini menyimpan ribuan karya seni mulai dari lukisan gaya tradisional Jepang hingga seni kontemporer karya seniman lokal.
Destinasi di Sekitar Mitarai

Bagi pelancong yang kembali ke arah Hiroshima, singgah sejenak di Kure untuk mengunjungi Museum Yamato adalah agenda yang sangat direkomendasikan. Museum ini mendedikasikan ruangannya untuk memamerkan sejarah maritim serta kisah kapal perang raksasa Yamato yang pernah dibuat di sana.
Sementara itu, bagi yang memiliki waktu luang lebih fleksibel dengan kendaraan pribadi, pulau Okamurajima di ujung rute Tobishima Kaido menarik untuk disambangi. Walau secara administratif masuk ke dalam Prefektur Ehime di Shikoku, pulau ini berada tepat di sebelah Mitarai, memperlihatkan bagaimana arus laut memengaruhi batas wilayah dan sejarah budaya setempat sejak masa lampau.

Bagi para pesepeda, jalur Tobishima Kaido menawarkan tantangan tersendiri. Medan yang berbukit naik-turun serta jembatan penghubung antar-pulau menuntut stamina yang prima. Karena minimnya fasilitas pendukung di sepanjang jalur ini dibandingkan Shimanami Kaido, setiap pengendara disarankan untuk melakukan persiapan matang, termasuk menaiki sepeda searah jarum jam agar selalu berada di sisi laut yang menghadap langsung ke perairan Seto.








