Bermain gasing tradisional Jepang membutuhkan waktu dan kesabaran tersendiri. Setelah beberapa hari berlatih dan sempat merasa frustrasi, saya akhirnya berhasil melempar gasing kayu tersebut hingga berputar mulus di lantai. Saat itu, anak-anak di sekitar saya pun melupakan sejenak gawai dan mainan modern mereka di rumah.
Permainan tradisional Jepang menawarkan beragam aktivitas menarik yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari layang-layang, hanetsuki yang mirip bulu tangkis, hingga karuta. Kendati demikian, keberadaan permainan lama ini mulai tergeser oleh perkembangan zaman.

Banyak orang dewasa, baik rekan kerja maupun para kakek dan nenek, sering menyayangkan kurangnya minat generasi muda terhadap mainan masa lalu. Saat ini, anak-anak lebih sering menghabiskan waktu dengan permainan portabel atau gawai pintar di pusat perbelanjaan maupun taman bermain.
Popularitas konsol genggam seperti Nintendo DS di Jepang menunjukkan betapa dominannya hiburan digital di kalangan anak-anak maupun orang dewasa. Meskipun teknologi baru semakin digemari, budaya bermain tradisional belum sepenuhnya punah, terutama berkat peran lembaga pendidikan.
Di berbagai taman kanak-kanak di Jepang, mainan dari rumah umumnya dilarang dibawa ke sekolah. Hal ini mendorong anak-anak untuk memanfaatkan benda sederhana seperti kertas origami, kardus, koran, hingga selotip untuk merakit mainan kreatif buatan sendiri, mulai dari pedang-pedangan hingga replika properti pahlawan super.
Menjelang tahun baru atau acara khusus, pihak sekolah kerap membagikan bahan yang lebih menantang, seperti payung, layang-layang, atau gasing kayu polos. Para siswa biasanya menghias gasing tersebut sebelum mengikuti kompetisi tahunan yang dikenal sebagai Koma Taikai guna memicu semangat mereka.
Gasing kayu tradisional yang digunakan oleh anak-anak yang lebih besar memerlukan teknik khusus. Tali harus dililitkan secara rapat mulai dari bagian atas hingga menutupi seluruh permukaan bawah gasing. Setelah itu, gasing dilempar menggunakan ayunan tangan yang mantap agar tali terurai dan membuat gasing berputar kencang.




Suasana menjadi semakin meriah ketika para sesepuh atau pria lanjut usia datang berkunjung ke acara Koma Taikai dan memperkenalkan jenis gasing yang jauh lebih rumit, yaitu beigoma. Mereka membentangkan kain di atas sebuah ember untuk dijadikan arena adu gasing.

Beigoma merupakan gasing besi berukuran kecil yang tidak memiliki tangkai di bagian atas maupun ujung lancip di bagian bawahnya. Permukaan logam tersebut sering kali diukir dengan berbagai motif menarik seperti pesawat, kupu-kupu, hingga huruf kanji.

Karena bentuknya yang berbeda, teknik melilitkan tali dan cara melempar beigoma pun memerlukan keahlian tersendiri. Tali khusus yang memiliki dua simpul dililitkan pada badan gasing, kemudian dilempar dengan gerakan jentikan tangan yang cepat agar gasing dapat berputar stabil di dalam mangkuk kain.

Terdapat berbagai jenis beigoma dengan ukuran, ketebalan, dan bentuk yang beragam, mulai dari yang bundar hingga segi delapan. Nama-nama beigoma biasanya mencerminkan karakteristik fisiknya, seperti Taka-ousama yang tinggi dan berat, serta Maru-roku yang berbentuk bulat.

Pola melingkar di bagian bawah beigoma ternyata menyimpan sejarah unik. Pada masa lampau, permainan ini menggunakan cangkang kerang alami, yang kemudian diadaptasikan ke dalam bentuk logam dengan pola pusaran air sebagai pengingat bentuk aslinya.
Meski permainan tradisional menghadapi ancaman kepunahan akibat gempuran teknologi modern, masih ada harapan untuk melestarikannya. Dukungan dari institusi pendidikan, ketersediaan mainan tradisional di toko-toko dengan harga terjangkau, serta kemunculan tema permainan dalam anime dan manga turut membantu mengenalkan budaya ini kepada generasi muda.
Selama persiapan kompetisi gasing, antusiasme anak-anak terlihat jelas saat mereka berlatih bersama keluarga di rumah. Hal ini menunjukkan bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat dan akan terus bertahan di tengah modernisasi.








