Teh merupakan minuman yang paling digemari di Jepang serta memegang peranan krusial dalam kebudayaan setempat. Anda dapat menjumpainya di mana saja, bahkan sering kali disajikan secara cuma-cuma di restoran layaknya air putih. Di bawah ini adalah deretan jenis teh yang paling umum dan diminati di Jepang, masing-masing dengan karakteristik rasanya sendiri.
Green Tea (Ryokucha)

Teh hijau menduduki peringkat pertama sebagai teh paling populer di Jepang. Sesuai namanya, minuman ini memiliki rona hijau dengan berbagai tingkatan kualitas yang ditentukan berdasarkan waktu panen daun serta seberapa banyak paparan sinar matahari yang diterima. Variasi ini juga sangat digemari di luar negeri.
Karakter rasanya cenderung ringan, bersahaja, dan menyerupai rumput. Walau kurang begitu gemar menikmatinya dalam bentuk murni, rasanya akan jauh lebih menyegarkan jika ditambahkan sedikit lemon atau ginseng. Secara keseluruhan, teh hijau adalah pilihan yang baik, meski bukan favorit mutlak dalam kondisi aslinya.
Green Tea With Roasted Brown Rice (Genmaicha)

Bagi yang mencari alternatif dari teh hijau biasa, varian ini memadukan daun teh dengan bulir beras merah yang belum dipoles dan telah disangrai. Menghasilkan warna kekuningan, rasanya sangat berbeda dari teh hijau standar. Pada mulanya, minuman ini dikonsumsi oleh kalangan kurang mampu karena beras berfungsi sebagai pengisi untuk menekan harga.
Perpaduan rasa rumput khas teh hijau dan aroma beras sangrai menciptakan cita rasa unik yang sering dijuluki sebagai “teh popcorn” akibat beberapa bulir beras yang mekar saat proses penyangraian.
Roasted Green Tea (Hojicha)

Hojicha melalui proses pemanggangan daun teh tanpa mencampurkan beras merah. Suhu pemanasan yang tinggi mengubah warna daun menjadi cokelat kemerahan serta mengurangi tingkat keaspatannya, sehingga menghasilkan rasa yang lebih manis.
Karakter rasanya yang lembut, hangat, dan mirip karamel membuatnya sangat pas dinikmati setelah makan malam. Varian ini juga menjadi kegemaran anak-anak serta para orang tua karena sifatnya yang tidak terlalu pekat.
Residual Green Tea (Konacha)

Konacha memanfaatkan sisa-sisa produksi teh hijau berkualitas tinggi, yang terdiri dari serbuk teh, kuncup, dan daun-daun kecil. Karena kelasnya yang rendah, teh jenis ini lazim disajikan secara gratis di restoran sushi ekonomis.
Meskipun berasal dari sisa produksi, kekuatan rasanya ternyata cukup pekat, yang justru sangat cocok jika disantap bersama hidangan sushi.
Powdered Green Tea (Maccha)

Dikenal sebagai kelas teh hijau tertinggi, Maccha dibuat dari daun teh pilihan yang dikeringkan lalu ditumbuk menjadi bubuk halus sebelum diseduh air panas. Teh ini juga menjadi sajian utama dalam upacara minum teh tradisional.
Selain diseduh langsung, bubuk ini sangat populer sebagai perasa hidangan penutup dan es krim di Jepang. Karakter rasanya cenderung pekat dengan sentuhan nabati yang agak pahit.
Oolong Tea (Oolongcha)

Berasal dari Tiongkok, oolong diproses melalui oksidasi daun teh dengan tingkat berkisar antara 8% hingga 85% sebelum akhirnya disangrai atau dikukus. Berwarna kecokelatan, minuman ini dapat dinikmati dalam keadaan panas maupun dingin di berbagai penjuru Jepang.
Spektrum rasanya sangat luas, mulai dari manis dan beraroma buah hingga pekat bernuansa kayu.
Black Tea (Kocha)

Dalam bahasa Jepang, teh hitam disebut sebagai “teh merah” karena warnanya yang kecokelatan gelap. Daun teh ini mengalami oksidasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan oolong dan biasanya mudah ditemukan di kafe serta restoran bergaya barat.
Jasmine Tea (Jasmine-cha)

Teh melati sangat digemari di Okinawa namun kurang begitu populer di daratan utama Jepang. Minuman ini memadukan bunga melati dengan teh hijau atau oolong, menghasilkan sentuhan rasa floral yang lembut.
Barley Tea (Mugicha)

Mugicha adalah minuman musim panas yang populer disajikan dingin. Dibuat dengan merendam jelai sangrai ke dalam air, minuman ini memiliki rasa terbakar dan pahit yang menyerupai air biji-bijian.
Kelp Tea (Konbucha)

Teh rumput laut ini dibuat dengan mencampurkan irisan atau bubuk rumput laut ke dalam air panas. Rasanya yang khas seperti air laut sering kali disajikan sebagai minuman penyambut di beberapa ryokan tradisional.
Tea, Tea Everywhere!

Berbagai jenis teh di Jepang sangat mudah didapatkan melalui mesin penjual otomatis, restoran, toko kelontong, hingga supermarket. Anda juga bisa menemukannya di kuil, taman, maupun festival.
Budaya minum teh sendiri pertama kali dibawa oleh bangsa Tiongkok pada tahun 700-an dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Jepang hingga saat ini.








